Antisipasi kebijakan tarif AS bukan hanya dari sisi diplomasi perdagangan, melainkan juga rambatan sentimen negatif terhadap pasar keuangan domestik.
05 Apr 2025 07:00 WIB · Ekonomi
JAKARTA, KOMPAS — Pasar saham global dan indeks dollar Amerika Serikat terpuruk menyusul pengumuman tarif resiprokal Washington terhadap berbagai negara. Pelaku pasar khawatir kebijakan ini dapat memicu resesi ekonomi. Sementara, Indonesia patut mewaspadai keluarnya arus modal akibat sentimen negatif global tersebut.
Indeks saham utama Amerika Serikat (AS) serentak mencatatkan penurunan harian terdalam semenjak 2020 pada penutupan pasar Jumat (4/4/2025) dini hari WIB. Perusahaan-perusahaan yang terdaftar di indeks S&P 500 kehilangan nilai pasar 2,4 triliun dollar AS dalam sehari. Pada saat sama, indeks Dow Jones turun 3,98 persen dan Nasdaq memimpin penurunan di Wallstreet dengan pelemahan 5,97 persen.
Tren serupa terjadi pada saham-saham di Asia. Nikkei 225 Jepang turun hampir 1.000 poin atau 2,75 persen. Tokyo Stock Exchange melemah 3,37 persen. Sementara, MSCI AC Asia Pasifik melemah 1,19 persen.
Bukan hanya pasar saham, indeks dollar AS terhadap mata uang utama lainnya (DXY) sempat ambles hingga ke level 101,54 atau terendah sepanjang 2025. Kurs mata uang beberapa negara pun, termasuk negara berkembang, menguat terhadap dollar AS.
Aksi jual itu mencerminkan kekhawatiran para pelaku pasar akan adanya risiko resesi global, terutama di AS.
Salah satu faktor utama pemicu aksi jual beruntun di pasar saham dan pasar keuangan tersebut adalah kebijakan tarif bea masuk tinggi yang diumumkan Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih, Washington DC, Rabu (2/4/2025) petang waktu setempat atau Kamis (3/4/2025) dini hari waktu Jakarta.
Aksi jual itu mencerminkan kekhawatiran para pelaku pasar akan adanya risiko resesi global, terutama di AS.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/11/5a8b93bd-8897-4e7a-83ea-2aa46833aa54_jpg.jpg)
Kepala Investasi di The Bahnsen Group, David Bahnsen, meyakini Trump cenderung akan berfokus pada sejumlah perusahaan yang berinvestasi secara signifikan di AS setelah kebijakannya mengakibatkan pasar saham lesu.
”Jika tarif saat ini berlaku, resesi pada triwulan II atau triwulan III sangat mungkin terjadi. Sangat mungkin juga pasar melemah,” katanya, dikutip dari kantor berita Reuters.
Kebijakan tarif AS telah mengubah prospek ekonomi global secara signifikan.
Lembaga pemeringkat kredit, Fitch Ratings, dalam keterangan resminya, menyampaikan, kebijakan tarif AS telah mengubah prospek ekonomi global secara signifikan.
Ke depan, risiko resesi ekonomi AS diperkirakan meningkat serta ruang bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), menurunkan suku bunga lebih lanjut pun kian terbatas.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/03/e2da4c9170a318523593ac1c77b59891-TOPSHOT_US_POLITICS_TARIFF_TRADE_DIPLOMACY_128705509.jpg)
Menurut Fitch, pengenaan tarif minimum 10 persen untuk semua mitra dagang AS dan kenaikan tambahan pada sebagian dari 57 mitra dagangnya berpotensi meningkatkan effective tax rate (ETR) AS secara keseluruhan sebesar 25 persen. Ini tertinggi selama lebih dari 115 tahun terakhir.
ETR adalah tarif pajak aktual yang harus dibayarkan perusahaan dengan memperhitungkan beberapa faktor yang memengaruhi nilai pajak. Artinya, perhitungannya tidak sekadar tarif normatif, tetapi juga semua faktor yang memengaruhi nilai pajak yang akhirnya betul-betul dibayarkan wajib pajak.
Fitch juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi AS pada 2025 akan lebih rendah dari 1,7 persen lantaran volatilitas pasar ekuitas. Pertumbuhan belanja masyarakat AS melambat, terutama pada Januari dan Februari 2025.
Kondisi tersebut pada gilirannya membuat pertumbuhan ekonomi negara-negara lain, khususnya di Asia, ikut melambat. Pelonggaran kebijakan moneter dan fiskal, dalam pertimbangan Fitch, dapat membantu negara-negara sasaran mengimbangi dampak tarif AS yang lebih tinggi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/24/a5fe5a40-1711-48f7-9b25-481d7b86dba2_jpg.jpg)
Indonesia merupakan salah satu negara yang tidak luput dari pengenaan tarif AS. Indonesia akan terkena tarif bea masuk sebesar 10 persen per 5 April 2025 seperti semua negara mitra dagang AS lainnya. Namun, mulai 9 April, Indonesia akan dikenai tarif 32 persen.
Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Mohamad Fadhil Hasan, mengatakan, kebijakan tarif yang baru saja diumumkan telah memicu ketidakpastian global.
Asumsinya, kebijakan ini berpotensi menimbulkan stagflasi dan resesi ekonomi AS dalam jangka pendek, tetapi berpeluang mendorong pertumbuhan ekonomi AS dalam jangka panjang.
Namun, asumsi ini sangat bergantung terhadap respons dari beberapa negara mitra yang terkena tarif tinggi oleh Pemerintah AS. Meski perkembangannya cenderung dinamis, mengingat AS turut membuka jalur negosiasi, para pelaku pasar telah merespons negatif kebijakan tarif itu.
”Dua kemungkinan ini masih belum tentu mana yang akan terjadi. Saya sendiri melihatnya masih belum pasti, masih dinamis. Memang banyak pihak mengatakan, tarif adalah kebijakan yang melukai diri sendiri (AS). Namun, Trump meyakini itu sebagai sebuah transisi. Ia (Trump) mengatakan, short term pain, long term gain,” kata Fadhil saat dihubungi dari Jakarta, Jumat (4/4/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/03/6ccb8f5a90d2dfc0e507b60de7c851c9-1e7f116c_048d_4232_8cab_7cc54499c543_png.png)
Selain dari sisi perdagangan, Fadhil melanjutkan, Pemerintah Indonesia sebaiknya juga perlu mengantisipasi dampak rambatan dari kebijakan tarif AS tersebut di sektor keuangan. Sebab, kebijakan ini turut memicu sentimen negatif investor di pasar keuangan global.
Di tengah ketidakpastian yang terus meningkat, ia mengingatkan, ketahanan perekonomian domestik dari faktor eksternal sedang dalam kondisi rentan. Ini antara lain tampak dari pelemahan rupiah yang justru cenderung dipicu isu-isu domestik, seperti Danantara, Makan Bergizi Gratis, serta Koperasi Merah-Putih.
Ketahanan perekonomian domestik dari faktor eksternal sedang dalam kondisi rentan.
Mengutip Bloomberg, rupiah dalam perdagangan pasar spot, Jumat (4/4/2025), dibuka di level Rp 16.660 per dollar AS atau menguat 0,66 persen dibandingkan pembukaan hari sebelumnya. Namun, kurs rupiah terdepresiasi 3,27 persen secara tahun kalender berjalan, bahkan sempat menembus level Rp 16.700 per dollar AS, selama beberapa hari terakhir.
Menurut Fadhil, minimnya komunikasi atas kejelasan program-program pemerintah pada gilirannya menimbulkan kecemasan publik dan para investor. Oleh sebab itu, penting bagi pemerintah menjalin komunikasi yang baik kepada publik terkait dengan kepastian kebijakan yang akan dilakukan ke depan.
”Harusnya kita menghadapi tekanan eksternal dengan ketahanan domestik. Kalau kebijakan domestiknya dianggap rentan, ini justru bisa lebih parah lagi,” katanya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/06/2b49d5e2-6182-4b86-a2aa-52f797873611_png.png)
Ekonom Bright Indonesia, Awalil Rizky, mengingatkan, faktor risiko global dan domestik berpotensi menimbulkan spekulasi dari para pelaku pasar. Artinya, pemilik modal akan lebih mempertimbangkan aspek keamanan dan keuntungan di tengah kondisi ketidakpastian saat ini.
Faktor spekulasi yang ditentukan persepsi risiko ke depan, seperti ketidakpastian politik dan keuangan global, berisiko mengakibatkan arus modal keluar dari pasar keuangan Indonesia. Kondisi tersebut pada gilirannya dapat membuat pasar keuangan domestik, termasuk nilai tukar rupiah, terus tertekan.
Berdasarkan data setelmen sejak awal 2025 hingga 26 Maret 2025, investor asing mencatatkan arus keluar secara neto Rp 4,96 triliun di pasar keuangan domestik.
Ini terdiri dari Rp 32,02 triliun untuk jual neto nonresiden di pasar saham, Rp 16,08 triliun untuk beli neto di pasar Surat Berharga Negara (SBN), dan Rp 10,98 triliun untuk beli neto di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/30/ab836282-cf68-44ea-9ece-b8e3ad313d32_jpg.jpg)
Menurut Awalil, cukup banyak modal asing di Indonesia saat ini yang sewaktu-waktu bisa keluar dengan mudah dan cepat, yakni investasi portofolio dan investasi lainnya. Kendati demikian, hampir tidak mungkin arus modal tersebut keluar seluruh atau sebagian besar dalam kurun triwulanan.
Investasi portofolio yang dimaksud antara lain saham, obligasi korporasi, dan Surat Berharga Negara (SBN). Investasi lainnya antara lain utang dagang, pinjaman, serta uang dan simpanan di bank atau lembaga keuangan.
”Secara teoritis dan teknis, dimungkinkan (keluar) hingga kisaran 10 persen dari total keduanya (investasi portofolio dan investasi lainnya), atau bisa mencapai nilai 50 miliar dollar AS. Jika hal itu terjadi, bisa disebut arus balik mendadak karena kecenderungan selama ini bersifat masuk,” ujar Awalil.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/20/3368cd04-8494-4b10-b150-6887898220d3_png.png)
Posisi modal asing berjenis investasi portofolio di Indonesia meningkat 36,11 persen dalam sepuluh tahun terakhir menjadi 278,74 miliar dollar AS per akhir 2024. Pada periode sama, posisi modal milik asing berjenis investasi lainnya di Indonesia meningkat 17,51 persen menjadi 177,86 miliar dollar AS.
Dalam lima tahun terakhir, Awalil melanjutkan, tren arus modal asing tidak masuk dalam nilai yang besar. Bahkan, sempat bersifat keluar meski masih dalam nilai yang relatif kecil pada 2020 dan 2022. Selama lima tahun terakhir, arus modal masuk hanya 54,86 miliar dollar AS.
”Faktor tambahan yang perlu diwaspadai adalah arus modal penduduk Indonesia yang cenderung ikut keluar jika modal asing mulai keluar. Selama ini saja sudah ada kecenderungan peningkatan arus keluar modal penduduk Indonesia,” katanya.
Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), posisi investasi internasional Indonesia secara neto pada akhir 2024 tercatat 245,29 miliar dollar AS cenderung turun. Pada akhir 2019, nilainya 337,92 miliar dollar AS. Pada akhir 2014, nilainya 383,97 miliar dollar AS.
Dalam sepuluh tahun terakhir, posisi modal asing di Indonesia tercatat meningkat 31,1 persen menjadi 768,1 miliar dollar AS pada 2024. Sementara, investasi dari domestik ke luar negeri meningkat 158,93 persen menjadi 522,81 miliar dollar AS pada 2024.
Penulis:
Agustinus Yoga PrimantoroEditor:
FX Laksana Agung SaputraPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari