LIGA INGGRIS

Walau ”Buruk Rupa”, Arsenal Calon Terkuat Juara

Meskipun dicibir sebagai tim ”buruk rupa”, Arsenal berada di jalur untuk mengulangi musim 2003-2004, yaitu saat terakhir kali menjuarai Liga Inggris.

05 Mar 2026 15:14 WIB · Olahraga

AP

Oleh Yulvianus Harjono

Sempat digadang-gadang sebagai salah satu tim dengan permainan paling atraktif di awal era Manajer Mikel Arteta, Arsenal kini bersalin wajah sebagai ”Si Buruk Rupa”. Wajah baru ”Si Meriam” itu kian tampak jelas setelah mengalahkan tuan rumah Brighton & Hove Albion, 1-0, pada lanjutan Liga Inggris, Kamis (5/3/2026) dini hari WIB.

Pada laga itu, Arsenal mencetak gol dari satu-satunya tembakan pertama mereka pada babak pertama di laga itu. Gol pada menit ke-9 itu pun berbau keberuntungan. Bola tendangan dari penyerang sayap Arsenal, Bukayo Saka, sedikit berbelok arah setelah mengenai gelandang Brighton, Carlos Baleba. Kiper Brighton, Bart Verbruggen, pun terkecoh.

Padahal, Arsenal lebih banyak tertekan sepanjang laga. Mereka bahkan tampak mengulur-ulur waktu, baik dalam situasi bola mati maupun saat kiper melakukan tendangan jauh. Hal itu, praktis, membuat kesal tuan rumah.

”Hanya satu pihak yang hari ini berupaya bermain sepak bola. Saya tak akan pernah menjadi manajer yang berupaya menang dengan cara seperti itu (membuang-buang waktu). Saya selalu ingin pemain saya berkembang dan tetap bermain sepantasnya,” ujar Manajer Brighton & Hove Albion Fabian Hurzeler menyindir Arsenal dengan penuh kekesalan, seperti dikutip BBC.

Pernyataan Hurzeler itu didukung data statistik. Opta mencatat, Arsenal hanya membuat dua tembakan ke gawang pada laga itu. Adapun Brighton berkali-kali mengancam dan membuat 11 tembakan dengan 3 di antaranya mengarah ke gawang lawan. Arsenal pun sangatlah pasif dalam bermain, dibuktikan dengan penguasaan bola mereka yang hanya 40,2 persen.

Statistik laga Brighton & Hove Albion pada laga Liga Inggris di Stadion American Express, Inggris, Kamis (5/3/2026) dini hari WIB.

Tak heran, dengan cara bermain yang sangat pasif itu, Arsenal hanya mencatatkan gol yang diekspektasikan (expected goal) sebesar 0,43. Angka itu adalah yang terendah yang dicatatkan Arsenal di berbagai kompetisi yang diikuti sepanjang musim 2025-2026 ini. ”Memalukan,” ujar Chris Sutton, pengamat Liga Inggris, mengomentari permainan Arsenal akhir-akhir ini.

Bola mati

Pernyataan Sutton, mantan pemain Chelsea, itu disampaikan setelah Arsenal mengalahkan mantan timnya, 2-1, Minggu (1/3/2026) dini hari WIB lalu. Tak jauh berbeda dengan laga melawan Brighton, Arsenal juga tampil pragmatis pada laga derbi London itu. Dua gol yang mereka ciptakan itu seluruhnya dicetak dari situasi bola mati.

Quote

Ada alasan Arsenal lebih mengedepankan pragmatisme dan ketangguhan pertahanan saat melawan Brighton.

Lagi-lagi, Arsenal menanggalkan pakem penguasaan bola ala tiki-taka yang sempat melekat di awal era Arteta. Mereka hanya mencatatkan penguasaan bola sebesar 41,1 persen. Tak ada peluang berbahaya yang diciptakan lewat permainan terbuka dan kombinasi operan satu-dua sentuhan yang menjadi ciri khas mereka di masa lalu.

”Lagi-lagi, bola mati (dari) Arsenal. Saya kira mereka tidak akan meraihnya (gelar juara) jika terus seperti itu. Jikapun iya, apakah mereka akan menjadi tim juara dengan wajah terburuk sepanjang sejarah Liga Inggris?” tutur Sutton kemudian, seperti dikutip Mirror.  

Musim ini, Arsenal memang menjelma menjadi tim paling dibenci. Banyak yang mencibir permainan mereka musim ini. Mereka sering kali menang dengan tidak tampil bagus maupun menyerang, hal yang menjadi karakteristik permainan Si Meriam di era kejayaan terakhirnya bersama manajer legendaris, Arsene Wenger.

”Arsenal memang tidak mencari kawan untuk juara,” tulis ESPN.

Bek Arsenal, Jurrien Timber (ketiga dari kiri), mencetak gol lewat sundulan ke gawang Chelsea dalam pertandingan Liga Inggris di Stadion Emirates, London, Inggris, Senin (2/3/2026) dini hari WIB. Gol dari skema tendangan sudut itu berhasil membuat Arsenal berbalik unggul 2-1 dan memenangi derbi London.

Arsenal memang tak butuh kawan, apalagi pujian. Puja-puji justru sering kali menjadi ilusi yang membutakan, dibuktikan dengan kegagalan bertubi-tubi mereka dalam tiga musim terakhir. Dalam tiga musim beruntun, yaitu sejak 2022-2023 hingga 2024-2025, mereka hanya finis sebagai runner-up di belakang Manchester City atau Liverpool. Padahal, dalam tiga musim itu, mereka mencetak rerata lebih dari 80 gol per musim.

Pada musim 2023-2024, misalnya, Arsenal disebut-sebut sebagai tim yang tampil atraktif. Didukung skuad muda yang berapi-api dan energik, produktivitas mereka berada di atas rata-rata tim juara selama 31 musim sebelumnya di era Liga Primer Inggris.

Saat itu, Arsenal mengemas total 91 gol dari 38 laga. Mereka juga mengukir rerata 2,32 poin per laga, 2,41 gol per laga, dan selisih gol plus 1,65 gol per laga. Angka-angka itu jauh dari rerata para juara Liga Primer dalam 31 musim sebelumnya, yaitu 2,29 poin per laga, 2,15 gol per laga, dan selisih gol + 1,32 gol per laga.

Namun, hasilnya? Arsenal disalip City pada dua pekan terakhir sebelum berakhirnya liga akibat faktor kelelahan pemain dan masih minimnya kedalaman skuad. Mereka hanya terpaut dua poin dari ”The Citizens” yang menjadi kampiun. Luka dari kegagalan itulah yang lantas membentuk Arsenal seperti saat ini.

Maka, belajar dari pengalaman, ada alasan Arsenal lebih mengedepankan pragmatisme dan ketangguhan pertahanan saat melawan Brighton. Menghadapi lawan yang dikenal agresif itu, Arsenal tidak diperkuat bek tengah terbaiknya, William Saliba, yang cedera minor saat melawan Chelsea. Padahal, tanpa Saliba, rerata persentase kemenangan Arsenal hanya 42 persen. Sebaliknya, jika ia hadir, persentase kemenangan Arsenal naik menjadi 69 persen.

TOPSHOT - Arsenal's English midfielder #07 Bukayo Saka (L) vies with Brighton's Turkish defender #24 Ferdi Kadioglu (R) during the English Premier League football match between Brighton and Hove Albion and Arsenal at the American Express Community Stadium in Brighton, southern England on March 4, 2026. (Photo by Glyn KIRK / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE. No use with unauthorized audio, video, data, fixture lists, club/league logos or 'live' services. Online in-match use limited to 120 images. An additional 40 images may be used in extra time. No video emulation. Social media in-match use limited to 120 images. An additional 40 images may be used in extra time. No use in betting publications, games or single club/league/player publications. /

Arsenal tampil pragmatis, bahkan kerap membuang-buang waktu, juga karena perlu menghemat energi dan mengurangi risiko cedera. Hal itu imbas dari padatnya jadwal laga mereka. Dalam sepekan, mereka bisa dua hingga tiga kali bertanding. Setelah melawan Brighton, misalnya, mereka telah dinanti Mansfield pada laga Piala FA, 7 Maret 2026.

Tak seperti tim-tim lainnya, Arsenal masih berpeluang juara di empat kompetisi sekaligus, yaitu Liga Inggris, Piala Liga, Piala FA, dan Liga Champions Eropa. Di Piala Liga, mereka bahkan telah menyegel tiket ke final untuk bertemu City pada 22 Maret mendatang.   

Jadi, sudah jelas, mereka kini tak lagi peduli embel-embel tim paling indah atau paling buruk. Permainan atraktif tidaklah membeli gelar juara, hal yang paling mereka nanti-nantikan selama 22 tahun terakhir. Maka, apa pun caranya, termasuk mengulur-ulur waktu untuk menjaga keunggulan tipis ataupun mengandalkan bola mati guna mencetak gol, dilakukan Arsenal.

Layaknya corto muso, filosofi menang tipis yang dipopulerkan Juventus untuk merajai Liga Italia, satu dekade lalu, sikap pragmatis Arsenal sangat kental pada musim ini. Tiga poin atas Brighton adalah kemenangan kesepuluh Arsenal dengan margin tipis satu gol di Liga Inggris pada musim ini.

The Invincibles

Opta mencatat, hanya pada musim 2003-2004 silam, Arsenal mencatatkan lebih banyak kemenangan tipis dengan margin satu gol. Pada periode yang sama di musim itu, Si Meriam mencatatkan 12 kali kemenangan tipis. Menariknya, musim itulah kali terakhir mereka menjadi juara Liga Inggris. Gilanya pula, tim asuhan Wenger itu tak terkalahkan sepanjang musim sehingga disebut ”The Invincibles”.

Manajer Arsenal Mikel Arteta.

Arsenal musim ini pun seolah mengalami deja vu seperti akhir era keemasan pada 22 tahun lalu. Meskipun dinilai berwajah buruk, realitasnya, Arsenal paling dijagokan menjadi juara pada musim ini. Hasil simulasi superkomputer Opta menunjukkan, kans Arsenal juara akhir musim ini adalah 93,60 persen. Angka itu nyaris mutlak, jauh melampaui satu-satunya rival dalam perburuan juara, yaitu City (6,40 persen).

Arsenal, yang mengemas 67 poin dari 30 laga, kini unggul tujuh angka atas City yang telah mengumpulkan 60 poin dari 29 laga. Meskipun masih delapan pekan tersisa, suporter Arsenal larut dalam ekspektasi bahwa mereka bakal juara, tidak peduli akan cibiran permainan ”buruk rupa”.   

”Sekarang, Anda semua akan percaya, kami bakal menjadi juara Liga Inggris!” nyanyi para penggemar Arsenal seusai mengalahkan Brighton.


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulvianus Harjono
 | 

Editor:

Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Amin Iskandar