Apa yang dapat Anda pelajari dari artikel ini:
- Apa yang menyebabkan harga minyak dunia cepat naik dan turun tajam?
- Apa yang akan dilakukan AS untuk menekan lonjakan harga minyak?
- Mengapa pelayaran di Selat Hormuz turut menentukan harga minyak dunia?
- Bagaimana cara membuka Selat Hormuz?
- Apa yang sudah dan akan dilakukan sejumlah negara untuk menghemat BBM?
Apa yang menyebabkan harga minyak dunia cepat naik dan turun tajam?
Patokan harga minyak dunia Brent pada Selasa (10/3/2026) anjlok 11,3 persen ke 87,80 dolar AS per barel. Sehari sebelumnya, harga melonjak 30 persen dan hampir menyentuh 120 dolar AS per barel.
Pergerakan harga yang liar menunjukkan ketidakpastian masih sangat tinggi. Penurunan harga terjadi karena komentar Presiden AS Donald Trump bahwa perang mungkin segera berakhir. Namun, sejauh ini belum ada tanda-tanda perang akan berakhir.
Hingga Rabu (11/3/2026) pagi, jalur pelayaran di Selat Hormuz masih terhenti. Sebelumnya, Iran mengancam akan menembaki kapal mana pun yang mencoba melintas di jalur itu. Sementara Angkatan Laut AS juga belum memberikan pengawalan karena risiko dinilai masih terlalu tinggi. Akibatnya, ratusan kapal masih tertahan di jalur yang biasanya dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak global itu.
Selain penutupan Selat Hormuz, gangguan dan penutupan pada infrastruktur energi pun meluas. Operasi kilang Ruwais di Uni Emirat Arab dihentikan sebagai pencegahan menyusul serangan pesawat nirawak memicu kebakaran di Ruwais Industrial City, Abu Dhabi.
Sebelumnya, operasionalisasi di kilang Ras Tanura milik Aramco, Arab Saudi, juga dihentikan. Begitu pula dengan operasionalisasi di QatarEnergy, salah satu produsen gas alam cair terbesar di dunia. Ladang-ladang minyak Arab Saudi ikut menjadi sasaran.
”Dalam hal ekonomi, ini sudah guncangan pasokan minyak terbesar yang pernah ada,” kata Nicholas Mulder, asisten profesor sejarah yang mempelajari dampak ekonomi perang di Universitas Cornell.
Kondisi saat ini lebih parah dibandingkan dengan krisis minyak pada 1973 dan 1979.
Apa yang akan dilakukan AS untuk menekan lonjakan harga minyak?
Presiden AS Donald Trump dihadapkan pada dilema berat. Ia harus memilih membiarkan harga minyak tetap tinggi atau menurunkannya dengan membuka peluang Angkatan Laut AS jadi sasaran. Ada dampak luar biasa atas apa pun pilihannya. Untuk menurunkan harga, Trump menyebut opsi mengawal tanker keluar dari Teluk Persia.
Bisa juga lewat pencabutan sebagian sanksi walau ia tidak menjelaskan sanksi yang mana. Sebelum menyatakan itu, ia menelepon Presiden Rusia Vladimir Putin.
AS menjatuhkan begitu banyak sanksi untuk mencegah Rusia menjual minyaknya. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengungkap kemungkinan AS mengendurkan sanksi atas sektor perminyakan Rusia.
AS bersama mitranya di G7 dan Badan Energi Internasional (IEA) mempertimbangkan pelepasan cadangan strategis. Dilaporkan Financial Times, anggota IEA punya 1,2 miliar barel cadangan minyak. Sebanyak 700 juta barel di antaranya dimiliki AS dan Jepang.
Membiarkan harga minyak tetap tinggi buruk bagi Trump dan seluruh dunia. Namun, menurunkan harga minyak tak akan mudah.
Opsi mengawal tanker keluar dari Teluk Persia amat berisiko. CNN menulis, kapal-kapal AS akan menjadi sasaran empuk Iran jika melakukannya.
Mengapa pelayaran di Selat Hormuz turut menentukan harga minyak dunia?
Gangguan apa pun terhadap lalu lintas di Selat Hormuz memengaruhi perdagangan minyak dan perekonomian global. Selat Hormuz adalah jalur air yang berkelok dengan titik tersempit selebar 33 kilometer.
Selat ini menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman. Dari sana, kapal-kapal dapat berlayar ke seluruh dunia. Meskipun Iran dan Oman memiliki perairan teritorial di Selat Hormuz, selat ini adalah jalur air internasional yang dapat dilalui semua kapal.
Selat ini merupakan jalur penting bagi kapal-kapal tanker yang membawa kebutuhan sekitar 20 persen minyak dan gas dunia dari Arab Saudi, Kuwait, Irak, Qatar, Bahrain, UEA, dan Iran. Sebagian besar minyak dan gas tersebut menuju pasar di Asia, termasuk China.
Sejak AS-Israel menyerang Iran, Teheran praktis menutup Selat Hormuz. Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) tak akan membiarkan seliter pun minyak dibawa ke luar Selat Hormuz.
IRGC dan militer reguler Iran, Artesh, punya berbagai alternatif untuk menjaga selat tetap tertutup. Mereka bisa menebarkan ranjau laut. Mereka bisa juga menggerakkan kapal nirawak berpeledak. Pilihan lain, menembak dengan rudal dari pantai.
Setidaknya 10 kapal tanker minyak di Selat Hormuz telah menjadi target, terkena serangan, atau dilaporkan mengalami serangan selama 1-10 Maret 2026.
Bagaimana cara membuka Selat Hormuz?
Senator AS, Christopher Scott Murphy, mengungkapkan, pemerintahan Trump tak tahu cara membuka Selat Hormuz. AL AS menolak mengawal kapal yang mau melayari selat itu.
AS tidak tahu cara menghentikan total produksi rudal dan pesawat nirawak Iran. Pemerintah hanya menawarkan opsi serangan terus-menerus.
Peneliti di Center for Naval Analyses AS, Jonathan Schroden, mengatakan, pengawalan oleh kapal perang AS terlalu berbahaya. Ada risiko terkena ranjau atau diserang dengan rudal dan drone. Pengawalan kapal niaga membutuhkan fregat atau kapal perusak, pesawat, dan helikopter.
AL AS pernah mengawal kapal-kapal sipil melayari Selat Hormuz di tengah perang Irak-Iran pada 1980-1988. Namun, kondisi dulu dan kini berbeda. Dulu AS tak berhadapan dengan Iran. Selain itu, persenjataan Iran belum seperti sekarang. Kini, Iran pemilik terbesar rudal dan wahana serang nirawak di kawasan.
Iran mensyaratkan negara-negara Teluk untuk mengusir duta besar AS dan Israel jika ingin minyak mereka keluar dari Teluk Persia.
Apa yang sudah dan akan dilakukan sejumlah negara untuk menghemat BBM?
Dampak perang mulai memukul kebijakan domestik sejumlah negara. Untuk menghemat BBM, Myanmar memberlakukan kebijakan ganjil genap kendaraan. Vietnam mempertimbangkan rencana menghapus tarif atas impor BBM untuk membantu menstabilkan pasar domestik dan menjamin keamanan energi nasional.
Bangladesh memilih menekan konsumsi dengan antara lain menutup semua universitas dengan memberi waktu libur Lebaran lebih panjang. Selain mengurangi konsumsi listrik, langkah itu mengurangi lalu lintas yang bikin boros BBM. Bangladesh bergantung pada impor untuk 95 persen kebutuhan energinya.
Sementara Filipina mengumumkan pemerintah akan beralih ke sistem kerja empat hari sepekan. Kebijakan ini berlaku di semua kantor pemerintah, kecuali polisi dan pemadam kebakaran. Filipina miskin minyak. Sebagian besar minyak mentahnya diimpor dari Timur Tengah.
Korea Selatan mengumumkan pembatasan harga BBM demi melindungi konsumen. Seoul mempersiapkan sampai 67 miliar dolar AS untuk stabilisasi dampak lonjakan harga minyak. Sementara Jepang tengah bersiap mengeluarkan cadangan minyak.
Mesir menaikkan harga BBM hingga 30 persen untuk bensin, solar, dan gas alam kendaraan. India memperketat pengendalian atas gas alam dan gas memasak. India pembeli gas alam cair terbesar keempat di dunia dan pembeli gas minyak cair terbesar kedua. Sebagian besar pasokannya berasal dari Timur Tengah.
Di Eropa, harga gas yang turun 15 persen sempat meredakan kekhawatiran atas inflasi global. Hongaria dan Slovakia telah melepaskan cadangan minyak.
Di Paris, Badan Energi Internasional (IEA) menggelar pembicaraan dengan para menteri energi G7 tentang opsi-opsi seperti menyediakan stok minyak darurat IEA ke pasar. Anggota IEA memiliki 1,2 miliar barel cadangan minyak mentah. Cadangan itu setara dua bulan kebutuhan seluruh 32 negara anggota IEA.
Apa yang dapat Anda pelajari dari artikel ini:
- Apa yang menyebabkan harga minyak dunia cepat naik dan turun tajam?
- Apa yang akan dilakukan AS untuk menekan lonjakan harga minyak?
- Mengapa pelayaran di Selat Hormuz turut menentukan harga minyak dunia?
- Bagaimana cara membuka Selat Hormuz?
- Apa yang sudah dan akan dilakukan sejumlah negara untuk menghemat BBM?
Apa yang menyebabkan harga minyak dunia cepat naik dan turun tajam?
Patokan harga minyak dunia Brent pada Selasa (10/3/2026) anjlok 11,3 persen ke 87,80 dolar AS per barel. Sehari sebelumnya, harga melonjak 30 persen dan hampir menyentuh 120 dolar AS per barel.
Pergerakan harga yang liar menunjukkan ketidakpastian masih sangat tinggi. Penurunan harga terjadi karena komentar Presiden AS Donald Trump bahwa perang mungkin segera berakhir. Namun, sejauh ini belum ada tanda-tanda perang akan berakhir.
Hingga Rabu (11/3/2026) pagi, jalur pelayaran di Selat Hormuz masih terhenti. Sebelumnya, Iran mengancam akan menembaki kapal mana pun yang mencoba melintas di jalur itu. Sementara Angkatan Laut AS juga belum memberikan pengawalan karena risiko dinilai masih terlalu tinggi. Akibatnya, ratusan kapal masih tertahan di jalur yang biasanya dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak global itu.
Selain penutupan Selat Hormuz, gangguan dan penutupan pada infrastruktur energi pun meluas. Operasi kilang Ruwais di Uni Emirat Arab dihentikan sebagai pencegahan menyusul serangan pesawat nirawak memicu kebakaran di Ruwais Industrial City, Abu Dhabi.
Sebelumnya, operasionalisasi di kilang Ras Tanura milik Aramco, Arab Saudi, juga dihentikan. Begitu pula dengan operasionalisasi di QatarEnergy, salah satu produsen gas alam cair terbesar di dunia. Ladang-ladang minyak Arab Saudi ikut menjadi sasaran.
”Dalam hal ekonomi, ini sudah guncangan pasokan minyak terbesar yang pernah ada,” kata Nicholas Mulder, asisten profesor sejarah yang mempelajari dampak ekonomi perang di Universitas Cornell.
Kondisi saat ini lebih parah dibandingkan dengan krisis minyak pada 1973 dan 1979.
Apa yang akan dilakukan AS untuk menekan lonjakan harga minyak?
Presiden AS Donald Trump dihadapkan pada dilema berat. Ia harus memilih membiarkan harga minyak tetap tinggi atau menurunkannya dengan membuka peluang Angkatan Laut AS jadi sasaran. Ada dampak luar biasa atas apa pun pilihannya. Untuk menurunkan harga, Trump menyebut opsi mengawal tanker keluar dari Teluk Persia.
Bisa juga lewat pencabutan sebagian sanksi walau ia tidak menjelaskan sanksi yang mana. Sebelum menyatakan itu, ia menelepon Presiden Rusia Vladimir Putin.
AS menjatuhkan begitu banyak sanksi untuk mencegah Rusia menjual minyaknya. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengungkap kemungkinan AS mengendurkan sanksi atas sektor perminyakan Rusia.
AS bersama mitranya di G7 dan Badan Energi Internasional (IEA) mempertimbangkan pelepasan cadangan strategis. Dilaporkan Financial Times, anggota IEA punya 1,2 miliar barel cadangan minyak. Sebanyak 700 juta barel di antaranya dimiliki AS dan Jepang.
Membiarkan harga minyak tetap tinggi buruk bagi Trump dan seluruh dunia. Namun, menurunkan harga minyak tak akan mudah.
Opsi mengawal tanker keluar dari Teluk Persia amat berisiko. CNN menulis, kapal-kapal AS akan menjadi sasaran empuk Iran jika melakukannya.
Mengapa pelayaran di Selat Hormuz turut menentukan harga minyak dunia?
Gangguan apa pun terhadap lalu lintas di Selat Hormuz memengaruhi perdagangan minyak dan perekonomian global. Selat Hormuz adalah jalur air yang berkelok dengan titik tersempit selebar 33 kilometer.
Selat ini menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman. Dari sana, kapal-kapal dapat berlayar ke seluruh dunia. Meskipun Iran dan Oman memiliki perairan teritorial di Selat Hormuz, selat ini adalah jalur air internasional yang dapat dilalui semua kapal.
Selat ini merupakan jalur penting bagi kapal-kapal tanker yang membawa kebutuhan sekitar 20 persen minyak dan gas dunia dari Arab Saudi, Kuwait, Irak, Qatar, Bahrain, UEA, dan Iran. Sebagian besar minyak dan gas tersebut menuju pasar di Asia, termasuk China.
Sejak AS-Israel menyerang Iran, Teheran praktis menutup Selat Hormuz. Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) tak akan membiarkan seliter pun minyak dibawa ke luar Selat Hormuz.
IRGC dan militer reguler Iran, Artesh, punya berbagai alternatif untuk menjaga selat tetap tertutup. Mereka bisa menebarkan ranjau laut. Mereka bisa juga menggerakkan kapal nirawak berpeledak. Pilihan lain, menembak dengan rudal dari pantai.
Setidaknya 10 kapal tanker minyak di Selat Hormuz telah menjadi target, terkena serangan, atau dilaporkan mengalami serangan selama 1-10 Maret 2026.
Bagaimana cara membuka Selat Hormuz?
Senator AS, Christopher Scott Murphy, mengungkapkan, pemerintahan Trump tak tahu cara membuka Selat Hormuz. AL AS menolak mengawal kapal yang mau melayari selat itu.
AS tidak tahu cara menghentikan total produksi rudal dan pesawat nirawak Iran. Pemerintah hanya menawarkan opsi serangan terus-menerus.
Peneliti di Center for Naval Analyses AS, Jonathan Schroden, mengatakan, pengawalan oleh kapal perang AS terlalu berbahaya. Ada risiko terkena ranjau atau diserang dengan rudal dan drone. Pengawalan kapal niaga membutuhkan fregat atau kapal perusak, pesawat, dan helikopter.
AL AS pernah mengawal kapal-kapal sipil melayari Selat Hormuz di tengah perang Irak-Iran pada 1980-1988. Namun, kondisi dulu dan kini berbeda. Dulu AS tak berhadapan dengan Iran. Selain itu, persenjataan Iran belum seperti sekarang. Kini, Iran pemilik terbesar rudal dan wahana serang nirawak di kawasan.
Iran mensyaratkan negara-negara Teluk untuk mengusir duta besar AS dan Israel jika ingin minyak mereka keluar dari Teluk Persia.
Apa yang sudah dan akan dilakukan sejumlah negara untuk menghemat BBM?
Dampak perang mulai memukul kebijakan domestik sejumlah negara. Untuk menghemat BBM, Myanmar memberlakukan kebijakan ganjil genap kendaraan. Vietnam mempertimbangkan rencana menghapus tarif atas impor BBM untuk membantu menstabilkan pasar domestik dan menjamin keamanan energi nasional.
Bangladesh memilih menekan konsumsi dengan antara lain menutup semua universitas dengan memberi waktu libur Lebaran lebih panjang. Selain mengurangi konsumsi listrik, langkah itu mengurangi lalu lintas yang bikin boros BBM. Bangladesh bergantung pada impor untuk 95 persen kebutuhan energinya.
Sementara Filipina mengumumkan pemerintah akan beralih ke sistem kerja empat hari sepekan. Kebijakan ini berlaku di semua kantor pemerintah, kecuali polisi dan pemadam kebakaran. Filipina miskin minyak. Sebagian besar minyak mentahnya diimpor dari Timur Tengah.
Korea Selatan mengumumkan pembatasan harga BBM demi melindungi konsumen. Seoul mempersiapkan sampai 67 miliar dolar AS untuk stabilisasi dampak lonjakan harga minyak. Sementara Jepang tengah bersiap mengeluarkan cadangan minyak.
Mesir menaikkan harga BBM hingga 30 persen untuk bensin, solar, dan gas alam kendaraan. India memperketat pengendalian atas gas alam dan gas memasak. India pembeli gas alam cair terbesar keempat di dunia dan pembeli gas minyak cair terbesar kedua. Sebagian besar pasokannya berasal dari Timur Tengah.
Di Eropa, harga gas yang turun 15 persen sempat meredakan kekhawatiran atas inflasi global. Hongaria dan Slovakia telah melepaskan cadangan minyak.
Di Paris, Badan Energi Internasional (IEA) menggelar pembicaraan dengan para menteri energi G7 tentang opsi-opsi seperti menyediakan stok minyak darurat IEA ke pasar. Anggota IEA memiliki 1,2 miliar barel cadangan minyak mentah. Cadangan itu setara dua bulan kebutuhan seluruh 32 negara anggota IEA.