Trump vs Musk Menguntungkan Medsos, Mengancam Antariksa

Bukan cuma dramanya yang seru, pertengkaran Trump dengan Musk bisa-bisa membuat berbagai proyek antariksa AS mandek.

07 Jun 2025 15:48 WIB · Internasional

Oleh Laraswati Ariadne Anwar

WASHINGTON, DC, SABTU – Sepekan setelah resmi “bercerai”, perseteruan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan miliarder Elon Musk menjadi topik yang paling disimak di AS. Selain seru dari segi drama, dampak dari perpisahan Trump dengan mantan penyokong terbesarnya memengaruhi masa depan industri pelantar media sosial dan antariksa AS.

Trump dan Musk per Sabtu (7/6/2025) masih terus bertukar cercaan. Trump mencecar Musk melalui pelantar miliknya, Truth Social. Musk juga sibuk mencuit di X, pelantar yang ia beli pada tahun 2022.

Sejumlah tuduhan dilontarkan Musk kepada Trump, salah satu di antaranya ialah Trump terlibat di dalam jaringan prostitusi kelas atas yang dikelola oleh Jeffrey Epstein, pengusaha asal New York. Epstein tewas di dalam penjara pada 2018 yang diduga akibat bunuh diri. Menurut Musk, gara-gara nama Trump ada di dalam “buku hitam” Epstein, data mengenai kasus itu tidak disebar ke publik.

Sementara itu, kepada CNN, Trump mengatakan bahwa ia tidak memikirkan Musk sama sekali. “Dia (Musk) itu orang malang yang punya banyak masalah,” kata Trump.

Pendiri Tesla dan SpaceX Elon Musk (kanan) berorasi dan berkampanye di hadapan ribuan pendukung Donald Trump, calon presiden dari Partai Republik (kiri) di Butler, Pennsylvania, Sabtu (5/10/2024) Tesla CEO Elon Musk (R) speaks on stage as he joins former US President and Republican presidential candidate Donald Trump during a campaign rally at site of his first assassination attempt in Butler, Pennsylvania on October 5, 2024. (Photo by Jim WATSON / AFP)

Selain itu, kepada News Nation, seorang pejabat Gedung Putih mengungkapkan Trump berniat menjual mobil Tesla model S yang ia beli dari Musk beberapa bulan lalu. Ketika itu, saham Tesla anjlok gara-gara rakyat marah kepada Musk yang terlibat terlalu jauh di dalam pemerintahan AS, padahal ia bukan pejabat terpilih. Mereka memboikot Tesla.

Kala itu, sebagai bentuk dukungan kepada Musk yang menyumbang setidaknya 250 juta dollar AS untuk kampanye selama pemilihan umum 2024, Trump menyulap pekarangan Gedung Putih menjadi tempat menjajakan Tesla. Bahkan, kepala negara AS itu sendiri yang bertindak sebagai penjual dan ia membeli satu unit model S.

Dampak serius

Terlepas dari cekcok yang menjadi topik terpopuler di AS itu, perseteruan antara dua orang kaya yang memiliki pelantar media sosial tersendiri memiliki imbas lebih penting kepada politik dan perekonomian AS. Partai Republik, wahana politik Trump meminta agar keduanya segera berdamai, meskipun tidak bisa rujuk.

“Jika tidak segera diakhiri, perseteruan ini bisa menyedot semua perhatian, waktu, dan energi kita yang diperlukan untuk menyelesaikan berbagai tugas pemerintahan,” kata Dan Newhouse, anggota Faksi Partai Republik di DPR.

Penyebab kandasnya hubungan Trump dan Musk adalah rancangan undang-undang omnibus inisiatif Trump. Di dalamnya berisi usulan pengurangan pajak sampai dengan menambah razia serta deportasi imigran gelap.

RUU omnibus itu apabila diterapkan akan memakan biaya yang sangat besar. Musk menentang pengesahan RUU itu karena bertentangan dengan misi Departemen Efisiensi Pemerintah (DOGE), lembaga yang ia buat dan kepalai atas perintah Trump.

DOGE bertugas menghemat pengeluaran pemerintah AS sebesar 2 triliun dollar AS. Cara yang mereka ambil ialah dengan menutup berbagai unit kerja di kementerian/lembaga, memotong dana riset, dan memecat pegawai. Rakyat marah atas tindakan yang semena-mena, tanpa kajian mendalam, dan dilakukan oleh Musk yang bukan pejabat pemerintah.

Ketidaksetujuan Musk atas RUU ini yang membuat dia memilih hengkang dari Gedung Putih. Awalnya, ia dan Trump berpisah baik-baik, bahkan melakukan jumpa pers bersama. Akan tetapi, setelah itu, Musk dalam wawancara dengan CBS menjelek-jelekkan pemerintahan Trump.

President Donald Trump and Tesla CEO Elon Musk speak to reporters near a red Model S Tesla vehicle on the South Lawn of the White House Tuesday, March 11, 2025, in Washington. (Pool via AP)

“Pokoknya, di pemerintahan itu kalau ada yang tidak becus atau membuat kekeliruan, semua disalahkan ke DOGE,” ucapnya. Wawancara yang ditayangkan pada Minggu (1/6/2025) itu menjadi pemutus pertemanan Trump-Musk.

Musk kini terus mengkritik RUU omnibus yang memantik perang cuitan antara dia, Trump, dan para pendukung mereka. Para anggota Faksi Partai Republik mengkhawatirkan, dukungan masyarakat terhadap RUU ini berkurang, sementara mereka ingin segera mengesahkan melalui rapat paripurna. Fakta bahwa mayoritas anggota DPR dari Partai Republik tidak menjamin sidang akan lancar apabila konstituen tidak mendukung.

Ketua DPR AS Mike Johnson yang dari Partai Republik berusaha menenangkan suasana. “Persoalan antara Presiden Trump dan Musk tidak akan memengaruhi kinerja kita di DPR. Kita pasti bisa mengegolkan RUU ini sesuai tenggat,” ujarnya.

Menyegarkan media sosial

Sementara itu, dari aspek media sosial, warganet mengutarakan bahwa drama antara Musk dan Trump ini membuat media sosial kembali menyenangkan. Gambar dan emoji jagung brondong (popcorn) menjadi gambar yang paling banyak beredar di media sosial, mengindikasikan warganet menonton Trump versus Musk sebagai hiburan gratis.

Unggahan-unggahan di media sosial mengatakan, warganet lelah selama beberapa tahun terakhir karena media sosial merusak persatuan bangsa. Isinya mayoritas komentar-komentar politik yang condong ke kubu-kubu tertentu. Meledaknya pertengkaran Trump melawan Musk menjadi ajang pemersatu warganet serta melahirkan ribuan meme.

“Ini berdampak positif bagi X karena membuat warganet tertarik kembali untuk berinteraksi di pelantar ini,” kata Direktur Utama X Linda Yaccarino.

Sejak Musk membeli Twitter dan mengubah namanya menjadi X, banyak penggunanya yang kabur dan memilih membuka akun di pelantar lain. Pasalnya, Musk menerapkan kebebasan berekspresi tanpa batas, termasuk mengizinkan hoaks, ujaran kebencian, dan fitnah di X.

This screen shot taken Monday, July 24, 2023, in New York, shows Elon Musk's Twitter page with the new X logo that he introduced a day before. Musk has unveiled a new "X" logo to replace Twitter's famous blue bird as he follows through with a major rebranding of the social media platform he bought for $44 billion last year. The X started appearing at the top of the desktop version of Twitter on Monday, but the bird was still dominant across the smartphone app. (Twitter via AP)

Ahli kajian komunikasi Universitas Cornell, Sarah Kreps menerangkan, X adalah pelantar yang berbasis kehadiran individual. Kekuatan sosok personal seseorang yang membuat ia mempunyai banyak pengikut. Musk selaku pemilik X dan sedang mengalami cekcok level tinggi membuat kepopuleran X melonjak, minimal untuk jangka pendek.

“X dijauhi oleh para pendukung Trump, tetapi masih menjadi pelantar diskursus politik terbesar. Jika Trump ikut masuk X untuk ‘bertempur’ dengan Musk, ini mengubah dinamika politik akar rumput AS,” kata Kreps.

Data lembaga kajian media sosial, Sensor Tower, mengatakan, penggunaan X dan Truth Social meningkat 50 persen sejak cekcok terjadi. Jumlah pemakai X masih 100 kali lebih besar dari Truth Social. Penggunaan media sosial lain, Bluesky, misalnya, juga naik berkat pembahasan mengenai Trump dan Musk.

Meskipun begitu, Jasmine Enberg, pakar dari lembaga kajian Emarketer belum bisa memperkirakan pengaruhnya terhadap laju iklan di media sosial. Kemungkinan, para pemasang iklan di X karena kedekatannya dengan Trump akan mundur untuk sejenak. Akan tetapi, ini bukan berarti X akan krisis iklan.

Antariksa

Tidak hanya media sosial, antariksa pun terpengaruh perpisahan Trump dan Musk. Miliarder terkaya di dunia versi majalah Forbes ini adalah pemilik SpaceX. Berkat kedekatannya dengan trump, SpaceX bisa mendapat sejumlah proyek strategis.

Ketika pecah kongsi, Trump mengancam membatalkan kontrak pemerintah federal dengan SpaceX. Musk membalas mengancam membatalkan Dragon, kapsul buatan SpaceX yang dipakai oleh Badan Penerbangan dan Antariksa (NASA) untuk menjalankan misi mereka. Dragon adalah satu-satunya kendaraan para astronot NASA untuk mencapai Stasiun Antariksa Internasional (ISS).

“AS tidak bisa berkolaborasi dengan Rusia untuk mengantar astronot ke ISS di tengah kondisi geopolitik sekarang,” kata Laura Forczyk, pakar antariksa.

AS dan Rusia sedang bertikai akibat invasi Rusia ke Ukraina. Jika Dragon dicabut dari kontrak dengan NASA, lembaga itu akan kelabakan mencari roket-roket negara lain yang bisa ditumpangi. Roket NASA sendiri belum selesai dibuat.

CAPE CANAVERAL, FLORIDA - SEPTEMBER 09: SpaceX's Polaris Dawn Falcon 9 rocket sits on Launch Complex 39A of NASA's Kennedy Space Center as it is prepared for another attempt to liftoff on September 9, 2024 in Cape Canaveral, Florida. The Polaris Dawn mission is a private spaceflight backed by Jared Isaacman, the billionaire founder of payments platform company Shift4. During the mission, the astronauts will attempt the first spacewalk by a private company. The launch has been re-scheduled from Tuesday, August 27, to Tuesday, September 10th, at 3:38 am and has a four-hour window. Joe Raedle/Getty Images/AFP (Photo by JOE RAEDLE / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

Selain itu, keluarnya SpaceX dari NASA bisa mengancam kelanjutan Proyek Artemis. Proyek Artemis adalah kelanjutan Proyek Apollo yang dikembangkan NASA pada tahun 1960-an. Proyek Apollo bercita-cita membawa manusia ke bulan, kini Proyek Artemis bertujuan manusia bisa menguasai bulan.

Salah satu ambisi Proyek Artemis adalah menambang es di bulan untuk dijadikan energi. Selain itu, juga ada rencana pengembangan bulan sebagai terminal penghubung penjelajahan luar angkasa lebih lanjut. China adalah saingan terbesar di Proyek Artemis. Selain itu, India juga mulai mengembangkan cita-cita sendiri untuk menjejakkan kaki di bulan dan mengeksploitasinya.

“Ilmu keantariksaan AS terancam mandek jika perseteruan Trump dan Musk tidak dikelola dengan baik,” kata Forczyk. (AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Laraswati Ariadne Anwar
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari