Dan ”Lumumba” Pun Menangis Melihat Kongo Tersingkir…

Sepanjang laga Kongo di Piala Afrika 2025, Michel Nkuka Mboladinga hanya mematung di tribune. Ia membawa spirit tokoh pembebasan Afrika, Patrice Lumumba.

08 Jan 2026 14:09 WIB · Olahraga

AP

Oleh Rebiyyah Salasah

Di tengah riuh para pendukung timnas sepak bola Kongo di tribune, seorang penggemar dengan setelan jas berwarna bendera Kongo (biru, kuning, dan merah) hanya berdiri dengan lengan terangkat. Gaya rambut dan kacamata yang ditata menyerupai era 1960-an membuat penggemar bernama Michel Nkuka Mboladinga tak bisa luput dari perhatian.

Setiap pertandingan yang dijalani Kongo di Piala Afrika 2025, Maroko, sejak 23 Desember lalu, Mboladinga selalu hadir dengan pose dan setelan yang sama. Tak ada perubahan pose atau ekspresi di wajah Mboladinga selama pertandingan waktu normal ataupun hingga perpanjangan waktu. Mboladinga hanya berdiri, persis seperti patung hidup.

Mboladinga dijuluki ”Lumumba Vea”.  Pakaian dan posenya menyerupai Perdana Menteri pertama Kongo, Patrice Lumumba. Pose berdiri dengan tangan kanan terangkat itu juga sama seperti patung peringatan Lumumba di Kinshasa, Kongo.

Piala Afrika memang selalu menjadi turnamen antarnegara tingkat benua yang unik dan menarik. Berbeda dengan turnamen tingkat benua lainnya yang digelar empat tahun sekali, Piala Afrika dilaksanakan dua tahun sekali. Ajang ini juga dihelat di tengah-tengah pertandingan liga-liga Eropa bergulir.

CORRECTION / Democratic Republic of Congo's supporter Michel Kuka Mboladinga, pays tribute to Democratic Republic of Congo's late prime minister Patrice Lumumba, by remaining motionless before the Africa Cup of Nations (CAN) round of 16 football match between Algeria and Democratic Republic of Congo at the Prince Moulay El Hassan Stadium in Rabat on January 6, 2026. (Photo by Gabriel BOUYS / AFP) / “The erroneous mention[s] appearing in the metadata of this photo by Gabriel BOUYS has been modified in AFP systems in the following manner: [Mboladinga] instead of [Mbolandinga]. Please immediately remove the erroneous mention[s] from all your online services and delete it (them) from your servers. If you have been authorized by AFP to distribute it (them) to third parties, please ensure that the same actions are carried out by them. Failure to promptly comply with these instructions will entail liability on your part for any continued or post notification usage. Therefore we thank you very much for all your attention and prompt action. We are sorry for the inconvenience this notification may cause and remain at your disposal for any further information you may require.”

Piala Afrika pun kerap menyuguhkan laga dramatis. Hasil pertandingan sering kali mengejutkan. Maka, tak heran jika negara non-unggulan, seperti Zambia, bahkan pernah mencicipi gelar juara.

Namun, Piala Afrika bukan hanya tentang apa yang terjadi di lapangan. Kehadiran Mboladinga yang selalu disorot kamera dan akhirnya viral di internet menjadi bukti bahwa bintang utama turnamen tak melulu pemain atau pelatih. Ini juga menunjukkan, sepak bola di Afrika lebih dari sekadar olahraga.

”Saya tetap diam untuk memberi kekuatan kepada tim, untuk memberi energi kepada para pemain,” kata Mboladinga.

Mboladinga ingin membawa spirit Lumumba kepada para pemain Kongo. Lumumba secara luas dipuji sebagai aktivis nasionalis yang membantu mengakhiri pemerintahan kolonial Belgia atas Kongo pada tahun 1960.

Quote

Lumumba yang memberi kita kebebasan untuk mengekspresikan diri. Dia mengorbankan hidupnya untuk kita, untuk memberi kita kebebasan. (Mboladinga)

Lumumba menjadi perdana menteri pertama negara merdeka tersebut dan dipandang sebagai salah satu pemimpin baru Afrika yang paling menjanjikan. Namun, Lumumba terbunuh dalam waktu satu tahun selama perjuangan melawan gerakan separatis yang didukung Belgia di wilayah Katanga yang kaya mineral.

Michel Nkuka Mboladinga, a DR Congo fan impersonating late Congolese leader Patrice Lumumba, strikes a pose during the Africa Cup of Nations group D soccer match between Botswana and DR Congo in Rabat, Morocco, Tuesday, Dec. 30, 2025. (AP Photo/Mosa'ab Elshamy)

Hasil penyelidikan Parlemen Belgia pada 2001 menyebutkan, para menteri Pemerintah Belgia memikul tanggung jawab moral atas peristiwa yang menyebabkan terbunuhnya Lumumba. Anggota parlemen mengatakan, Raja Baudouin dari Belgia mengetahui rencana untuk menyingkirkan pemimpin Afrika yang karismatik itu, tetapi tidak melakukan apa pun untuk menyelamatkannya.

The Guardian menyebut, tidak ada satu pun dokumen yang secara meyakinkan memberatkan ditemukan dalam penyelidikan. Namun, penyelidikan menemukan sebuah telegram dari Count Harold d’Aspremont Lynden, yang saat itu menjabat sebagai menteri urusan Afrika, yang berbicara tentang eliminasi definitif Lumumba.

Adapun Komite Senat AS pada tahun 1975 menemukan bahwa CIA telah merancang rencana terpisah yang gagal untuk membunuh pemimpin Kongo tersebut.

Nkuka Mboladinga, also known as Lumumba Vea, speaks to Associated Press in Casablanca, Morocco, Saturday, Jan. 3, 2026. (AP Photo/Samy Ntumba Shambuyi)

”Lumumba yang memberi kita kebebasan untuk mengekspresikan diri. Dia mengorbankan hidupnya untuk kita, untuk memberi kita kebebasan. Jadi, dia adalah pahlawan bagi kita, Lumumba adalah semangat bagi kita, dia adalah panutan bagi kita,” ujar Mboladinga.

Berlatih diam

Bukan hanya pemain yang berlatih sebelum pertandingan, Mboladinga juga berlatih untuk aksinya. Ia berlatih selama 45 hingga 50 menit untuk tetap diam mematung.

Kata Mboladinga, itu bukan upaya yang mudah. Malah, ia mengakui sebenarnya sulit untuk tetap diam saat para pendukung lain menari dan bersorak di sekitarnya, terutama ketika tim mencetak gol dan meraih kemenangan.

Meski begitu, Mboladinga mengatakan bahwa semua orang memainkan perannya masing-masing. ”Dan saya menjalankan tugas saya,” ujarnya.

Setelah tiga pertandingan dilalui dengan mematung, untuk pertama kalinya Mboladinga bergerak. Selepas laga babak 16 besar antara Kongo dan Aljazair di Stadion Moulay Hassan, Rabat, Maroko, Selasa (6/1/2026), ia tak kuasa menahan kesedihannya.

Pada menit ke-119, ketika Aljazair mencetak gol kemenangan, Mboladinga bergerak setelah mematung selama hampir dua jam. Ia melepas kacamata dan menutupi wajah dengan tangannya.

Gol semata wayang Aljazair memastikan Kongo tersingkir dari Piala Afrika 2025. Dan dengan kekalahan itu, air mata ”Lumumba” pun jatuh.

Bagi banyak orang di Kongo, Lumumba tetap menjadi simbol perkembangan positif yang seharusnya dapat dicapai negara itu setelah kemerdekaannya. Sebaliknya, negara itu terperangkap dalam puluhan tahun kediktatoran yang menguras kekayaan mineral yang melimpah.

Di Indonesia, di sekitar Bandara Kemayoran pernah ada nama Jalan Patrice Lumumba. Nama Lumumba diabadikan Presiden Sukarno sebagai bentuk solidaritas Asia-Afrika. Nama Patrice Lumumba diganti rezim Orde Baru menjadi Jalan Angkasa Raya.

Mboladinga mungkin memang tidak mencetak gol atau menciptakan asis di Piala Afrika. Namun, kehadirannya mengingatkan dunia bahwa sepak bola di Afrika lebih dari sekadar olahraga.

Sikap diam Mboladinga justru menjadi semacam protes paling riuh. Aksinya juga adalah pengingat akan kenangan dan rasa hormat. Air matanya pun seolah mencerminkan penderitaan seluruh bangsa.

Sering kali, satu sosok yang mematung di tribune dapat berbicara lebih lantang daripada seribu kata dan aksi di lapangan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Rebiyyah Salasah
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji