Kompas.id Brief

Bagaimana Liverpool dan PSG Mempertegas Status Favorit Juara Liga Champions?

Liverpool, PSG, dan Arsenal menebar pesonanya dalam pekan perdana Liga Champions Eropa musim ini. Mereka adalah tiga tim paling difavoritkan juara.

18 Sep 2025 16:00 WIB · Olahraga

Oleh Yulvianus Harjono

Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?

  1. Mengapa kemenangan atas Atletico mempertegas magis Ange ”Time” di Liverpool?
  2. Mengapa Marquinhos bisa menjelma ”striker” tambahan Paris Saint-Germain?
  3. Mengapa kemenangan Real Madrid atas Marseille meninggalkan jejak kontroversial?
  4. Bagaimana bisa pemain cadangan justru menjadi faktor kunci Arsenal?
  5. Seperti apa spirit ”fino alla fine” yang diperlihatkan Juventus saat melawan Dortmund?

Sejumlah klub unggulan Eropa, seperti Liverpool, Paris Saint-Germain, dan Arsenal, mempertegas statusnya sebagai favorit juara Liga Champions Eropa musim 2025-2026. Mereka memulai perjalanan di Liga Champions musim ini dengan langkah meyakinkan, yaitu mengalahkan lawan mereka masing-masing.

Liverpool, misalnya, membekap Atletico Madrid dengan skor 3-2, Kamis (18/9/2025) dini hari WIB di Inggris. Meskipun kemenangan itu diraih tidak mudah, raihan tiga poin itu memperlihatkan mental tangguh klub Inggris berjuluk ”Si Merah”. Untuk kesekian kalinya pada musim ini, Liverpool meraih kemenangan penting pada menit-menit terakhir laga, kali ini lewat gol Virgil van Dijk.

Adapun PSG, juara bertahan, melumat Atalanta, 4-0, di Paris, Perancis. Padahal, Atalanta bukanlah lawan yang mudah dikalahkan dengan skor telak. Juara Liga Europa musim 2023-2024 itu acapkali merepotkan tim-tim besar lewat permainan agresifnya. Namun, reputasi itu hilang di tangan PSG.

Pada laga sehari sebelumnya, yaitu di Spanyol, Arsenal menjungkalkan tuan rumah Athletic Bilbao, 2-0. Kemenangan itu membuat ”Si Meriam” patut diperhitungkan sebagai salah satu kandidat juara Eropa pada musim ini. Apalagi, mereka telah menambah amunisi pada jendela transfer musim panas lalu, antara lain, dengan mendatangkan Viktor Gyokeres dan Noni Madueke.

Menurut Opta, Arsenal berada di peringkat kedua daftar favorit juara Liga Champions musim ini dengan kans hingga 16 persen. Probabilitas juara itu hanya bisa dilampaui rival senegara, Liverpool, dengan kans 20,4 persen. Liverpool punya peluang terbesar juara, apalagi mereka sangat aktif di bursa transfer pada musim ini untuk menambah amunisi.

Adapun PSG menempati tim unggulan ketiga dengan kans juara sebesar 12,1 persen. Meskipun skuad mereka tidak semewah Liverpool dan Arsenal, klub Perancis itu kembali memperlihatkan kolektivitas antarpemain yang menjadi kunci keberhasilan mereka pada musim lalu. Maka, PSG patut diperhitungkan kembali pada musim ini.

”Saya pikir, ini awal yang sangat baik, mencerminkan gaya sepak bola kami,” ujar Pelatih PSG Luis Enrique seusai timnya mengalahkan Atalanta, meskipun tidak diperkuat dua penyerang kunci, Ousmane Dembele dan Desire Doue.

Ketiga klub unggulan itu pun untuk menempati posisi tujuh besar dalam klasemen sementara fase penyisihan awal yang dihuni 36 klub. Jika bisa bertahan di posisi itu hingga akhir fase itu, mereka bakal lolos langsung ke babak 16 besar tanpa melewati playoff.

Di luar ketiga klub unggulan itu, sejumlah tim favorit lainnya juga mampu unjuk gigi pada pekan pertama Liga Champions musim ini. Real Madrid, tim yang berstatus ”raja” Eropa, misalnya, mengalahkan Marseille, wakil Perancis, 2-1, walaupun bermain dengan sepuluh orang sejak menit ke-72.

Adapun wakil Italia, Juventus, memperlihatkan spirit pantang menyerang dengan menahan Borussia Dortmund, 4-4, di Turin, Italia. Tuan rumah berkali-kali tertinggal pada laga itu. Hingga menit ke-90 waktu normal, mereka bahkan tertinggal 2-4. Mereka pun meraih satu poin setelah Dusan Vlahovic dan Lloyd Kelly mencetak gol pada injury time babak kedua.

Mengapa kemenangan atas Atletico mempertegas magis Ange ”Time” di Liverpool?

copy title

Magis ”Arne Time” atau kemenangan di menit-menit akhir Liverpool terbukti bukanlah kebetulan semata. ”Si Merah” setidaknya sudah memperlihatkannya dalam lima laga, termasuk saat menghancurkan Atletico Madrid, 3-2, pada laga Liga Champions Eropa di Stadion Anfield, Liverpool, Kamis (18/9/2025) dini hari WIB.

Istilah ”Fergie Time” amat terkenal pada era 2000-an awal. ”Fergie Time” merujuk pada kecenderungan aneh MU, arahan Sir Alex Ferguson, yang selalu bisa keluar dari kebuntuan di menit-menit akhir laga. Disebut ”Fergie Time” karena Ferguson kerap tertangkap kamera berusaha mengintimidasi lawan dengan melirik arlojinya menjelang laga usai.

Manajer Liverpool Arne Slot memberikan instruksi ke pemainnya aaat melawan Atletico Madrid pada laga Liga Champions Eropa di Stadion Anfield, Kamis (18/9/2025) dini hari WIB. Liverpool menang, 3-2.

”Fergie Time” mendapatkan momentum seiring kejayaan MU. Setelah pensiun pada 2013, prestasi MU menurun drastis. ”Fergie Time” pun terpendam sekian lama sebagai mitos masa lalu. Akan tetapi, fenomena yang pernah dialami MU itu kini tereinkarnasi dalam bentuk hampir serupa pada diri rival abadi mereka, Liverpool.

Musim ini, Liverpool punya kecenderungan aneh dengan selalu bisa memecah kebuntuan di menit-menit akhir yang pada akhirnya membawa mereka meraih kemenangan.

Saking seringnya mengulangi kebiasaan menang di menit-menit akhir, publik mulai mengaitkannya dengan ”Fergie Time”. Namun, istilahnya diadaptasi dengan konteks kiwari, yakni ”Arne Time”, yang merujuk pada Manajer Liverpool Arne Slot.

”Arne Time” kembali menampakkan magis untuk ketiga kalinya saat Liverpool meraih kemenangan dramatis atas Atletico Madrid. Gol bek jangkung Virgil van Dijk beberapa menit sebelum laga itu usai semakin memperkuat aura magis ”Arne Time”.

Bukan kali ini saja Liverpool memperlihatkan magis ”Arne Time”. Pada empat laga sebelumnya, Liverpool juga harus menunggu hingga menit-menit akhir untuk memastikan kemenangan. Dalam kemenangan atas Burnley pekan lalu, Mohamed Salah mengonversi penalti pada menit 90+5 yang menjadi gol semata wayang di laga itu.

Mengapa Marquinhos bisa menjelma ”striker” tambahan Paris Saint-Germain?

copy title

Paris Saint-Germain memulai misi mempertahankan gelar juara Liga Champions Eropa dengan gemilang. Menghadapi Atalanta di Stadion Parc des Princes, Perancis, Kamis (18/9/2025) dini hari WIB, tim arahan Pelatih Luis Enrique itu menang 4-0. Kemenangan besar itu diraih tanpa kehadiran dua penyerang utama, Desire Doue dan Ousmane Dembele. Saat dua bintang itu absen, Marquinhos menampakkan ketajaman menyerangnya.

Bek tengah timnas Brasil itu menginspirasi kemenangan besar PSG dengan mencetak gol pembuka saat laga baru berjalan dua menit. Gol itu bermula dari pergerakan Marquinhos yang meninggalkan posisinya sebagai bek tengah dan turut membantu menekan Atalanta yang sedang berusaha membangun serangan dari belakang.

PSG's Marquinhos celebrates after scoring his side's opening goal during the Champions League opening phase soccer match between Paris Saint-Germain and Atalanta at the Parc des Princes stadium in Paris, France, Wednesday, Sept. 17, 2025. (AP Photo/Thibault Camus)

Upaya menekan (pressing) Marquinhos membuat Daniel Maldini kehilangan bola. Dari sana, tercipta kekacauan di lini pertahanan Atalanta yang dimanfaatkan Fabian Ruiz untuk mengirim umpan matang mendatar kepada Marquinhos. Gol cepat itu mengejutkan Atalanta yang memperkuat pertahanan dengan menggunakan sistem tiga bek.

”Pertandingan yang sangat bagus. Kami senang, kami jelas pantas menang. Saya pikir kami menciptakan banyak peluang dan itu tidak mudah karena Atalanta bertahan dengan tiga bek tengah untuk satu striker dan selalu sulit untuk mengatasinya,” kata Luis Enrique seusai pertandingan itu.

Absennya Dembele dan Doue memaksa Marquinhos menampilkan bakat terpendamnya dalam menyerang. Setelah mencetak gol, Marquinhos tidak lantas total bertahan.

Dia tetap membantu lini serang PSG yang terlihat dari semakin seringnya beroperasi di kotak penalti Atalanta. Statistik menunjukkan Marquinhos menjadi pemain urutan keempat dengan sentuhan terbanyak di kotak penalti lawan (lima kali) di laga ini.

Mengapa kemenangan Real Madrid meninggalkan jejak kontroversial?

copy title

Real Madrid memulai perjalanan di Liga Champions Eropa 2025-2026 dengan kemenangan dramatis, 2-1, atas Marseille, Rabu (17/9/202) dini hari WIB di Stadion Santiago Bernabeu, Spanyol. Tertinggal lebih dulu dan bermain dengan 10 pemain, Real Madrid tetap mampu meraih kemenangan.

Pada laga itu, pendukung tuan rumah dikejutkan lewat gol Timothy Weah, penyerang Marseille, pada menit ke-22. Namun, setelah gol itu, momentum sepenuhnya berada di sisi tim tuan rumah. Real mendominasi permainan demi meraih kemenangan. Kylian Mbappe mencetak gol melalui titik putih di menit ke-29.

Real Madrid's Federico Valverde, left, vies for the ball with Marseille's Pierre-Emerick Aubameyang during a Champions League opening phase soccer match between Real Madrid and Marseille at Santiago Bernabeu stadium, in Madrid, Tuesday, Sept. 16, 2025. (AP Photo/Manu Fernandez)

Mbappe kembali menaklukkan kiper Marseille, Geronimo Rulli, lagi-lagi lewat penalti, pada menit ke-81. Gol itu adalah gol ke-50 Mbappe untuk Real. Sang kapten timnas Perancis hanya butuh 64 pertandingan untuk menyentuh capaian impresif itu.

Skor penentu keunggulan itu diciptakan hanya berselang sembilan menit setelah bek Real, Dani Carvajal, menerima kartu merah akibat pelanggaran konyol kepada kiper Marseille, Geronimo Rulli. Carvajal menyundul Rulli dalam situasi tanpa bola.

Kontroversi pun tidak sepenuhnya menguap dari Bernabeu. Terlepas dari pelanggaran tidak terbantahkkan Geoffrey Kondogbia kepada Rodrygo yang memberikan Real penalti pertama, bek Real, Eder Militao, sempat menghalau tembakan Weah dengan lengan pada menit ke-31.

Namun, wasit asal Bosnia-Herzegovina, Irfa Peljto, tidak menganggap hal itu sebagai pelanggaran yang berbuah penalti untuk tim tamu. Video asisten wasit (VAR) sepakat dengan keputusan Peljto di lapangan.

Adapun pelanggaran handball Facundo Medina yang menyebabkan penalti kedua Real juga bisa diperdebatkan. Alasannya, sebelum menyentuh tangan bek Marseille, Facundo Medina, bola sempat mengenai kaki pemain asal Argentina itu yang berupaya menghalau bola umpan silang Vinicius Junior. Kali ini, wasit dan VAR setuju dengan penalti untuk tuan rumah.

Bagaimana bisa pemain cadangan justru menjadi faktor kunci Arsenal?

copy title

Dua penyerang Arsenal, Gabriel Martinelli dan Leandro Trossard, tak butuh waktu lama untuk menjawab segudang keraguan sejak awal musim. Masuk dari bangku cadangan, mereka menyudahi laga sebagai pahlawan kemenangan 2-0 Arsenal atas Athletic Bilbao.

Penantian satu dekade untuk kembali ke Liga Champions Eropa membuat tuan rumah Bilbao tampil beringas di Stadion San Mames, Selasa (17/9/2025) dini hari WIB. Tim tamu, Arsenal, sangat kesulitan dalam laga pertama babak grup Liga Champions tersebut, terutama sejak sepak mulai sampai turun minum.

TOPSHOT - Arsenal's Brazilian forward #11 Gabriel Martinelli scores his team's first goal during the UEFA Champions League first round day 1 football match between Athletic Club Bilbao and Arsenal at the San Mames stadium in Bilbao on September 16, 2025. (Photo by Cesar MANSO / AFP)

Hingga menit ke-65, skor masih imbang tanpa gol. Trisula lini serang Arsenal yang diisi para pemain baru, yaitu Viktor Gyokeres, Eberechi Eze, dan Noni Madueke, tidak punya jawaban untuk membongkar pertahanan lawan. Akhirnya, Manajer Arsenal Mikel Arteta melakukan perubahan.

Pergantian Arteta agak sulit dipahami. Gyokeres yang merupakan satu-satunya penyerang tengah dalam skuad Arsenal di San Mames justru ditarik keluar. Ia digantikan Trossard yang berposisi asli penyerang sayap. Lima menit kemudian, Eze yang merupakan sumber kreativitas tim digantikan Martinelli.

Menariknya, pergantian itu sangat ampuh. Hanya dalam 36 detik setelah Martinelli masuk ke lapangan, Arsenal langsung membuka keunggulan. Gol diciptakan Martinelli lewat umpan Trossard yang berawal dari situasi transisi serangan balik dari tengah lapangan.

Arsenal menghukum garis pertahanan tinggi tim asuhan Pelatih Ernesto Valverde. Arteta memasukkan Martinelli yang punya sprint sangat kencang untuk memanfaatkan lubang tersebut. Sementara Trossard ditugaskan lebih mundur untuk menjembatani bola dari lini tengah.

Di pengujung laga, saat Bilbao fokus menyerang, Arsenal menggandakan keunggulan. Kali ini giliran Martinelli yang memberikan asis untuk gol Trossard. Martinelli berhasil melewati satu pemain di sisi kiri sebelum mengirim umpan silang ke kotak penalti.

Seperti apa spirit ”fino alla fine” yang diperlihatkan Juventus saat melawan Dortmund?

copy title

Pelatih Igor Tudor menyuntikkan semangat ”fino alla fine” yang berarti ”berjuang sampai akhir” kepada seluruh pemain Juventus di musim ini. Empat kali tertinggal, ”Si Nyonya Besar” mampu terhindar dari kekalahan untuk mengakhiri perlawanan Borussia Dortmund, 4-4, Rabu (17/9/2025) WIB, di Stadion Allianz.

Pertarungan penuh gol itu berawal dengan membosankan di babak pertama. Tanpa gol dan tidak ada peluang besar dihasilkan kedua tim. Setelah turun minum, segalanya berbanding 180 derajat.

Juventus' Croatian coach Igor Tudor reacts during the UEFA Champions League first round day 1 football match between Juventus and Borussia Dortmund at the Allianz stadium in Turin, northern Italy, on September 16, 2025. (Photo by Marco BERTORELLO / AFP)

Karim Adeyemi, penyerang sayap Dortmund, membuka parade gol di Turin lewat sepakan keras di menit ke-52. Sekitar 11 menit berselang, ikon baru Juve, Kenan Yildiz, menyamakan kedudukan melalui ciri khasnya dengan tembakan melengkung dari luar kotak penalti.

Belum selesai suporter Juve merayakan gol, Dortmund kembali unggul berkat sepakan gelandang Felix Nmecha pada menit ke-65. Penyerang pengganti Juve, Dusan Vlahovic, membalas cepat setelah menerima umpan terobosoan Yildiz pada menit ke-67.

Setelah itu, ”Die Schwarzgelben” memimpin dua gol berkat sepakan bek sayap Yan Couto dan eksekusi penalti bek Rami Bensebaini. Dua gol itu tercipta masing-masing pada menit ke-74 dan ke-86.

Ketika harapan meraih poin menipis, Si Nyonya Besar mencetak gol ganda pada masa tambahan waktu. Vlavohic berada di balik dua gol penyama skor itu. Ia mencetak gol melalui sontekan pada 90+4, kemudian di menit terakhir 90+6, penyerang asal Serbia itu menciptakan asis untuk gol bek tengah, Lloyd Kelly.

”Kami bermain baik untuk keluar dari ketertinggalan yang menunjukkan karakter pemain. Kami tidak pernah menyerang dan selalu berjuang fino alla fine yang kami buktikan malam ini,” ucap Vlahovic dilansir laman UEFA seusai laga itu.

Tudor sampai melompat kegirangan menyaksikan gol itu. Adapun Giorgio Chiellini, legenda dan Direktur Strategi Sepak bola Juve, merayakan gol itu sambal berdiri dari bangkunya di tribune naratama.


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulvianus Harjono
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto