Proposal yang ditawarkan berpotensi mengurangi wilayah Ukraina. Ukraina juga mungkin akan dipinggirkan dalam perundingan Putin-Trump.
13 Feb 2025 10:13 WIB · Internasional
WASHINGTON, KAMIS — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan, Presiden Rusia Vladimir Putin bersedia melangsungkan perundingan damai untuk mengakhiri invasi di Ukraina. Meski demikian, proposal yang ditawarkan berpotensi mengurangi wilayah Ukraina dan peran negara tersebut di Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).
Tak hanya itu, Ukraina bisa jadi dalam posisi tidak setara, bahkan hilang dalam proses perundingan. Ketakutan ini kembali disuarakan oleh Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy.
Kesediaan Putin untuk berunding disampaikan Trump, Rabu (12/2/2025) waktu setempat, setelah mereka berbicara melalui telepon selama satu jam. Pembicaraan berselang sehari setelah pembebasan Marc Fogel, guru asal AS, dengan imbalan pembebasan Alexander Vinnik, warga Rusia yang terlibat kasus penipuan mata uang kripto.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/13/854a6399846e115829b53c858923239b-000_36XK4QG.jpg)
”Saya pikir kita sedang dalam perjalanan menuju perdamaian,” kata Trump. Dia mengatakan, Putin dan Zelenskyy telah mengutarakan keinginan mereka untuk berdamai. Begitu pula dengan dirinya.
Pembicaraan Trump dan Putin tentang perundingan damai ini yang kedua kalinya dalam dua pekan terakhir. Sebelumnya, Trump mengklaim pembicaraan dengan Putin, tetapi tidak dikomentari Kremlin.
Sejak masa kampanyenya, Trump sudah menyatakan kesiapannya menjadi fasilitator perundingan Rusia-Ukraina untuk menghentikan perang. Bahkan, dia berjanji bisa menyelesaikan perang di Ukraina hanya dalam waktu satu hari setelah dilantik. Akan tetapi, keinginan itu sirna. Trump menggantinya dengan target waktu penyelesaian selama setidaknya enam bulan ke depan. Pada 24 Februari 2025, perang genap berlangsung tiga tahun.
Upaya Trump mendekatkan diri pada Putin pun telah dimulai dengan sejumlah pernyataan yang mengindikasikan pemahamannya terhadap pilihan kebijakan Kremlin menginvasi Ukraina. Ini terkait dengan pelebaran sayap NATO dan menjadikan Ukraina bagian dari aliansi militer tersebut.
Akan tetapi, Trump tidak secara tegas menjelaskan keberadaan Ukraina dan Zelenskyy dalam proses perundingan itu. Apakah ia akan duduk semeja dengan delegasi Rusia atau berada di sisi lain, yakni diwakili oleh tim perunding AS.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2024/09/28/63606bc2-2ff6-49f5-982c-9b144ab0acc0.jpg)
Ketika ditanya secara khusus tentang Ukraina sebagai anggota yang setara dalam proses perdamaian, Trump menjawab, ”Pertanyaan yang menarik. Saya pikir mereka harus berdamai.”
Zelenskyy, dalam pernyataan yang diunggah di X, menghargai dorongan Trump agar terjadi pembicaraan damai antara Ukraina dan Rusia. Dia berharap kedua negara bisa bekerja sama dengan kolega masing-masing untuk mendorong Putin dan Rusia mau berunding. ”Saya berharap dengan kekuatan yang dimiliki AS, bekerja sama dengan mitra-mitra, bisa mendorong Rusia ke meja perundingan,” katanya.
Walau begitu, Zelenskyy kembali mengingatkan agar proses perundingan jangan sampai sama sekali tidak melibatkan Ukraina. ”Tanpa berkonsultasi dengan kami, saya rasa rencana itu tidak akan selesai,” katanya dalam wawancara khusus dengan The Economist.
Peringatan soal ini sama seperti pernyataan Zelenskyy saat diwawancarai secara khusus oleh kantor berita The Associated Press, Sabtu (8/2/2025). Dia secara tersurat menyatakan meminggirkan Ukraina dalam proses perundingan damai akan membahayakan proses itu serta perdamaian di Eropa dalam jangka panjang.
Zelenskyy memperingatkan, jika substansi negosiasi sama sekali tidak mewakili keinginan rakyat Ukraina, bukan perdamaian abadi yang nantinya dirasakan oleh Ukraina, Eropa, dan dunia. ”Jika rakyat kami tidak bahagia, lalu apa pencapaiannya? Untuk apa perdamaian? Maksud saya, apa gunanya? Hanya untuk pamer, untuk seseorang?” katanya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/03/04/a13b50df-ad93-4060-9f17-2e3d6e9ab175.jpg)
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengatakan, Putin mendukung sikap Trump bahwa sudah waktunya bagi kedua negara bekerja sama dan mengundangnya ke Moskwa. ”Presiden Rusia mengundang Presiden AS untuk mengunjungi Moskwa dan menyatakan kesiapannya menjamu pejabat AS di Rusia untuk membahas masalah-masalah yang menjadi kepentingan bersama, termasuk Ukraina, penyelesaian Ukraina,” katanya.
Berbeda dengan Peskov yang menyebut Moskwa sebagai tempat pembicaraan, Gedung Putih menyebut Arab Saudi bersedia menjadi tuan rumah pembicaraan Putin dan Trump. Riyadh disebut-sebut sebagai salah satu aktor utama pertukaran Fogel dan Vinnik yang berujung pada pembicaraan telepon Trump-Putin.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengungkapkan, ada beberapa hal yang harus direlakan oleh Ukraina agar perundingan perdamaian bisa terjadi. Pertama soal teritorial. Hegseth mengingatkan, tidak realistis bagi Kyiv untuk mendapatkan kembali seluruh wilayah Ukraina yang telah diduduki Rusia sejak tahun 2014. Dia juga menyebut hal itu sebagai tujuan yang menyesatkan.
”Kami menginginkan, seperti Anda, Ukraina yang berdaulat dan makmur. Namun, kita harus mulai dengan mengakui bahwa kembali ke perbatasan Ukraina sebelum 2014 adalah tujuan yang tidak realistis,” kata Hegseth, berbicara di markas NATO di Brussels, Belgia, Rabu (12/2/2025). ”Mengejar tujuan yang menyesatkan ini hanya akan memperpanjang perang dan menyebabkan lebih banyak penderitaan.”
Saat ini diperkirakan Moskwa menguasai sekitar 20 persen wilayah Ukraina, termasuk Crimea serta empat wilayah di Ukraina timur dan selatan. Berdasarkan data sumber terbuka, militer Rusia baru mengendalikan 70-80 persen wilayah yang dikuasai itu. Ukraina diperkirakan masih menguasai sekitar 26.000 km persegi.
Begitu pula dengan keanggotaan NATO. Hegseth dan Trump memiliki pemikiran senada, yakni tidak realistis bagi Ukraina menjadi anggota NATO. ”Saya pribadi tidak berpikir praktis untuk memilikinya,” kata Trump.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/13/776095d5-e4fd-4056-9735-a7cf7791a336_jpg.jpg)
Seperti pernyataan sebelumnya, Trump berjalan bersisian dengan Kremlin soal keanggotaan Ukraina di NATO. ”Mereka telah mengatakan itu sejak lama bahwa Ukraina tidak dapat bergabung dengan NATO. Dan, saya setuju dengan itu.”
Mengenai hal ini, Zelenskyy mengingatkan potensi ancaman Rusia terhadap Eropa. Tanpa Ukraina, kata Zelenskyy, secara perlahan Eropa akan diduduki.
”Artinya, Ukraina tidak hanya membela diri. Ukraina menahan 1 juta orang Rusia. Kami menahan 1 juta pasukan Federasi Rusia hanya dengan melawan mereka. Jika besok Putin berkata ’Saya tidak akan pergi ke tempat Anda lagi, saya sudah pergi ke Eropa’, apa yang akan dilakukan Eropa?” kata Zelenskyy.
Dalam pernyataan bersama, Jerman, Perancis, Polandia, Italia, Spanyol, Inggris, dan Uni Eropa mengatakan, nasib Ukraina tidak boleh diputuskan tanpa partisipasi aktif Kyiv. Mereka mengatakan siap meningkatkan dukungan bagi Ukraina dan menempatkannya dalam posisi yang kuat.
(AP/AFP/Reuters)
Penulis:
Mahdi MuhammadEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .