Veddriq Leonardo dan Desak Made Rita mempersembahkan prestasi tinggi di tengah efisiensi anggaran yang mengharuskan atlet rogoh kocek pribadi untuk ikut Piala Dunia.
12 Jul 2026 09:53 WIB · Olahraga
Photo: World Climbing/Jan Virt
CHAMONIX, MINGGU — Veddriq Leonardo dan Desak Made Rita Kusuma Dewi mempersembahkan dua medali emas di seri Piala Dunia Panjat Tebing 2026 Chamonix, Perancis. Prestasi yang dilengkapi satu perak itu istimewa, tercipta di tengah terpaan cedera hingga keterbatasan dana dari pemerintah yang membuat para pemanjat turut merogoh kocek pribadi untuk perlombaan.
Senyum merekah di wajah Veddriq dan Desak saat turun dari papan panjat. Kebahagiaan itu terpancar setelah mereka memastikan jadi pemanjat tercepat pada final speed di Chamonix, Minggu (12/7/2026) itu. Dua pemanjat Olimpian ini menyandingkan emas yang dilengkapi perak dari Antasyafi Robby Al Hilmi.
Dengan 4,89 detik, Veddriq memenangi final sesama Indonesia melawan yuniornya, Robby, yang finis dalam 5,11 detik. Sementara itu, Desak (6,22 detik) memenangi adu kecepatan melawan wakil Italia, Giula Randi (6,51 detik).
Pencapain itu istimewa bagi Veddriq dan Desak. Emas di Chamonix adalah emas pertama Veddriq di seri Piala Dunia setelah tiga tahun lamanya. Veddriq terakhir kali menyabet emas pada Piala Dunia 2023 Salt Lake City, AS.
”Rasanya sudah cukup lama (tidak meraih emas), jadi saya begitu bahagia dan bersyukur dengan pencapaian ini,” ucap Veddriq.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/07/12/c713e99c-955c-4fee-a255-5a65b4761cba_jpg.jpg)
Pencapaian ini begitu berarti buat saya. Apalagi, saya berkali-kali tidak bisa latihan dengan baik karena problem cedera di Madrid, di Krakow, dan di sini pun saya bahkan tidak menyentuh dinding panjat sebelumnya.
Setelah meraih medali emas di Olimpiade Paris 2024, Veddriq terbilang jarang naik podium di kompetisi panjat tebing internasional. Pemanjat yang pernah berkali-kali memecahkan rekor dunia ini bahkan belum pernah meraih medali emas lagi di seri Piala Dunia sejak Olimpiade.
Cedera yang datang bertubi-tubi mengganggu performa Veddriq. Terbaru, cedera pada jari tangan kanan menimpa pemanjat asal Pontianak, Kalimantan Barat, itu dua bulan lalu.
Di Chamonix, penantian Veddriq terbayarkan. Ia membuktikan bahwa dirinya masih ”ada” dan bisa diandalkan untuk meraih prestasi bagi Indonesia.
Tak hanya itu, dalam perjalanannya meraih emas pun, Veddriq mengalahkan lawan-lawan yang di atas kertas punya catatan waktu pribadi terbaik lebih baik darinya. Sebut saja pemilik rekor dunia, Zhao Yicheng (China), pada semifinal.
Namun, ia tak gentar dan membuktikan mental juaranya tak pudar. ”Pencapaian ini begitu berarti buat saya. Apalagi, saya berkali-kali tidak bisa latihan dengan baik karena problem cedera di Madrid, di Krakow, dan di sini pun saya bahkan tidak menyentuh dinding panjat sebelumnya. Namun, saya berusaha menampilkan yang terbaik,” tutur Veddriq.
Bagi Desak, prestasi di Chamonix membuatnya meraih emas dalam dua seri Piala Dunia beruntun. Di seri sebelumnya di Krakow, Polandia, pemanjat asal Buleleng, Bali, ini juga mampu naik di podium tertinggi. Emas di Chamonix jadi emas ketiga Desak di seri Piala Dunia.
”Malam ini, saya tampil dengan performa terbaik. Saya sangat senang bisa memenangi medali emas ini untuk negara saya dan tim saya. Dalam benak saya, saya selalu bilang mari lakukan yang terbaik,” ujar Desak.
Pencapaian itu makin terasa istimewa karena diraih di tengah terpaan efisiensi anggaran. Desak mengatakan, Kemenpora memberikan dukungan kompetisi dengan menanggung tiket perjalanan sejak di Krakow.
Namun, karena keterbatasan dana, Desak dan pemanjat Indonesia lainnya juga tetap merogoh kocek pribadi. Mereka patungan untuk memenuhi berbagai kebutuhan, seperti penginapan, makan, minum, dan transportasi ke venue.
Keterbatasan dana juga membuat atlet hanya didampingi satu pelatih, tanpa ada ofisial atau tim medis. Kondisi itu sempat mendorong Desak menyuarakannya selepas emas di Krakow.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/07/12/02b49569-35b9-4e65-83f3-eb2f2f6e02cb_jpg.jpg)
Desak menyinggung tentang dukungan dari pemerintah itu. Ia tidak bermaksud membuat gaduh. Tak ada juga maksud menihilkan dukungan pemerintah melalui Kemenpora selama ini. Ia hanya ingin terus membanggakan Indonesia dengan meraih prestasi dan berharap keinginan itu terus mendapatkan dukungan.
Curhatan Desak keluar hanya berselang sehari dari pengumuman bahwa rekan sesama atletnya di Tanah Air dipulangkan dari pemusatan latihan nasional dengan alasan efisiensi. Pemanjat nasional speed, lead, dan boulder yang tidak berangkat ke Krakow diminta untuk meninggalkan pelatnas di Hotel Santika Premier Kota Harapan Indah, Bekasi, Minggu (5/7/2026).
Asisten Pelatih Speed Fitriyani bersyukur dengan pencapaian di Chamonix. Ia menilai semua atlet tampil secara total walaupun tidak ada latihan khusus setelah dari Krakow. Tim Indonesia hanya melakukan penyesuaian dengan kondisi di Chamonix.
”Meskipun dengan segala keterbatasan yang ada, para atlet mampu menampilkan yang terbaik. Mereka sudah tampil dengan maksimal dan mempersembahkan yang terbaik untuk Indonesia. Kami sangat bangga akan pencapaian ini. Saya juga mengucapkan terima kasih untuk seluruh masyarakat Indonesia yang senantiasa mendoakan kami,” tutur Fitriyani.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/07/12/855e595d-a74d-47b3-8645-b7a74114c334_jpg.jpg)
Indonesia mengirimkan total 10 atlet speed dan lead ke Chamonix. Tujuh atlet di antaranya adalah pemanjat speed yang terdiri dari tiga atlet putri dan empat atlet putri. Tiga atlet lead terdiri dari dua pemanjat putra dan satu pemanjat putri.
Dari sektor putra speed, hanya Raharjati Nursamsa yang gagal lolos ke putaran final meski mencatatkan waktu 4,98 detik di babak kualifikasi. Aditya Tri Syahria tersingkir pada perempat final.
Pada sektor putri speed, Rajiah Sallsabillah terhenti di babak kualifikasi meski mencatatkan waktu di bawah 7 detik, tepatnya 6,74 detik. Alhasil, hanya Desak dan Kadek Adi Asih yang bermain di putaran final. Namun, kedua pemanjat asal Bali ini langsung bertemu pada babak 16 besar.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Nur Adji