Pemenuhan gizi harus seimbang, tidak lebih dan tidak kurang. Upaya meningkatkan kecerdasan anak dipengaruhi gizi yang masuk dalam tubuh sesuai dengan kebutuhannya.
08 Jan 2025 07:00 WIB · Investigasi
JAKARTA, KOMPAS — Kualitas sumber daya manusia Indonesia belum sepenuhnya baik. Di tingkat global, Indonesia berada di posisi bontot dalam sejumlah aspek, mulai dari tingkat kecerdasan atau intelligence quotient (IQ) hingga kemampuan membaca, matematika, dan sains siswa dalam skor Programme for International Student Assessment atau PISA.
Menurut laporan ”Educational Inequality Predicts Intelligence Quotient: A Cross-Country Analysis”, rata-rata skor IQ penduduk Indonesia tahun 2022 sebesar 78,49. Dengan angka tersebut, Indonesia menduduki peringkat ke-90 dari total 139 negara yang dianalisis.
Peringkat pertama diduduki Jepang dengan skor IQ 106,48, kemudian diikuti Singapura dengan skor 105,89 dan China dengan skor 104,1.
Di Asia Tenggara, Indonesia berada di peringkat ketujuh. Peringkat pertama Singapura, kemudian Kamboja dengan skor IQ 99,75, diikuti Vietnam 89,53, Thailand 88,87, Filipina 81,64, dan Laos 80,99.
Sementara itu, skor PISA Indonesia pada tahun 2022 berada di peringkat 69 dari total 80 negara yang terdaftar. Skor yang dinilai oleh Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) ini terdiri dari skor membaca, skor sains, dan skor matematika. Masing-masing skor Indonesia sebesar 359, 383, dan 366 dengan total skor 1.108.
Selain berada di peringkat bawah, skor PISA Indonesia juga terus mengalami tren penurunan. Tahun 2006 skor PISA Indonesia masih sebesar 1.177, kemudian turun menjadi 1.156 pada tahun 2009 dan 1.153 pada tahun 2012. Sempat naik pada tahun 2015 menjadi 1.186, tetapi kembali terus turun hingga tahun 2022.
Terdapat korelasi kuat antara kepenuhan gizi dan indikator kualitas SDM. Hal ini diketahui dari hasil analisis Tim Jurnalisme Data Harian Kompas menggunakan statistika regresi data BPS prevalensi ketidakcukupan konsumsi pangan (PoU) tahun 2023 dan angka melek aksara di setiap provinsi pada tahun yang sama.
Terdapat hubungan cukup kuat dengan nilai 0,56 di antara dua data tersebut. Variabel PoU memengaruhi kondisi angka melek aksara di suatu provinsi sebesar 29 persen. Sementara sisanya dipengaruhi variabel yang lain. Artinya, semakin besar prevalensi ketidakcukupan konsumsi pangan, angka melek aksara di suatu provinsi berpotensi semakin kecil.
Ketidakcukupan konsumsi pangan digunakan sebagai indikator mengukur jumlah penduduk yang tidak mendapatkan asupan pangan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan energi harian. Adapun angka melek aksara merupakan indikator pendidikan yang penting untuk melihat kemampuan membaca sebagai titik awal proses belajar.
Hal ini selaras dengan kondisi di lapangan, saat anak cukup mengonsumsi makanan bergizi, membuatnya lebih fokus dan mudah menerima pelajaran yang diberikan guru.
Seperti Rafi (9), siswa kelas II SDN 07 Cideng, Jakarta Pusat, mengaku suka dengan mata pelajaran Matematika. Mesti belum pernah mendapat peringkat satu, nilai Matematika bocah yang bercita-cita menjadi pemadam kebakaran ini selalu bagus.
Rafi mengaku semangat belajarnya akan bertambah jika ada makan bergizi gratis di sekolah.
”Lebih semangat ke sekolah kalau ada makan gratis. Lebih konsentrasi juga,” cerita Rafi, Jumat (13/12/2024).
Sayangnya, sehari-hari Rafi jarang sarapan. Setiap ke sekolah, kakeknya membekali uang jajan Rp 15.000. Ia biasanya menggunakan sebagian untuk nasi kepal seharga Rp 5.000 di kantin sekolah. Sisanya untuk membeli minum dan jajan di malam harinya seusai mengaji di dekat rumah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/05/4dda8e7b-2ab9-42f9-8761-8ec298a68c09_jpg.jpg)
Asupan gizi yang baik juga membuat anak lebih cerdas dan berprestasi. Hal ini dirasakan Maya (35), warga Dili, Timor Leste. Anak perempuannya yang berusia 8 tahun mendapat peringkat ketiga ketika di kelas I SD. Bahkan, tahun lalu ketika kelas II SD, naik menjadi peringkat pertama.
”Selalu dapat peringkat di kelasnya. Anakku juga sudah bisa lancar membaca. Lebih cepat bisa dibandingkan temen-temannya,” kata Maya, Senin (23/12/2024).
Selain belajar di sekolah, Maya mengaku juga mengajari anaknya seusai ia pulang kerja. Ia juga berusaha memberikan makanan bergizi, salah satunya segelas susu setiap pagi. Meski sudah mendapat Merenda Escolar, program makan gratis di sekolah, menurut Maya, kebiasaan itu penting untuk tumbuh kembang anaknya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/01/05/e4a4458a-d1d6-49b3-a61c-64d639f7157c_jpg.jpg)
Secara tidak langsung, Guru Besar Departemen Gizi Universitas Indonesia Sandra Fikawati menilai, konsumsi makanan bergizi seimbang dapat memengaruhi tingkat prestasi siswa. Rendahnya rasa lapar dapat membuat siswa-siswi lebih fokus belajar.
Selain itu, lanjutnya, murid-murid yang rutin makan bergizi seimbang berpotensi jarang sakit. Dengan demikian, absen di sekolah karena sakit dapat dihindari.
Selain memenuhi kebutuhan kalori harian, makanan bergizi juga harus seimbang. Direktur Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak di Kementerian Kesehatan Lovely Daisy menilai, semakin tinggi kalori tidak membuat anak semakin cerdas, tetapi justru dapat menyebabkan kelebihan berat badan.
”Yang ada semakin banyak kalori semakin obesitas. Gizi itu harus seimbang, tidak boleh kelebihan, tidak boleh kekurangan. Yang meningkatkan kecerdasan itu memang gizi yang masuk sesuai dengan kebutuhan,” terang Daisy.
Kecerdasan dipengaruhi oleh pertumbuhan otak yang terjadi sejak di dalam kandungan ibu. Sampai anak usia 2 tahun, otak berkembang hingga 80 persen volume otak dewasa dan usia 5 tahun menjadi 95 persen. Jika hingga usia tersebut gizinya tidak terpenuhi, ada potensi otak tidak bertumbuh dengan baik. Protein hewani menjadi salah satu komponen gizi yang baik untuk pertumbuhan otak ini.
Dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), makanan yang disajikan merupakan menu gizi seimbang, baik dari energi, protein, lemak, karbohidrat, maupun serat. Daisy menjelaskan, menu MBG yang direkomendasikan kepada Badan Gizi Nasional (BGN) mengacu pada Permenkes Nomor 28 Tahun 2019 tentang angka kecukupan gizi yang dianjurkan untuk masyarakat Indonesia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/02/13/2f3377b1-91cf-424e-bb18-4fcceb3f1807_jpg.jpg)
Semakin banyak kalori semakin obesitas. Gizi itu harus seimbang, tidak boleh kelebihan, tidak boleh kekurangan. Yang meningkatkan kecerdasan itu memang gizi yang masuk sesuai dengan kebutuhan.
Menurut Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan Hasan Nasbi, program MBG dilatarbelakangi oleh anak-anak kurang nutrisi yang berdampak pada kualitas sumber daya manusia.
”Di atas 50 persen anak datang ke sekolah dalam keadaan perut lapar. Ada juga yang 65 persen kurang nutrisi atau makronutrien. Ataupun jika sarapan, tidak sehat, seperti hanya sarapan dengan nasi dan teri asin yang gizi dan kalorinya tidak ada,” kata Hasan, akhir Desember lalu.
Hasan berharap, setelah program MBG berjalan, peringkat skor PISA Indonesia bisa meningkat. Selain itu, minat anak-anak dalam bidang STEM (sains, teknologi, engineering, dan matematika) juga bertumbuh.
=======================
Untuk mengikuti liputan tema ini selengkapnya, kami mengajak Anda bergabung dalam grup Whatsapp Pembaca Kompas ”Investigasi & Jurnalisme Data” dengan mengeklik tautan link ini. Kami juga ingin mendengarkan pandangan Anda tentang artikel ini melalui survei lewat berikut ini.
Penulis:
R Albertus Krisna Pratama P., Maria Paschalia Judith Justiari, Margaretha Puteri RosalinaEditor:
Andy Riza Hidayat, Margaretha Puteri Rosalina