Dinanti, Formula Baru Setelah Piala Sudirman

Banyak momen terjadi di tim bulu tangkis Indonesia untuk menjadi semifinalis Piala Sudirman. Evaluasi PP PBSI dinanti untuk melanjutkan momen tersebut.

06 Mei 2025 10:44 WIB · Olahraga

Oleh Yulia Sapthiani

Piala Sudirman, lambang supremasi kejuaraan dunia bulu tangkis beregu campuran, menjadi milik China untuk ke-14 kali. Indonesia harus menanti, setidaknya dua tahun lagi, untuk membawa pulang piala tersebut berbekal momen dari Piala Sudirman 2025.

Persaingan sebanyak 16 tim dari berbagai konfederasi di Xiamen, China, pada 27 April–4 Mei melahirkan China sebagai tim terbaik yang mengalahkan Korea Selatan di final. Indonesia dan Jepang berbagi posisi ketiga setelah tersisih di semifinal.

Di antara berbagai kejuaraan beregu, Piala Sudirman menjadi indikator untuk melihat kekuatan setiap negara secara lengkap karena mempertandingkan semua nomor. Tim juara, sejatinya, adalah tim yang memiliki kekuatan merata pada nomor tunggal putra, tunggal putri, ganda putra, ganda putri, dan ganda campuran.

China menunjukkan kekuatan itu meski perjalanan di Xiamen tak sesempurna di Beijing 2005 dan Guangzhou 2009 ketika menjadi juara tanpa kehilangan satu partai pun.

Di Xiamen, China kehilangan nomor tunggal putri saat melawan Thailand pada penyisihan grup dan ketika berhadapan dengan Korea Selatan di final. Namun, kekuatan China tetap lebih merata dibandingkan semua tim. Shi Yu Qi dan kawan-kawan menaklukkan Korea Selatan yang datang dengan peluang tak kalah besar untuk juara.

Jonatan Christie setelah menang saat Indonesia melawan India pada penyisihan grup Piala Sudirman di Xiamen, China, Selasa (29/4/2025).

Korea Selatan memiliki tunggal putri terbaik dunia, An Se-young, dan pemain-pemain ganda top dunia. Akan tetapi, mereka tak bisa bertahan memenangi enam pertandingan, sejak penyisihan grup hingga final, untuk menjadi tim terbaik dunia.

Indonesia kembali gagal menambah satu-satunya gelar yang didapat pada edisi pertama di Jakarta 1989. Meski demikian, semifinal yang diraih Jonatan Christie dan kawan-kawan di Xiamen menjadi hasil yang cukup maksimal.

Medali perunggu yang didapat skuad ”Merah Putih” adalah hasil terbaik yang realistis mengingat bulu tangkis Indonesia tertinggal dari negara lain, setidaknya dalam 1,5 tahun terakhir.

Indonesia gagal meraih medali emas Olimpiade Paris 2024 dan kalah dari China dalam final Piala Thomas pada tahun yang sama. Dalam persaingan turnamen BWF World Tour (Super 300, 500, 750, dan 1000) pada 2024, atlet-atlet Indonesia hanya mendapat 12 gelar, kalah dari China (53 gelar), Jepang (16), Korea Selatan (14), Denmark, dan Thailand yang masing-masing memiliki 13 gelar.

Dari delapan turnamen BWF World Tour yang telah digelar pada 2025, sebelum Piala Sudirman, Indonesia, bahkan, baru mendapat satu gelar juara dari level terendah (Super 300). Gelar itu didapat ganda putri, yakni Siti Fadia Silva Ramadhanti/Lanny Tria Mayasari, di Thailand Masters.

Dejan Ferdinansyah/Siti Fadia Silva Ramadhanti tampil pada partai pertama semifinal Piala Sudirman antara Indonesia dan Korea Selatan di Xiamen, China, Sabtu (3/5/2025). Dejan/Fadia kalah dan Indonesia tertinggal 0-1.

Atlet-atlet top seperti Jonatan dan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto gagal mempertahankan gelar All England. Anthony Sinisuka Ginting didera cedera bahu kanan yang membuatnya baru tampil pada satu turnamen di awal tahun.

Anthony pun absen di Piala Sudirman. Begitu pula dengan pemain ganda putra, yakni Leo Rolly Carnando, yang cedera lutut kiri dan Gregoria Mariska Tunjung (sakit). Pembatalan keikutsertaan Leo dan Gregoria dilakukan sekitar sepekan menjelang dimulainya Piala Sudirman.

Berdasarkan situasi tersebut, semifinal yang dicapai tim Merah Putih menjadi hal yang positif. Pemain yang diturunkan menunjukkan daya juang tinggi dan mengeluarkan semua kemampuan terbaik saat menghadapi kekuatan Korea Selatan di semifinal.

Dalam situasi Indonesia tertinggal 1-2, Muhammad Shohibul Fikri/Bagas Maulana membuat kedudukan menjadi 2-2 dengan menggagalkan match point juara All England, yakni Seo Seung-jae/Kim Won-ho.

Fadia, yang telah bermain di ganda campuran, tampil lagi bersama Amalia Cahaya Pratiwi pada partai kelima. Meski akhirnya kalah, mereka memberikan perlawanan selama 1 jam 31 menit pada ganda putri ranking ketiga dunia yang merupakan juara All England 2024, yakni Lee So-hee/Baek Ha-na.

Putri Kusuma Wardani kalah dari An Se-young di Xiamen, China, Sabtu (3/5/2025), dalam semifinal Piala Sudirman Indonesia melawan Korea Selatan. Putri kalah dengan skor 18-21, 12-21.

Alwi dan Putri Kusuma Wardani mendapat sorotan dari mantan pebulu tangkis Inggris, Gillian Clark, yang menjadi komentator turnamen untuk BWF. Alwi mengalahkan tunggal putra ranking ketiga dunia, Anders Antonsen, saat Indonesia berhadapan dengan Denmark pada perebutan posisi juara Grup D.

Putri mengalahkan Pusarla V Sindhu (India) dan Pornpawee Chochuwong (Thailand), masing-masing dalam dua gim. Kemenangan atas Chochuwong didapat setelah Indonesia tertinggal 0-1 dari Thailand pada perempat final. Itu juga menjadi kemenangan pertama Putri atas tunggal putri ranking keenam dunia tersebut setelah selalu kalah dalam delapan pertandingan.

Hanya dari An Se-young, Putri kalah dari empat pertandingannya selama di Xiamen dan dia menjalani itu sebagai tunggal putri pertama Tim Indonesia dengan absennya Gregoria.

”Benih” pemain muda

Penampilan Putri saat melawan Sindhu dan Chochuwong, kemenangan Alwi atas Antonsen, dan perjuangan Fikri/Bagas untuk memperpanjang napas tim di semifinal menjadi beberapa momen positif Indonesia di Piala Sudirman 2025.

Mereka berempat, ditambah Ester Nurumi Tri Wardoyo dan Mohammad Zaki Ubaidillah, mendapat kepercayaan bertanding, bergantian dengan para senior, yakni Jonatan dan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto. Apa yang diperlihatkan Putri, Alwi, dan kawan-kawan menjadi benih yang harus dipelihara untuk kemajuan mereka sendiri dan bulu tangkis Indonesia.

Alwi Farhan mengalahkan tunggal putra ranking ketiga dunia Anders Antonsen. Momen itu terjadi pada penyisihan grup Kejuaraan Piala Sudirman Indonesia melawan Denmark di Xiamen, China, Kamis (1/5/2025).

Alwi bertekad membawa pengalaman dari Piala Sudirman untuk tantangan yang akan dia jalani. ”Saat bermain dalam kejuaraan beregu, saya sangat menikmatinya. Saya pun harus bisa menikmati setiap momen dalam turnamen perorangan seperti saat saya bermain di ajang beregu. Selain itu, pengalaman bertemu pemain top dunia membuka mata saya tentang kelebihan, kekurangan, dan kebutuhan saya ke depan,” tutur Alwi yang melanjutkan tugasnya setelah Piala Sudirman ke turnamen Taiwan Terbuka Super 300 pada 6-11 Mei.

Putri juga memiliki catatan untuk dirinya setelah tampil selama sepekan di Xiamen. ”Pengalaman di Piala Sudirman adalah pengalaman yang tidak akan bisa saya beli. Saya akan berusaha membawa konsistensi penampian di Sudirman ke turnamen perorangan sambil memperbaiki kekurangan,” kata Putri.

Tekad dan sumber motivasi mereka dari Piala Sudirman ini harus sejalan dengan tugas PBSI dalam mendampingi atlet dengan target besar Olimpiade Los Angeles 2028. Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI Eng Hian mengatakan akan melakukan evaluasi untuk menentukan program yang harus segera dilaksanakan agar performa dan prestasi atlet muda terus meningkat. Apalagi, Eng Hian mengandalkan Putri dan kawan-kawan bisa membawa Piala Sudirman ke tanah kelahirannya, dua tahun mendatang.

Selain itu, rentang prestasi atlet senior dan pelapisnya pada sebagian besar nomor cukup jauh. Setelah Jonatan dan Anthony, ada Alwi sebagai bibit penerus mereka seiring dengan terus turunnya performa Chico Dwi Wardoyo. Akan tetapi, Alwi masih berada pada awal persaingan yang lebih kompetitif dibandingkan ketika dia tampil di level yunior, dua tahun lalu.

Seperti pengalaman banyak pemain, masa peralihan dari yunior ke senior adalah masa sangat menantang. Pada masa transisi itu, atlet mulai bersaing dengan lawan-lawan yang lebih berpengalaman sejak babak awal dan tak jarang harus bertanding sejak babak kualifikasi. Maka, mental pun harus tangguh ketika sering tersingkir pada babak-babak awal.

Rentang jauh prestasi di antara atlet terjadi pula di ganda putra, nomor yang regenerasi prestasinya tak pernah putus. Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan, misalnya, memiliki penerus dua pasangan dengan kemampuan sama, yaitu Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon dan Fajar/Rian.

TOPSHOT - Indonesia's Bagas Maulana (R) and Muhammad Shohibul Fikri attempt to hit a return as they play against South Korea's Kim Won-ho and Seo Seung-jae during their men's doubles semifinal match at the Sudirman cup badminton championship in Xiamen, China's Fujian province on May 3, 2025. (Photo by ADEK BERRY / AFP)

Di bawah Fajar/Rian, setelah Kevin/Marcus pensiun, ada generasi Fikri, Bagas, Daniel, dan Leo Rolly Carnando. Fajar/Rian, bahkan, sempat memiliki tiga pasang penerus dengan adanya Pramudya Kusumawardana/Yeremia Erich Yoche Yacob Rambitan sebelum Pramudya pindah ke Australia untuk kuliah dan bermain bulu tangkis lagi.

Namun, seperti dikatakan Eng Hian, ada jarak cukup renggang antara Fikri/Daniel dan Leo/Bagas dengan generasi di bawahnya. Yeremia, yang akhirnya dipasangkan dengan pemain muda, Rahmat Hidayat masih kesulitan tampil konsisten, bahkan, hanya untuk level Super 100. Sementara pemain di bawah Yeremia/Rahmat berada di level pratama yang masih membutuhkan banyak waktu (mungkin selama satu periode kepengurusan PBSI) untuk memasuki persaingan BWF World Tour.

Dengan kesenjangan ini, mantan atlet dan pelatih Christian Hadinata mengatakan, sulit untuk melakukan program ”menarik” pemain muda dengan cara menduetkan dengan Fajar atau Rian yang performanya mulai turun dalam persaingan level atas. Christian mengatakan, menduetkan atlet senior dan muda dengan rentang kemampuan jauh akan membuat pemain muda kesulitan beradaptasi.

”Membuat pasangan baru dengan memasangkan atlet senior, seperti Fajar atau Rian, dengan atlet muda bisa dilakukan jika kemampuan mereka tidak terlalu jauh,” ujar Christian yang berpengalaman melahirkan ganda putra juara dunia dan Olimpiade.

Kondisi tak jauh berbeda ada pada ganda putri dan campuran. Eng Hian, bahkan, mengatakan, nomor yang pernah dipimpinnya ini belum mempunyai atlet dengan kemampuan mumpuni untuk konsisten bersaing pada level Super 500 ke atas. Febriana Dwipuji Kusuma/Amalia Cahaya Pratiwi, yang berpasangan sejak 2019 dan saat ini menempati ranking kedelapan dunia, masih kesulitan untuk menembus perempat final turnamen Super 750 dan 1000.

Fadia/Lanny berpotensi untuk naik level, tetapi Fadia harus bekerja ekstra keras karena diandalkan pada dua nomor, yaitu ganda putri dan campuran. Duetnya bersama Dejan Ferdinansyah di ganda campuran diharapkan menjadi pasangan yang bisa bersaing di level atas setelah prestasi ganda campuran menghilang seusai pensiunnya Tontowi Ahmad, Liliyana Natsir, dan Debby Susanto.

Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari memenangi babak pertama Kejuaraan Asia Bulu Tangkis di Ningbo, China, Selasa (8/4/2025).

Berdasarkan ranking dunia, ganda campuran sebenarnya bisa menempatkan setidaknya empat pasangan pada turnamen Super 750 dan 1000, dan lebih banyak untuk level di bawahnya. Akan tetapi, tak ada pasangan yang kemampuannya satu level dengan pemain ranking 10 besar dunia, termasuk Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari yang menjadi juara dunia yunior 2017 dan melanjutkan kerja sama mereka ke level senior.

Di Piala Sudirman, ganda campuran hanya menyumbangkan satu kemenangan dari lima pertandingan meski menurunkan empat formasi berbeda. Satu kemenangan itu pun didapat dengan susah payah saat melawan Inggris yang kekuatannya berada di bawah Indonesia.

Harapan melihat bintang baru di ganda campuran ada pada pasangan termuda di pelatnas utama, yakni Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu, di tengah stagnannya penampilan para senior. Sikap yang tak takut saat melawan pemain-pemain berpengalaman membawa mereka menjadi semifinalis Kejuaraan Asia.

Dengan ranking ke-20 dunia saat ini, Jafar/Felisha telah menjadi ganda campuran nomor satu Indonesia. Namun, itu tak membuat mereka terlena.

”Bagi kami, punya ranking tinggi harus sejalan dengan prestasi. Jangan menjadi ganda campuran nomor satu hanya karena sering ikut turnamen,” kata Felisha.

Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu saat tampil pada semifinal Kejuaraan Asia Bulu Tangkis di Ningbo, China, Sabtu (12/4/2025). Mereka kalah dari Hiroki Midorikawa/Natsu Saito (Jepang).

Pasangan berusia 22 tahun dan 19 tahun itu juga bertekad tampil konsisten dalam setiap turnamen. ”Yang lebih penting bagi kami adalah konsiten. Setelah mencapai hasil baik dalam satu kejuaraan, jangan sampai menurun pada kejuaraan berikutnya,” kata Jafar seusai Kejuaraan Asia, April.

Eng Hian menyatakan, kondisi ganda putri dan campuran pelatnas membuat sektor tersebut harus meninkatkan program latihan dan turnamen. Cara lain adalah mencari formula baru yang belum disebutkan detailnya. Hanya saja, waktu setahun pertama kepengurusan PBSI 2024-2028 digunakan sektor ganda putri untuk merombak pasangan guna mencari pasangan potensial.

Peningkatan program, formula baru, atau program lain inilah yang saat ini dinanti dari PBSI untuk memperbaiki semua kekurangan. Juga, untuk memanfaatkan momen-momen positif dari Piala Sudirman.


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulia Sapthiani
 | 

Editor:

Emilius Caesar Alexey
 | 

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto