Para pemanah ”compound” akan datang ke Asian Games Aichi-Nagoya 2026 dengan motivasi berlapis. Mereka bertekad kembali jadi kejutan untuk tim panahan Indonesia.
21 Agt 2026 19:07 WIB · Olahraga
KOMPAS/REBIYYAH SALASAH
Ratih Zilizati Fadhly kesulitan mengingat kapan terakhir kali pemanah divisi compound menyumbang medali untuk Indonesia di Asian Games. Pemanah compound ini hanya mengingat jelas bahwa ia selangkah lagi untuk meraih medali pada edisi 2022 di Hangzhou, China.
Di Hangzhou 2022, Ratih finis pada peringkat keempat nomor individu putri. Pada perebutan perunggu, Ratih kalah dari pemanah India, Aditi Gopichand Swami, 140-146.
”Waktu itu memang sedikit lagi (untuk dapat medali), tinggal selangkah, makanya sekarang semakin gereget,” kata Ratih di sela-sela latihan di Lapangan Panahan Gelora Bung Karno, Jakarta, Kamis (20/8/2026).
Jika melihat dari daftar peraih medali di Asian Games, pemanah divisi compound Indonesia sebenarnya memang belum pernah naik podium. Mereka kerap terganjal di perempat final, baik nomor individu maupun beregu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/08/21/c75817b5-bc58-4e4c-9e54-d0010e32dc39.jpg)
Dibandingkan dengan recurve yang telah dilombakan sejak Asian Games edisi Bangkok 1978, divisi compound juga memang terbilang baru dengan dilombakan perdana pada Incheon 2014. Hal ini sejalan dengan perkembangan di dunia yang juga diawali recurve.
Panahan compound adalah gaya busur modern, yang ditemukan di Amerika Serikat, menggunakan katrol untuk menggerakkan anak panah secara efisien ke jarak yang jauh. Penggunaan katrol juga mengurangi beban tarikan sehingga pemanah bisa menahan busur dalam posisi tertarik lebih lama tanpa kelelahan.
Hal inilah yang membedakan dengan panahan recurve. Busur recurve melengkung ke luar pada ujungnya. Ini memberikan lebih banyak kekuatan dan kecepatan pada anak panah.
Compound masih dalam tahap awal ketika panahan kembali dipertandingkan di Olimpiade Muenchen 1972 dan tidak populer secara internasional hingga bertahun-tahun kemudian. Puluhan tahun berlalu, compound akhirnya tampil sebagai disiplin kompetitif pada 1990-an dan dilombakan bersama recurve di Kejuaraan Panahan Dunia pada 1995.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/08/21/ae49d1e9-1d2a-4dff-bb7a-7207a172cba7.jpg)
Indonesia selalu mengirimkan wakilnya sejak compound dilombakan di Asian Games Incheon 2014. Namun, pencapaian terbaik baru datang pada Hangzhou 2022.
Selain bisa menembus semifinal di nomor individu, Ratih juga mampu melangkah ke fase yang sama saat berlomba di nomor beregu putri. Hasilnya sama-sama berakhir sebagai peringkat keempat.
Menurut Ratih, tim compound saat ini datang dengan kondisi berbeda. Mereka datang dengan kepercayaan diri tinggi setelah turut menyumbang medali emas di SEA Games Thailand 2025. Skuad yang akan berangkat ke Aichi-Nagoya adalah para atlet yang meraih medali di Thailand.
Tak tanggung-tanggung, mereka mempersembahkan dua medali emas. Torehan itu melengkapi pencapaian yang diraih tim recurve dengan empat medali emas. Tim panahan Indonesia pun keluar sebagai juara umum di Thailand dengan total raihan enam emas dan dua perunggu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/18/ad376568b09851bc53c3a45339095164-DSC07481.jpeg)
Bagi tim compound, pencapaian di SEA Games Thailand 2025 istimewa. Emas dari Nurisa Dian Ashrifah adalah emas pertama nomor individu putri sejak Sri Ranti di SEA Games Kuala Lumpur 2017. Pada nomor beregu putri, ini juga emas pertama nomor sejak 12 tahun lalu.
Tim putri pernah meraih medali emas di SEA Games Naypyidaw Myanmar 2013, lalu perunggu di Kuala Lumpur Malaysia 2017, dan perak di Filipina 2019.
”Dengan semangat baru, teman-teman yang juga baru dan sudah sangat settle ini, mudah-mudahan sekarang bisa menembus final. Syukur-syukur bisa meraih emas. Setiap ajang, kami selalu menjadikannya momen pembuktian,” tutur Ratih.
Para atlet memang tidak bisa menjalani pemusatan latihan nasional (pelatnas) secara intensif dan dalam kondisi ideal. Pemusatan latihan sempat berjalan sebulan, lalu para atlet menjalani latihan di daerah masing-masing karena diberlakukan desentralisasi.
Baru pada Juni, mereka kembali ke pelatnas. Itu pun tidak bisa maksimal karena tidak banyak uji coba internasional yang dijalani.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/08/21/3728e01d-1fcb-45ee-b3f8-fcffb6cedcb1.jpg)
Walaupun begitu, kata Ratih, para atlet mencoba tetap menjaga motivasi. Apalagi, tujuan mereka jangka panjang hingga ke Olimpiade.
Pada Olimpiade Los Angeles 2028, panahan compound akan debut dengan nomor beregu campuran. Nomor beregu campuran compound bergabung dengan lima nomor recurve yang sudah ada, yakni perseorangan putra dan putri, beregu putra dan putri, serta beregu campuran.
Dengan demikian, total medali panahan yang tersedia menjadi enam. Ini adalah pertama kalinya bagi compound akan berlaga di Olimpiade sejak panahan diperkenalkan kembali ke pesta olahraga terbesar di dunia tersebut pada 1972 di Muenchen, Jerman.
Pelatih tim panahan Indonesia, Lilies Handayani, mengatakan, para atlet compound telah menunjukkan perkembangan meski berlatih dalam kondisi tidak ideal. Sebulan menjelang kompetisi, mereka sudah fokus pada latihan akurasi dan simulasi lomba.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/08/21/31852ec8-4649-4f87-b110-0231a1eaa57c.jpg)
Peraih medali perak beregu putri di Olimpiade Seoul 1988 optimistis anak-anak asuhannya bisa melanjutkan tren positif di kancah internasional. Apabila mampu mempertahankan performa baik, kata Lilies, tim compound bisa turut menyumbang medali seperti saat di SEA Games Thailand 2025.
Pada Asian Games Hangzhou 2022, tim panahan Indonesia meraih dua medali perunggu dari divisi recurve. Medali itu dipersembahkan beregu campuran melalui aksi Riau Ega Agata dan Diananda Choirunisa serta beregu putra yang terdiri dari Riau, Ahmad Khoirul Baasith, dan Arif Dwi Pangestu.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Retma Wati