Uskup Anglikan Jerusalem: Nasib Anak-anak Gaza Mirip di ”Hunger Games”

Mereka berebut makanan, ditembaki, sebagian di antaranya tewas mengenaskan laksana adegan di novel distopis ”Hunger Games”.

16 Jul 2025 19:14 WIB · Internasional

Oleh Laraswati Ariadne Anwar

Malapetaka terus menimpa orang-orang yang mengantre untuk memperoleh bantuan sosial di Jalur Gaza, Palestina. Pemandangannya begitu mengerikan, sampai-sampai Uskup Gereja Anglikan Jerusalem menyamakannya dengan adegan di dalam cerita Hunger Games.

”Kami kekurangan stok obat-obatan. Sistem distribusi makanan sungguh mengerikan. Setiap hari, cuma tiga posko yang buka selama satu jam untuk melayani 2 juta orang. Bagi saya, ini lebih mirip dengan Hunger Games,” kata Uskup Gereja Anglikan Jerusalem Hosam Naoum, Rabu (16/7/2025). Naoum sedang berada di York, Inggris, untuk mengikuti pertemuan Sinode Gereja Anglikan.

Hunger Games adalah serial novel karya Suzanne Collins yang kemudian disadur menjadi film yang dibintangi oleh Jennifer Lawrence. Berlatar di masa depan yang distopis, premisnya terinspirasi dari zaman Romawi Kuno tentang orang-orang yang bertarung di arena demi kesejahteraan.

Beda dengan Romawi Kuno, bukannya gladiator yang bertarung di Hunger Games, melainkan anak-anak dan remaja. Setiap daerah mengirim dua anak sebagai tribut yang harus bertarung sampai mati. Pemenangnya menerima hadiah pasokan makanan untuk daerah asalnya selama satu tahun sampai Hunger Games berikutnya diadakan.

People carrying aid parcels, walk along the Salah al-Din road near the Nusseirat refugee camp in the northern Gaza Strip, used by food-seeking Palestinians to reach an aid distributution point set up by the privately-run Gaza Humanitarian Foundation (GHF), on June 25, 2025. (Photo by Eyad BABA / AFP)

Dilansir surat kabar Independent dan Telegraph, demikianlah pidato Naoum menggambarkan suasana distribusi makanan. Panjangnya antrean, cuaca yang tidak bersahabat, dan waktu terbatas membuat pembagian makanan menjadi ajang saling mendesak dan menindih. Anak-anak banyak menjadi korban karena mereka membantu orangtuanya mencari makan.

”Saya menyadari, sebagai gereja kita hidup dan mengejawantahkan ajaran ketuhanan. Kita bukan politikus, tetapi kita wajib berbicara melawan ketidakadilan demi kemanusiaan dan arti menjadi seorang penganut Kristiani,” kata Naoum.

Ia mengatakan, jalan keluar paling manusiawi ialah menghentikan pendudukan di wilayah Palestina. Oleh sebab itu, solusi dua negara harus diutamakan sebagai penyelesaian dan cara supaya konflik tidak berlanjut.

GHF

Posko-posko ini dikelola oleh Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF), kolaborasi Israel dan Amerika Serikat. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan beragam organisasi kemanusiaan global sudah mendesak agar GHF ditutup dan pemberian bantuan sosial dikembalikan ke ranah PBB.

Data PBB menyebutkan, ada 798 kematian akibat antrean bantuan sosial. Selain kondisi antrean yang tidak manusiawi, lokasi posko sering kali berada di dekat sasaran tembak militer Israel. Ravina Shamsadani, juru bicara Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia PBB (OHCHR), mengatakan, mayoritas kematian berada di lokasi posko GHF.

”Data 27 Mei-7 Juli 2025, ada 798 orang tewas. Sebanyak 615 korban tewas di sekitar posko GHF dan 183 korban diduga tewas dalam perjalanan menuju posko,” tutur Shamsadani saat jumpa pers di Geneva, Swiss, pekan lalu. Berdasarkan data per Selasa (15/7/2025), jumlah korban tewas bertambah menjadi 875 orang.

Palestinians gather at an aid distributution point set up by the privately-run Gaza Humanitarian Foundation (GHF), near the Nuseirat refugee camp in the central Gaza Strip on June 25, 2025. (Photo by Eyad BABA / AFP)

Pada Rabu (16/7/2025), 20 orang tewas di posko GHF di Khan Younis. Berdasarkan keterangan lembaga itu, 19 orang tewas akibat berdesakan dan satu orang tewas tertusuk. Menurut mereka, situasi menjadi saling tindih karena ada provokator bersenjata. ”Kami meyakini para provokator ini berhubungan dengan Hamas dan sengaja membuat kekacauan,” kata GHF dalam keterangan pers.

Sejauh ini, Hamas belum menanggapi tuduhan itu. Para tenaga kesehatan Palestina melaporkan, situasi di posko tidak manusiawi. Lokasinya berada di titik yang sempit, sementara ribuan orang berdesakan mengantre.

Palestina dan PBB mengatakan, para korban banyak pula yang tewas akibat ditembak. Hal itu diakui militer Israel. Mereka berdalih ada markas Hamas di dekat posko GHF. Setiap kali jatuh korban, militer Israel mengatakan berjanji mengevaluasi operasi mereka di lapangan.

Membagi wilayah

Perundingan gencatan senjata Hamas dan Israel masih berlangsung di Doha, Qatar, dengan mediasi Qatar dan AS. Sejauh ini, persyaratan dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menjadi hambatan terbesar.

Netanyahu menginginkan Hamas dilucuti dan dibubarkan. Israel juga meminta 40 persen wilayah Gaza sebagai zona penyangga. Warga Palestina di sana nantinya dimasukkan ke wilayah permukiman khusus. Gagasan itu ditolak oleh Hamas.

Di Khan Younis, militer Israel membangun jalan yang memisahkan wilayah kota bagian timur dengan wilayah-wilayah lain. Alasannya untuk memutus rantai distribusi senjata ke Hamas.

Secara total, perang Hamas-Israel yang pecah sejak 7 Oktober 2023 telah menewaskan 58.000 warga Gaza dan 1.650 warga Israel dan negara-negara lain. Hamas menculik 250 orang untuk dijadikan sandera. Sebanyak 47 orang masih ditawan dan 27 di antaranya sudah meninggal. (REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Laraswati Ariadne Anwar
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra