Kisah Pengairan Ruas Jari, Padi Apung, dan Konservasi Gede Wangi

Petani muda membudidayakan padi hemat air berbasis ruas jari di Indramayu dan mengonservasi padi lokal gede wangi di Sumedang. Di Banyuasin, padi apung diuji coba.

25 Sep 2025 07:00 WIB · Ekonomi & Bisnis

Oleh Hendriyo Widi, Adrian Fajriansyah

Hanya dengan satu ruas jari, petani bisa menghemat air. Tak banyak lagi konflik petani berebut air. Ancaman krisis air pun cukup terantisipasi. Itulah buah inovasi petani generasi Z di Desa Rancajawat, Kecamatan Tukdana, Kabupatan Indramayu, Jawa Barat.

Inovasi ini menjadi bagian dari sejumlah kisah inovasi pertanian di negeri lumbung padi. Kisah itu, antara lain, berupa konservasi padi lokal gede wangi di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, dan uji coba padi apung di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan (Sumsel).

Desa Rancajawat berada di kawasan irigasi primer Bendung Rentang. Meskipun sumber air irigasinya berlimpah, sekelompok petani di desa itu menerapkan budidaya padi berbasis irigasi padi hemat air (IPHA) sejak pertengahan 2024.

Kala berkunjung ke desa itu pada Selasa (23/9/2025) siang, ada sesuatu yang berbeda di sejumlah areal persawahannya. Setiap 1 hektar sawah itu dikelilingi saluran irigasi mini selebar 25 sentimeter dan sedalam 30 sentimeter.

Quote

Di sawah kami, siklus basah atau pengairannya selama tujuh hari, sedangkan siklus keringnya tiga hari. Setelah sawah dibasahi kembali, ketinggian genangan air harus diatur 2-3 sentimeter.

Eka Hadi Rama, petani muda dari Desa Rancajawat, Tukdana, Indramayu, bersama kelompok taninya membudidayakan padi berbasis irigasi padi hemat air (IPHA)  di lahan seluas 23 hektar, Selasa (23/9/2025). Sistem itu terbukti menghemat air hingga 30 persen dan membuat tak banyak lagi konflik perebutan air antar petani.

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
23/09/2025

Saluran irigasi mini itu dibuat permanen dan memiliki sejumlah lubang pipa dan pintu air. Lubang dan pintu air itu berfungsi untuk mengatur masuk dan keluarnya air berdasarkan siklus basah-kering sawah.

”Di sawah kami, siklus basah atau pengairannya selama tujuh hari, sedangkan siklus keringnya tiga hari. Setelah sawah dibasahi kembali, ketinggian genangan air harus diatur 2-3 sentimeter,” kata Eka Hadirama (24), petani Desa Rancajawat.

Pengaturan ketinggian genangan air di areal persawahan itu tak perlu menggunakan tongkat ukur. Petani juga tak perlu membawa penggaris pengukur ketinggian air. Cukup dengan satu ruas jari atau satu setengah ruas jari orang dewasa, petani bisa mengetahui syarat ketinggian air sistem IPHA.

Ketinggian genangan air sawah dalam pertanian konvensional 7-10 sentimeter. Adapun sistem IPHA, genangan air yang dibutuhkan hanya setinggi 2-3 sentimeter. Oleh Eka, pengetahuan teknis itu diterjemahkan kepada petani menggunakan ukuran ruas jari orang dewasa.

”Kalau genangannya setinggi dua hingga tiga ruas jari, berarti airnya kebanyakan. Genangannya harus setinggi satu hingga satu setengah ruas jari. Kalau lebih dari itu, airnya harus dikurangi dengan cara mengalirkannya keluar melalui irigasi mini,” ungkap Eka.

Menurut Eka, sistem itu terbukti menghemat air hingga 30 persen. Genangan air yang dialirkan keluar juga bisa dimanfaatkan petani lain dari tengah hingga hulu irigasi. Konflik sosial petani yang berebut air juga semakin jarang terjadi.

Sistem itu terbukti tidak mengurangi produktivitas padi. Pada panen perdana padi di areal persawahan itu, produktivitas padi justru meningkat dari 6 ton per hektar menjadi 7 ton per hektar.

”Ini membuktikan anggapan kebanyakan petani bahwa menanam padi membutuhkan banyak air itu keliru,” katanya.

Penampakan irigasi padi hemat air (IPHA) di Desa Rancajawat, Tukdana, Indramayu, Selasa (23/9/2025). Petani muda Eka Hadi Rama bersama kelompok taninya membudidayakan padi berbasis IPHA pada lahan seluas 23 hektar. Sistem itu terbukti menghemat air hingga 30 persen dan membuat tak banyak lagi konflik perebutan air antar petani.

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
23/09/2025

Semula, Eka menerapkan budidaya padi hemat air secara konvensional di sawahnya seluas 2 hektar. Metodenya kurang lebih sama, yakni dengan genangan air setinggi satu hingga satu setengah ruas jari. Hanya saja, irigasi mini yang dibuatnya tidak permanen dan masih menggunakan pematang sawah dari gundukan tanah.

Cara mengatur siklus basah-kering dan pengurangan ketinggian genangan air juga masih tradisional. Caranya dengan membobol dan menambal kembali sejumlah titik pematang sawah.

”Saya belajar metode ini kala praktik lapangan budidaya padi sawah terasering di lereng gunung. Petani setempat mampu mengatur aliran dan genangan air secara konvensional,” kata pria alumnus Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran itu.

Hingga kini, Eka masih mempertahankan sawah berbasis sistem padi hemat air yang digarap secara konvensional itu. Ia bersama kelompok tani memperluasnya dengan budidaya di lahan seluas 23 hektar.

Di areal persawahan yang baru itulah Eka berkolaborasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk-Cisanggarung untuk mengembangkan irigasi mini permanen. Upaya itu juga dalam rangka mengantisipasi potensi krisis air dan El Nino yang dapat mengakibatkan kemarau panjang.

Tanaman padi lokal varietas gede wangi yang ditanam di Desa Karedok, Jatigede, Sumedang, Jawa Barat, Rabu (24/9/2025). Saat ini, padi itu tengah dipantau oleh Universitas Winaya Mukti, Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Pertanian Indonesia, dan Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura Jawa Barat untuk mendapatkan sertifikasi benih lokal.

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
24/09/2025

Konservasi padi lokal

Inovasi petani muda di negeri lumbung padi juga terjadi di Desa Karedok, Kecamatan Jatigede, Sumedang. Inovasi itu berupa konservasi atau pelestarian padi lokal gede wangi asal desa adat tersebut.

Inovasi konservasi padi tersebut dimotori oleh Ayu Rahayu (23), petani muda dan alumnus Fakultas Pertanian Universitas Winaya Mukti (Unwim), Sumedang. Upaya pelestarian itu dilakukan bersama gabungan kelompok tani Desa Karedok, Unwim, serta Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI).

Hal itu berawal dari temuan 11 padi lokal di Desa Karedok oleh AB2TI pada 2021. Setelah ditanam dan diteliti oleh Unwim, hanya satu benih padi lokal saja yang berpotensi dikembangkan dan dimuliakan, yakni padi gede wangi.

”Salah satu kekhasan padi itu adalah batangnya ada yang berwarna keungu-unguan dan bulir gabahnya panjang dan berbulu. Usia panennya hanya 95 hari. Aroma berasnya wangi dan rasanya pulen,” kata Ayu, Rabu (24/9/2025).

Ayu Rahayu (23), petani muda dan alumni Fakultas Pertanian Universitas Winaya Mukti (Unwim), Sumedang, tengah memantau pertumbuhan padi lokal varietas gede wangi di Desa Karedok, Jatigede, Sumedang, Jawa Barat, Rabu (24/9/2025). Saat ini, padi itu tengah dipantau oleh Unwim, Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Pertanian Indonesia, dan Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura Jawa Barat untuk mendapatkan sertifikasi benih lokal.

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
24/09/2025

Saat ini, demplot atau lahan percontohan budidaya padi itu tengah digarap Ayu dan sejumlah petani di Desa Karedok. Demplot itu seluas 4.200 meter persegi atau 0,42 hektar. Dari luasan itu, sekitar 700 meter persegi tengah dipantau Unwim serta Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPSBTPH) Provinsi Jawa Barat.

Demplot yang dipantau itu tak jauh dari Bendungan Karedok. Padi itu bersanding dengan areal persawahan yang ditanami padi varietas lain.

Menurut Ayu, demplot yang dipantau Unwim dan BPSBTPH dalam rangka pencarian plasma nutfah asli padi gede wangi. Selama ini, benih padi itu tercampur dengan benih-benih padi lainnya sehingga perlu dicari plasma nutfahnya.

Tercampurnya benih plasma nutfah padi gede wangi itu terjadi lantaran petani Desa Karedok kerap mendapat benih bantuan yang bukan benih lokal. Selain itu, petani desa tersebut juga mengembangkan benih-benih padi lokal lain, seperti pandanwangi.

Produktivitas padi dari benih bantuan dan benih lokal dari daerah lain itu lebih tinggi ketimbang padi gede wangi yang hanya 3-5 ton per hektar. Inilah yang membuat padi gede wangi yang merupakan warisan nenek moyang ditinggalkan oleh para petani Desa Karedok.

”Sampai-sampai benih padi itu tercampur sehingga harus dicari plasma nutfah aslinya. Kami akan berupaya menemukannya untuk mendapatkan sertifikasi benih padi lokal. Setelah itu, padi tersebut akan kami budidayakan dan lestarikan sehingga berasnya bisa mendapatkan sertifikat Indikasi Geografis,” katanya.

Quote

Tercampurnya benih plasma nutfah padi gede wangi itu terjadi lantaran petani Desa Karedok kerap mendapat benih bantuan yang bukan benih lokal.

Sistem padi apung yang menggunakan media tanam apung dari bahan bermaterial bambu di Kompleks Olahraga Jakabaring, Palembang, Sumatera Selatan, Sabtu (20/9/2025).

Padi apung

Di Kabupaten Banyuasin, Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (DPTPH) Kabupaten Banyuasin memotori uji coba budidaya padi apung. Uji coba itu diharapkan bisa menjadi solusi di tengah kian terbatasnya lahan pertanian seiring alih fungsi lahan untuk kebutuhan nonpertanian dan menghidupkan potensi lahan rawa lebak.

Uji coba itu dilakukan di lahan tergenang seluas 0,8 hektar dengan jumlah 21.000 tanaman padi yang berasal dari 41 varietas padi. Uji coba itu digawangi oleh Tukiyo (56), petani dan juga penyuluh pertanian DPTPH Kabupaten Banyuasin.

Menurut Tukiyo, kelebihan utama sistem padi apung adalah tidak memerlukan tahap pemulihan atau pengolahan tanah, seperti pembajakan sawah di lahan tidak tergenang atau konvensional. Dengan masa tanam padi rata-rata 3 bulan, padi apung bisa ditanami 3-4 kali dalam setahun.

”Syaratnya, kita sudah menyiapkan lebih dahulu bibit padi siap tanam di dalam pot ekstra. Dengan begitu, setelah semua padi di sawah sudah dipanen, kita bisa langsung menggantinya dengan bibit siap tanam tersebut,” ujar Tukiyo yang biasa menanam padi sendiri untuk kebutuhan beras keluarganya.

Koordinator pemeliharaan sistem padi apung, Tukiyo menunjukkan hasil sawah padi apung yang menggunakan media tanam apung dari bahan bermaterial "styrofoam" di Kompleks Olahraga Jakabaring, Palembang, Sumatera Selatan, Sabtu (20/9/2025).

Selain itu, lanjut Tukiyo, sistem padi apung bisa diterapkan di lahan tergenang, baik yang airnya tidak mengalir maupun mengalir. Yang penting, ketinggian genangan minimal 25-30 sentimeter. Tujuannya agar akar padi tidak sampai menempel ke tanah.

Produktivitas sawah apung dan sawah konvensional bisa sama saja. Produktivitas sangat bergantung pada pola perawatan. Kalau perawatan optimal, produktivitas sawah bisa mencapai 6-7 ton per hektar. Kalau perawatan kurang optimal, produktivitas hanya rata-rata di kisaran 5 ton per hektar.

”Tantangannya adalah padi apung membutuhkan media tanam khusus yang bisa mengapung di air. Media tanam itu meliputi pot plastik untuk menyimpan tanah dan tempat tumbuh padi,” katanya, Sabtu (20/9/2025).

Ia menjelaskan, modal untuk menyediakan semua kebutuhan itu relatif cukup besar. Harga pot sekitar Rp 2.000 per unit. Harga bambu ukuran 1 meter x 2 meter yang bisa diisi 21 pot sekitar Rp 7.000. Harga stirofoam ukuran 1 meter x 2 meter yang bisa diisi 21 pot kurang lebih Rp 28.000. Harga HDPE ukuran 1 meter x 2 meter yang bisa diletakkan 21 pot di kisaran Rp 84.000.

Bambu hanya bisa digunakan untuk tiga kali masa panen atau sekitar setahun. Stirofoam bisa digunakan untuk 15 kali masa panen atau kurang lebih 5 tahun. HDPE bisa digunakan untuk 30 kali masa panen atau kurang lebih 10 tahun.

”Untuk petani atau masyarakat yang tidak terbiasa dengan sistem tersebut, biaya modal penerapan sistem padi apung kemungkinan terasa mahal. Akan tetapi, keuntungannya, biaya itu hanya dikeluarkan saat awal memulai saja. Biaya perawatannya pun tergolong minim hingga nihil,” kata Tukiyo.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas Balai Pengembangan dan Produksi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumsel Nur Wahyudiono mengatakan, sistem padi apung bisa jadi solusi mengoptimalkan potensi pertanian di lahan pasang surut dan tergenang. Keberadaannya juga dapat meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) di Sumsel.

”Saat ini, lahan baku sawah di Sumsel seluas 519.000 hektar. Namun, IP Sumsel masih berada di angka 1,1 atau rata-rata hanya 1,1 kali masa tanam dalam setahun. Itu karena 73 persen sawah di Sumsel berupa rawa lebak,” katanya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Hendriyo Widi, Adrian Fajriansyah
 | 

Editor:

Budi Suwarna
 | 

Penyelaras Bahasa:

Amin Iskandar