PERANG

Trump Remehkan Dampak Kenaikan Harga Minyak

Trump terus menghadapi tekanan politik karena dampak ekonomi global akibat perang. Namun, ia justru senang karena harga minyak melonjak.

13 Mar 2026 09:00 WIB · Internasional

AFP/GETTY IMAGES/ROBERTO SCHMIDT

Oleh Elsa Emiria Leba

WASHINGTON, JUMAT — Presiden Amerika Serikat Donald Trump meremehkan dampak perang AS-Israel melawan Iran yang berkepanjangan sehingga harga minyak global bergerak fluktuatif. Trump justru memuji kenaikan harga minyak karena mendapat untung.

Setelah mendekati harga 120 dolar AS per barel, harga minyak dunia yang sempat turun naik kembali. Harga minyak melonjak lebih dari 9 persen menjadi 100 dolar AS per barel, Kamis (12/3/2026). Kenaikan itu terjadi setelah Iran menutup Selat Hormuz, jalur penting untuk ekspor 20 persen pasokan minyak global.

Puluhan kapal tanker masih terdampar di perairan di kawasan. Dalam perkembangan terbaru, dua kapal tanker minyak terbakar di pelabuhan Irak setelah dihantam kapal-kapal yang diduga bermuatan bahan peledak milik Iran. Trump malah bersemangat.

”Amerika Serikat adalah produsen minyak terbesar di dunia, jauh lebih besar dari yang lain. Jadi, ketika harga minyak naik, kami menghasilkan banyak uang,” kata Trump di Truth Social, Kamis waktu setempat atau Jumat (13/3/2026) pagi WIB.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump bersama Ibu Negara Melania Trump menghadiri perayaan Women's History Month di White House, Washington DC, Kamis (12/3/2026). Amerika Serikat memperingati Women's History Month setiap Maret sejak 1987.
Sebuah kapal angkatan laut berlayar di Selat Hormuz, Minggu (1/3/2026). Dua kapal dilaporkan diserang di perairan strategis tersebut ketika Iran melancarkan hari kedua serangan balasan menyusul serangan militer Amerika Serikat dan Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei. Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan energi global yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Trump justru berpendapat, lebih menarik dan penting baginya untuk menghentikan rezim di Iran agar tidak memiliki senjata nuklir. ”Saya tidak akan pernah membiarkan itu terjadi!” ujarnya.

Trump terus menghadapi tekanan politik karena dampak ekonomi global akibat perang. Dia telah memberikan pesan yang beragam tentang kapan operasi militer AS mungkin berakhir.

Dalam sebuah wawancara pada awal Maret 2026, Trump mengatakan dirinya tidak khawatir tentang kenaikan harga gas karena harga akan turun ”dengan sangat cepat” ketika konflik berakhir. Ucapan itu sudah dibantah oleh para analis energi seiring perang yang berlanjut hingga pekan kedua.

”Meskipun memulai perang itu mudah, perang tidak dapat dimenangi hanya dengan beberapa cuitan. Kami tidak akan menyerah sampai membuat Anda menyesal atas kesalahan perhitungan yang serius ini,” kata Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Ali Larijani di X.

200 dolar AS

Harga minyak Brent mencapai titik tertinggi sepanjang masa pada tahun 2008, yaitu sekitar 147 dolar AS per barel. Kala itu, pemicunya ialah ketegangan antara Barat dan Iran atas program nuklirnya, dolar AS yang melemah, dan kekhawatiran inflasi.

Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan, harga minyak tidak mungkin mencapai 200 dolar per barel. Jawaban Wright muncul setelah seorang pejabat Iran mengungkapkan kemungkinan tersebut apabila perang semakin meningkat.

”Saya akan mengatakan kemungkinannya kecil, tetapi kami fokus pada operasi militer dan menyelesaikan masalah,” kata Wright kepada CNN.

Penggunaan kata ”kemungkinan kecil” oleh Wright adalah konsesi terselubung bahwa lonjakan hingga 200 dolar AS mungkin terjadi. Akan tetapi, ia kembali menegaskan, lonjakan harga akan berlangsung beberapa pekan, bukan beberapa bulan.

Infografik Harga Minyak Menembus 100 Dolar AS

Menurut CNBC, Wright juga mengatakan, Angkatan Laut AS tidak dapat mengawal kapal melalui Selat Hormuz sekarang. Pengawalan ”sangat mungkin” terjadi pada akhir bulan ini. ”Tidak ada kekurangan atau bahkan pasar minyak yang benar-benar ketat di belahan Barat. Masalahnya ada di Asia,” katanya.

Para analis memperingatkan, harga minyak bisa tetap tinggi karena penutupan penuh Selat Hormuz oleh Iran belum pernah terjadi. Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, Kamis, mengatakan, selat tersebut harus tetap ditutup sebagai alat tekanan.

”Bersiaplah untuk harga minyak mencapai 200 dolar AS per barel karena harga minyak bergantung pada keamanan regional yang telah Anda destabilisasi,” ujar Ebrahim Zolfaqari, Juru Bicara Markas Komando Militer Khatam al-Anbiya Teheran, Rabu (11/3/2026).

Demokrat kesal

Beberapa anggota parlemen dari Partai Demokrat mengkritik sikap Trump. Senator Demokrat dari Arizona, Mark Kelly, mengatakan, warga AS kelas pekerja dirugikan oleh perang yang diinisiasi oleh Trump.

”Satu-satunya pihak yang mendapat keuntungan dari kenaikan harga bensin adalah perusahaan-perusahaan minyak besar. Tetapi masuk akal mengapa Trump senang tentang hal itu karena dia hanya peduli pada orang kaya,” cuit Kelly, calon presiden potensial pada pemilihan presiden 2028, di X.

Anggota DPR Demokrat lainnya membuat komentar serupa di X, termasuk Mark Pocan dari Wisconsin dan Don Beyer dari Virginia. ”Orang-orang yang semakin kaya karena tingginya harga gas adalah para eksekutif perusahaan minyak,” ujar Pocan.

Beyer menambahkan, Trump harus mengakhiri perang ”bodoh” itu sekarang dan menurunkan harga bensin untuk rakyat AS. ”Untungnya bagi para donatur minyak besar, Trump tidak keberatan dengan penderitaan rakyat di SPBU karena mereka akan menghasilkan banyak uang,” ujarnya.

Harga bensin lebih dari 5 dollar AS per galon terpampang di stasiun pengisian ARCO di Los Angeles, California, Amerika Serikat, Rabu (11/3/2026). Harga bahan bakar melonjak di seluruh Amerika Serikat setelah hampir dua pekan perang dengan Iran, sementara minyak mentah Brent diperdagangkan di atas 90 dollar AS per barel di tengah kekhawatiran gangguan pasokan energi global.
Warga mengantre untuk mengisi bahan bakar di stasiun pengisian Bharat Petroleum di Varanasi, India, Selasa (10/3/2026). Lonjakan harga minyak akibat perang di Timur Tengah memicu kekhawatiran di sejumlah negara Asia yang sangat bergantung pada impor bahan bakar fosil.

Gedung Putih tidak segera menanggapi permintaan komentar tentang kritik mereka. Setelah perang berlangsung hampir dua pekan, harga bensin di AS terus melonjak. The Hill mencatat, harga bensin rata-rata di AS sekitar 3,6 dolar AS per galon pada Kamis, naik dari 2,94 dolar AS sebulan sebelumnya.

Kenaikan harga terjadi meskipun lebih dari 30 negara anggota Badan Energi Internasional (IEA), termasuk AS, mengumumkan pelepasan 400 juta barel minyak dari cadangan global. Dalam upaya lain untuk mengendalikan harga, pemerintahan Trump berencana menangguhkan Undang-Undang Jones guna memungkinkan kapal-kapal asing yang membawa produk energi dapat bergerak bebas antarpelabuhan AS, menurut Gedung Putih.

Pada Kamis, situs Departemen Keuangan AS menerbitkan lisensi umum baru terkait Rusia. Lisensi itu memungkinkan penjualan minyak mentah dan produk minyak bumi Rusia yang dimuat di kapal hingga 11 April 2026.

Senator Thom Tillis dari Partai Republik mengatakan, Trump dan pemerintahannya mungkin mengambil pandangan jangka panjang soal perang dan biaya perang. Namun, sebagian besar warga AS harus bergelut dengan anggaran mingguan.

(AFP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji