Thilly Weissenborn, Pelopor Perempuan Fotografer di Indonesia

Thilly berada di antara kelompok kecil perempuan fotografer profesional generasi pertama di Asia. Foto-fotonya mampu menampilkan sisi romantis dari kolonialisme.

10 Jun 2025 06:08 WIB · Klinik Foto

Oleh Iwan Setiyawan

Thilly yang bernama lengkap Margarethe Mathilde Weissenborn lahir di Kediri tahun 1889. Di beberapa referensi disebut lahir 1883. Ia adalah anak bungsu dari enam bersaudara pasangan Herman Weissenborn dan Paula Rossner, keduanya berasal dari Jerman yang menjadi warga negara Belanda dan memiliki perkebunan kopi di kaki Gunung Kelud di Kediri.

Ketika Thilly berusia tiga tahun, keluarganya pindah ke Den Haag, Belanda. Kakak perempuan Thilly, Else, belajar fotografi di Paris dan membuka studio fotografi di Den Haag pada 1903. Di studio Else ini Thilly belajar seluk-beluk bisnis fotografi.

Thilly kembali ke Jawa bersama saudaranya, Theo. Setelah tinggal sebentar di Bandung, mereka pindah ke Surabaya dan sejak 1913 ia menerima pelatihan di studio foto O Kurkdjian & Co yang terkenal. Studio foto ini didirikan oleh fotografer Ohannes Kurkdjian yang wafat tahun 1903. Selama 3,5 tahun, Thilly bekerja di sana di bawah bimbingan mantan asisten Kurkdjian, George P Lewis. Awalnya Thilly bekerja membantu memperbaiki negatif foto sebelum akhirnya belajar mengoperasikan kamera. Ia perlahan berkembang menjadi fotografer dengan gayanya sendiri yang memperlihatkan kemiripan artistik dengan karya studio ternama ini.

FOTO KLIK Suasana Pantai Kuta, Bali, difoto tahun 1920. ARSIP THILLY WEISSENBORN

Lux Studio

Pada 1917, ia pindah ke Garut, Jawa Barat. Awalnya dia ditunjuk mengelola studio foto GAH Photo Studio di NV Garoetsche Apo-theek en Handelsonderneming (asosiasi farmasi dan perdagangan) milik DG Mulder di Garut. Setelah tiga tahun ia pindah mengelola studio sendiri yang diberi nama Lux Studio. Sejak saat itu, Thilly mulai menandai karyanya dengan kualitas liris yang istimewa.

Studio ini diuntungkan karena berada tepat di tengah-tengah industri pariwisata yang tengah berkembang pesat di Jawa Barat dan wilayah Pasifik lain setelah Perang Dunia I. Orang-orang datang untuk menikmati pemandangan yang indah, udara yang sejuk, kawah, mata air belerang, danau, dan kolam ikan. Garut juga memiliki resor kesehatan dan hotel yang populer di kalangan wisatawan asing.

Garut terletak di lanskap pegunungan Jawa Barat dan, berkat iklim yang lebih sejuk serta lokasi yang indah, menjadi tujuan liburan yang populer dan ramai. Thilly Weissenborn membuat potret atas pesanan di studionya, tetapi di luar pesanan ia juga mahir mendokumentasikan subyek yang banyak dicari dan lebih komersial, seperti gedung, perusahaan, dan interior. Ia berkonsentrasi pada pengambilan foto pemandangan alam, pribumi, lanskap, dan foto ”tipe etnis”, yang sangat populer di kalangan penerbit dan turis pada saat itu.

FOTO KLIK Adu ayam jago di Bali, difoto tahun 1920. ARSIP THILLY WEISSENBORN

Bakat Weissenborn tidak hanya diminati di tanah Priangan, ia juga menerima semakin banyak pesanan untuk mengambil foto di tempat lain. Ia memotret kunjungan Gubernur Jenderal Fock ke Garut, menghasilkan album yang indah yang dilestarikan sebagai koleksi Tropenmuseum di Belanda.

Gubernur Jenderal van Limburg Stirum memintanya untuk memotret Istana Buitenzorg (Bogor) dan Perkebunan Cipanas di dekat Sindanglaya. Weissenborn menyusun banyak album dengan pilihan dari karyanya sendiri, juga untuk individu pribadi yang meninggalkan Garut, Priangan, atau yang ingin mengirim album kepada keluarga mereka di Belanda.

Romantisisme kolonial

Thilly Weissenborn memberikan kontribusi penting dalam menciptakan citra romantis yang ideal dari bekas koloni Belanda. Jelas terlihat bahwa ia menyusun gambar-gambarnya yang indah dengan sangat hati-hati, dan dalam melakukannya, karyanya melanjutkan gaya yang sebelumnya telah dikembangkan oleh studio fotografi Kurkdjian.

FOTO KLIK Satu keluarga Bali bersembahyang di halaman rumah, difoto tahun 1920. ARSIP THILLY WEISSENBORN

Secara gaya, jelas bahwa Thilly dipengaruhi oleh studio Kurkdjian, tetapi beberapa aspek karyanya juga menunjukkan pengetahuan tentang Sekolah Fotografi Pictorialist Clarence White, yang berasal dari New York. Sekolah pertama menekankan komposisi klasik dan kejelasan, sedangkan sekolah kedua menekankan pentingnya memasukkan suasana hati dan atmosfer ke dalam gambar. Keahlian White adalah cahaya, yang juga membuat Thilly terpesona.

Pada awal 1930-an, ia membawa kualitas romantis yang telah ia kembangkan di Garut untuk mengabadikan pegunungan, perkebunan anggur, dan para bangsawan di Pulau Bali. Ia menjadi sangat terkenal karena karya ini sehingga menghasilkan kekuatan yang ingin dibangun oleh Belanda. Sejak saat itu, fotonya menjadi ilustrasi buku-buku dan majalah-majalah yang diterbitkan oleh otoritas pariwisata dan penulis-penulis perjalanan. Semua ini dirancang untuk menarik wisatawan dan menunjukkan budaya-budaya eksotis di pulau-pulau yang dijinakkan oleh kolonialisme, yang pada gilirannya menyelamatkan budaya-budaya yang beragam dari perampasan dunia modern.

FOTO KLIK Gusti Bagus Jelantik, Raja Karangasem, difoto tahun 1923. ARSIP THILLY WEISSENBORN
FOTO KLIK Gerbang Pura Beiji di Sangsit wilayah utara Bali difoto tahun 1920. ARSIP THILLY WEISSENBORN

Meskipun awalnya tidak setuju dengan rencana-rencana untuk pariwisata, Bali tumbuh menjadi salah satu landasan utama industri ini, dan Thilly membantu memberikan aura khusus itu dengan menyajikan budayanya dalam visual-visual paling eksotis. Alam yang jinak yang ia tangkap di daerah perbukitan Jawa menjadi senada dengan alam yang kaya dari gerbang pura atau menyatu dengan tempat pemandian suci. Sebuah persekutuan yang berbeda dengan alam, yang berpusat di sekitar pura yang megah dan seni mereka, membuat spiritual Bali menjadi lambang tropis dunia Timur.

Subyek favoritnya adalah para penari wanita muda Bali yang tampil di banyak festival lokal. Rasa kedekatan dengan para wanita ini ditunjukkan oleh perhatiannya yang besar terhadap kostum, perhiasan, fitur wajah yang halus, dan gerakan tubuh yang anggun. Tidak seperti banyak fotografer pria di Bali pada tahun 1920-an dan 1930-an, ia menghindari erotisme yang diberikan pada gambar-gambar wanita Bali yang bertelanjang dada dan lebih peduli untuk menunjukkan kepada wanita itu keanggunan dan kepemilikan diri. Dalam gambarnya tentang dua wanita di sepanjang pinggir jalan, martabat ini muncul dalam potret wanita yang membawa pot di kepalanya, sebuah sikap yang ditekankan oleh kain sarungnya yang tipis dan lurus serta gerakan wanita kedua yang menunduk dan setengah malu serta garis pohon di satu sisi.

FOTO KLIK Gadis penari Bali beristirahat setelah tampil, difoto tahun 1920. ARSIP THILLY WEISSENBORN

Lanskap dan pemandangan luar ruangan yang memperlihatkan orang-orang yang pada awalnya dibuat untuk kepentingan pribadi Thilly, tetapi banyak yang berakhir di buku-buku perjalanan Hindia Belanda yang penting. Di puncak kariernya, Thilly menerima pesanan dari para ilmuwan, lembaga pemerintah, perorangan, bisnis, penerbit buku, majalah, dan industri pariwisata. Selama bertahun-tahun, ia membangun arsip negatif dan inventaris yang sangat besar.

Pada massa Perang Dunia II saat Jepang ekspansi ke wilayah Asia Pasifik dan mengalahkan Belanda, banyak orang Belanda kembali ke Eropa dan sebagian ditahan Jepang. Thilly ditahan di sejumlah kamp yang berbeda selama Perang Dunia II, tetapi ia berhasil bertahan hidup.

Ketika Jepang kalah di Perang Pasifik bersamaan dengan Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, terjadi kekacauan politik karena keinginan Belanda untuk kembali ke tanah koloninya. Setelah tentara Jepang menyerah pada 1945, kekacauan terjadi di banyak daerah, termasuk di Garut. Kekacauan di Garut memicu pembakaran besar-besaran pada simbol-simbol kolonial, termasuk Studio Lux milik Thilly. Prajurit Belanda dan fotografer amatir W Vialle menyelamatkan 48 negatif kaca dari reruntuhan. Benda-benda ini sekarang ada di koleksi Tropenmuseum.

FOTO KLIK Album foto Bali memuat karya-karya Thilly Weissenborn selama di Bali. ARSIP THILLY WEISSENBORN

Setelah Belanda mengakui kedaulatan Indonesia pada 1949, Thilly dan suaminya, Nico Wijnmalen, membuat keputusan sulit untuk kembali ke Eropa pada 1956. Mereka menetap di Baarn, sebuah kota kecil di Belanda, tempat ia meninggal pada 1964, dalam usia 75 tahun.

Setelah kematiannya, Tropenmuseum menerima sebuah album koleksi dari keluarganya. Ini yang secara umum dipahami sebagai album foto stok dari studionya. Sebagian besar karyanya termuat dalam album ini. Selain di Tropenmuseum, karya Thilly juga menjadi koleksi penting di Galeri Nasional Australia (NGA). Meskipun kurang dikenal, ia berada di antara kelompok kecil perempuan fotografer profesional generasi pertama di Asia.  Foto-fotonya mampu menampilkan sisi romantis dari kolonialisme.


Kerabat Kerja

Penulis:

Iwan Setiyawan
 | 

Editor:

Demitrius Wisnu Widiantoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Retma Wati