Tahun lalu AS menyerang Iran ketika proses perundingan berlangsung. Sejumlah pangkalan AS di Teluk terlihat sibuk. Iran juga sibuk mempersiapkan pertahanan.
11 Feb 2026 21:01 WIB · Internasional
AFP/Hannah Tross/US NAVY
WASHINGTON, SELASA – Suasana positif yang sempat menyeruak pascaperundingan tidak langsung antara Amerika Serikat dan Iran di Oman kini kembali dibayang-bayangi mendung ketidakpastian. Tekanan kembali dilontarkan oleh Presiden AS Donald Trump untuk memaksa Teheran meninggalkan semua program nuklir Iran. Sebaliknya, Teheran berkeras pada pendirian untuk tidak ”menyerahkan program” nuklir Iran.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Rabu (11/2/2026), mengatakan, Iran tidak akan menyerah pada tuntutan yang berlebihan. ”Negara kita, Iran, tidak akan menyerah pada tuntutan mereka yang berlebihan,” kata Pezeshkian dalam pidato peringatan ke-47 Revolusi Islam Iran yang digelar di Alun-alun Azadi, Teheran. ”Kita tidak akan menyerah dalam menghadapi agresi, tetapi kita terus berdialog dengan sekuat tenaga dengan negara-negara tetangga untuk membangun perdamaian dan ketenangan di kawasan ini.”
Sebelumnya, dalam wawancara dengan Axios dan Channel 12, Trump kembali melontarkan ancaman. ”Saya akan bertindak keras jika tidak tercapai kesepakatan dengan Iran. Sepakat atau kami bertindak,” kata Trump.
Kepada Axios, Trump mengatakan tengah mempertimbangkan mengirim armada kapal induk kedua ke Timur Tengah. Kehadiran mereka akan mendukung gugus tempur USS Abraham Lincoln yang ada di sekitar Laut Arab.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/11/5619c4a04edbd7e96a1a6db68f494349-TOPSHOT_US_IRAN_DEFENCE_DIPLOMACY_135852203.jpg)
Belum diketahui gugus tempur mana yang bakal dikirim. Satgas kapal induk USS George Washington yang berada di perairan Asia, dan satgas kapal induk USS George W Bush di pantai timur AS, menjadi pilihan utama untuk dikerahkan ke dekat Iran.
Alternatif lain adalah satgas kapal induk USS Gerald Ford yang baru saja dipakai menggempur Venezuela dan menculik Presiden Nicolas Maduro dan istri. Namun, paling cepat diperlukan waktu satu minggu bagi satgas kapal induk itu mencapai perairan Teluk Persia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/03/acf3431a486f1f6d18173527bcc1a1eb-US_VENEZUELA_CONFLICT_DIPLOMACY_134448794.jpg)
Melihat situasi yang kurang menguntungkan, Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani menggelar pembicaraan via telepon dengan Trump. Menurut Kantor Administrasi Keemiran, Emiri Diwan, kedua pemimpin membahas upaya deeskalasi dan stabilitas regional.
Qatar merupakan salah satu pihak yang selama ini mengupayakan pendekatan diplomatik untuk meredakan ketegangan antara Washington dan Teheran. Selama ini, Doha selalu berupaya mencegah konfrontasi militer antara Iran dan AS.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/11/81f408a7e6a6226597496d6b55eea1fe-wires_photo_2026_02_11T094407.705.jpg)
Pekan lalu, AS dan Iran bertemu di Oman. Mereka sepakat untuk melanjutkan perundingan tersebut. Namun, sejauh ini belum diketahui kapan dan di mana perundingan lanjutan akan digelar. ”Sesudah perundingan, kami merasa ada saling pengertian untuk melanjutkan proses diplomatik,” ujar Juru Bicara Kemenlu Iran Esmaeil Baghaei.
Baghaei berkata, Selasa, Iran mengirim misi ke Oman yang dipimpin Ali Larijani, penasihat Pemimpin Besar Ayatollah Ali Khamenei. Larijani akan melanjutkan misi ke Qatar.
Di Jakarta, Duta Besar Iran untuk Indonesia Muhammad Boroujerdi mengatakan, Iran berusaha berdialog dengan AS walau tidak bisa memercayai sepenuhnya. ”Terakhir kali kami berunding, mereka menyerang di tengah perundingan. Kali ini kita siap berdialog, tetapi juga siap menghadapi segala kemungkinan,” ucap Dubes Iran.
Dia menegaskan, Iran mendorong perdamaian kawasan dan berperang untuk membela diri.
Di sisi lain, Israel khawatir, AS akan tidak terlalu ngotot untuk membatasi program rudal balistik Iran dan penghentian dukungan Iran pada proksi mereka. ”Saya akan menyampaikan kepada Presiden persepsi kami tentang prinsip-prinsip dalam negosiasi,” ujar Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelum berangkat ke AS.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/05/f4992fa6aedcb2ffc96306ee499a0c20-TOPSHOT_TURKEY_IRAN_US_POLITICS_PROTEST_135746537.jpg)
Dalam kunjungan ketujuh—sejak awal tahun ini—ke AS, Netanyahu akan mendesak Trump untuk mengambil sikap lebih keras dalam perundingan nuklir dengan Iran.
Tampaknya harapan Netanyahu akan ditanggapi positif oleh Trump. Dalam wawancara dengan Fox Business, Trump menegaskan bahwa kesepakatan apa pun yang bisa diraih harus melibatkan sikap ”tidak ada senjata nuklir, tidak ada rudal”.
Senyampang itu, sejumlah pangkalan AS di Teluk kian sibuk. Pasukan AS di Pangkalan Al Udeid, Qatar—pangkalan terbesar di Timur Tengah—mengunggah rudal Patriot ke tabung peluncur bergerak M938 yang dapat berpindah lokasi jika Iran melakukan serangan balik.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/12/22/6a27bc77-d69b-42d9-8660-375b6e426c9b.png)
William Goodhind, pakar citra forensik perang, mengatakan, foto satelit pada Januari dan Februari 2026 memperlihatkan perubahan drastis pergerakan pasukan dan persiapan persenjataan dari rudal hingga beraneka pesawat tempur dan pengebom.
Juru bicara Pentagon belum memberikan tanggapan apa pun terkait mobilisasi pasukan dan persenjataan di pangkalan-pangkalan AS di kawasan Teluk. Selain baterai rudal Patriot, terlihat pesawat intai RC-135, 3 C-130 Hercules, 18 pesawat tanker KC 135 stratotanker, dan 17 pesawat angkut berat C-17. Pada 17 Januari terlihat 14 stratotanker KC 135 dan 2 C17 serta 10 rudal Patriot MIM-104.
Adapun di Pangkalan Muwaffaq, Jordania, dari citra satelit pada 2 Februari 2026 terpantau 17 jet tempur F-15-E, 8 jet serbu darat A-10 Thunderbolt, 4 pesawat angkut C-130 Hercules, dan 4 helikopter yang tidak teridentifikasi jenisnya. Adapun foto pada 16 Januari 2026 menghasilkan resolusi rendah yang tidak memungkinkan identifikasi alutsista di sana.
Dalam pantauan pada 2 Februari 2026 di Muwaffaq terlihat satu pesawat angkut berat C-17, satu C-130 Hercules, dan empat pesawat EA-18G Growler untuk perang elektronik yang belum terlihat pada 25 Januari 2026. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Iwan Santosa, Bonifasius Josie Susilo H, Helena F. NababanEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul