Trump Perpanjang Gencatan Tarif dengan China Selama 90 Hari

Pemberlakuan tarif Washington-Beijing ditunda lagi hingga awal November 2025. Langkah ini membantu memberi pebisnis kepastian.

12 Agt 2025 09:48 WIB · Internasional

Oleh Elsa Emiria Leba

WASHINGTON DC, SELASA — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani perintah untuk memperpanjang gencatan perang tarif dengan China. Penundaan tarif bea masuk produk China ke pasar AS ini berlaku selama 90 hari.

Pada Mei 2025, AS-China sepakat untuk gencatan perang tarif. Tarif AS terhadap produk China turun dari 145 persen menjadi 30 persen. Adapun tarif China atas produk AS berkurang dari 125 persen menjadi 10 persen. Batas waktu kesepakatan itu adalah 12 Agustus 2025. 

Wall Street Journal dan CNBC melaporkan perpanjangan waktu hingga 90 hari ke depan tersebut diputuskan oleh Trump beberapa jam sebelum tenggat. Dengan demikian, perang dagang kedua negara akan mereda sampai awal November 2025.

”Saya baru saja menandatangani perintah eksekutif yang akan memperpanjang penangguhan tarif terhadap China selama 90 hari lagi. Semua elemen perjanjian lainnya akan tetap sama,” kata Trump lewat pelantar Truth Social, Senin (11/8/2025), waktu setempat, atau Selasa (12/8/2025) WIB.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunjukkan perintah eksekutif yang telah ditandatangani dalam upacara penandatanganan perintah eksekutif di Ruang Roosevelt, Gedung Putih, Washington DC, AS, Kamis (31/7/2025). Berdiri bersama Trump adalah (dari kiri ke kanan) Menteri Perdagangan Howard Lutnick, Wakil Presiden JD Vance, pegolf Bryson DeChambeau, Kepala Kreatif WWE Paul Triple H Levesque, dan Menteri Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS Robert F. Kennedy Jr.

Saat ditanya soal tenggat waktu tersebut, Trump mengatakan, China telah berelasi dengan sangat baik. ”Hubungan Presiden Xi Jinping dan saya sangat baik,” ujarnya.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, mengatakan, China berharap AS akan bekerja sama untuk menindaklanjuti konsensus penting yang dicapai selama panggilan telepon antara kedua kepala negara.

”Kami berharap AS akan berusaha mencapai hasil positif berdasarkan kesetaraan, rasa hormat, dan saling menguntungkan,” ujarnya.

Presiden Dewan Bisnis AS-China Sean Stein berpendapat, perpanjangan tarif sangat penting untuk memberi waktu kepada kedua pemerintah untuk merundingkan kesepakatan. Selain itu, keputusan itu juga memberikan kepastian yang sangat dibutuhkan perusahaan untuk membuat rencana.

Belum deeskalasi

Bagi sebagian pengamat, kabar perpanjangan gencatan tarif AS-China tersebut semakin membuka peluang pertemuan Trump dan Xi. Sejak Juli 2025 ada dugaan mereka akan bertemu antara tanggal 30 Oktober dan 1 November 2025.

Trump bisa saja mengunjungi China sebelum menghadiri pertemuan Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik atau APEC 2025 di Korea Selatan. Opsi lain, keduanya akan bertemu di sela-sela acara APEC.

”Kesepakatan dagang akan membuka jalan bagi pertemuan puncak Trump-Xi musim gugur ini. Namun, ini tetap tidak akan mudah,” ujar Wakil Presiden Senior Institut Kebijakan Masyarakat Asia Wendy Cutler.

Penyebabnya, proses deeskalasi ketegangan hubungan kedua negara belum stabil. Setelah pertemuan di Geneva, Swiss, pada Mei 2025  yang menghasilkan gencatan tarif, pejabat AS-China sudah bertemu lagi pada Juni di London, Inggris, dan pada Juli di Stockholm, Swedia.

Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent (kanan) dan Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer mengadakan konferensi pers di Geneva, Swiss, Senin (12/5/2025). Mereka memberikan rincian "kemajuan substansial" setelah pertemuan tertutup dua hari antara pejabat tinggi AS dan China guna mengakhiri perang dagang.

William Yang, analis di Kelompok Krisis Internasional, meyakini, China akan memanfaatkan pengaruhnya atas ekspor logam tanah jarang guna menekan Washington. ”Beijing akan senang melanjutkan negosiasi AS-China, tetapi kecil kemungkinannya mereka akan memberikan konsesi,” tuturnya.

Dalam unggahannya di media sosial, Minggu (10/8/2025), Trump menyampaikan, China khawatir akan kekurangan kedelai, sedangkan AS menghasilkan kedelai. ”Saya harap China akan segera melipatgandakan pesanan kedelai. Ini juga merupakan cara untuk mengurangi defisit perdagangan China dan AS secara substansial,” katanya.

Bertemu CEO Intel

Sementara itu, Trump bertemu dengan CEO Intel Lip-Bu Tan bersama Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick dan Menteri Keuangan AS Scott Bessent, Senin. Tan dan anggota kabinet Trump akan menyampaikan saran kepada Trump pada pekan depan.

”Saya bertemu Lip-Bu Tan dari Intel. Pertemuan itu sangat menarik. Kesuksesan dan kebangkitannya merupakan kisah yang luar biasa,” tutur Trump.

Padahal, pekan lalu Trump menuntut Tan mundur secepatnya dari Intel. Menurut dia, Tan ”sangat berkonflik” kepentingan karena berhubungan dengan perusahaan-perusahaan China. Hubungan itu dinilai menambah ketidakpastian dalam upaya pemulihan Intel sebagai perusahaan teknologi pembuat cip.

Tan telah berinvestasi di ratusan perusahaan China, beberapa di antaranya terkait dengan militer China. Warga negara AS tidak melanggar hukum untuk memiliki saham di perusahaan China, kecuali perusahaan itu masuk dalam Daftar Perusahaan Kompleks Industri-Militer China milik Departemen Keuangan AS. Investasi dalam daftar itu dilarang.

Para pengunjung mengambil foto sampel wafer di stan milik perusahaan Intel asal Amerika Serikat selama Computex 2024 di Taipei, Taiwan pada 4 Juni 2024. Saham-saham terkait cip anjlok pada awal perdagangan Asia, Kamis (7/8/2025), setelah Presiden AS Donald Trump berencana mengenakan tarif 100 persen pada semikonduktor impor.

Di Intel, Tan bertugas untuk memperbaiki kesalahan sehingga Intel susah menembus industri cip AI. Saat ini, Nvidia mendominasi industri itu. Setelah enam bulan menjadi CEO, Tan melakukan perubahan strategis besar-besaran, termasuk divestasi aset, pemberhentian karyawan, dan pengalihan sumber daya.

Pertemuan Tan dengan Trump memberi peluang untuk berdiskusi langsung tentang komitmen Intel dalam memperkuat kepemimpinan teknologi dan manufaktur AS. ”Intel akan bekerja sama erat dengan pemerintah untuk memulihkan perusahaan Amerika yang hebat ini,” bunyi pernyataan Intel.

Intervensi Trump terhadap Intel merupakan contoh langka seorang presiden AS secara terbuka terlibat dalam urusan perusahaan. Selain menyerukan pemecatan CEO Intel, ia juga mewajibkan Nvidia dan AMD untuk memberikan 15 persen pendapatan dari penjualan di China kepada Pemerintah AS. (AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto