Janji Trump untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina dalam 24 jam meleset. Rusia menolak proposal gencatan senjata AS.
02 Apr 2025 13:17 WIB · Internasional
WASHINGTON DC, RABU — Presiden Amerika Serikat Donald Trump kian frustrasi dengan alotnya perkembangan perundingan gencatan senjata Rusia-Ukraina. Ia menuduh pemimpin kedua negara sama-sama tidak serius menghentikan perang.
”Presiden mempertimbangkan menjatuhkan sanksi kepada Rusia karena dianggap tidak ada itikad baik,” kata Juru Bicara Dewan Keamanan Nasional James Hewitt, di Washington DC, Selasa (2/4/2025) waktu lokal atau Rabu (3/4/2025) waktu Indonesia.
Niat itu didukung setengah anggota Senat AS. Sebanyak 25 anggota Partai Republik dan 25 anggota Partai Demokrat di Senat menandatangani surat penjatuhan sanksi kepada para pejabat Rusia dan lembaga-lembaga yang menyokong mereka.
Sanksi itu turut menyasar negara-negara yang membeli minyak, gas, uranium, dan produk lain dari Rusia. Senator Republik Lindsay Graham dan Senator Demokrat Richard Blumenthal menjadi penggerak di dalam perumusan peraturan tersebut.
”Rusia adalah penyerang dan yang memulai konflik. Agresi Rusia harus dihentikan dan segala kemungkinan agresi di masa depan harus dicegah,” bunyi keterangan pers bersama kedua senator.
Trump dalam wawancara dengan NBC, Minggu (30/3/2025), mengutarakan kekesalannya. Ia menuding Presiden Rusia Vladimir Putin keras kepala serta ogah-ogahan. Ketika itu, Trump mengancam menambah sanksi 20-25 persen atas Rusia.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/02/41f21981-6531-48b6-9bf0-b6c7f0858be7_jpg.jpg)
Pada saat yang sama, Trump juga sebal kepada Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. Ia menuduh Zelenskyy berniat mangkir dari perjanjian logam tanah jarang. Isi perjanjian itu adalah AS akan memperoleh hak ekploitasi semua cadangan logam tanah jarang Ukraina.
Menurut Trump, keberadaan perusahaan AS di Ukraina sudah cukup memberi efek penggentar kepada Rusia agar tidak menyerang di masa depan. ”Awas saja kalau dia (Zelenskyy) mangkir. Dia akan mendapat masalah besar,” kata Trump.
Perkembangan negosiasi yang tidak sesuai dengan harapan Trump ini membuatnya gelisah. Hal ini karena sejak masa kampanye pemilihan umum 2024 sampai dengan dilantik menjadi kepala negara AS pada Januari 2025, Trump selalu sesumbar bisa menghentikan Perang Ukraina dalam 24 jam.
Trump mengandalkan kedekatannya dengan Putin. Bahkan, ia duluan yang menelepon Putin. Langkah ini diprotes oleh legislatif AS, Ukraina, dan negara-negara Eropa. Rusia sejak perang pecah per 24 Februari 2022 dikucilkan komunitas internasional.
Selain dianggap memberi Putin panggung, Trump juga dinilai turut membelanya. Trump justru menyalahkan Ukraina sebagai penyebab pecahnya konflik. Niat kuat Kyiv untuk bergabung dengan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) membuat Rusia marah dan melancarkan invasi.
Ia juga menghukum Ukraina dengan menghentikan bantuan senjata dan keuangan. Perbuatan Trump dikecam Eropa.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/02/731023bf-f4e3-4fe8-be86-e279e314b35e_jpg.jpg)
Bahkan, perjanjian gencatan senjata yang dirumuskan AS condong mendukung Rusia. Isinya adalah Ukraina tidak boleh bergabung dengan NATO, Rusia tidak perlu mengembalikan lima wilayah Ukraina yang mereka kuasai selama perang, dan AS memperoleh hak istimewa atas logam tanah jarang Ukraina.
Zelenskyy awalnya marah dan menolak rencana itu. Akan tetapi, akhirnya ia berubah pikiran. ”Ukraina menerima rencana gencatan senjata tanpa syarat apa pun,” ucapnya.
Terkait eksploitasi logam tanah jarang, Zelenskyy mengatakan masih mengkaji dari segi teknik. Ia melakukannya dengan melibatkan para profesional swasta Ukraina di bidang pertambangan. Kajian ini untuk menyiapkan Ukraina, sama sekali bukan menolak ataupun mempersulit AS.
Perundingan dilakukan pekan lalu dengan bantuan Arab Saudi selaku mediator. Namun, Rusia menunjukkan sikap kurang bersemangat membahas isi proposal yang disusun oleh AS.
Bahkan, Rusia kemudian mengajukan persyaratan tambahan. Menurut Moskwa rancangan perjanjian buatan AS itu luput membahas hal-hal yang memantik konflik ataupun yang berisiko memantik konflik.
Rusia meminta NATO tidak hanya berhenti mendekati Ukraina untuk bergabung, tetapi juga meninggalkan semua negara Eropa yang berbatasan dengan Rusia. Ada lima anggota NATO yang letaknya bersebelahan dengan Rusia, yaitu Polandia, Norwegia, Latvia, Estonia, dan Lituania. Finlandia akan menjadi yang keenam jika keanggotaan mereka disahkan.
Permintaan kedua Rusia ialah jaminan bahwa Eropa, AS, ataupun NATO tidak akan mengirim pasukan ke Ukraina. Keinginan ini bertolak belakang dengan perilaku Rusia. Mereka mendatangkan bantuan pasukan dari Korea Utara.
Persyaratan itu tidak akan disetujui AS ataupun Eropa. Bahkan, Menteri Luar Negeri AS dalam lawatannya ke negara-negara Balkan pada pekan lalu mengutarakan bahwa ia pesimistis perang akan usai dengan cepat.
Sementara itu, Wakil Menlu Rusia Sergey Ryabkov menuturkan, permintaan Kremlin masih dalam batas kewajaran. ”Namanya juga perang, situasinya sangat pelik. Tidak ada solusi yang mudah dan praktis,” tuturnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/02/dda039b1-b398-4e39-9da5-e8065a9cd85b_jpg.jpg)
Mandeknya perundingan ditanggapi komunitas internasional secara berbeda-beda. Menlu China Wang Yi yang melawat ke Moskwa menilai bahwa sesedikit dan selambat apa pun kemajuan tetap harus dihargai. Hal terpenting ialah kedua pihak bertikai mau bertemu dan duduk bersama. Setelah itu, baru pelan-pelan mengurai masalah.
Sebaliknya, Jerman memandang lebih skeptis dan pesimistis. Berlin juga mengkritik pendekatan AS terhadap mineral Ukraina yang ekspansionis.
”Setiap proses eksploitasi logam tanah jarang Ukraina semestinya sesuai dengan peraturan internasional,” kata Menlu Jerman Annalena Baerbock. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Laraswati Ariadne AnwarEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra