Kenaikan harga beras di Lampung diduga dipicu melonjaknya harga gabah dan panjangnya saluran distribusi.
05 Agt 2025 12:23 WIB · Ekonomi & Bisnis
BANDAR LAMPUNG, KOMPAS — Harga beras medium dan beras premium di Lampung masih melampaui harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. Di sejumlah ritel modern di Bandar Lampung, stok beras yang dijual juga semakin menipis.
Berdasarkan pantauan Kompas pada Selasa (5/8/2025), stok beras medium dan beras premium ukuran 5 kilogram (kg) dan 10 kg yang dijual di sejumlah ritel modern di Bandar Lampung mulai menipis. Di rak-rak toko itu, hanya tersisa kurang dari 10 karung beras yang dijual. Selain itu, tidak semua merek beras yang dijual juga tersedia.
Selain stok yang sedikit, harga jual beras medium masih di atas HET sebesar Rp 12.500 per kg. Adapun beras premium juga di atas HET yang ditetapkan Rp 14.900 per kg.
Di Lampung, beras medium ukuran 5 kg dijual seharga Rp 72.500 hingga Rp 74.000 per karung atau setara dengan harga Rp 14.500–Rp 14.800 per kg. Sementara itu, beras premium ukuran 5 kg dijual dengan harga Rp 77.000 sampai Rp 81.000 per karung atau setara dengan Rp 15.400–Rp 16.200 per kg.
”Iya, stoknya memang tinggal sedikit. Kami juga masih menunggu kiriman dari produsen berasnya. Belum ada informasi kapan akan dikirim lagi,” kata Dodi (24), pekerja di salah satu ritel modern di Bandar Lampung.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/05/3404e595b6856c43f200331b1cfa06df-WhatsApp_Image_2025_08_05_at_11.32.14.jpeg)
Menurut Dodi, ritel modern hanya menjual beras medium dan beras premium yang diproduksi oleh pabrik atau produsen beras swasta. Adapun beras yang diproduksi oleh Perum Bulog, seperti beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), tidak masuk ke ritel-ritel modern.
Sementara itu, Tutur (60), pedagang beras di Pasar Branti, Lampung Selatan, menuturkan, harga beras di Lampung mulai naik sejak Juni 2025. Saat ini, beras medium rata-rata dijual di atas Rp 14.000 per kg. Padahal, tahun lalu, harga beras masih berada di kisaran harga Rp 13.000-Rp 13.500 per kg.
Beberapa pekan terakhir, katanya, harga beras tidak mengalami penurunan, tetapi justru semakin naik. Selain itu, pasokan dari produsen dan penggilingan padi juga mulai seret karena bahan baku gabah dari petani mulai menipis seiring berakhirnya masa panen padi.
Sebelumnya, Sekretaris Perkumpulan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) Lampung Supriadin mengatakan, harga gabah saat ini menyentuh Rp 7.200 per kg. Hal itulah yang membuat harga beras juga ikut terkerek. Saat ini, harga beras di tingkat penggilingan mencapai Rp 14.400-Rp 14.600 per kg.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/05/0a448f7c6b1fc500ca6ff12f79904cb3-WhatsApp_Image_2025_08_05_at_11.32.15.jpeg)
Perpadi Lampung sebenarnya sudah mengupayakan agar beras dari penggilingan langsung dibeli oleh konsumen akhir. Hal itu dilakukan agar harga beras tidak semakin melonjak.
Sementara itu, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) memantau pergerakan harga beras dari tingkat produsen hingga konsumen akhir. KPPU menilai, kenaikan harga itu diduga dipicu panjangnya saluran distribusi sehingga harga beras di tingkat konsumen terkerek.
Kepala Kantor Wilayah II KPPU Wahyu Bekti Anggoro menuturkan, berdasarkan pantauan, harga beras medium dan premium di ritel-ritel modern relatif lebih stabil. Sementara itu, harga beras medium dan premium di pasar-pasar tradisional terpantau semakin naik.
”Kami melihat hambatan saluran distribusi yang terlalu panjang dari produsen sampai dengan pengecer merupakan faktor yang memengaruhi harga beras medium dan premium pada pasar tradisional atau pengecer di Lampung selalu berada di atas HET,” kata Wahyu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/31/1b1b9cf9c44a222b6325cb35248a1780-20250731TOK12.jpg)
Menurut Wahyu, masalah panjangnya rantai distribusi itu diduga membuat harga beras di tingkat konsumen berada di atas HET. Selama ini, petani tidak langsung menjual gabah ke penggilingan, tetapi melalui perantara atau tengkulak.
Hal serupa juga terjadi saat beras dari penggilingan dijual ke pasaran yang harus melalui agen dan distributor. Rantai pasok yang cukup panjang inilah yang harus dipangkas untuk mengendalikan harga beras di pasaran.
Kami melihat hambatan saluran distribusi yang terlalu panjang dari produsen sampai dengan pengecer merupakan faktor yang memengaruhi harga beras medium dan premium pada pasar tradisional atau pengecer di Lampung selalu berada di atas HET.
Sementara itu, pemimpin wilayah Perum Bulog Kantor Wilayah Lampung, Nurman Susilo, mengatakan, pihaknya telah menyalurkan beras SPHP pada Juli-Desember 2025. Penyaluran beras SPHP juga dilakukan bersamaan dengan program bantuan pangan beras untuk masyarakat prasejahtera.
SPHP hanya akan disalurkan melalui kios di pasar yang sudah bermitra dengan Bulog. Selain itu, penyaluran beras SPHP juga dilakukan melalui Koperasi Desa Merah Putih, kios binaan milik pemerintah daerah, dan gerakan pangan murah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/20/09d808dee4cc4d2ab933de230d480f43-WhatsApp_Image_2025_05_20_at_12.28.37.jpeg)
Setiap kios akan mendapat pasokan maksimal 2 ton per minggu. Kios yang sudah bermitra dengan Bulog wajib memasang spanduk dan pemberitahuan HET beras SPHP sebesar Rp 12.500 per kg agar konsumen mengetahuinya.
Beras SPHP juga hanya boleh dijual kepada konsumen terakhir atau masyarakat yang membutuhkan. Pembelian beras SPHP dibatasi maksimal dua kemasan atau 10 kg untuk memastikan program tersebut tepat sasaran. ”Program stabilitasi pasokan dan harga pangan sudah mulai berjalan. Bulog ditugaskan untuk menyalurkan 39.300 ton beras SPHP mulai Juli hingga Desember 2025,” kata Nurman.
Dia menambahkan, Bulog Lampung juga masih terus melakukan penyerapan gabah petani dengan harga pembelian pemerintah (HPP) sebesar Rp 6.500 per kg. Dari target serapan 143.000 ton sepanjang 2025, Bulog telah menyerap sebanyak 139.900 ton atau setara 97 persen.
Karena itu, Bulog Lampung meminta masyarakat tidak perlu panik terhadap ketersediaan beras di pasaran. Bulog juga siap melakukan intervensi menjaga stabilitas harga beras. Saat ini, stok beras di gudang Bulog Lampung sebanyak 151.857 ton. ”Ini stok yang sangat banyak untuk Bulog Lampung sepanjang sepuluh tahun terakhir,” ujarnya.
Penulis:
Vina OktaviaEditor:
Haris FirdausPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan