Statistik mengungkap peran krusial kiper untuk meraih trofi Piala Dunia. Sudah lebih dari 20 tahun pencetak gol terbanyak gagal membawa timnya meraih trofi kampiun.
04 Jun 2026 17:21 WIB · Olahraga
KOMPAS
Sebanyak 1.248 pemain dari 48 tim nasional peserta Piala Dunia 2026 sudah dipastikan. Pada akhirnya, hanya ada satu tim dan 26 pemain yang akan membawa pulang medali emas dan mengangkat trofi ikonik bermuatan emas 18 karat dari Stadion MetLife, New Jersey, Amerika Serikat, pada 19 Juli mendatang.
Dalam 22 edisi Piala Dunia yang telah berlangsung sejak 1930, pemain-pemain terbaik telah membuktikan diri. Mereka tampil sebagai pencetak gol terbanyak dan meraih trofi Sepatu Emas. Apresiasi juga diberikan kepada kiper terbaik melalui Sarung Tangan Emas, walaupun penghargaan resmi baru dimulai pada AS 1994.
Diskusi mengenai formula terbaik untuk memenangi Piala Dunia selalu bermuara pada satu pertanyaan klasik. Apakah tim membutuhkan juru gedor yang menjamin gelontoran gol atau sebaliknya, benteng kokoh di bawah mistar yang memastikan kesucian gawang?
Dunia sering kali lebih terpukau oleh kilau Sepatu Emas para penyerang tajam. Namun, lembaran sejarah turnamen sepak bola terakbar ini justru membisikkan kebenaran yang berbeda.
Ada sebuah romantisasi kuat bahwa mencetak gol sebanyak-banyaknya adalah jalur paling instan menuju podium juara. Paradigma ini lahir dalam lanskap sepak bola modern yang memuja permainan menyerang bergelimang gol.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/12/19/d96af6c9-701c-4597-a97f-c03901095e95.jpg)
Sejak edisi perdana di Uruguay pada 1930 hingga edisi Qatar 2022, seorang pemain yang memenangi gelar pencetak gol terbanyak (top scorer) atau Sepatu Emas ternyata sama sekali bukan garansi otomatis untuk mengangkat trofi berlapis emas tersebut.
Sepanjang 22 edisi Piala Dunia yang telah digelar, hanya ada lima pencetak gol terbanyak dari empat edisi berbeda yang mampu mengawinkan gelar Sepatu Emas dengan trofi juara dunia. Jika dipersentasekan, angkanya hanya berada di kisaran 22,7 persen.
Empat edisi itu ialah Ronaldo Nazario (Brasil) pada Jepang-Korea Selatan 2002, Paulo Rossi (Italia) pada Spanyol 1982, Mario Kempes (Argentina) di Argentina 1978, serta Garrincha dan Vava (Brasil) pada Chile 1962.
Serangan terbaik mendatangkan kemenangan di satu laga, tetapi pertahanan terbaik mendatangkan trofi di akhir turnamen.
Artinya, dalam mayoritas sejarah Piala Dunia, ketajaman individu seorang penyerang lebih sering berakhir dengan tepuk tangan penghormatan tanpa mahkota kampiun.
Satu hal yang pasti, memiliki pencetak gol terbanyak di dalam skuad memberikan jaminan sebuah tim tampil hingga babak semifinal. Total persentase statistik itu mencapai 86,4 persen. Sebab, 19 edisi Piala Dunia dihiasi tim berbekal penyerang pemimpin daftar pencetak gol turnamen.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/04/c2e83872321ef55140c06339fe89a746-20260604_ANU_Top_Skor2_Piala_Dunia_mumed.jpg)
Statistik itu telah terbukti dalam enam dari tujuh edisi terakhir Piala Dunia sejak Perancis 1998 hingga Qatar 2022. Terakhir kali peraih Sepatu Emas gagal membawa timnya menembus empat besar tercipta pada Brasil 2014.
Kala itu, James Rodriguez gagal membawa Kolombia lolos ke semifinal. Kontribusi enam gol Rodriguez itu gagal menghindari Kolombia gugur di perempat final akibat tumbang 1-2 dari Brasil.
Pada edisi terakhir di Qatar, Kylian Mbappe tampil bak predator buas di gurun Timur Tengah. Ia menghasilkan delapan gol, termasuk memborong trigol pada partai puncak yang mendebarkan di Stadion Lusail. Namun, Sepatu Emas menjadi hadiah hiburan Mbappe akibat ”Les Bleus” kalah di drama adu penalti dari Lionel Messi dan kolega.
Thomas Müller, pemenang Sepatu Emas Piala Dunia 2010 asal Jerman, memberikan sudut pandang yang sangat pragmatis mengenai rahasia mencetak gol di turnamen terbesar.
”Sepak bola modern sangat padat. Jadi, rahasianya bukan seberapa cepat Anda berlari, tetapi seberapa pintar Anda menemukan ruang yang ditinggalkan oleh bek lawan saat mereka fokus menjaga pemain lain,” ujar Müller seperti dikutip BBC.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/09/13/0fa0162b-4143-4435-be11-79c55ea7f2f5_jpg.jpg)
Pemain yang kini membela Vancouver Whitecaps itu menegaskan bahwa gol kerap lahir dari situasi taktis yang dinamis, bukan sekadar keunggulan mutlak satu tim atas tim lainnya.
Lebih ekstrem lagi, sejarah mencatat bahwa ketergantungan yang terlalu tinggi pada satu sosok pemburu gol justru kerap menjadi bumerang bagi kolektivitas tim.
Oleg Salenko (Rusia) di Piala Dunia 1994 dan Gary Lineker (Inggris) pada Piala Dunia 1986 juga mengalami itu. Keduanya menjadi pencetak gol terbanyak dengan kontribusi gol mengagumkan, 86 persen, dari total gol tim. Namun, Rusia gugur di babak penyisihan di AS, sedangkan Inggris terhenti pada perempat final di Meksiko.
Jika lini serang hanya menawarkan harapan dan hiburan, lini pertahanan, terutama pos penjaga gawang, adalah pihak yang lebih menjanjikan untuk memberikan stempel gelar juara.
Peta kekuatan sepak bola turnamen singkat seperti Piala Dunia membuktikan kebenaran pepatah lama, ”serangan terbaik mendatangkan kemenangan di satu laga, tetapi pertahanan terbaik mendatangkan trofi di akhir turnamen”.
Statistik capaian tim yang memiliki peraih golden glove (sarung tangan emas) atau penjaga gawang terbaik sepanjang sejarah Piala Dunia menyajikan angka yang sangat kontras jika dibandingkan dengan barisan para pencetak gol terbanyak.
Dari 22 edisi yang sudah berlangsung, sebanyak 13 kiper terbaik sukses mengantar negaranya keluar sebagai juara Piala Dunia. Persentasenya menyentuh angka 59,1 persen.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/04/eec7a72a4655026726ea1b76fd96fcdd-FD7A4700_C479_4C6E_894F_7BDABFD4D62E.PNG)
Kiper hebat berkelas dunia terbukti dapat hadirkan aspek psikologis positif bagi rekan setimnya. Itu membantu tim tampil stabil sepanjang turnamen.
Ketika sebuah tim tahu bahwa gawang mereka dijaga oleh sosok yang hampir mustahil ditaklukkan, para pemain tengah dan depan dapat berkreasi dengan kepala dingin tanpa dihantui ketakutan akan serangan balik yang menghukum mereka.
Gianluigi Buffon, benteng legendaris Italia ketika juara Piala Dunia 2006 dengan catatan lima laga nirbobol dan hanya kebobolan dua gol, menyebut atribusi terbaik kiper adalah buah dari kerja kolektif tim. Sebesar apa pun nama besar kiper, lanjut Buffon, mereka butuh bantuan dari 10 pemain outfield di depannya.
”Catatan nirbobol dibangun dari komunikasi yang berisik. Selama 90 menit, saya tidak pernah berhenti berteriak mengatur posisi bek. Kiper adalah satu-satunya pemain yang bisa melihat seluruh peta lapangan. Jika pertahanan kami kokoh, energi positif itu akan menular ke lini tengah dan depan,” kenang Buffon dilansir La Gazzetta dello Sport.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/11/24/49db9577-3253-4037-96ae-cf2546d6f998_jpg.jpg)
Aura kepemimpinan dan ketenangan dari bawah mistar inilah yang menjadi fondasi utama tim-tim juara. Spanyol pada Piala Dunia 2010 menjadi contoh lain dari tesis ini.
Setelah sempat limbung di fase grup, Iker Casillas menutup rapat gerbang pertahanan Spanyol dengan mencatatkan nol kebobolan di semua laga babak gugur. Spanyol melaju dari babak 16 besar hingga final dengan memenangi semua laga lewat skor identik yang sangat efisien dan minimalis, 1-0.
”Tidak kemasukan memberikan kepastian kepada tim bahwa satu gol saja sudah cukup untuk memenangi laga,” ujar Casillas mengenai ketangguhan Spanyol saat itu kepada Marca.
Italia dan Spanyol mengikuti jejak Perancis pada 1998 yang mengoleksi kemasukan terendah dalam sejarah Piala Dunia. Mereka mengangkat trofi juara bermodal hanya kebobolan dua kali.
Emiliano Martinez merupakan teladan terkini bahwa kiper memiliki peran superpenting bagi raihan gelar Piala Dunia untuk Argentina di Qatar. Selain mencatatkan tiga laga tak kemasukan, Martinez menjadi sosok penting bagi ”La Albiceleste” memenangi adu penalti kontra duo Eropa, Belanda dan Perancis.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/04/10c22d74005d64fde89edcd7536f80aa-20260604_ANU_Top_Skor1_Piala_Dunia_mumed.jpg)
Pada edisi 2026, tiga mantan peraih Sepatu Emas, yakni Mbappe, Harry Kane, dan James Rodriguez, berkesempatan mengejar kembali gelar pencetak gol terbanyak. Kemudian, tiga eks penerima sarung tangan emas, yaitu Manuel Neuer, Thibaut Courtois, dan Martinez, juga masih akan berupaya menjaga kekokohan gawang timnya demi trofi paling prestise di jagat sepak bola. (AFP/AP)
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Nur Adji