Tikus yang Menjadi ”Pahlawan” di Kamboja

Upaya pembersihan jutaan ranjau yang ditanam di Kamboja dengan bantuan tikus.

17 Jul 2025 11:00 WIB · Internasional

Oleh Ignatius Danu Kusworo

Bertemu atau melihat tikus mungkin membuat sebagian orang menjerit. Namun, di Kamboja, tim yang terdiri atas makhluk yang tidak begitu kecil ini telah menjadi sangat penting dalam membantu para spesialis mendeteksi ranjau darat yang telah melukai dan menewaskan ribuan orang di negara Asia Tenggara ini.

Tikus berkantong raksasa Afrika (Giant African pouched rats) dapat tumbuh hingga 45 sentimeter dan berat hingga 1,5 kilogram. Mereka berada di garis depan, berjalan dengan lincah melintasi ladang untuk mencari TNT atau bahan peledak yang digunakan di sebagian besar ranjau darat dan bahan peledak di dunia. Saat mengendus bahan itu, mereka memberi sinyal kepada pawangnya.

”Saat bekerja dengan tikus-tikus ini, saya selalu menemukan ranjau dan mereka tidak pernah melewatkan satu pun,” kata Mott Sreymom, seorang pawang tikus di APOPO, sebuah kelompok penjinak ranjau kemanusiaan yang melatih dan mengerahkan tim deteksi hewan pengerat di seluruh dunia.

Seekor tikus pendeteksi ranjau yang digunakan organisasi pembersihan ranjau kemanusiaan APOPO di ladang ranjau darat di Siem Reap, Kamboja, Rabu, 11 Juni 2025.

Setelah tiga dekade konflik, sisa-sisa perang mengotori sekitar 4.500 kilometer persegi tanah Kamboja. Data tersebut berdasarkan survei oleh Otoritas Bantuan Korban dan Aksi Ranjau Kamboja (CMAA) pada tahun 2004.

Hal ini memengaruhi 25 provinsi Kamboja dan hampir setengah dari 14.000 desa di negara tersebut. Pada tahun 2018. Dari jumlah itu, sebanyak 1.970 kilometer persegi masih belum steril dari bahan peledak.

Tikus-tikus tersebut memiliki indera penciuman yang tajam sehingga menjadi favorit di APOPO, yang juga mempekerjakan tim anjing pendeteksi ranjau darat. ”Saya sangat percaya pada tikus-tikus pendeteksi ranjau ini,” ujar Sreymom kepada The Associated Press saat istirahat makan siang setelah bekerja di ladang ranjau darat di Provinsi Siem Reap.

Selain tikus, tim juga menggunakan anjing untuk melacak ranjau. Mereka juga ramah dan mudah mempelajari perintah. ”Anjing dan tikus lebih baik dibandingkan hewan lain karena mereka dapat dilatih,” kata Alberto Zacarias, pengawas lapangan tim anjing survei teknis APOPO.

Petugas Kebun Binatang San Diego, Lauren Credidio, melihat Runa, seekor tikus berkantong raksasa Afrika, mencari kantong teh chamomile saat presentasi di kebun binatang San Diego, 13 April 2023.
Spesialis perawatan satwa liar Kebun Binatang San Diego Lauren Credidio, melihat Runa, seekor tikus berkantong raksasa Afrika, menemukan kantong teh chamomile yang tersembunyi selama presentasi di kebun binatang San Diego, 13 April 2023. Tikus berkantong raksasa Afrika seperti Runa terkenal karena bisa mendeteksi ranjau darat dan bahan peledak lainnya di medan perang tua di Angola, Mozambik, dan Kamboja, membuat mereka mendapat julukan tikus pahlawan.
Spesialis perawatan satwa liar Kebun Binatang San Diego Lauren Credidio memberikan hadiah kepada Runa setelah dia mencari dan menemukan sekantong teh chamomile saat pertunjukan di kebun binatang, 13 April 2023, di San Diego.  Upaya sedang berlangsung untuk memperluas penggunaan indra penciuman mereka yang tajam untuk menemukan orang-orang yang terjebak di gedung-gedung yang runtuh, mendeteksi penyakit dalam sampel laboratorium dan memperingatkan pejabat tentang barang-barang ilegal di pelabuhan dan bandara.
Anak-anak bermain di dekat peringatan ranjau darat dan kuil Buddha di Perbatasan Desa Baru, Kamboja, 10 Maret 2005, di sepanjang perbatasan Thailand.
Sebuah ranjau darat POMZ-2M buatan Soviet terdeteksi oleh tikus kantong raksasa Afrika di ladang ranjau darat di Siem Reap, Kamboja,  10 Juni 2025.
Alat berat membuka jalan bagi tim deteksi tikus dengan organisasi pembersihan ranjau kemanusiaan APOPO di ladang ranjau darat di Siem Reap, Kamboja, 11 Juni 2025.

Dalam laporan pembersihan ranjau pemerintah tahun 2022, lebih dari 1,1 juta ranjau dan sekitar 2,9 juta sisa bahan peledak perang lainnya telah dibersihkan. Upaya pembersihan ranjau secara resmi dimulai di Kamboja pada tahun 1992.

Tikus berkantong raksasa Afrika melakukan bagian mereka. Tikus ini sangat ramah dan tidak mudah takut. Hewan tersebut sudah dianggap seperti keluarga oleh pawangnya. ”Kami bekerja dengan mereka hampir setiap hari sehingga kami semakin dekat,” kata Sreymom.

Anak-anak bermain di dekat peringatan ranjau darat dan kuil Buddha di Perbatasan Desa Baru, Kamboja, 10 Maret 2005, di sepanjang perbatasan Thailand.

Sistem kerja pembersihan ranjau

Pagi itu, Sreymom bergegas ke sebuah ruang penyimpanan kandang, tempat tikus-tikus pengendus beristirahat saat malam. Ia mengambil tikus, memberi makan, dan segera mengolesi tabir surya di kaki dan buntut setiap tikus. Itu dilakukan untuk menjaga kulit tikus tetap dingin saat ia harus bekerja di terik matahari.

Setelah semua persiapan selesai dilakukan, bersama beberapa pawang lainnya, ia membawa tikus-tikus pengendus di bahunya menuju lokasi yang akan dibersihkan. Mereka berjalanan beriringan dalam jarak yang tidak terlalu rapat.

Tiba di lokasi, pekerja mempersiapkan tali membentang dan pawang segera memasang kalung di leher tikus. Tali digunakan untuk memandu tikus pengendus saat berjalan dari petak ke petak yang telah ditentukan.  Tali di leher tikus pengendus selanjutnya dikaitka pada tali yang membentang. 

Mott Sreymom (34), seorang staf dari organisasi pembersihan ranjau kemanusiaan APOPO, mengoleskan tabir surya pada tikus berkantong raksasa Afrika dalam persiapan pembersihan ranjau di Siem Reap, Kamboja,  10 Juni 2025.
Tim pendeteksi tikus berbaris menuju ladang ranjau darat di Siem Reap, Kamboja, 10 Juni 2025.
Anggota tim pembersih ranjau bersama tikus pendeteksi ranjau tiba di lokasi ladang ranjau darat di Siem Reap, Kamboja, 11 Juni 2025.
Suasana saat tim deteksi ranjau dikerahkan ke ladang ranjau darat di Siem Reap, Kamboja, 11 Juni 2025.
Foto Arsip pada 19 Februari 2016, dua penangan tikus, So Malen dan Ok Chann memandu tikus bernama Rat Cletus melintasi ladang ranjau yang dicurigai di Trach, Kamboja. Tikus Afrika adalah senjata terbaru yang direkrut untuk membersihkan Kamboja dari 6 juta ranjau dan potongan-potongan persenjataan lain yang tidak meledak yang terus membunuh dan melukai penduduk pedesaan.
Penangan Ok Chann memandu tikus Afrika yang mengendus ranjau Cletus melintasi ladang ranjau yang dicurigai di Trach, Kamboja.
Dalam foto 19 Februari 2016 ini, seekor tikus pembersih ranjau mendapatkan hadiah pisang setelah bekerja mengendus ranjau yang masih terkubur di Trach, Kamboja. Tikus Afrika adalah senjata terbaru yang direkrut untuk membersihkan Kamboja dari 6 juta ranjau dan potongan-potongan persenjataan lain yang tidak meledak yang terus membunuh dan melukai penduduk pedesaan.

Tahap ini merupakan tahap paling mendebarkan, pawang akan memberi aba-aba dan mengamati tikus yang berjalan pelan. Gerak-gerik tikus itu menandakan ada dan tidaknya ranjau di daerah itu. Saat menemukan keberadaan ranjau yang diendus dari indera penciumannya, tikus akan memberi tanda pawangnya dengan cara menggaruk tanah. Selanjutnya tim lain akan memberi tanda lokasi tersebut untuk mendapat penanganan lebih lanjut.

Tikus-tikus yang telah dilatih ini dinilai sangat efektif membantu proses pencarian dan memindai keberadaan ranjau yang ditanam di tanah. Selain itu, bobot tikus yang ringan meminimalkan risiko ranjau yang meledak karena terkena beban.

Saat berhasil mendeteksi keberadaan ranjau, Sreymom akan memberi hadiah buah pisang atau kacang yang menjadi makanan kesukaan tikus pengendus. Tikus ini menjadi ”pahlawan” bagi jutaan warga yang areanya dipenuhi ranjau darat.


Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Danu Kusworo
 | 

Editor:

Iwan Setiyawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan