Danantara dan INA diproyeksikan menjadi motor investasi Indonesia pada 2026, dengan mandat menarik modal global sekaligus memperkuat basis ekonomi domestik.
03 Feb 2026 07:00 WIB · Ekonomi & Bisnis
KOMPAS
Sepanjang 2026, sorotan ekonomi nasional akan tertuju pada dua sovereign wealth fund Indonesia, yakni Badan Pengelola Investasi Danantara dan Indonesia Investment Authority yang digadang-gadang menjadi motor penggerak investasi.
Dengan mandat untuk mengelola aset negara dan membiayai proyek-proyek strategis, kedua lembaga diharapkan tidak hanya menarik modal global, tetapi juga memperkuat fondasi ekonomi domestik hingga ke tingkat akar rumput.
Sejak dibentuk pada 2021, Indonesia Investment Authority (INA) telah memiliki mandat jelas: menghubungkan investor potensial dari dalam dan luar negeri sekaligus memastikan investasi yang masuk tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga berkelanjutan bagi masa depan.
INA selalu berupaya untuk menyeimbangkan antara keuntungan finansial dan dampak sosial dari setiap proyek yang dikerjakan. Lembaga ini tidak memilih satu dari kedua hal tersebut sehingga upaya menangkap aliran investasi tak hanya semata berapotakan pada keuntungan, tetapi juga harus memberikan dampak sosial.
Sementara itu, Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, yang resmi beroperasi sejak 25 Februari 2025, menjalankan mandat ganda. Selain mengelola aset negara dan menjadi katalis pembangunan, Danantara juga dituntut menarik modal global sekaligus memastikan investasi berdampak nyata pada sektor riil dan masyarakat bawah.
Tak cuma itu, tahun ini Danantara pun tengah mempertimbangkan peran barunya sebagai pemegang saham Bursa Efek Indonesia (BEI) lewat demutualisasi. Dengan peran tersebut, Danantara juga menjadi jangkar stabilitas pasar modal guna memperkuat fondasi ekonomi Indonesia dari berbagai sisi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/02/4005f6fcb5853d6827a2dadc93c4629d-20260202YGA10.jpg)
Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO BPI Danantara Rosan Roeslani mengatakan, 2026 menjadi fase penting bagi Danantara untuk memperbesar kontribusinya terhadap pembiayaan pembangunan. Setelah mulai aktif berinvestasi sejak Oktober 2025, Danantara bersiap meningkatkan penempatan modal di berbagai sektor prioritas.
Menurut Rosan, peran Danantara tidak berdiri sendiri. Pertumbuhan investasi nasional tetap memerlukan perbaikan iklim usaha, khususnya dari sisi kepastian regulasi, kemudahan perizinan, dan akses pembiayaan. Dalam konteks ini, Danantara diharapkan menjadi katalis, bukan pengganti peran swasta.
Optimisme tersebut sejalan dengan target pemerintah merealisasikan investasi sebesar Rp 2.100 triliun pada 2026, naik 8,74 persen dibandingkan capaian 2025. Pemerintah menaruh harapan besar pada penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebagai penopang utama di tengah ketidakpastian global.
Dalam World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, Januari lalu, Chief Investment Officer (CIO) BPI Danantara Pandu Patria Sjahrir menyebutkan, sepanjang tahun ini target penempatan dana investasi mencapai 14 miliar dolar AS atau setara Rp 235,48 triliun. Dana tersebut bersumber dari dividen perusahaan-perusahaan portofolio yang dikelola Danantara.
Pada tahun lalu, Danantara telah mengalokasikan investasi sekitar 8 miliar dolar AS. Pandu mengklaim, kenaikan signifikan pada 2026 mencerminkan kesiapan proyek dan semakin matangnya strategi investasi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/14/611853b4653a75590abc259b6a537c7c-20251214TOK7.jpg)
Untuk mendukung kebutuhan pendanaan, Danantara juga bersiap menerbitkan obligasi Patriot tahap kedua. Pandu menjelaskan, penerbitan lanjutan ini kemungkinan bernilai lebih kecil dan sangat bergantung pada minat investor. Instrumen obligasi diposisikan sebagai pelengkap strategi pembiayaan, bukan sumber utama.
Dalam horizon 12-24 bulan ke depan, fokus investasi Danantara diarahkan ke energi terbarukan dan transisi energi, infrastruktur digital, layanan kesehatan, ketahanan pangan, dan hilirisasi. Sektor-sektor tersebut dinilai krusial untuk menjawab kebutuhan struktural ekonomi Indonesia dengan populasi mendekati 300 juta jiwa.
Sementara itu, CIO Indonesia Investment Authority Christopher Ganis menegaskan, sebagai sovereign wealth fund (SWF) pertama Indonesia, tahun ini INA akan terus memperkuat perannya sebagai motor investasi nasional dengan mandat menghasilkan imbal hasil komersial sekaligus mendorong pembangunan berkelanjutan. Sejak beroperasi pada 2021, total penempatan investasi INA telah mencapai Rp 75 triliun atau sekitar Rp 15 triliun per tahun.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/27/0a9cbdecf67d73ae67028bbce2a7615f-20260127DRA004.JPG)
”Investasi di sektor infrastruktur tetap menjadi fondasi utama karena memberikan basis arus kas jangka panjang. Namun, kami juga menambah aset dengan tenor lebih pendek, imbal hasil kontraktual lebih tinggi, serta fleksibilitas yang lebih besar, termasuk di sektor digital, kesehatan, energi terbarukan, dan advanced material,” ujarnya.
Pendekatan ini, lanjut Christopher, bukan untuk meninggalkan investasi jangka panjang, melainkan memperkuat kemampuan INA menempatkan investasi secara konsisten, mengelola likuiditas, dan mendukung transformasi ekonomi Indonesia dalam berbagai siklus ekonomi.
Berdasarkan dokumen yang diterima Kompas, terdapat enam proyek pendanaan Danantara yang dijadwalkan untuk peletakan batu pertama pada Februari 2026. Dua di antaranya berada di Mempawah, Kalimantan Barat, yakni fasilitas peleburan (smelter) aluminium serta fasilitas produksi alumina grade smelter (SGA) dari bauksit. Kedua proyek ini bertujuan memperkuat penguasaan rantai nilai aluminium dari hulu ke hilir.
Di Jawa Tengah, tepatnya di Kilang Cilacap, Danantara mengembangkan fasilitas produksi bioavtur. Proyek ini mendukung transisi energi sekaligus pengembangan industri penerbangan berkelanjutan. Sementara itu, di Banyuwangi, Jawa Timur, Danantara membangun fasilitas bioetanol untuk memperluas kapasitas energi terbarukan nasional.
Di sektor agrikultur, Danantara turut menggarap pengembangan empat pabrik garam yang akan memasok industri Chlor-Alkali Plant, berlokasi di Gresik dan Sampang, Jawa Timur, serta Balikpapan, Kalimantan Timur.
Adapun di sektor pangan, Danantara juga mengembangkan sebagian dari fasilitas budidaya unggas terintegrasi. Proyek ini dirancang untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis sekaligus menjaga stabilitas harga bibit ayam di pasar domestik.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/08/726c8868ec6d20259f6a04d39614c625-FAK_1494.jpg)
Di luar keenam proyek tersebut, sejak tahun lalu Danantara juga mengembangkan proyek pengelolaan limbah menjadi energi (waste-to-energy) yang ditargetkan diterapkan di 30 kota. Proyek ini diharapkan menarik operator global dan menciptakan bisnis berkelanjutan dengan imbal hasil kompetitif.
Satu lagi proyek yang sudah diumumkan Danantara adalah proyek Kampung Haji Danantara merupakan inisiatif strategis pemerintah untuk membangun pusat akomodasi, layanan, dan fasilitas komersial terpadu bagi jemaah haji dan umrah Indonesia di Mekkah, Arab Saudi. Proyek ini mencakup pengembangan lahan di kawasan Thakher City dan Western Hindawiyah, dengan target pembangunan dimulai pada triwulan IV-2026.
Sementara INA, sejak 2021, telah menaruh investasi baru di sejumlah sektor strategis. Di sektor kesehatan, INA bersama SK Group mengembangkan pabrik fraksionasi plasma terbesar di Asia Tenggara di Karawang, dengan kapasitas 600.000 liter produk derivatif plasma per tahun, untuk mendukung kemandirian nasional di bidang kesehatan.
Di sektor digital, INA bermitra dengan DayOne membangun DayOne Data Centers di Batam berkapasitas 72 megawatt sebagai platform hyperscale yang mendukung AI dan transformasi digital jangka panjang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/09/03/Gerbang-Kawasan-Industri-Kendal_1630673058.jpg)
Sementara itu, di sektor advanced material, INA bersama Changzhou Liyuan New Energy Technology membangun pabrik katoda lithium ferro phosphate (LFP) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kendal. Proyek ini bertujuan meningkatkan nilai tambah domestik, mendukung transisi energi, serta memperkuat kapabilitas penelitian dan pengembangan (R&D).
Christopher menekankan, melalui skema co-investasi dan pemahaman mendalam terhadap konteks lokal, INA berhasil mendorong masuknya investor asing ke sektor-sektor strategis yang bernilai tinggi bagi pembangunan nasional.
Melihat ke depan, INA berencana pada 2026 tetap menjadi mitra co-investor global dan memprioritaskan sektor bernilai tambah serta pertumbuhan jangka panjang, termasuk infrastruktur digital, energi terbarukan, manufaktur, dan pengolahan advanced material.
”Fokus kami adalah memastikan setiap investasi tidak hanya memberikan imbal hasil yang solid, tetapi juga mendukung transformasi ekonomi Indonesia secara berkelanjutan,” kata Christopher.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai, baik Danantara maupun INA dapat meningkatkan kontribusinya sebagai motor penggerak investasi Indonesia pada 2026. ”SWF berpotensi memperkuat basis investasi domestik, terutama untuk proyek strategis jangka panjang,” ujar Josua.
Ia menekankan, kunci menarik investor bukan hanya soal minat, melainkan kepastian regulasi dan percepatan eksekusi kebijakan karena ketidakpastian menjadi hal yang paling dihindari investor.
Tekanan global sepanjang tahun ini juga diprediksi akan meningkat. Menurut Josua, penguatan penanaman modal dalam negeri (PMDN) perlu dibarengi strategi menarik penanaman modal asing (PMA), dengan koordinasi erat antara Danantara dan Kementerian Investasi.
”Dalam skema tersebut, Danantara berperan sebagai mitra strategis dan penilai kelayakan proyek, sementara kementerian memegang kendali perizinan dan regulasi,” ujarnya.
Namun, di sisi lain, ekonom Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, menyoroti isu transparansi pada proyek-proyek yang didanai SWF, terutama Danantara. Ia menilai publik masih minim informasi mengenai bagaimana proyek-proyek tersebut dievaluasi dan keputusan investasi dibuat.
Menurut dia, Danantara perlu memastikan keterbukaan secara berkala, misalnya melalui laporan proyek triwulanan, penjelasan mengenai struktur pembiayaan, dan indikator keberhasilan yang jelas.
Sebagai katalis, lanjut Achmad, Danantara harus menurunkan risiko awal, merapikan struktur proyek, dan menarik pembiayaan swasta dengan aturan main yang jelas. Tanpa transparansi, kemampuan investor dan publik untuk menilai kelayakan proyek dan potensi Danantara sebagai penggerak investasi menjadi terbatas.
Penulis:
Dimas Waraditya NugrahaEditor:
Budi SuwarnaPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan