Jika Presiden AS Donald Trump nekat mengenakan tarif baru bagi Eropa, Uni Eropa akan menyiapkan balasan denga ”bazooka” perdagangan yang bisa melemahkan AS.
20 Jan 2026 12:54 WIB · Internasional
AFP
BRUSSELS, SENIN — Enggan dibayangi oleh tekanan tarif Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam isu Greenland, Uni Eropa tengah bersiap membalas. Perhimpunan itu memiliki dua pilihan cara untuk membalas ancaman Trump. Pertama, Eropa bisa membalas dengan cara diplomatik, di antaranya dialog. Atau, kedua, membalas Trump dengan memberlakukan tarif untuk beragam produk AS.
Pasalnya, Trump telah membuat Eropa marah dengan rencana memberlakukan pajak impor 10 persen untuk barang-barang dari delapan negara yang mendukung Denmark dan Greenland.
Tarif itu akan naik menjadi 25 persen pada 1 Juni 2026 jika tidak ada kesepakatan terkait Greenland. Kedelapan negara tersebut, yakni Denmark, Norwegia, Swedia, Perancis, Jerman, Inggris, Belanda, dan Finlandia, menyebut pajak yang akan mulai berlaku Februari 2026 ini bentuk pemerasan Trump.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/20/d604fc4bc05aabe9921ac009c226932e-wires_photo_148.jpg)
”Prioritas kami adalah untuk diplomasi dan berdialog, bukan meningkatkan ketegangan. Terkadang bentuk kepemimpinan yang paling bertanggung jawab adalah menahan diri. UE (Uni Eropa) punya alat yang dapat digunakan dan siap untuk merespons jika ancaman tarif diberlakukan,” kata juru bicara Komisi Eropa, Olof Gill, Senin (19/1/2026).
UE memiliki tiga alat ekonomi utama yang dapat digunakan untuk menekan AS, yakni tarif baru, penangguhan kesepakatan perdagangan AS-UE, dan ”bazooka perdagangan”. Ini istilah tidak resmi untuk Instrumen Anti-Koersi UE yang dapat memberikan sanksi kepada individu atau lembaga yang memberikan tekanan yang tidak semestinya kepada UE.
Pada 2021, Komisi Eropa membentuk Instrumen Anti-Koersi (ACI) setelah China membatasi perdagangan ke Lituania gara-gara membangun hubungan dengan Taiwan. Tujuan utama ACI adalah pencegahan.
Namun, sejumlah negara Eropa tidak mau UE menggunakan bazooka ini karena khawatir situasi malah semakin tegang. Secara teori, UE dapat menargetkan apa saja, mulai dari perusahaan teknologi dan kripto AS, hingga produsen pesawat terbang atau produk pertanian.
Namun, konsumen Eropa mungkin akan keberatan dengan biaya tambahan atau pembatasan terhadap perusahaan AS, seperti Apple atau Netflix. Hanya Perancis dan Jerman, dua raksasa ekonomi di UE, yang setuju memakai cara itu untuk membalas Trump. ”Ancaman tarif tidak dapat diterima dan tidak memiliki tempat dalam konteks ini,” kata Presiden Perancis Emmanuel Macron.
Harian The Guardian menyebutkan, memakai bazooka sebenarnya bukan hal mudah bagi Eropa. Apalagi ”senjata” ini belum pernah digunakan sebelumnya. Oleh karena itu, tidak ada yang tahu seberapa cepat atau efektifnya alat itu. Komisi Eropa dapat menghabiskan waktu hingga empat bulan untuk menilai apakah terjadi pemaksaan dan negara-negara anggota.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/20/10fe69a30147ad5ad970bd9f60e22505-TOPSHOT_COMBO_US_DENMARK_GREENLAND_EUROPE_DIPLOMACY_135120756.jpg)
Selain itu, butuh waktu delapan hingga 10 minggu lagi untuk menyetujui—atau tidak menyetujui—keputusan tersebut. Setiap pembalasan akan membutuhkan persetujuan dari mayoritas negara anggota dan putaran negosiasi terakhir.
Sebagai alternatif, UE dapat memilih pembalasan yang kurang drastis, tetapi lebih cepat, yakni dengan mengaktifkan kembali bea masuk atas barang-barang AS senilai 93 miliar euro, termasuk minuman alkohol bourbon, pesawat terbang, dan kedelai, yang disusun sebagai respons terhadap ancaman tarif sebelumnya. Tindakan balasan ini ditangguhkan setelah kesepakatan perdagangan Uni Eropa-AS musim panas lalu. Akan tetapi, penangguhan sementara itu berakhir pada 6 Februari, yang berarti tarif akan berlaku pada hari berikutnya.
Nilai gabungan impor AS dari negara-negara yang menjadi target Trump mencapai lebih dari 365 miliar dolar AS (£272 miliar) tahun lalu. Ini setara dengan sekitar setengah dari ekspor UE ke AS. Jerman menjual paling banyak, yaitu lebih dari 160 miliar dolar AS, diikuti Inggris sebesar 68 miliar dolar AS dan Perancis sebesar 60 miliar dolar AS. Goldman Sachs memperkirakan tarif 10 persen akan menurunkan pendapatan domestik brutto riil di negara-negara Eropa yang terkena dampak antara 0,1 persen dan 0,2 persen melalui penurunan ekspor.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/20/7770193a35491941cd3a541fbbf0bb18-Banks_Earnings_135302229.jpg)
Dampak terbesar akan dirasakan oleh Jerman, hingga 0,3 persen jika diterapkan sebagai tarif menyeluruh pada semua barang. Untuk zona euro secara keseluruhan, dampak yang tersirat akan bernilai sekitar 0,1 persen, dengan dampak serupa bagi Inggris. Namun, AS tidak akan terhindar dari konsekuensinya.
Pajak perbatasan tambahan atas impor AS akan dibayar oleh bisnis dan konsumen AS. Ini akan memukul aktivitas dan investasi, dan mungkin memicu inflasi. Kepala ekonom Dana Moneter Internasional, Pierre-Olivier Gourinchas, memperingatkan, perang dagang yang saling balas dapat menurunkan output global sekitar 0,3 persen. ”Kita semua tahu bahwa tidak ada pemenang dalam perang dagang dan itulah yang harus diingat,” ujarnya.
Presiden Dewan Eropa António Costa mengatakan, para pemimpin UE sudah sependapat bahwa tarif akan merusak hubungan transatlantik dan tidak sesuai dengan perjanjian perdagangan UE-AS. Meski begitu, para pemimpin UE akan siap membela diri terhadap segala bentuk paksaan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/20/53e171ddf4bd544c055a297cfbfbfa79-wires_photo_149.jpg)
Menteri Keuangan Irlandia Simon Harris memperingatkan agar tidak meningkatkan ketegangan yang dapat menggagalkan kesepakatan yang telah susah payah diraih itu. ”Kita sudah kerja sangat keras untuk punya perjanjian perdagangan dengan AS dan memastikan aktivitas ekonomi terus mengalir melintasi Atlantik,” ujarnya.
Ekspor terbesar Eropa ke AS adalah farmasi, mobil, pesawat terbang, bahan kimia, instrumen medis, minuman anggur, dan minuman keras. Secara tidak langsung, UE telah berupaya mengalihkan ekonominya dari AS ke bagian lain dunia.
UE menandatangani kesepakatan perdagangan besar-besaran dengan lima negara di Amerika Selatan, serta perjanjian terpisah dengan Indonesia dan Jepang. Para pejabat UE juga sedang mengerjakan kesepakatan perdagangan bebas serupa dengan Uni Emirat Arab dan India.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/02/08/8f137314-5854-4cda-a97b-74b8f8d2229c.jpg)
Gill mengatakan, kesepakatan India akan mencakup hampir 2 miliar orang. Bersama dengan kesepakatan di Amerika Selatan, ini memberikan kemenangan yang jelas bagi UE setelah kekacauan ekonomi global akibat Trump. Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas menegaskan, UE tidak tertarik untuk memulai pertengkaran dengan AS, tetapi akan tetap mempertahankan pendirian.
Gedung Putih belum mengesampingkan kemungkinan mengambil alih Greenland dengan kekerasan. Perdana Menteri Inggris Keir Starmer berupaya meredakan ketegangan. ”Saya pikir ini dapat diselesaikan dan harus diselesaikan melalui diskusi yang tenang,” ujarnya.
Sejumlah negara Eropa juga sudah mengirimkan pasukan ke Greenland untuk membantu pertahanan Greenland. Menteri Pertahanan Denmark Troels Lund Poulsen sudah bertemu Sekretaris Jenderal Pakta Pertahanan Atlantik Utara Mark Rutte untuk menyampaikan usulan operasi pengawasan di Greenland. Rutte menekankan pentingnya Greenland bagi keamanan kolektif NATO.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/20/5e62c8bc76e2ab14b0613abea4ea8e1d-TOPSHOT_GREENLAND_DENMARK_US_DEFENCE_NATO_135407878.jpg)
Sementara itu, pesawat dari Komando Pertahanan Dirgantara Amerika Utara (NORAD), organisasi militer gabungan AS-Kanada, akan segera tiba di Pangkalan Luar Angkasa Pituffik AS di Greenland untuk kegiatan ”yang telah lama direncanakan”.
Ketegangan di Greenland meningkat dalam beberapa hari terakhir dengan ribuan warga Greenland yang berunjuk rasa. Meski Trump mengancam dengan tarif, mereka tak gentar. ”Kami tidak akan tertekan,” kata Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen.
Para pengunjuk rasa di Greenland banyak yang mengenakan topi bisbol merah yang meniru topi MAGA (”Make America Great Again”), ikonik Trump. Namun, topi merah MAGA di Greenland bertuliskan ”Make America Go Away”. Topi yang menjadi simbol perlawanan Denmark dan Greenland ini populer di media sosial dan saat unjuk rasa.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/20/36f0aa782444b05ae0643b374e64cd96-Denmark_Greenland_US_Red_Hats_2.jpg)
Topi itu dibuat oleh pemilik toko pakaian vintage Kopenhagen, Jesper Rabe Tonnesen (58). Permintaan topi itu melonjak dan habis terjual dalam sehari. Ada juga yang memakai permainan kata: ”Nu det NUUK!”. Ini pelesetan dari frasa Denmark, ”Nu det nok”, yang artinya ”Sekarang sudah cukup”, dengan mengganti kata Nuuk, ibu kota kecil Greenland.
”Ketika delegasi dari Amerika datang ke Greenland, kami mulai menyadari ini mungkin bukan lelucon, bukan reality televisi, tapi benar-benar kenyataan. Jadi, saya bikin topi ini sebagai cara komunikasi yang lucu dan pesan yang baik agar rakyat Denmark bersatu mendukung Greenland,” kata Tonnesen.
Para pengunjuk rasa, Sabtu lalu, mengibarkan bendera Denmark dan Greenland berwarna merah dan putih serta membawa plakat-plakat yang mengejek klaim AS atas wilayah Greenland, seperti ”Tidak Berarti Tidak” dan ”Jadikan Amerika Cerdas Lagi”. ”Saya ikut mendukung penentangan Greenland. AS mengancam menginvasi Greenland, dan itu tidak dapat diterima,” kata salah satu pengunjuk rasa, Kristian Boye (49). (REUTERS/AFP/AP)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto