Trump: Tarif Akan ”Sedikit” Menyakitkan bagi Rakyat AS

Menurut Trump, tarif yang diberlakukan atas Kanada, Meksiko, dan China hanya akan membawa ”penderitaan jangka pendek”.

03 Feb 2025 10:00 WIB · Internasional

Oleh Laraswati Ariadne Anwar

WASHINGTON, SENIN — Tarif baru bagi semua barang impor dari Kanada, Meksiko, dan China yang diberlakukan Amerika Serikat segera berlaku pada Selasa (4/2/2025). Menurut Presiden AS Donald Trump, rakyat AS akan merasakan ”sakit” dari kenaikan harga, tetapi ini semua sepadan dengan ambisi membangkitkan perekonomian dalam negeri.

”Akankah ada rasa sakit? Ya, mungkin (dan mungkin juga tidak). Tapi, kita akan membuat AS hebat kembali. Semua rasa sakit ini akan sepadan,” cuit Trump di akun pelantar Truth Social.

Para pakar ekonomi di AS memperkirakan, untuk jangka pendek akan ada lonjakan harga barang. Padahal, salah satu alasan Trump memenangi pemilihan umum presiden November 2024 adalah karena rakyat AS sudah muak dengan inflasi yang menyebabkan kenaikan harga barang sejak pandemi Covid-19.

Trump mengatakan akan membahas tarif tersebut dengan Kanada dan Meksiko pada Senin (3/2/2025). ”Saya akan berbicara dengan Perdana Menteri (Justin) Trudeau besok pagi, dan saya juga berbicara dengan Meksiko besok pagi,” katanya kepada wartawan, Minggu (2/2/2025) malam waktu setempat atau Senin pagi waktu Indonesia.

”Saya kira tidak akan ada hal-hal yang sangat dramatis. Mereka berutang kita banyak uang, dan saya jamin mereka akan membayarnya,” ujar Trump.

(FILES) US President Donald Trump speaks to the press after signing an executive order in the Oval Office of the White House in Washington, DC on January 31, 2025. Trump is imposing steep tariffs on major US trading partners Canada, Mexico and China, with a lower rate on Canadian energy imports, said the White House on February 1, 2025. Washington will impose a 25 percent levy on imports from Canada and Mexico, with a 10 percent rate on Canadian energy resources, until both work with the United States on drug trafficking and immigration. Goods from China, said the White House, would face 10 percent tariffs. (Photo by Mandel NGAN / AFP)

Trump pada Rabu (1/1/2025) mengumumkan penjatuhan tarif 25 persen untuk semua barang impor dari Meksiko dan Kanada. Padahal, AS, Meksiko, dan Kanada terikat perjanjian perdagangan bebas negara-negara Amerika Utara atau USMCA.

Selain menaikkan tarif 25 persen untuk barang-barang dari Meksiko dan Kanada, Trump menaikkan tarif 10 persen kepada China dari tarif yang sudah ada sebelumnya. Walhasil, produk impor dari China kini memiliki biaya tambahan sebesar 60 persen.

Para analis mengatakan, akan ada harapan untuk negosiasi, terutama dengan Kanada dan China. Ada beberapa alasan Trump mengobarkan perang dagang dengan Meksiko dan Kanada. Kedua negara ini tetangga langsung yang mengapit AS di tengah-tengah.

Pertama, Trump kesal terhadap defisit neraca perdagangan. Meksiko adalah mitra dagang nomor satu AS dan disusul Kanada. Neraca perdagangan dengan Kanada di sektor energi saja membuat AS defisit 10 persen. Akan tetapi, data yang dipublikasikan oleh TD Economics menyatakan, AS menyeimbangkan defisit itu dengan mengekspor lebih banyak mobil ke Kanada.

Alasan kedua, Trump menyalahkan Meksiko dan Kanada membiarkan imigran gelap membanjiri AS. Menurut Trump, imigran adalah penyebab kejahatan, kemiskinan, dan kemerosotan AS. Ia juga mengutarakan niat memenjarakan para imigran gelap yang melakukan kejahatan serius di Penjara Teluk Guantanamo.

Alasan ketiga, soal penyelundupan narkoba, terutama jenis fentanil yang ia tuduhkan kepada negara-negara tetangga dan China.

Tanggapan negara target

China melalui keterangan pemerintah mengatakan hendak melawan kenaikan tarif sepihak ini di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Menurut mereka, AS melanggar peraturan global. Solusinya harus dicari melalui dialog yang terbuka dan peningkatan kerja sama.

Bagi Beijing, membawa perkara ke WTO juga menunjukkan itikad baik mereka. Di dalam konteks ini, China justru menjadi pihak yang bermain sesuai dengan aturan internasional dan tidak serampangan.

Surplus neraca perdagangan China dengan AS mencapai 1 triliun dollar AS pada 2024. Oleh sebab itu, China lebih berhati-hati dalam menanggulangi persoalan ini karena mereka tidak mau kehilangan pasar yang besar.

Terkait tuduhan Trump bahwa China membiarkan penyelundupan fentanil, Kementerian Luar Negeri China mengatakan, fentanil itu masalah AS. ”Kami sudah melakukan razia narkoba juga bersama AS yang sukses di China,” kata keterangan itu.

Canada's Prime Minister Justin Trudeau addresses media following the imposition of a raft of tariffs by U.S. President Donald Trump against Canada, Mexico and China, in Ottawa, Saturday, Feb. 1, 2025. Minister of Public Safety David McGuinty, left to right, Global Affairs Minister Melanie Joly and Minister of Governmental Affairs Dominic LeBlanc look on.  (Justin Tang/The Canadian Press via AP)

Sebaliknya, Kanada dan Meksiko memutuskan untuk membalas Trump. Apalagi, Trump melakukan tindakan yang oleh warga Kanada dianggap menghina. Trump mencuit di Truth Social bahwa AS mengucurkan banyak dana untuk menyubsidi Kanada dan semestinya Kanada bersyukur ditawari menjadi negara bagian ke-51 AS.

Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau mengumumkan membalas dengan menaikkan tarif 25 persen atas barang-barang dari AS. Tarif dijatuhkan pada komoditas impor dengan nilai total 106 miliar dollar AS. Barang-barang itu setara dengan 17 persen ekspor AS ke Kanada.

Beberapa provinsi di Kanada menghentikan impor minuman beralkohol dari AS. Bahkan, dalam pertandingan hoki es antara Toronto Raptors dari Kanada dan Los Angeles Clippers dari AS, para penonton Kanada mencemooh lagu kebangsaan AS yang diputar sebelum pertandingan.

”Kami juga mempertimbangkan langkah balasan nontarif, antara lain yang berkaitan dengan mineral kritis, pengadaan energi, dan program-program kerja sama,” kata Trudeau.

Sektor energi adalah impor dari Kanada yang tidak dijatuhi tarif 25 persen oleh Trump. Sebagai ganti, sektor energi dikenai tarif 10 persen yang dimulai sejak 18 Februari 2025.

Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum juga bersumpah akan membalas AS. Akan tetapi, belum ada keterangan lebih lanjut mengenai strategi dari Meksiko.

Miliarder Meksiko yang juga seorang bankir, Ricardo Salinas Pliego, mengunggah di X. Ia menyarankan agar Pemerintah Meksiko tidak membalas dengan menjatuhkan tarif kepada produk-produk AS. ”Pikirkanlah rakyat kecil. Jangan biarkan mereka menanggung biaya tambahan hanya demi membalas Trump,” cuitnya.

Sementara Charles Johnson, Ketua Asosiasi Aluminium AS, mengeluarkan pernyataan resmi kepada Trump. Menambah tarif atas aluminium impor dari Kanada justru membunuh industri dalam negeri AS. Hal serupa diutarakan David McCall, Ketua Persatuan Pekerja Baja AS (United Steelworkwers).

”Ada 850.000 pekerja AS di sektor pertambangan, pengolahan logam, dan lain-lain yang bergabung bersama United Steelworkers. Mereka akan terdampak tarif,” katanya, dikutip oleh Business Insider. (AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Laraswati Ariadne Anwar
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji