Sebanyak 190 dapur makan bergizi gratis yang beroperasi pada hari pertama baru mampu memberi makan 600.000 orang di 26 provinsi.
06 Jan 2025 14:54 WIB · Humaniora
JAKARTA, KOMPAS — Program makan bergizi gratis telah dimulai Senin (6/1/2025) ini di 26 provinsi. Meski belum semua sasaran penerima mendapatkan bagian, pemenuhan janji kampanye Presiden Prabowo Subianto ini tetap disambut antusias oleh masyarakat dengan beberapa catatan.
Juru Bicara Kantor Komunikasi Kepresidenan Dedek Prayudi mengungkapkan, program Makan Bergizi Gratis (MBG) belum bisa dibagikan kepada 3 juta orang seperti target awal pada hari pertama karena pemberiannya dilakukan secara bertahap. Sebanyak 190 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang beroperasi pada hari pertama ini baru mampu memenuhi 600.000 orang di kota-kota besar di 26 provinsi.
SPPG akan ditambah untuk memenuhi kebutuhan makan bergizi gratis untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita. Teknis distribusinya akan disesuaikan dengan kondisi wilayah masing-masing, misalnya dengan menggerakkan kader posyandu dan sebagainya.
”Besok masih akan bertambah, lalu besok lusa akan bertambah, lalu minggu depan akan bertambah banyak dan lain-lain dan kami rencanakan pada awal Maret nanti sudah beroperasi 937 SPPG yang melayani 3 juta orang,” kata Dedek di SPPG Slipi, Palmerah, Jakarta, Senin (6/1/2025).
Dedek mengklaim program MBG yang sudah dijalankan selama masa uji coba mendapat respons positif masyarakat. Anak-anak menjadi lebih rajin dan semangat sekolah, serta orangtuanya pun merasa bebannya diringankan karena tidak perlu lagi membawakan bekal atau memberikan uang jajan untuk anak.
”Tingkat kehadiran anak ke kelas meningkat karena anak-anaknya juga semakin sehat," ujarnya.
Pemerintah menargetkan penerima MBG tahun 2025 sebanyak 19,47 juta jiwa dengan total anggaran Rp 71 triliun bersumber dari APBN. Dengan anggaran tersebut, Badan Gizi Nasional (BGN) mematok harga per porsi MBG Rp 10.000.
Program ini, menurut rencana, terus berlanjut hingga lima tahun ke depan hingga mencapai 82,9 juta penerima pada tahun 2029 dengan anggaran yang semakin besar setiap tahunnya.
”Semua sudah direncanakan dan semua sudah diskemakan. Ini tinggal dilaksanakan walaupun prosesnya bertahap,” kata Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono saat meninjau program MBG di Sekolah Barunawati, Jakarta Barat.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/06/7020322a-ef9b-4d67-aa67-1755af02a08a_jpg.jpg)
Sementara itu, di SPPG Slipi, para pekerja sudah sibuk menyiapkan bahan makanan untuk dimasak di dapur sejak dini hari. Pada hari pertama, mereka menyiapkan 2.987 porsi yang akan dibagikan kepada peserta didik di 11 TK, SD, dan SMP dalam radius 1,3 kilometer dari dapur.
Kemarin waktu uji coba sempat lauknya kurang terasa, agak basi juga, tapi semakin hari kami kasih masukan langsung diperbaiki.
Kepala SPPG Slipi Yudha Permana mengatakan, persiapan dimulai dari belanja bahan makanan sejak kemarin, lalu dimasak pada dini hari, disiapkan per porsi menjelang subuh hingga pagi hari. Makanan kemudian dimasukkan ke dalam mobil boks untuk didistribusikan ke sekolah dalam dua gelombang, pukul 07.00 untuk TK dan SD dan 09.00 untuk SMP.
SPPG Slipi menyiapkan 40 menu yang berbeda dalam program makan bergizi gratis (MBG). Adapun menu yang disiapkan pada hari pertama ini adalah nasi, ayam goreng kremes, tahu goreng tepung, tumis kacang panjang, dan jeruk.
”Kami sudah uji coba ini sekitar dua bulan dan kami sudah bisa takar bahwa harga satu porsi per hari itu di bawah Rp 10.000, termasuk pada menu yang dengan kualifikasi hari ini,” kata Yudha.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/06/7e2c117f-4d1e-486b-917a-b63e646c1cda_jpg.jpg)
Yudha mengklaim, harga tersebut tetap bisa menjadi menu yang memenuhi angka kecukupan gizi (AKG) dengan standar harga Jakarta karena semua bahan makanannya berasal dari bahan lokal yang harganya relatif terjangkau. Dia menjamin semua bahan aman untuk dikonsumsi anak-anak.
SPPG Slipi mempekerjakan 50 orang yang terdiri dari 1 kepala SPPG, 1 ahli gizi, 1 akuntan, 1 asisten lapangan, 7 anggota tim persiapan, 9 anggota tim masak, 9 anggota tim pemorsian, 4 sopir, 16 anggota tim cuci alat, dan petugas kebersihan 1 orang. Mereka bekerja dengan standar keamanan pangan demi menjaga kualitas makanan.
SPPG pun harus menyiapkan menu lain jika ada permintaan dari penerima yang memiliki alergi makanan tertentu. Misalnya, pada menu yang diberikan kepada Bima, siswa kelas 2 di SDN 15 Jakarta yang berbeda dengan murid lainnya. Bima diberikan menu kentang goreng , daging, tahu goreng, kacang panjang, dan jeruk.
”Bima ini pesan dari orangtuanya memang tidak bisa makan nasi dari kecil, makanya karbohidratnya diganti kentang,” kata Kepala SDN 15 Jakarta Yulius.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/02/dd2b03fc-8d37-4e1f-a983-3c81f0b27785_png.png)
Kepala SLB 5 Slipi Hani Rustisiani menambahkan, program MBG ini sangat membantu pihak sekolah untuk mengajarkan kebiasaan baik bagi peserta didik. Sebab, MBG bukan sekadar memberikan makan, melainkan turut mengajarkan murid untuk makan tepat waktu, makan dengan etika, dan bertanggung jawab atas rezeki yang diberikan.
Selain itu, program MBG juga menjamin pemenuhan gizi bagi anak-anak. Sebab, kata Hani, selama ini bekal yang dibawakan orangtua terkadang hanya makanan olahan yang tidak bergizi, misalnya sosis, nugget, atau daging asap instan.
”Kemarin waktu uji coba sempat lauknya kurang terasa, agak basi juga, tapi semakin hari kami kasih masukan langsung diperbaiki, syukurlah semuanya responsif, semoga program ini konsisten,” kata Hani.
SPPG Slipi merupakan satu dari empat SPPG yang mulai beroperasi di Jakarta pada hari pertama pelaksanaan MBG. Total ada 12.054 porsi yang dibagikan ke sekolah-sekolah di Jakarta.
Penjabat Gubernur Jakarta Teguh Setyabudi mengatakan, dapur MBG di Jakarta akan bertambah hingga 17 SPPG pada akhir Januari, dan terus bertambah hingga 153 SPPG pada akhir tahun 2025. Pemerintah Provinsi Jakarta akan terus mendata para penerima agar tepat sasaran.
”Tentu kami akan dukung terkait penentuan lokasi, sosialisasi dan edukasi, juga terkait masalah kualitas makanannya, kami akan total,” kata Teguh.
Penulis:
Stephanus AranditioEditor:
Adhitya RamadhanPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari