Trump Ancam Pukul Pengunjuk Rasa, Deportasi Makin Kencang

Trump mengancam pengunjuk rasa antideportasi, tetapi perusuh di Washington DC pada Januari 2021 disebutnya pahlawan.

11 Jun 2025 11:09 WIB · Internasional

Oleh Laraswati Ariadne Anwar

WASHINGTON, RABU — Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan para pengunjuk rasa antideportasi agar tidak memancing-mancing perkara dengan polisi jika tidak mau ditangkap. Sikap ini sangat berbeda dengan ketika kerusuhan pecah di Washington DC pada Januari 2021.

”Kalau kalian meludahi aparat penegak hukum, mereka akan gebuki kalian. Tidak ada toleransi!” cuit Trump di Truth Social, Selasa (10/6/2025) waktu setempat atau Rabu (11/6/2025) waktu Indonesia.

Ketegangan masih terasa di Los Angeles, California. Sudah lima hari warga berunjuk rasa menentang keputusan Trump mendeportasi para imigran. Terdapat kekacauan di sejumlah titik yang sudah diatasi oleh polisi.

Sikap Trump mengancam para pengunjuk rasa ini jauh berbeda dari sikapnya pada 6 Januari 2021. Ketika itu, ia kalah dalam pemilihan umum dari Joe Biden. Trump melalui Twitter mengerahkan pendukungnya untuk menyerang Gedung Capitol yang merupakan kantor DPR AS untuk membatalkan penghitungan suara.

Ketika itu, massa pendukung Trump merangsek masuk Gedung Capitol dan memorak-porandakannya. Mereka juga mengutarakan ancaman pembunuhan kepada sejumlah pejabat. Sebanyak 1.265 orang ditangkap atas tuduhan kekerasan terhadap aparat penegak hukum dan vandalisme.

Akibat kerusuhan itu, pendiri Twitter, Jack Dorsey, menutup akun Trump atas dasar menghasut untuk melakukan kekerasan dan ujaran kebencian. Akan tetapi, pada 2022, Elon Musk membeli Twitter dan menggantinya dengan nama X. Akun Trump dipulihkan.

FILE - Insurrectionists loyal to President Donald Trump try to break through a police barrier, Wednesday, Jan. 6, 2021, at the Capitol in Washington. (AP Photo/Julio Cortez, File)

Setelah Trump dilantik untuk masa jabatan kedua pada 20 Januari 2025, ia mengampuni 1.000 pelaku kerusuhan Gedung Capitol. Ia menyebut mereka sebagai martir dan pahlawan.

”Terlihat sekali Trump hanya menegakkan hukum jika hal itu menguntungkan agenda politiknya,” kata pengamat politik Universitas Dartmouth, Brendan Nyhan.

Trump mengerahkan 2.000 anggota Garda Nasional ke LA tanpa seizin Gubernur California Gavin Newsom dan Wali Kota LA Karen Bass, padahal pengerahan pasukan itu seharusnya atas permintaan kepala daerah. Selain itu, Menteri Pertahanan Pete Hegseth juga mengirim 700 marinir ke LA.

Pemerintah Negara Bagian California menggugat Trump dan Hegseth ke pengadilan karena melanggar hukum dan kewenangan negara bagian. 

Jam malam

Di LA, Wali Kota Bass menetapkan jam malam hanya di wilayah pusat kota dari pukul 20.00 hingga 06.00. Tercatat ada 20 toko yang rusak dan dijarah ketika kerusuhan.

”Saya melihat mayoritas aksi unjuk rasa berlangsung damai. Memang ada kejadian kasuistis kekerasan, tetapi saya meyakini mereka bukan pengunjuk rasa. Mereka orang-orang jahat yang mengambil kesempatan,” kata Bass.

Baik ia maupun Newsom mengatakan, situasi masih terkendali. Kepolisian LA berpengalaman mengawal dan mengelola unjuk rasa. Unjuk rasa terjadi di beberapa titik dan kerusuhan terjadi di titik yang lebih sedikit sehingga sejatinya tidak perlu ada Garda Nasional dan marinir.

Pendapat serupa juga diutarakan Alex Padilla, senator dari California. ”Suasana tegang terjadi justru karena penurunan Garda Nasional dan marinir. Masyarakat menilai pemerintah federal mengancam kebebasan mereka berpendapat,” katanya kepada CBS.

Menambah penangkapan

Unjuk rasa menyebar ke kota-kota lain. Di California, selain LA, unjuk rasa juga terjadi di San Francisco dan Santa Ana. Keduanya juga berujung rusuh sampai polisi harus menembakkan gas air mata.

Di Chicago, Illinois, dan Atlanta, Georgia juga berlangsung unjuk rasa. Di kedua kota itu unjuk rasa berjalan dengan damai.

Di tengah itu, Gedung Putih mengeluarkan perintah peningkatan penangkapan imigran gelap. Badan Imigrasi dan Cukai (ICE) awalnya disuruh menangkap 1.000 imigran per hari. Kini, Juru Bicara Gedung Putih Stephen Miller menyuruh mereka menangkap 3.000 imigran per hari.

”Kalian semestinya merazia pabrik-pabrik dan toko kelontong. Di situ banyak imigran gelap,” kata Miller, seperti yang dibocorkan oleh salah satu pejabat anonim.

Julia Gelatt dari Institut Kebijakan Migrasi (MPI) mengatakan, perintah ini berbahaya. Agen-agen ICE asal main tangkap orang-orang yang menurut mereka bukan warga AS. Umumnya, orang-orang kulit berwarna yang menjadi sasaran.

”Mereka asal menciduk orang, terlepas orang itu memiliki izin tinggal untuk kuliah ataupun bekerja di AS,” tuturnya.

Utusan Khusus Presiden AS untuk Urusan Perbatasan, Tom Homan, mengatakan, selama empat bulan sejak keputusan dijalankan, AS sudah mendeportasi 200.000 imigran gelap. Deportasi terbesar ialah orang-orang yang diduga sebagai anggota kelompok kriminal Tren de Aragua. Mereka dikirim ke penjara di El Salvador.

Pengunjuk rasa berkumpul untuk memprotes pengerahan Garda Nasional di Los Angeles dan penahanan pemimpin serikat pekerja David Huerta di dekat Independence Hall di Philadelphia, Senin (9/6/2025).  *** Local Caption *** People gather to protest the deployment of the National Guard in Los Angeles and the detainment of union leader David Huerta near Independence Hall in Philadelphia, Monday, June 9, 2025. (AP Photo/Matt Rourke)

Namun, terdapat pula korban salah tangkap. Misalnya, seorang warga AS keturunan Hispanik keliru diidentifikasi sebagai imigran dan dikirim ke penjara El Salvador. Keluarga dan berbagai lembaga swadaya masyarakat mengupayakan kepulangannya.

Anak-anak para pencari suaka juga ditangkapi, padahal mereka sedang dalam proses mendapatkan kewarganegaraan AS. Mereka adalah anak-anak yang orangtuanya memperoleh suaka di AS. Umumnya, mereka harus menunggu beberapa tahun untuk memperoleh kewarganegaraan AS.

Di dalam operasi ICE di LA, pasukan Garda Nasional diturunkan untuk mengawal agen-agen ICE. Awalnya, Garda Nasional bertugas mengawal obyek-obyek vital.

Harian Washington Post dan Politico melaporkan, Trump ingin memenjarakan para imigran gelap di Teluk Guantanamo, Kuba. Penjara itu dibuka pada 2002 untuk menampung narapidana teroris.

Bocoran yang diterima kedua media mengatakan, ada 9.000 orang yang diperkirakan hendak dikirim ke Guantanamo. Mereka termasuk warga negara Inggris, Polandia, Jerman, Perancis, Lituania, dan Turki.

Persatuan Kebebasan Sipil Amerika (ACLU) menggugat Pemerintah AS atas penahanan 70 imigran di Guantanamo. Penjara itu kondisinya menyedihkan dan tidak manusiawi.

”Pemerintah menggunakan lokasi yang diketahui sebagai tempat penyiksaan terburuk di sejarah AS,” kata ACLU. (AP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Laraswati Ariadne Anwar
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari