Ancaman Washington terhadap para mahasiswa China dianggap politis dan diskriminatif. AS mencemari reputasi mereka sendiri.
29 Mei 2025 19:00 WIB · Internasional
BEIJING, KAMIS — Pemerintah China mengecam keinginan Pemerintah Amerika Serikat mencabut visa sejumlah mahasiswa asing dari China. Beijing menuduh Washington mencederai diplomasi lunak antarnegara. Namun, Washington berdalih kebijakan itu demi keamanan nasional.
Kecaman itu dilontarkan oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning di Beijing, Kamis (29/5/2025). Ia mengatakan, pencabutan visa itu hanya kedok.
”China dengan tegas menolak keputusan itu karena merusak diplomasi antarmasyarakat kedua negara,” kata Mao, dikutip oleh surat kabar terafiliasi Pemerintah China, Global Times. Menurut Mao, China sudah mengirim nota keberatan kepada Duta Besar AS di Beijing.
Ancaman pencabutan visa para mahasiswa China di AS murni tindakan politis yang dilandasi pandangan diskriminatif. Semua ini bertolak belakang dengan citra yang selalu AS tampilkan di muka dunia, yaitu menjunjung tinggi kebebasan dan keterbukaan. AS justru merusak reputasi sendiri.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/04/07/6be8fe50-069b-4d60-8410-ded93e488510_jpg.jpg)
Di AS, data Departemen Pendidikan mencatat ada 1,1 juta mahasiswa asing. Mereka mayoritas datang dari China dan disusul oleh India. Menurut Institut Pendidikan Internasional (IIE), pada tahun ajaran 2023-2024, ada 277.398 mahasiswa China yang berkuliah di AS.
Beberapa perguruan tinggi AS dengan jumlah mahasiswa dari China yang besar, antara lain, adalah Universitas Columbia, Universitas New York, Universitas Purdue, Universitas Illinois Urbana-Champaign, dan Universitas California Selatan (USC).
Menurut kajian berbagai pihak, tidak ada hal yang menentukan suatu universitas digemari oleh mahasiswa dari negara tertentu. Akan tetapi, semua kajian menyepakati bahwa perguruan tinggi di AS sangat populer di kalangan mahasiswa asing karena bermutu tinggi, lingkungan sekolah yang relatif aman dan inklusif, serta menawarkan pengalaman kuliah yang kaya ilmu, serta interaksi sosial lintas budaya.
Perkara mahasiswa asing didominasi oleh China dan India karena kedua negara itu memiliki populasi terbesar di dunia. Bahkan, putri Presiden China Xi Jinping, Xi Mingze, dulu berkuliah di AS. Ia menimba pendidikan tinggi di Universitas Harvard dengan menggunakan nama samaran.
Pada Rabu (28/5/2025), Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan, AS akan secara agresif mencabut visa pelajar mahasiswa asal China yang dianggap berisiko. Kriteria ini, antara lain, adalah mahasiswa yang memiliki hubungan dengan Partai Komunis China, dan mahasiswa yang berkuliah di jurusan-jurusan strategis. Namun, sejauh ini belum ada keterangan mengenai definisi jurusan strategis.
”Kami akan memperketat prosedur penyaringan untuk para calon mahasiswa dari China dan Hong Kong,” kata Rubio.
Sebelum serangan terhadap mahasiswa China, AS sudah mencabuti visa para mahasiswa asing yang mereka tuduh antisemit. Kriteria antisemit yang dipakai oleh Washington adalah mengkritik serangan Israel terhadap Palestina yang telah menewaskan 53.000 warga di Jalur Gaza.
Pemerintah menghentikan aliran pendanaan untuk perguruan tinggi, termasuk universitas-universitas ternama. Mereka juga diminta menyerahkan daftar semua nama mahasiswa asing. Pada saat yang sama, Pemerintah AS menyisir akun-akun media sosial para mahasiswa.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/13/d5a5f3f6-444b-47a6-a0d5-54b31aea3640_jpg.jpg)
”Boleh ada mahasiswa asing di negara kita, tetapi mereka harus yang mencintai AS,” cuit Presiden AS Donald Trump di platform Truth Social. Para pengamat menilai, definisi ”mencintai AS” versi Trump adalah tidak boleh kritis terhadap dia ataupun pemerintahannya.
Universitas Harvard menolak permintaan pemerintah menyerahkan daftar nama mahasiswa asing mereka karena melanggar berbagai aturan, termasuk perlindungan data pribadi. Sebagai hukuman, pemerintah mencabut izin Harvard menerima mahasiswa asing. Mahasiswa yang sudah menjalani kuliah disuruh pindah ke universitas lain.
”Biar ini menjadi pelajaran bagi kampus-kampus lain,” kata Menteri Keamanan Dalam Negeri Kristi Noem.
Washington juga memerintahkan kedutaan AS di semua negara untuk membatalkan semua kuota wawancara bagi pelamar visa pelajar. Bagi orang-orang yang sudah telanjur mendapat jadwal wawancara, staf kedutaan diminta untuk membuat aturan seketat mungkin.
Para mahasiswa asing, terutama dari China, dilanda kepanikan. Salah satunya adalah Candy yang kuliah di Universitas Michigan. Ia menolak memberi nama lengkapnya karena takut ada konsekuensi. Candy sudah memasuki tahun akhir kuliah.
”Ketakutan saya adalah setelah kerja keras selama ini, saya tidak lulus kuliah karena dideportasi dan berakhir hanya dengan ijazah SMA,” keluhnya kepada CNN.
Masih kepada CNN, Wang Zichen, peneliti di lembaga nonpemerintah Pusat China dan Globalisasi (CCG) menjelaskan alasan AS populer di kalangan mahasiswa dan peneliti China. Para pejabat pemerintah dan pengusaha banyak menimba ilmu di ”Negara Paman Sam”.
”Ketika pulang ke China, mereka tidak cuma membawa ilmu, tetapi juga pemahaman akan pentingnya kreativitas, inklusivitas, dan toleransi. Ini bekal untuk kemajuan China,” tutur Wang.
Tidak hanya mahasiswa China yang ketar-ketir, mahasiswa dari negara lain juga. Salah satunya adalah Alfred Williamson dari Inggris yang berkuliah di AS. Kepada BBC, ia mengatakan berencana pulang kampung untuk berlibur dan kini khawatir tidak bisa kembali ke AS.
”Saya melihat, kami, para mahasiswa asing, menjadi pion pemerintahan Trump melawan universitas,” ujarnya. (AFP)
Penulis:
Laraswati Ariadne AnwarEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase