Koperasi menjadi harapan untuk mengembalikan kedaulatan ekonomi dan pangan ke tangan masyarakat desa.
14 Jul 2025 10:47 WIB · Ekonomi & Bisnis
Sebuah gerai berukuran sekitar 3 meter x 10 meter berdiri di pinggir jalan lintas Sumatera, tepatnya di Desa Bumisari, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung. Gerai itu difungsikan menjadi tiga ruangan.
Bagian depan disekat dan dijadikan tempat untuk usaha agen Laku Pandai atau layanan keuangan tanpa kantor dalam rangka keuangan inklusif. Bagian tengah dijadikan toko sembako, sementara bagian paling belakang disulap menjadi kantor.
Di dalamnya terdapat rak-rak besi yang disiapkan untuk menjajakan sembako. Di sudut gerai terdapat meja kasir, komputer, kipas angin, dan sebuah neon box bergambar logo koperasi dan bertuliskan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Bumisari.
Pada Sabtu (12/7/2025) siang, delapan orang pengurus dan pengawas koperasi menggelar rapat di ruangan yang cukup sempit itu. Beberapa orang menyeruput es kelapa muda untuk melepas dahaga.
Dua bulan terakhir, para pengurus KDMP Bumisari memang disibukkan dengan persiapan pendirian koperasi hingga pembukaan gerai sembako. Meski tidak digaji, para pengurus yang sebagian merupakan wirausaha dan pengusaha muda rela meluangkan waktunya untuk mengurus koperasi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/12/ee522900fde6188097587f9412733c1a-20250712_134234.jpg)
Salah satunya adalah Dedi Irawan (30), wiraswasta yang sehari-hari menjalankan usaha ayam goreng. Pada hari itu dia seharusnya libur dan beristirahat di rumah. Namun, Dedi memilih untuk melawan kantuk dan menghadiri rapat bersama para pengurus lainnya.
Sebagai sekretaris koperasi, dia bertugas mencatat berbagai hal yang berurusan dengan administrasi. ”Saya ada di sini karena punya keinginan untuk berkontribusi mengangkat ekonomi masyarakat dan memajukan desa,” kata Dedi, saat sela kesibukannya mempersiapkan pembukaan gerai.
Menurut rencana, gerai tersebut akan dibuka berbarengan dengan peluncuran KDMP serentak se-Indonesia pada 19 Juli 2025. Saat ini, pengurus sudah menjalin kerja sama dengan sejumlah badan usaha milik negara (BUMN), seperti Bulog, Pertamina, Bank BRI, dan Pupuk Indonesia.
Sembako, seperti beras, gula, dan minyak goreng, akan dipasok oleh Perum Bulog. Sementara Pertamina akan memasok kebutuhan elpiji. Koperasi ini juga akan menjalankan usaha Laku Pandai dengan menjadi agen BRI Link. Dua orang akan direkrut menjadi karyawan.
Tak hanya mengelola toko sembako, KDMP Bumisari juga menjalankan usaha penjualan pupuk bekerja sama dengan Koperasi Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Rukun Santoso. Koperasi tani yang sudah beroperasi selama hampir satu dekade ini menjadi titik balik yang memperkuat peran KDMP Bumisari untuk bisa menopang ekonomi desa.
Ketua KDMP Bumisari Diktri Ariansyah mengatakan, Koperasi Gapoktan Rukun Santoso berdiri sejak tahun 2016. Awalnya, koperasi ini dibentuk atas keresahan petani yang kesulitan mengakses pupuk bersubsidi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/12/6cf8059a9022d40afe253409c1de9988-IMG20250712143250.jpg)
”Dulu petani bergantung pada kios pupuk yang berjarak sekitar 20 kilometer dari desa ini. Kondisi itu menyulitkan petani karena terlalu jauh dan sering kehabisan (pupuk). Akhirnya, petani mengusulkan membentuk koperasi dan menjalankan usaha penjualan pupuk bersubsidi agar dapat memberikan manfaat bagi petani,” kata Diktri yang juga menjabat sebagai Ketua Koperasi Gapoktan Rukun Santoso.
Setelah koperasi terbentuk, para pengurus kemudian menjalin kerja sama dengan PT Pupuk Indonesia (Persero) untuk menjadi agen resmi pupuk bersubsidi. Koperasi itu mendapat kuota penyaluran pupuk Urea dan Phonska sekitar 460 ton per tahun.
Untuk menampung pupuk, pengurus membangun gudang dengan memanfaatkan bantuan dana pengembangan koperasi desa dari pemerintah pusat. Usaha penjualan pupuk itu pun berjalan lancar hingga saat ini.
Salah satu anggota Koperasi Gapoktan Rukun Santoso, Ahmad Ichwan (73), mengakui, kehadiran koperasi telah membawa manfaat nyata bagi petani. Sejak kehadiran koperasi, dia dan ratusan petani lainnya mendapatkan akses pupuk subsidi murah dan dekat. Anggota koperasi yang berjumlah 22 petani juga mendapatkan pembagian sisa hasil usaha (SHU) setiap tahun.
”SHU paling besar yang pernah saya dapatkan sekitar Rp 1,5 juta. Saya juga mendapat pemasukan tambahan dari menjaga gudang dan melayani pembeli,” kata Ahmad Ichwan. Gudang pupuk milik koperasi tani itu memang berdiri persis di belakang rumahnya.
Saat ini, Koperasi Gapoktan Rukun Santoso memiliki modal dan aset mencapai Rp 300 juta. Para anggota gapoktan yang mayoritas adalah petani paruh baya juga masih merasakan manfaat nyata dari keberadaan koperasi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/12/b699a902910c55b77f3dd8524c86019a-20250712_134246_1_.jpg)
Demi menjaga iklim usaha yang sehat dan adil bagi anggota, Koperasi Gapoktan Rukun Santoso memilih tidak merger dengan KDMP Bumisari. Kedua koperasi hanya menjalin kesepakatan usaha dengan tetap berjalan sesuai usaha masing-masing.
Pengalaman Diktri memimpin Koperasi Gapoktan Rukun Santoso itulah yang membuatnya kembali dipercaya menjadi Ketua KDMP Bumisari. Pemilihan dilakukan secara terbuka dan dihadiri oleh tokoh dan perwakilan masyarakat desa. Para pengurus KDMP Bumisari lainnya juga dipilih berdasarkan pengalaman menjalankan usaha dan kelembagaan koperasi, bukan berdasarkan kedekatan dengan aparatur desa.
Langkah ini ditempuh untuk membangun kepercayaan masyarakat terhadap koperasi sekaligus menunjukkan bahwa pengurus menjalankan peran mereka secara profesional dan terbuka. Selain itu, pengurus koperasi mulai membangun sistem digital sebagai upaya mendorong transparansi keuangan bagi seluruh anggota.
Dia tak menampik keraguan yang muncul dibenak masyarakat luas tentang pembentukan KDMP. Oleh karena itu, profesionalitas, transparansi, dan akuntabilitas harus menjadi pilar utama dalam pengelolaan koperasi.
Pembentukan KDMP yang digagas Presiden Prabowo Subianto dilakukan untuk menggerakkan ekonomi desa. Tak tanggung-tanggung, pemerintah menginisiasi pendirian 80.000 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di seluruh Indonesia.
KDMP diyakini akan mampu menggerakkan ekonomi desa melalui sejumlah unit usaha, mulai dari toko bahan pokok, agen pupuk, gudang penyimpanan, hingga penjualan komoditas lokal unggulan lain. Koperasi Merah Putih juga diharapkan dapat memutus mata rantai distribusi pangan yang panjang yang selama ini hanya menguntungkan tengkulak.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/29/c23ec4164b70840155c07c9f55de7647-WhatsApp_Image_2025_05_29_at_11.00.54_1_.jpeg)
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan datang ke Lampung untuk meninjau kesiapan KDMP Bumisari pada Rabu (28/5/2025). Dalam kesempatan itu, Zulhas, sapaan akrabnya, mengapresiasi KDMP Bumisari sebagai salah satu contoh koperasi desa yang sudah berjalan dengan baik. Secara keseluruhan, akan ada koperasi serupa yang akan dibentuk di 2.654 desa di Lampung.
Setelah resmi terbentuk, pengurus mulai melakukan sosialisasi pada masyarakat. Hingga saat ini, sudah ada 105 warga yang bergabung sebagai anggota KDMP Bumisari. Mereka diwajibkan membayar simpanan pokok Rp 80.000 saat awal pendaftaran dan simpanan wajib Rp 20.000 per bulan.
Dengan menjadi anggota KDMP Bumisari, masyarakat bisa mendapat layanan sembako murah. Mereka juga akan mendapat pembagian SHU dari koperasi setiap tahun.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/12/c5e89cbf10c2fa8a0cad9fed04c03484-IMG20250712144431.jpg)
Saat ini, KDMP Bumisari memang hanya fokus menjalankan usaha jual beli. Koperasi tidak membuka usaha peminjaman uang untuk anggota guna menjaga perputaran modal.
Wakil Ketua Bidang Usaha KDMP Bumisari Juniari Viranando menuturkan, pengurus akan mengoptimalkan modal yang terkumpul dari para anggota untuk menjalankan usaha. Pihaknya juga tengah menghimpun penyertaan modal dari para pengurus. Modal yang dibutuhkan ditaksir mencapai Rp 500 juta.
Menurut dia, kehadiran toko sembako murah yang dikelola KDMP Bumisari tidak ingin menjadi pesaing warung-warung kecil di desa. Pengurus berencana menjadikan warung-warung kecil sebagai mitra dagang untuk menghadirkan sembako murah untuk masyarakat. Pihaknya juga mengembangkan marketplace untuk menjangkau lebih banyak konsumen.
Juniari menyebut, masih banyak usaha yang bisa dijalankan koperasi ke depan, antara lain menjadi mitra untuk memasok kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden Prabowo.
Penjabat Kepala Desa Bumisari Riansyah Taufik mengatakan, KDMP Bumisari yang menjadi salah satu koperasi percontohan memberikan harapan bagi kemandirian ekonomi desa. Dia berharap, koperasi dapat mengembangkan usahanya sehingga bisa membuka lebih banyak lapangan pekerjaan bagi masyarakat desa.
Menurut dia, antusiasme masyarakat untuk bergabung sebagai anggota juga cukup tinggi. Namun, masih banyak warga yang mengira bisa langsung mendapat pinjaman dari koperasi.
”Pola pikir seperti ini memang masih banyak berkembang di masyarakat. Itu yang saat ini terus kami luruskan karena koperasi hanya akan menjalankan usaha jual beli,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/12/0b968db8bc2cdee4fc1b9be22dd49d15-20250712_142113.jpg)
Riansyah mengatakan, pendirian KDMP tidak serta-merta mematikan usaha Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Bumisari. Saat ini, BUMDes juga tetap berjalan dengan usaha pengelolaan sampah dan memberikan jasa pelayanan pembayaran pajak secara digital dari desa.
Pembentukan Koperasi Merah Putih di pelosok desa diharapkan tidak hanya sekadar nama. Koperasi itu menjadi harapan untuk mengembalikan kedaulatan ekonomi dan pangan ke tangan masyarakat desa.
Penulis:
Vina OktaviaEditor:
Mukhamad KurniawanPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan