Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel berikut ini?
- Meski dominan, mengapa klub Inggris harus melewati jalan terjal?
- Bagaimana hasil pertandingan pekan terakhir Liga Champions?
- Bagaimana tim asuhan Jose Mourinho menenggelamkan Real Madrid?
- Mengapa Liga Champions tidak bersahabat dengan Antonio Conte?
Meski dominan, mengapa klub Inggris harus melewati jalan terjal?
Pemikiran Arne Slot pada September 2025 jadi relevan menjelaskan nasib yang dialami para wakil Inggris. Sekalipun sukses menyegel lima dari delapan tim teratas fase liga, para wakil Inggris tetap berpotensi menemui lawan berat pada fase gugur. Situasi ini tercipta berkat format baru Liga Champions yang dirancang memberikan kejutan sejak fase liga hingga final.
Manajer Liverpool tersebut mengeluhkan nasib timnya yang tetap harus bertemu lawan berat pada 16 besar meski berhasil memuncaki klasemen akhir fase liga. Pada edisi musim lalu tercipta final ideal yang prematur kala Liverpool bertemu dengan Paris Saint-Germain. Liverpool pada akhirnya tersingkir dan PSG keluar sebagai juara di akhir musim.
Sebagai tim yang finis teratas pada fase liga, Slot berpikir Liverpool akan mendapat keuntungan dengan bertemu lawan ringan pada fase gugur. Akan tetapi, format baru Liga Champions membuat sejumlah tim raksasa, seperti PSG, Real Madrid, Manchester City, dan Bayern Muenchen, kewalahan lolos secara otomatis lewat jalur delapan peringkat teratas. Adapun PSG lolos ke fase gugur setelah mengatasi Brest pada babak playoff 16 besar sehingga mendapat undian melawan Liverpool.
Pernyataan Slot itu menegaskan, tidak ada jaminan bagi tim yang finis teratas pada fase liga akan melewati fase gugur dengan mudah. Pemikiran itu relevan kembali menilik klasemen akhir fase liga Liga Champions musim ini.
Lima wakil Inggris, yaitu Arsenal, Liverpool, Tottenham Hotspur, City, dan Chelsea, berhasil menghindari fase playoff berkat finis di posisi delapan besar liga. Hanya Newcastle United yang gagal mengikuti jejak kelima tim itu untuk lolos secara otomatis tanpa melalui playoff.
Bagaimana hasil pertandingan pekan terakhir Liga Champions?
Selalu saja ada penghalang bagi Antonio Conte untuk mengukir kejayaan di Liga Champions Eropa. Pelatih Napoli itu lagi-lagi merasakan pahitnya kegagalan saat tersingkir oleh Chelsea dalam laga pamungkas fase liga. Napoli yang tampil heroik meski tidak diperkuat sejumlah pemain bintang kalah 2-3.
Pada jeda turun minum, Napoli masih berpeluang melaju ke 16 besar berkat keunggulan 2-1. Juara bertahan Liga Italia itu unggul setelah tertinggal lebih dulu lewat gol penalti Enzo Fernandez pada menit ke-19. Insting bertahan hidup membawa ”Si Keledai” meningkatkan tempo serangan hingga sukses membalas melalui gol Antonio Vergara dan Rasmus Hojlund pada pertengahan babak pertama.
”Ini mengecewakan, terutama mengingat hasil pekan lalu di Kopenhagen. Malam ini, Chelsea lebih baik di sepertiga akhir lapangan, tetapi para pemain kami secara keseluruhan bermain bagus. Saya ingin tetap bertahan di kompetisi ini,” kata Conte seusai laga yang berlangsung di Stadion Diego Armando Maradona, Napoli, Kamis (29/1/2026) dini hari WIB.
Keunggulan itu sempat membawa Napoli merangsek ke zona playoff. Di sisi lain, Chelsea terlempar dari posisi delapan besar ke peringkat 10. Jika tidak ada perubahan, Chelsea terpaksa harus memperebutkan tiket 16 besar melalui jalur playoff. Skenario itu sangat dihindari tim-tim Inggris karena akan memboroskan waktu mereka pada Februari.
Bagaimana tim asuhan Jose Mourinho menenggelamkan Real Madrid?
Ketidakcermatan mengamati aturan fase liga di Liga Champions Eropa nyaris mengubur harapan Benfica melaju ke 16 besar. Tim besutan Pelatih Jose Mourinho itu sudah cukup nyaman saat unggul atas Real Madrid jelang laga usai. Namun, seorang anggota staf Mourinho menyadari sesuatu yang berbahaya. Kesadaran itu memancing kepanikan dan pada akhirnya membuka jalan Benfica untuk lolos playoff.
Semua berjalan sesuai rencana bagi Benfica saat laga melawan Real memasuki menit ke-96. Wasit Davide Massa memberikan delapan menit waktu tambahan babak kedua dan Benfica sedang berada dalam posisi unggul 3-2 berkat sepasang gol Andreas Schjelderup dan Vangelis Pavlidis. Adapun Real membalas lewat aksi Kylian Mbappe (dua gol). Merasa sudah pasti menggenggam tiket playoff, para pemain dan staf kepelatihan Benfica merasa tenang.
Namun, rasa tenang itu ternyata melenakan. Salah seorang anggota staf Mourinho menyadari ada sesuatu yang aneh. Dia melihat tabel klasemen fase liga yang belum mendapati Benfica pada posisi aman.
Benfica dan Marseille bersaing memperebutkan satu tempat terakhir playoff. Kedua tim itu punya perolehan poin dan selisih gol yang sama. Hal penting yang nyaris luput dari pengamatan Mourinho dan stafnya adalah Benfica ternyata kalah dari sisi produktivitas gol.
Mengapa Liga Champions tidak bersahabat dengan Antonio Conte?
Perjalanan Antonio Conte di Liga Champions Eropa usai setelah Napoli kalah 2-3 dari Chelsea pada laga terakhir fase liga. Untuk pelatih sekelas Conte, kegagalan ini tergolong biasa. Sukses di kancah domestik, Conte tidak pernah bisa berbicara banyak di Eropa. Setidaknya ada beberapa penyebab mengapa Conte seakan ditakdirkan sulit menguasai Eropa.
Kegagalan menyelamatkan Napoli, sang juara bertahan Liga Italia, ke fase gugur menambah panjang daftar suram Conte di Liga Champions. Ia masuk lima besar pelatih dengan jumlah kegagalan terbanyak dalam membawa tim ke fase gugur sejak musim 2012-2013. Sejauh ini, Conte sudah empat kali gagal lolos ke fase gugur dari total tujuh penampilan berbeda di setiap musim.
Conte bersanding dengan Jorge Jesus (Portugal) yang menempati posisi teratas pelatih paling banyak gagal membawa timnya lolos ke fase gugur, yakni lima kali. Dari tujuh musim penampilan di Liga Champions, prestasi terbaik Conte hanya mencapai perempat final bersama Juventus pada 2012-2013.
Statistik Conte ketika tampil di Liga Champions tidak sebaik dibandingkan di kompetisi lain. Di Liga Champions, tim-tim yang dilatih Conte kebobolan lebih banyak, mencetak gol lebih sedikit, dan kalah dari segi poin per pertandingan. Padahal, Conte begitu disegani di Italia. Hingga saat ini, Conte sudah lima kali menjuarai Serie A bersama Juventus (tiga kali), Napoli, dan Inter Milan.
Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel berikut ini?
- Meski dominan, mengapa klub Inggris harus melewati jalan terjal?
- Bagaimana hasil pertandingan pekan terakhir Liga Champions?
- Bagaimana tim asuhan Jose Mourinho menenggelamkan Real Madrid?
- Mengapa Liga Champions tidak bersahabat dengan Antonio Conte?
Meski dominan, mengapa klub Inggris harus melewati jalan terjal?
Pemikiran Arne Slot pada September 2025 jadi relevan menjelaskan nasib yang dialami para wakil Inggris. Sekalipun sukses menyegel lima dari delapan tim teratas fase liga, para wakil Inggris tetap berpotensi menemui lawan berat pada fase gugur. Situasi ini tercipta berkat format baru Liga Champions yang dirancang memberikan kejutan sejak fase liga hingga final.
Manajer Liverpool tersebut mengeluhkan nasib timnya yang tetap harus bertemu lawan berat pada 16 besar meski berhasil memuncaki klasemen akhir fase liga. Pada edisi musim lalu tercipta final ideal yang prematur kala Liverpool bertemu dengan Paris Saint-Germain. Liverpool pada akhirnya tersingkir dan PSG keluar sebagai juara di akhir musim.
Sebagai tim yang finis teratas pada fase liga, Slot berpikir Liverpool akan mendapat keuntungan dengan bertemu lawan ringan pada fase gugur. Akan tetapi, format baru Liga Champions membuat sejumlah tim raksasa, seperti PSG, Real Madrid, Manchester City, dan Bayern Muenchen, kewalahan lolos secara otomatis lewat jalur delapan peringkat teratas. Adapun PSG lolos ke fase gugur setelah mengatasi Brest pada babak playoff 16 besar sehingga mendapat undian melawan Liverpool.
Pernyataan Slot itu menegaskan, tidak ada jaminan bagi tim yang finis teratas pada fase liga akan melewati fase gugur dengan mudah. Pemikiran itu relevan kembali menilik klasemen akhir fase liga Liga Champions musim ini.
Lima wakil Inggris, yaitu Arsenal, Liverpool, Tottenham Hotspur, City, dan Chelsea, berhasil menghindari fase playoff berkat finis di posisi delapan besar liga. Hanya Newcastle United yang gagal mengikuti jejak kelima tim itu untuk lolos secara otomatis tanpa melalui playoff.
Bagaimana hasil pertandingan pekan terakhir Liga Champions?
Selalu saja ada penghalang bagi Antonio Conte untuk mengukir kejayaan di Liga Champions Eropa. Pelatih Napoli itu lagi-lagi merasakan pahitnya kegagalan saat tersingkir oleh Chelsea dalam laga pamungkas fase liga. Napoli yang tampil heroik meski tidak diperkuat sejumlah pemain bintang kalah 2-3.
Pada jeda turun minum, Napoli masih berpeluang melaju ke 16 besar berkat keunggulan 2-1. Juara bertahan Liga Italia itu unggul setelah tertinggal lebih dulu lewat gol penalti Enzo Fernandez pada menit ke-19. Insting bertahan hidup membawa ”Si Keledai” meningkatkan tempo serangan hingga sukses membalas melalui gol Antonio Vergara dan Rasmus Hojlund pada pertengahan babak pertama.
”Ini mengecewakan, terutama mengingat hasil pekan lalu di Kopenhagen. Malam ini, Chelsea lebih baik di sepertiga akhir lapangan, tetapi para pemain kami secara keseluruhan bermain bagus. Saya ingin tetap bertahan di kompetisi ini,” kata Conte seusai laga yang berlangsung di Stadion Diego Armando Maradona, Napoli, Kamis (29/1/2026) dini hari WIB.
Keunggulan itu sempat membawa Napoli merangsek ke zona playoff. Di sisi lain, Chelsea terlempar dari posisi delapan besar ke peringkat 10. Jika tidak ada perubahan, Chelsea terpaksa harus memperebutkan tiket 16 besar melalui jalur playoff. Skenario itu sangat dihindari tim-tim Inggris karena akan memboroskan waktu mereka pada Februari.
Bagaimana tim asuhan Jose Mourinho menenggelamkan Real Madrid?
Ketidakcermatan mengamati aturan fase liga di Liga Champions Eropa nyaris mengubur harapan Benfica melaju ke 16 besar. Tim besutan Pelatih Jose Mourinho itu sudah cukup nyaman saat unggul atas Real Madrid jelang laga usai. Namun, seorang anggota staf Mourinho menyadari sesuatu yang berbahaya. Kesadaran itu memancing kepanikan dan pada akhirnya membuka jalan Benfica untuk lolos playoff.
Semua berjalan sesuai rencana bagi Benfica saat laga melawan Real memasuki menit ke-96. Wasit Davide Massa memberikan delapan menit waktu tambahan babak kedua dan Benfica sedang berada dalam posisi unggul 3-2 berkat sepasang gol Andreas Schjelderup dan Vangelis Pavlidis. Adapun Real membalas lewat aksi Kylian Mbappe (dua gol). Merasa sudah pasti menggenggam tiket playoff, para pemain dan staf kepelatihan Benfica merasa tenang.
Namun, rasa tenang itu ternyata melenakan. Salah seorang anggota staf Mourinho menyadari ada sesuatu yang aneh. Dia melihat tabel klasemen fase liga yang belum mendapati Benfica pada posisi aman.
Benfica dan Marseille bersaing memperebutkan satu tempat terakhir playoff. Kedua tim itu punya perolehan poin dan selisih gol yang sama. Hal penting yang nyaris luput dari pengamatan Mourinho dan stafnya adalah Benfica ternyata kalah dari sisi produktivitas gol.
Mengapa Liga Champions tidak bersahabat dengan Antonio Conte?
Perjalanan Antonio Conte di Liga Champions Eropa usai setelah Napoli kalah 2-3 dari Chelsea pada laga terakhir fase liga. Untuk pelatih sekelas Conte, kegagalan ini tergolong biasa. Sukses di kancah domestik, Conte tidak pernah bisa berbicara banyak di Eropa. Setidaknya ada beberapa penyebab mengapa Conte seakan ditakdirkan sulit menguasai Eropa.
Kegagalan menyelamatkan Napoli, sang juara bertahan Liga Italia, ke fase gugur menambah panjang daftar suram Conte di Liga Champions. Ia masuk lima besar pelatih dengan jumlah kegagalan terbanyak dalam membawa tim ke fase gugur sejak musim 2012-2013. Sejauh ini, Conte sudah empat kali gagal lolos ke fase gugur dari total tujuh penampilan berbeda di setiap musim.
Conte bersanding dengan Jorge Jesus (Portugal) yang menempati posisi teratas pelatih paling banyak gagal membawa timnya lolos ke fase gugur, yakni lima kali. Dari tujuh musim penampilan di Liga Champions, prestasi terbaik Conte hanya mencapai perempat final bersama Juventus pada 2012-2013.
Statistik Conte ketika tampil di Liga Champions tidak sebaik dibandingkan di kompetisi lain. Di Liga Champions, tim-tim yang dilatih Conte kebobolan lebih banyak, mencetak gol lebih sedikit, dan kalah dari segi poin per pertandingan. Padahal, Conte begitu disegani di Italia. Hingga saat ini, Conte sudah lima kali menjuarai Serie A bersama Juventus (tiga kali), Napoli, dan Inter Milan.