Persiapan Matang demi Berlari dengan Senang

Persiapan matang, termasuk yang dijalani berbulan-bulan, akan terbayarkan ketika perlombaan bisa berlari dan finis dengan senang.

26 Nov 2024 18:07 WIB · Olahraga

Oleh Rebiyyah Salasah

Saat matahari baru saja muncul pada Selasa (26/11/2024), Farina Mutia (39) sudah berada di kawasan Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. Farina kemudian berlari dengan jarak 8 kilometer. Itu merupakan bagian dari program latihan yang dijalaninya menjelang Borobudur Marathon 2024.

Jadwal latihan dan istirahat itu sudah diatur sedemikian rupa oleh pelatih dari komunitas lari Skolari untuk persiapan Borobudur Marathon 2024. Kata Farina, dia bersama lebih dari 70 anggota Skolari lain melakukan persiapan bersama untuk ikut ajang yang akan dihelat Minggu (1/12/2024) di kawasan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, ini.

”Saya sudah memulai latihan sejak tiga bulan lalu. Kami biasanya latihan bersama 2-3 kali dalam seminggu. Ada latihan kekuatan setiap Rabu dan long run (berlari jarak jauh) secara bersama-sama setiap Sabtu dan Minggu,” tutur Farina yang akan berlomba pada kategori setengah maraton (21,0975 kilometer).

Adapun pada hari lainnya, kata Farina, mereka berlatih secara mandiri sesuai program. Ada latihan MAF (maximum aerobic function) untuk meningkatkan daya tahan, kecepatan, dan mengurangi risiko cedera. Ada pula latihan fartlek untuk meningkatkan daya tahan kardiovaskular dan latihan hill untuk meningkatkan kecepatan berlari dan kekuatan otot.

Quote

Tidak semua orang bisa ikut Borobudur Marathon. Jadi, ketika terpilih, persiapannya harus lebih baik. Jangan sampai tidak bisa start atau finis.

Farina Mutia berlatih bersama komunitas lari Skolari untuk persiapan Borobudur Marathon 2024 yang akan dihelat Minggu (1/12/2024) di kawasan Borobudur, Magelang, Jawa Tengah ini.

Farina mengatakan, persiapan berbulan-bulan demi Borobudur Marathon itu cukup penting. Apalagi, dia baru memulai fokus menjalani lari pada akhir Mei 2024. Selain itu, perlombaan pada Desember mendatang tersebut akan menjadi Borobudur Marathon pertamanya.

”Tidak semua orang bisa ikut Borobudur Marathon. Jadi, ketika terpilih, persiapannya harus lebih baik. Jangan sampai tidak bisa start atau finis. Saya juga ingin menikmati pengalaman pertama, ingin menikmati lari dan pemandangannya. Nah, persiapan matang dilakukan buat menunjang keinginan itu,” tutur Farina.

Alasan serupa disampaikan oleh Aditya Aksani Taqwim (30) yang akan mengikuti kategori maraton (42,195 kilometer) di Borobudur Marathon 2024. Seperti Farina, Aditya juga menjalani persiapan intensif. Bahkan, Aditya bersama 37 anggota komunitas lari Keluarga Cemara Run atau Kecerun telah memulai latihan sejak setengah tahun lalu.

Aditya, yang juga akan mencicipi pengalaman berlomba di Borobudur Marathon untuk pertama kalinya, mengatakan, latihan mulai berintensitas tinggi pada bulan kedua. Program latihan disusun oleh pelatih dengan menu bervariasi setiap hari, mulai dari interval, tempo, sampai kecepatan.

Anggota komunitas lari Keluarga Cemara Run atau Kecerun berfoto bersama sebelum mengikuti Borobudur Marathon 2024 yang akan dihelat Minggu (1/12/2024) di kawasan Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.
Anggota komunitas lari Keluarga Cemara Run atau Kecerun berlatih bersama untuk persiapan mengikuti Borobudur Marathon 2024 yang akan dihelat Minggu (1/12/2024) di kawasan Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.
Anggota komunitas lari Keluarga Cemara Run atau Kecerun, Aditya Aksani, berfoto sebelum mengikuti Borobudur Marathon 2024 yang akan dihelat Minggu (1/12/2024) di kawasan Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.

Menurut Aditya, persiapan matang juga penting dilakukan karena Borobudur Marathon terkenal punya rute yang menantang, termasuk kehadiran ”Tanjakan Cinta” di Kilometer 35. Rute ini memiliki elevasi sekitar 30 derajat.

Bayang-bayang tubuh tumbang, kaki kram, dan hal-hal tidak diinginkan lainnya saat menghadapi Tanjakan Cinta menghantui Aditya. Untuk itu, dia mencoba mengantisipasinya dengan persiapan matang selama berbulan-bulan.

”Ini akan jadi pengalaman baru buat saya, di perlombaan mayor di Indonesia dan sudah level dunia. Maka dari itu, saya ingin semua berjalan lancar, finis dengan kuat dan senang. Saya percaya persiapan berbulan-bulan akan terbayarkan,” ujar Aditya.

Pelatih lari dari Skolari, Andy Nurman, menyampaikan, persiapan untuk perlombaan seperti Borobudur Marathon memang harus intensif dan serius. Apalagi, untuk pelari yang baru pertama kali mencoba lari jarak jauh seperti setengah maraton dan maraton. Persiapan ideal paling cepat enam bulan.

Pelari yang akan menyelesaikan 42 kilometer saat melintasi jalan pedesaan pada ajang Borobudur Marathon 2023 Powered by Bank Jateng di kawasan Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Minggu (19/11/2023). Sebanyak 10 ribu pelari turut serta memeriahkan salah satu ajang lari marathon terbesar di Indonesia. Borobudur Marathon 2023 dibagi dalam tiga kategori antara lain Full Marathon (42 Kilometer), Half Marathon (21 Kilometer), dan 10K (10 Kilometer). Kompas/P Raditya Mahendra Yasa 19-11-2023

Persiapan panjang itu meliputi penguatan fisik, penyempurnaan teknik lari, serta persiapan mental. Andy mengatakan, aspek yang juga harus disiapkan ialah asupan nutrisi.

Menurut Andy, pelari harus pula memperhatikan pemenuhan nutrisi agar menopang latihan mereka yang bisa jadi berintensitas tinggi. Asupan nutrisi yang terjaga akan menghindarkan mereka dari kelelahan atau sakit.

Saat waktu perlombaan mulai dekat, latihan memasuki periode tapering ketika intensitas sudah menurun, tetapi daya tahan dan kekuatan tetap dipertahankan. Andy mengingatkan para pelari untuk menaati periodisasi tersebut.

“Persiapan panjang dan matang juga berguna agar pelari bisa menjalani lomba dengan aman dan selamat, seperti terhindar dari cedera dan hal-hal lain yang bisa membuat mereka gagal finis,” tutur Andy.

Pada akhirnya, persiapan matang yang bisa jadi memakan waktu berbulan-bulan akan terbayarkan saat hari perlombaan. Para pelari berharap, persiapan itu akan membuat mereka bisa berlari dan finis dengan senang.


Kerabat Kerja

Penulis:

Rebiyyah Salasah
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata