Timnas voli putri Indonesia akan menjadi sejumlah agenda internasional tanpa Megawati Hangestri yang memutuskan mundur. Absennya Megawati tak jadi masalah.
28 Mei 2026 14:10 WIB · Olahraga
KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO
Timnas bola voli putri Indonesia tak mempermasalahkan keputusan Megawati Hangestri Pertiwi mundur dari skuad. Tanpa Megawati, timnas putri fokus dengan skuad yang kembali diisi kombinasi pemain senior-yunior.
Tawa terdengar di Padepokan Voli Jenderal Polisi Kunarto, Senin (25/5/2026) sore. Sumber tawa itu adalah para pemain timnas putri yang tengah menjalani latihan dengan ”diikat” tali elastis. Para pemain ini dibagi masing-masing menjadi tiga orang yang disatukan dengan tali tersebut.
Dalam kondisi itu, mereka harus bisa menerima bola yang diberikan dari sisi net lainnya. Selain untuk melatih kelincahan, latihan ini juga ditujukan untuk membangun koordinasi, keseimbangan, dan gerakan beriringan. Tidak semua berhasil, malah banyak yang terjatuh karena tidak seimbang. Namun, hampir semua tertawa.
Sore yang penuh tawa itu merupakan pekan pertama bagi 16 pemain yang menjalani pemusatan latihan nasional untuk timnas putri. Para pemain ini dipanggil untuk persiapan sejumlah agenda internasional yang akan diikuti timnas putri pada Juni-Agustus.
Di antara para pemain itu, tidak ada Megawati Hangestri Pertiwi. Salah satu opposite terbaik Indonesia ini memutuskan mundur dari skuad setelah namanya menjadi bagian dari pemanggilan pertama. Pengurus Pusat Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PP PBVSI) kemudian memanggil dua nama tambahan, Azzahra Dwi Febryane dan Kadek Diva Yanti Putri.
”Mega memang tidak tergantikan. Namun, itu berarti posisi yang ditinggalkan Mega terbuka. Kami sekarang punya pemain yang siap untuk mengisi posisi tersebut,” kata pelatih timnas putri, Marcos Sugiyama.
Menurut Sugiyama, absennya Megawati justru memberi ruang bagi pemain-pemain lain unjuk gigi. Hal ini pun berdampak bagus pada persaingan di antara para pemain. Semakin ketat persaingan, semakin pemain bekerja keras di latihan.
Dari segi taktik, Sugiyama pun sudah menyiapkan strategi tanpa Megawati. Pelatih keturunan Brasil-Jepang ini menekankan, timnas harus tetap berjalan, dengan atau tanpa Megawati.
”Ini seperti sebuah mekanisme. Dengan Mega, kami memiliki satu tim. Dan tanpa Mega, kami memiliki tim lain. Saya rasa, mekanisme ini sudah berjalan bagus,” ujar pelatih yang sebelumnya memegang tim putri Indonesia U-21 ini.
”Jadi kalau ditanya, apakah ada masalah dengan absennya Mega? Tidak, karena kami sudah mengambil keputusan. Kami pun harus melanjutkan perjalanan,” katanya lagi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/27/481f3d60-c36a-408f-a53a-93881389b121.jpg)
Megawati mengajukan pengunduran diri melalui surat resmi kepada PP PBVSI pada akhir bulan lalu. Pemain asal Jember, Jawa Timur, ini kemudian memberikan pernyataan resminya.
Megawati mengatakan, keputusan untuk mengundurkan diri dari timnas diambil melalui pertimbangan yang matang. Salah satunya adalah fokus untuk pengembangan karier profesional sebagai pebola voli putri.
”Keputusan ini saya ambil dengan pertimbangan yang matang, termasuk fokus pada pengembangan karier profesional, kondisi fisik, serta rencana pribadi ke depan,” ujar Megawati.
Belakangan, Megawati diketahui akan melanjutkan karier di Liga Bola Voli Korea Selatan bersama klub Hyundai Hillstate. Pemain yang dijuluki ”Megatron” oleh para penggemar bola voli ini akan mengarungi musim ketiganya di ”Negeri Ginseng” setelah pada dua musim pertama membela Red Sparks.
Terlepas dari itu, Sugiyama pun menilai skuad yang ditanganinya saat ini lebih agresif dan lebih cepat ketimbang tim sebelumnya. Selain pernah menangani tim putri U-21, Sugiyama juga memimpin timnas putri untuk SEA Games Thailand 2025.
Di SEA Games, komposisi pemain yunior lebih besar dari senior dengan 65 persen. Meski begitu, para pemain yunior terbukti mampu menunjukkan sinarnya dengan mempertahankan peringkat ketiga. Mereka bekerja sama dengan Megawati Hangestri dan Mediol Yoku yang masih menjadi tumpuan timnas untuk meraih poin.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/27/4e29043b-df91-4900-b3ac-8efbb70c4531.jpg)
Medali perunggu itu pun diraih setelah dalam beberapa turnamen jelang SEA Games, performa timnas putri tidak meyakinkan. Jangankan bersaing dengan Thailand dan Vietnam yang langganan jadi finalis SEA Games, dengan Filipina yang selalu bertemu di perebutan peringkat ketiga saja, Indonesia kesulitan
Untuk skuad saat ini, pemain berpengalaman seperti Mediol Yoku masih tetap memperkuat tim. Kekuatan tambahan datang dari pemain senior lainnya, Arsela Nuari dan Tisya Amallya Putri.
Selain komposisi skuad yang berbeda, kata Sugiyama, para pemain juga lebih agresif karena kondisi fisik mereka masih terjaga. Hal itu lantaran pelatnas digelar tak lama setelah berakhir kompetisi bola voli kasta tertinggi Indonesia, Proliga. Sebagian besar pemain bermain di kompetisi tersebut.
”Tim ini lebih agresif. Saya juga melihat ada peningkatan dalam beberapa aspek. Maka dari itu, agak sulit bagi saya untuk memilih hanya 14 pemain dari 16 yang berlatih saat ini,” ujar Sugiyama.
”Namun, kami juga akan meningkatkan aspek lainnya, terutama ritme pemaina, kecepatan dalam memberi umpan, dan keputusan yang lebih baik saat transisi,” lanjut mantan pelatih timnas Honduras ini.
Adapun, menurut Tisya dan Arsela, tim masih perlu membangun chemistry di lapangan. Apalagi, tim yang dibentuk saat ini terbilang tim baru yang kembali mengombinasikan pemain yunior dan senior. Sering kali ada keterbatasan komunikasi di antara mereka karena sekat sebagai yunior dan senior tersebut.
Kendati begitu, sebagai pemain lebih senior, Tisya dan Arsela pun sepakat untuk turut membantu perkembangan para pemain yunior. Mereka juga akan berusaha menguatkan mental bertanding ”adik-adik”-nya.
”Kalau pemain muda itu biasanya suka merasa takut untuk melakukan ini itu di lapangan, apalagi saat bermain dengan senior. Nah, tugas kami untuk ibaratnya mengemong mereka, menguatkan mereka untuk mau mencoba dan berusaha,” kata Tisya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/27/8a9423c5-6e63-427d-8e31-cdf5b6081370.jpg)
Timnas putri akan mengawali agenda internasional pertama mereka di AVC Nation’s Cup di Filipina pada 6-9 Juni 2026. Ini merupakan turnamen kasta kedua yang diperuntukan bagi tim-tim yang tidak bermain di ajang bergengsi, Liga Bola Voli Nasional (VNL).
Setelah itu, timnas putri akan mengikuti dua seri turnamen antarnegara Asia Tenggara, SEA V League, di Vietnam dan Thailand pada akhir Juli hingga awal Agustus. Terakhir, timnas putri bakal ikut serta dalam turnamen se-Asia di AVC Continental Cup (sebelumnya AVC Challenge Cup) di Tianjin, China, 21-30 Agustus.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase