AS dan Iran berunding tentang program nuklir Iran di Oman. Akan tetapi, Trump mengancam akan menyerang Iran. Apa yang sebenarnya terjadi?
12 Apr 2025 12:27 WIB · Internasional
1. Ada apa antara Amerika Serikat dan Iran?
2. Apa alasan Iran mengembangkan nuklir?
3. Negara mana saja yang punya nuklir?
4. Apa itu JCPOA?
5. Bagaimana perkembangan isu nuklir global?
Presiden AS Donald Trump pada Rabu (9/4/2025) mengisyaratkan melanjutkan serangan ke Iran. Trump bekerja sama dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melawan serangan pemberontak Houthi di Laut Merah.
Houthi menyerang kapal-kapal niaga di Selat Bab El-Mandab sebagai solidaritas terhadap perjuangan Hamas di Jalur Gaza. AS dan Israel menuduh Houthi disokong oleh Iran meskipun Teheran membantahnya.
Selain itu, kembalinya Trump sebagai presiden AS juga berarti kembalinya pendekatan keras kepada Iran. Trump tidak menginginkan Iran memiliki sarana dan prasarana nuklir.
Pada Sabtu (12/4/2025), AS dan Iran akan berunding di Oman soal pelucutan fasilitas nuklir Iran. Trump mengancam, apabila perundingan gagal, AS akan menyerang Iran.
Iran mengatakan mengembangkan nuklir sebagai bagian dari ilmu pengetahuan. Mereka menegaskan tidak akan menggunakannya sebagai persenjataan.
Kemampuan nuklir itu dipakai sebagai pilihan pembangkit energi di luar energi fosil. Selain itu, Iran mengembangkan teknologi nuklir di bidang kesehatan.
Misalnya, teknologi radiofarmasi untuk mendeteksi berbagai jenis kanker dan pengobatannya. Terdapat pula teknologi radiasi nuklir untuk pertanian.
Presiden Iran Mahmoud Pezeshkian mengatakan, masyarakat Iran berhak untuk maju dan berkembang. Tidak seorang pun di dunia yang bisa menghentikannya.
Ada lima negara di dunia yang memiliki persenjataan nuklir sejak sebelum ditandatanganinya Perjanjian Non-Proliferasi Senjata Nuklir 1967. Mereka adalah AS, China, Inggris, Rusia (dulu Soviet), dan Perancis. Kelimanya juga anggota tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Di luar lima negara, India dan Pakistan mendeklarasikan juga memiliki persenjataan nuklir. Keduanya memiliki sengketa perbatasan yang tajam dan dikhawatirkan menjadi salah satu titik panas nuklir global.
Israel tidak pernah mengumumkan, tetapi diduga kuat memiliki persenjataan nuklir. Selain negara-negara tersebut, juga ada Korea Utara dan Iran yang mengembangkan nuklir tanpa persetujuan global.
Nuklir Iran dipermasalahkan karena negara itu bermusuhan dengan Israel. Sekutu terdekat Israel, AS, khawatir apabila Iran memiliki senjata nuklir, mereka bisa menyerang Israel. Selain itu, Iran dikhawatirkan menyerang Eropa.
Presiden AS 2009-2017 Barack Obama berusaha mendekati masalah ini dari sudut lain. Daripada berkonfrontasi, ia membidani Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA). Perjanjian ini ditandatangani AS dan Iran pada 2015.
Isinya adalah Iran harus menjaga pengayaan uranium mereka di bawah 20 persen. Jumlah ini bisa dimanfaatkan untuk kedokteran dan industri, tetapi tidak untuk senjata. Sebagai balasan, AS menghapus sejumlah sanksi ekonomi yang dulu dijatuhkan kepada Iran. JCPOA turut melibatkan seluruh anggota DK PBB dan Uni Eropa.
Pada 2018, di masa jabatannya yang pertama, Trump secara sepihak mengeluarkan AS dari JCPOA. Sejumlah media massa AS melaporkan, Trump ”dibisiki” Netanyahu untuk melakukannya. Keluarnya AS dari JCPOA berarti sanksi ekonomi kembali dijatuhkan atas Iran.
Presiden AS 2021-2025 Joe Biden berusaha mengembalikan AS dan Iran ke ranah JCPOA. Akan tetapi, perundingan belum bisa terlaksana sampai Biden menyelesaikan masa jabatan dan digantikan oleh Trump jilid kedua.
Muncul berbagai laporan, antara lain oleh Institut Kajian Media Timur Tengah (MEMRI) dan Institut Kajian Perdamaian Internasional Stockholm (SIPRI), kadar pengayaan uranium di Iran semakin tinggi. Bahkan, ada laporan yang mengatakan sudah mencapai 84 persen atau kurang 6 persen lagi dari kadar yang diperlukan untuk membuat bom.
Belakangan muncul wacana dari Perancis untuk menyediakan payung nuklir bagi Eropa. Pemikiran ini terbit karena perang Ukraina yang tidak kunjung selesai sejak 2022.
Rusia mengecam gagasan itu dan mengatakan Eropa justru berniat memperkeruh konflik. Payung nuklir Eropa akan dianggap sebagai ancaman langsung terhadap Rusia dan memantik perang baru.
Penulis:
Laraswati Ariadne AnwarEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul