Dalam dua musim terakhir, Premier League telah menjadi kompetisi eksklusif bagi 17 tim. Tiga tim promosi selalu gagal bertahan.
06 Apr 2025 16:07 WIB · Olahraga
Kemenangan Wolverhampton Wanderers 2-1 atas Ipswich Town, Sabtu (5/4/2025), di Stadion Portman Road, seperti menutup tirai persaingan tim-tim zona degradasi. Setelah menjalani 31 laga, Wolves—penghuni posisi ke-17—memperlebar keunggulan poin dengan Ipswich yang menduduki peringkat ke-18 menjadi 12 poin.
Sebagai gambaran, Ipswich, jika dinaungi mukjizat dalam tujuh gim tersisa, hanya bisa mengumpulkan maksimal 41 poin. Adapun Wolves hanya butuh tiga kemenangan untuk memperoleh jumlah poin itu.
Namun, sekali lagi, hanya keajaiban yang bisa membawa Ipswich meraih poin maksimal itu karena mereka menghadapi tiga tim kuat, seperti Chelsea, Arsenal, dan Newcastle United, pada tiga pertandingan selanjutnya.
Ipswich, yang saham minoritas dimiliki penyanyi Ed Sheeran, bersama dua tim berstatus promosi musim 2024-2025, yakni Leicester City dan Southampton, juga dipastikan akan kembali bertarung di Liga Championship musim depan.
Merujuk perhitungan supercomputer Opta, peluang Ipswich, Leicester, dan Southampton terdegradasi sudah mencapai lebih dari 99 persen. Lebih detailnya, Ipswich sebesar 99,95 persen, Leicester mencatatkan peluang 99,97 persen, dan Southampton sudah 100 persen turun kasta.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/06/0d2eca8b-ca3a-4742-9471-993e2b1d1052_jpg.jpg)
Nasib mereka seperti yoyo yang baru naik kasta semusim, lalu turun lagi di musim berikutnya. Ketiganya tidak mampu mempertahankan status sebagai salah satu dari 20 tim terbaik di Inggris lebih kekal.
Bahkan, Southampton berpeluang memecahkan rekor milik Derby County sebagai pengoleksi poin terendah di era Premier League. Derby hanya mengoleksi 11 poin pada musim 2007-2008.
Namun, trio tim promosi yang kembali degradasi di musim ini tidak perlu berkecil hati. Setidaknya, mereka mengulang situasi yang terjadi pada kampanye musim 2023-2024 lalu.
Ketika itu, tiga tim yang merayakan tiket promosi dari Liga Championship edisi 2022-2023 menghuni tiga posisi terbawah pada Premier League musim berikutnya. Mereka adalah Luton Town (peringkat ke-18), Burnley (19), dan Sheffield United (20).
Nasib tiga tim promosi dalam dua musim terakhir sangat berbeda dengan trio promosi Liga Championship edisi 2021-2022. Fulham, Bournemouth, dan Nottingham Forest masih bisa bertahan di Premier League memasuki tiga musim di kasta tertinggi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/02/5f5f1d534091119cd4dfebba47cea599-Britain_Soccer_Premier_League_128678154.jpg)
Ketiganya bahkan berada di jalur untuk memperjuangan tiket kompetisi antarklub Eropa musim 2025-2026. Khusus Forest, tim asuhan Nuno Espirito Santo itu pun kian dekat tampil di Liga Champions edisi mendatang.
Sementara itu, Brentford adalah tim berstatus promosi yang paling lama bertahan di Premier League saat ini. Sejak meraih tiket promosi musim 2020-2021, ”Si Lebah” menunjukkan ketahanan mereka untuk menjaga persaingan sebagai tim papan tengah.
Premier League juga bakal mencatatkan dua musim beruntun memiliki tim yang mengemas di bawah 20 poin. Pada musim lalu, Sheffield hanya bisa mengumpulkan 16 poin dari 38 laga. Jejak poin belasan itu berpeluang diikuti Southampton.
Fenomena tiga tim ”yoyo” di Liga Inggris menjadi bukti nyata disparitas yang terwujud dari tingginya perputaran uang di Premier League. Sebelum musim berlangsung pun, tiga tim promosi sudah ”kalah” sejak titik mula.
Hal itu bisa dilihat dari nilai pasar skuad yang dimiliki trio tim promosi. Dalam dua musim terakhir, tidak ada satu pun tim promosi Premier League yang mengemas angka akumulasi nilai pasar skuad mencapai 300 juta euro (Rp 545,4 miliar).
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/04/08/79138549-5f3b-473e-ae9b-3d402138ceb9_jpg.jpg)
Bahkan, pada musim lalu, dua tim, yakni Sheffield dan Luton, juga tidak lebih mencatatkan nilai akumulasi skuad 150 juta euro.
Tak heran, enam tim promosi dalam dua musim terakhir kesulitan bersaing di Premier League yang dipenuhi pemain-pemain terbaik dari seluruh dunia. Terlepas dari pengaruh faktor non-teknis, seperti pengalaman dan ketangguhan mental bertanding, keberadaan pemain berkualitas adalah salah satu menu wajib sebuah tim dapat bersaing di kompetisi kasta tertinggi.
Kegagalan mengumpulkan pemain terbaik itu dipengaruhi oleh kekuatan modal keuangan. Diketahui, Premier League menyajikan bonus besar bagi para kontestannya yang dibagi empat kategori, yaitu pembagian setara, biaya fasilitas, bonus prestasi, dan bagi hasil kerja sama komersial.
Dengan pembagian itu, seluruh tim setidaknya mengumpulkan bonus lebih dari 100 juta pounds. Pada musim 2024-2025, misalnya, Manchester City yang menjadi juara mendapat dana dari liga sebesar 175,9 juta pounds (Rp 3,77 triliun). Sementara Sheffield yang di peringkat ke-20 menerima 109,7 juta pounds (Rp 2,35 triliun).
Tak heran, sebanyak 13 tim Premier League masuk dalam daftar 30 klub sepak bola pendapatan tertinggi yang dirilis Deloitte Football Money League 2025.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/11/975002ab-5508-4bb8-b8f2-6b5a0d86e84a_jpg.jpg)
Merujuk laporan sejumlah media Inggris, Leicester sebagai juara Liga Championship musim 2023-2024 hanya mendapat uang hadiah sebesar 5 juta pounds (Rp 107 miliar). Jika ditambah pembagian hak siar dan bagi hasil komersial lainnya, pendapatan trio tim terbaik Liga Championship tidak lebih dari 20 juta pounds.
Dari nilai bonus saja sudah menunjukkan modal tim amat timpang. Itu sebabnya tim-tim promosi tidak bisa mendatangkan pemain berkualitas yang mahal. Apalagi, Premier League memiliki aturan ketat terhadap catatan finansial tim.
Ivan juric, Manajer Southampton per 21 Desember 2024, mengakui adanya ketimpangan akut kualitas tim-tim di Premier League. Ia membandingkan pengalamannya melatih di tim-tim medioker Serie A Italia sejak 2016.
”Kami kalah segalanya. Di dalam dan luar lapangan,” kata Juric menggambarkan kondisi timnya yang tak berdaya keluar dari rentetan hasil buruk dilansir BBC.
Terlepas dari sisi finansial yang tidak setara, tim promosi, meskipun sudah pernah berlaga di Premier League, kerap mengalami mental blok setelah rentetan hasil buruk. Pergantian pelatih hingga mendatangkan pemain anyar di bursa transfer musim dingin terbukti tidak banyak membantu.
Leicester setelah memasuki tahun baru menderita 12 kekalahan dan hanya sekali menang. Ipswich tumbang sembilan kali, lalu meraih satu menang dan dua seri. Adapun Southampton takluk dalam sembilan gim, kemudian sempat sekali menang dan satu imbang.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/24/d1549a55-f1cf-46a4-87f1-a010fe62a376_jpg.jpg)
Steve Howard, eks penyerang Derby di musim 2007-2008, menuturkan, masalah mental itu bukan persoalan sepele. Menderita kekalahan beruntun dari tim yang memiliki kualitas dan penampilan lebih baik dapat meruntuhkan semangat juang tim.
”Banyak pemain di Derby saat itu memiliki pikiran, ’Kami akan kalah lagi hari ini’, sebelum kami masuk ke ruang ganti stadion,” tutur Howard, yang bermain 20 kali di musim itu, kepada The Guardian.
”Meskipun tim unggul 1-0, mereka kerap merasakan panik ketika pertandingan sudah mendekati akhir. Itu membuat tim Anda memberikan momentum kepada lawan untuk menahan seri atau bahkan membuat tim Anda kalah,” tambahnya.
Premier League kian menjadi arena tertutup dalam dua musim terakhir yang diikuti oleh 17 tim. Tentu, situasi itu akan membuat tiga tim promosi Liga Championship pada edisi 2025-2026 harus mencari cara untuk mengakhiri tradisi ”yoyo” terulang. Pekerjaan yang amat sulit.
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto