Satu persamaan AS Roma dan Juventus pada musim ini: tidak memiliki penyerang tajam. Situasi itu membuat keduanya kian tertinggal dari tiga tim teratas.
04 Jan 2026 13:13 WIB · Olahraga
AP
Dua laga pekan ke-18 Liga Italia, Minggu (4/1/2026), menghadirkan kekesalan bagi dua pendukung tim papan atas, yakni AS Roma dan Juventus. Dua tim yang tengah berjuang meramaikan persaingan zona Liga Champions itu gagal mengemas kemenangan akibat nirklinis para pemain depan.
Roma menelan kekalahan 0-1 dari Atalanta di Stadion Gewiss, Bergamo. Itu adalah kekalahan keempat yang diderita ”Si Serigala” sejak Desember 2025. Hasil minor di markas Atalanta itu juga adalah kekalahan ketiga beruntun yang diderita dari pertandingan kunjungan alias tandang mereka di Liga Italia.
Menariknya lagi, tiga dari empat kekalahan dalam satu bulan terakhir itu hadir dengan skor minimalis 0-1. Napoli, Cagliari, kemudian disusul Atalanta memberikan hasil negatif yang menyakitkan bagi Roma yang sempat memuncaki klasemen pada pekan ke-12.
Pelatih Roma Gian Piero Gasperini dalam laga homecoming pertama setelah meninggalkan Atalanta, akhir musim lalu, telah melupakan seluruh romansa masa lalu selama sembilan musim mengasuh ”Si Dewi”, julukan Atalanta. Roma mengambil inisiatif serangan sejak awal peluit mula.
Pada menit ketujuh, penyerang Roma Evan Ferguson sudah melepaskan dua tembakan dari luar kotak penalti yang memaksa kiper Atalanta Marco Carnesecchi melakukan penyelamatan.
Ketika Roma tengah asyik menyerang, Atalanta mencuri gol melalui peluang pertama mereka pada menit ke-12. Melalui situasi sepak pojok, bek Giorgio Scalvini menyentuh bola dengan badannya untuk membuat tifosi tuan rumah bergemuruh. Itu adalah satu-satunya gol tercipta pada malam Minggu pertama 2026 yang dingin di Bergamo.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/04/b83ebd213596f63dd742a96359e16133-Italy_Serie_A_Soccer_135034423.jpg)
Respons sejatinya telah dihadirkan Roma untuk mencetak skor, sekaligus upaya Gasperini untuk tidak keluar dari Stadion Gewiss, yang amat menghormatinya, dengan kepala tertunduk.
Pada awal babak kedua, Ferguson dan Matias Soule juga menyajikan masing-masing satu peluang yang mengancam gawang Atalanta. Namun, Carnesecchi membuat penyelamatan ganda yang menjaga tiga poin timnya.
Ferguson menjadi pemain Roma yang menunjukkan ambisi paling besar untuk membantu timnya tidak pulang dengan malu dari Italia utara. Catatkan 0,18 expected goals (xG) menjadikan pemain asal Irlandia itu berstatus pemain Roma paling mengancam tim tuan rumah. Namun, Ferguson belum mampu menambah koleksi dua golnya di Liga Italia 2025-2026.
Kami menghadapi lawan yang sangat kuat secara fisik, jadi ini laga tidak mudah. Roma telah memainkan permainan kami, menciptakan lebih banyak peluang untuk mencetak gol.
Ketika Ferguson mencatatkan 100 persen akurasi tembakan, dua penopang Ferguson, yakni Soule dan Paulo Dybala, tidak berdaya menghadapi pertahanan kompak Si Dewi. Hanya satu tembakan yang diciptakan Soule selama 66 menit berkesempatan tampil.
Di sisi lain, Dybala, penyerang paling senior Roma saat ini, justru gagal menghadirkan satu pun tembakan mengancam pertahanan Atalanta. Ia juga hanya menyajikan satu umpan kunci dan satu kali dribel sukses di zona kiri lini serang Roma.
Ikhtiar Gasperini untuk memperkuat daya gedor skuadnya tidak berjalan efektif pada 30 menit akhir laga. Memasukkan dua penyerang pengganti, Artem Dovbyk dan Stephan El Shaarawy, berjalan sia-sia. Keduanya gagal melesakkan satu pun tembakan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/04/a7c88885281adf68632d4127597c7be4-Italy_Serie_A_Soccer_135034378.jpg)
”Kami menghadapi lawan yang sangat kuat secara fisik, jadi ini laga tidak mudah. Roma telah memainkan permainan kami, menciptakan lebih banyak peluang untuk mencetak gol. Sayangnya, kami gagal mengonversi peluang itu,” ucap Gasperini seusai laga kepada Sky Sport Italia.
Gasperini pun enggan menyalahkan pemainnya secara individu akibat gagal mencetak gol ke gawang Atalanta. Menurut dia, terpenting, Roma adalah bahu-membahu untuk meningkatkan diri agar bisa semakin baik dalam permainan menyerang.
”Kami harus terus bekerja dan meningkatkan diri. Kami sangat dekat mencetak gol penyama skor, kami bermain menyerang untuk menang. Ini karakter yang kami tunjukkan hingga pekan ke-18, tetapi kami harus terus berbenah,” kata Gasperini yang memberikan Atalanta satu gelar Liga Europa.
Kegagalan membawa pulang poin dari kandang Atalanta membuat Roma melepas posisi keempat. Poin mereka sudah disamakan Juventus. Roma berada di peringkat lebih buruk karena lebih inferior dalam rekor pertemuan.
Nasib lebih tragis dialami Juve di Stadion Allianz, Turin. Berharap melanjutkan tren tiga kemenangan beruntun, ”Si Nyonya Besar” justru ditahan Lecce, tim yang berjuang terhindar degradasi, 1-1.
Mengurung pertahanan Lecce dengan catatan 72 persen penguasaan bola dan 25 tembakan gagal dipertegas Juve dengan superioritas angka di papan skor. Kecolongan gol penyerang sayap Lecce, Lameck Banda, pada menit ke-45+2 akibat kesalahan operan bek sayap Andrea Cambiasso, Juve mampu membalas melalui sepakan Weston McKennie pada menit ke-49.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/04/c349d15fc17a0e4200f00596b01dadbf-Italy_Serie_A_Soccer_135032369.jpg)
Setelah gol itu, Juve tidak kekurangan peluang. Puncaknya, penyerang asal Kanada, Jonathan David, mendapat kans melalui eksekusi penalti pada menit ke-66. Tembakan panenka David mampu dihalau dengan kaki oleh kiper Lecce Wladimiro Falcone.
Kemudian, David melepaskan tembakan kaki kiri terarah pada menit ke-89. Bola bisa ditahan tangan kanan Falcone yang melakukan empat penyelamatan.
Pada laga itu, Juve mencatatkan 2,77 xG. Angka xG terbesar di Liga Italia musim ini sejak ditangani Luciano Spalletti. Namun, mereka hanya bisa menghasilkan satu gol.
”Kami mampu membawa bola ke area berbahaya mereka. Sangat disayangkan, kami tidak pernah melakukan sentuhan yang sempurna untuk memanfaatkan peluang. Itu yang harus kami kembangkan,” kata Spalletti dilansir Tuttosport.
Spalletti membela David sebagai eksekutor utama penalti Juve. Pada kesempatan itu, Juve sejatinya masih memiliki Manuel Locatelli dan Kenan Yildiz di atas lapangan yang kerap menjadi pilihan utama menendang dari titik putih.
”Dia (David) telah membuat keputusan tepat mengarahkan bola ke tengah. Dia hanya gagal mengangkat sedikit bola. Keputusan (penendang penalti) ini dibuat dalam momen di pertandingan. Hal itu tidak bekerja sesuai pikiran orang-orang di luar lapangan,” kata Spalletti.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/04/79fb524ff8b10316deec4268cd5b1b44-Italy_Serie_A_Soccer_135033385.jpg)
Hasil mengecewakan itu kian deras menghujani Roma dan Juve dengan rumor mendatangkan pemain depan baru di bursa transfer musim dingin ini. Roma dikabarkan masih mendekati penyerang Atletico Madrid berpaspor Italia, Giacomo Raspadori, serta pemain Manchester United, Joshua Zirkzee. Keduanya sudah paham persaingan di Liga Italia.
Adapun Juve ingin memulangkan Federico Chiesa dari Liverpool. Sejumlah media Italia menyebut pembicaraan Juve dengan perwakilan Chiesa telah dimulai. Pendekatan itu dilakukan berkat restu dari Spalletti yang menyukai performa Chiesa ketika bekerja sama di tim nasional Italia. (AFP)
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Nur Adji