Belum juga ada kesepakatan dengan Iran, Trump sudah bikin usulan aneh-aneh lagi. Usulan Trump ini dikhawatirkan akan menggagalkan perundingan.
26 Mei 2026 09:00 WIB · Internasional
AFP/Brendan SMIALOWSKI
WASHINGTON, SENIN — Belum juga tercapai kesepakatan final dengan Iran, Presiden Amerika Serikat Donald Trump terus menambah pusing dan komplikasi pada proses negosiasi. Semua kerumitan itu untuk kepentingan Israel.
Trump menuntut Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Pakistan, Mesir, Turki, Bahrain, dan Jordania untuk segera menandatangani Kesepakatan Abraham atau Abraham Accord. Inti kesepakatan itu adalah pengakuan terhadap Israel.
Normalisasi hubungan dengan Israel ini diminta menjadi bagian dari perjanjian apa pun dengan Iran. Tak satu pun negara yang disebutkan Trump menanggapi permintaannya.
Selama bertahun-tahun, banyak negara menolak untuk menormalisasi hubungan dengan Israel. Terutama setelah dugaan kuat genosida oleh Israel di Gaza.
Bahrain dan Uni Emirat Arab menjadi dua negara pertama yang bergabung dalam Kesepakatan Abraham pada 2020. Lalu disusul Maroko dan Sudan. Baru-baru ini Kazakhstan juga tanda tangan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2020/09/16/TOPSHOT-US-ISRAEL-UAE-DIPLOMACY-POLITICS_91864895_1600217396.jpg)
Dalam pemikiran Trump, jika negara-negara tersebut menandatangani Kesepakatan Abraham, perdamaian AS-Iran akan lebih hebat dan bermakna. Trump, Senin (25/5/2026), mengaku sudah bicara dengan para pemimpin negara-negara itu tentang upaya untuk mengakhiri perang dengan Iran.
Sejumlah sumber menyebut, Trump menyampaikan itu dalam telekonferensi pada Sabtu lalu. Selepas pernyataan Trump, para pemimpin Timur Tengah terdiam. Trump sampai harus memastikan apakah mereka masih di jalur telekonferensi atau tidak.
Harapan dan asumsi dari pemerintahan AS ini menunjukkan betapa minimnya pemahaman mereka tentang Timur Tengah.
Dalam telekonferensi itu ada Mesir dan Jordania yang sudah puluhan tahun punya perjanjian terpisah dengan Israel. Ada juga Turki yang mengakui Israel pada 1949 walau hubungannya naik turun.
”Semua pekerjaan yang dilakukan oleh Amerika Serikat untuk mencoba dan menyatukan teka-teki yang sangat kompleks ini, seharusnya wajib bagi semua negara ini, setidaknya, secara bersamaan, untuk menandatangani Kesepakatan Abraham,” tulis Trump di media sosial.
Trump sudah lama berharap Arab Saudi akan bergabung. Namun, Arab Saudi dan Qatar menegaskan bahwa kesepakatan normalisasi apa pun dengan Israel membutuhkan penetapan rencana jelas untuk pembentukan negara Palestina terlebih dahulu.
Arab Saudi berpegangan pada Inisiatif Perdamaian Arab 2002. Inisiatif itu menyerukan Israel mengakui negara Palestina berdasarkan perbatasan tahun 1967 dengan Jerusalem Timur sebagai ibu kotanya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2020/09/16/US-ISRAEL-UAE-DIPLOMACY-POLITICS_91863075_1600217456.jpg)
Kesepakatan Abraham merupakan serangkaian perjanjian diplomatik, ekonomi, dan keamanan yang dibuat semasa jabatan pertama Trump. Kesepakatan itu dirancang sebagai upaya mempromosikan kerja sama antarnegara di Timur Tengah dan Afrika Utara. Trump melihatnya sebagai bagian dari upaya membuka jalan menuju hubungan penuh dengan Israel.
Kami hampir gila. Bayangkan kami berharap 10 kali sehari dan kecewa 100 kali sehari juga.
Kesepakatan Abraham tidak populer di banyak negara di Timur Tengah. Sebagian alasannya karena ternyata tak ada gunanya karena tak berhasil mengatasi konflik Israel-Palestina.
Trump mengaku masih bisa menerima jika hanya ada satu atau dua negara yang menolak tanda tangan, tetapi mayoritas harus mau. Mantan Duta Besar Pakistan untuk AS Masood Khan mengatakan masih harus dilihat seberapa layak usulan tersebut bagi negara-negara yang didesak Trump.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/26/eb13496721e1d20b52e62a63949ad1e3-Senate_Dems_Speak_Out_Against_War_In_Iran_2.jpg)
Anna Jacobs dari Institut Negara-negara Teluk Arab di Washington mengatakan, tuntutan terbaru Trump itu justru menambah bencana yang telah menjadi perang di semua lini bagi negara-negara Teluk.
”Keamanan nasional negara-negara Teluk terancam lebih dari sebelumnya karena keputusan sembrono Trump. Dia mengharapkan negara-negara di Teluk akan berterima kasih kepadanya. Walakin, mereka pasti tidak akan mau melakukannya. Harapan dan asumsi dari pemerintahan AS ini menunjukkan betapa minimnya pemahaman mereka tentang Timur Tengah,” kata Jacobs.
Tuntutan tak masuk akal Trump ini muncul setelah Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyarankan kesepakatan dengan Iran dapat dicapai dalam waktu sangat dekat atau bisa saja hari ini. Pengumuman Rubio bernada optimis ini saja sudah membuat harga minyak dunia anjlok.
Namun, juru bicara Kemenlu Iran, Esmaeil Baqaei, malah meredam harapan itu. ”Sudah ada kemajuan, iya. Namun, bukan berarti penandatanganan perjanjian sudah dekat, belum juga,” ujarnya.
Direktur Eksekutif Gulf International Forum Dania Thafer kepada Al Jazeera mengatakan, Trump coba menampilkan perang di Iran sebagai keberhasilan AS dan Israel. Negara-negara Teluk, khususnya Arab Saudi dan Qatar, jelas tidak akan tertarik mengakui Israel.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/26/65a99d6d7fe1cb394c018d785aa48ca5-wires_photo_32.jpg)
Di luar isu Palestina, negara-negara Teluk—yang menjadi sasaran serangan Iran selama perang—tidak ingin mengubah keseimbangan demi tatanan regional yang dipimpin Israel. Jika Trump bersikeras pada usulan normalisasi dengan Israel ini, kesepakatan AS-Iran bisa gagal. ”Tidak ada yang tahu apakah ini hanya retorika dan simbolis atau benar-benar posisi kebijakan substantif pemerintahan Trump,” ujarnya.
Di Teheran, warga mulai kehilangan kesabaran karena belum juga ada kemajuan. ”Kami hampir gila. Bayangkan kami berharap 10 kali sehari dan kecewa 100 kali sehari juga. Semua sudah frustrasi,” kata Amir (40). (AFP/AP)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan