Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?
- Apa yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump tentang tarif baru impor?
- Bagaimana dengan nasib Indonesia?
- Mengapa Trump memberlakukan tarif baru lagi?
- Apa saja respons sejumlah negara?
- Mengapa wilayah tak berpenghuni dan terpencil juga dikenai tarif impor baru oleh Trump?
Apa yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump tentang tarif baru impor?
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan daftar tarif dasar dan bea masuk baru kepada banyak mitra dagang, Rabu (2/4/2025) waktu setempat atau Kamis waktu Indonesia. Trump menyebut hari di mana pengumuman itu disampaikan sebagai ”Hari Pembebasan”.
Trump mengenakan tarif rerata, yakni 10 persen, untuk barang impor dari seluruh dunia per 5 April 2025. Bahkan, tarif ini juga dikenakan pada Pulau Heard dan Pulau McDonald yang tak berpenghuni serta Pulau Norfolk yang terpencil.
Selain itu, Trump juga memberlakukan ”tarif timbal balik” terhadap sejumlah negara yang berlaku pada 9 April 2025. Uni Eropa mendapat tarif 20 persen. Dari Asia, Singapura mendapat tarif 10 persen, Filipina 17 persen, Malaysia 24 persen, China 34 persen, Thailand 36 persen, Vietnam 46 persen, dan Kamboja 49 persen.
Sebelumnya Trump juga telah mengenakan tarif impor baru kepada Kanada, Meksiko, dan China karena alasan tertentu, yaitu migrasi dan narkoba.
Bagaimana dengan nasib Indonesia?
Indonesia ikut mendapat tarif timbal balik sebesar 32 persen. Merujuk laman Kementerian Perdagangan RI, AS merupakan penyumbang surplus perdagangan nonmigas nasional tahun 2024. Angka surplus perdagangan Indonesia-AS sebesar 16,08 miliar dollar AS dari total surplus perdagangan nonmigas 2024, yaitu 31,04 miliar dollar AS.
Ekspor nonmigas Indonesia ke AS antara lain garmen, peralatan listrik, alas kaki, dan minyak nabati. Pemerintah RI tengah menyiapkan sejumlah langkah strategis dan mengajak negara-negara anggota ASEAN merespons pemberlakuan tarif tersebut.
”Kami akan segera mengirimkan delegasi tingkat tinggi ke Washington DC untuk bernegosiasi langsung dengan Pemerintah AS. Indonesia juga telah berkomunikasi dengan Malaysia selaku pemegang Keketuaan ASEAN untuk mengambil langkah bersama mengingat 10 negara ASEAN seluruhnya terdampak pengenaan tarif resiprokal AS,” kata Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso, Kamis (3/4/2025) malam.
Mengapa Trump memberlakukan tarif impor baru?
Trump sangat ingin mengembalikan lagi Golden Age, era kejayaan AS. Sejak lama, Trump beranggapan kebijakan menaikkan tarif sebagai jalan keluar menyembuhkan ekonomi AS dari defisit perdagangan dengan sekutu ataupun seteru. ”Kita akhirnya mengutamakan Amerika,” kata Trump.
Data perdagangan 2024 menunjukkan bahwa AS mengalami defisit perdagangan barang sebesar 1,2 triliun dollar AS dengan 92 negara. Namun, AS juga mencatat surplus dengan 111 negara.
Menurut Trump, terkait perdagangan, AS sudah menyubsidi banyak negara sampai defisit sehingga negara-negara itu maju. Tidak hanya sekadar masalah ekonomi, defisit perdagangan adalah kondisi darurat nasional.
Penasihat perdagangan Gedung Putih, Peter Navarro, mengatakan, kebijakan tarif baru akan mendongkrak pendapatan AS hingga 600 miliar dollar AS per tahun. Jika target tersebut terwujud, pendapatan itu akan menjadi lonjakan penerimaan pajak terbesar negeri itu sejak Perang Dunia II.
Apa saja respons sejumlah negara?
Sebagian besar negara berharap dapat berdialog dengan AS walau ada juga yang sudah menyiapkan rencana tarif balasan untuk menyikapi langkah AS. Australia, Selandia Baru, Inggris, Meksiko, dan Italia akan memilih jalur perundingan. Jika gagal, Italia sedang menyiapkan rencana lainnya.
Dari pernyataan yang dikeluarkan pemerintah, Indonesia juga cenderung memilih jalur negosiasi. Selain bilateral, Indonesia akan membahas isu tarif tersebut bersama negara-negara anggota ASEAN.
UE menyatakan siap berunding, tetapi sudah menyiapkan langkah balasan terhadap tarif AS jika tetap diberlakukan. Vietnam yang sudah memangkas sejumlah tarif impor produk AS demi menyenangkan Trump dikabarkan bersiap mengirim delegasi ke Washington DC untuk berunding.
Kanada siap membalas dengan tarif resiprokal. Ottawa juga melakukan langkah balasan non-tarif, seperti memboikot produk AS dan menghentikan aliran energi ke beberapa negara bagian AS.
Mengapa wilayah tak berpenghuni dan terpencil juga dikenai tarif impor baru oleh Trump?
Selain negara-negara mitra dagang, Trump juga ”menyapu” banyak wilayah dengan tarif impor baru, tak terkecuali Pulau Heard dan Pulau McDonald, pulau-pulau terpencil yang dihuni penguin. Letaknya tak jauh dari Kutub Selatan.
Merujuk laporan kantor berita Associated bertajuk ”Trump's tariffs aren’t strictly reciprocal. Here’s how he calculated them”, tarif yang dikenakan Trump, kata Gedung Putih, memang didasarkan pada perhitungan yang rumit.
Pulau Heard dan Pulau McDonald, dua wilayah itu, dikenai tarif lantaran dugaan digunakan sebagai titik reekspor produk sebuah negara. ”Pemerintah (AS) berpendapat bahwa menciptakan pungutan dasar dengan sedikit pengecualian diperlukan untuk mencegah China dan negara lain menghindari tarif baru dengan memproduksi barang dan kemudian mengirimkannya ke Vietnam, Kamboja, Meksiko, atau tempat lain untuk kemudian dikirim ke AS. Itulah sebabnya daftar lokasi yang dikenai tarif Gedung Putih mencakup tempat-tempat yang tidak jelas, seperti Pulau Heard dan Pulau McDonald, yang tidak berpenghuni,” sebut AP.
Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?
- Apa yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump tentang tarif baru impor?
- Bagaimana dengan nasib Indonesia?
- Mengapa Trump memberlakukan tarif baru lagi?
- Apa saja respons sejumlah negara?
- Mengapa wilayah tak berpenghuni dan terpencil juga dikenai tarif impor baru oleh Trump?
Apa yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump tentang tarif baru impor?
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan daftar tarif dasar dan bea masuk baru kepada banyak mitra dagang, Rabu (2/4/2025) waktu setempat atau Kamis waktu Indonesia. Trump menyebut hari di mana pengumuman itu disampaikan sebagai ”Hari Pembebasan”.
Trump mengenakan tarif rerata, yakni 10 persen, untuk barang impor dari seluruh dunia per 5 April 2025. Bahkan, tarif ini juga dikenakan pada Pulau Heard dan Pulau McDonald yang tak berpenghuni serta Pulau Norfolk yang terpencil.
Selain itu, Trump juga memberlakukan ”tarif timbal balik” terhadap sejumlah negara yang berlaku pada 9 April 2025. Uni Eropa mendapat tarif 20 persen. Dari Asia, Singapura mendapat tarif 10 persen, Filipina 17 persen, Malaysia 24 persen, China 34 persen, Thailand 36 persen, Vietnam 46 persen, dan Kamboja 49 persen.
Sebelumnya Trump juga telah mengenakan tarif impor baru kepada Kanada, Meksiko, dan China karena alasan tertentu, yaitu migrasi dan narkoba.
Bagaimana dengan nasib Indonesia?
Indonesia ikut mendapat tarif timbal balik sebesar 32 persen. Merujuk laman Kementerian Perdagangan RI, AS merupakan penyumbang surplus perdagangan nonmigas nasional tahun 2024. Angka surplus perdagangan Indonesia-AS sebesar 16,08 miliar dollar AS dari total surplus perdagangan nonmigas 2024, yaitu 31,04 miliar dollar AS.
Ekspor nonmigas Indonesia ke AS antara lain garmen, peralatan listrik, alas kaki, dan minyak nabati. Pemerintah RI tengah menyiapkan sejumlah langkah strategis dan mengajak negara-negara anggota ASEAN merespons pemberlakuan tarif tersebut.
”Kami akan segera mengirimkan delegasi tingkat tinggi ke Washington DC untuk bernegosiasi langsung dengan Pemerintah AS. Indonesia juga telah berkomunikasi dengan Malaysia selaku pemegang Keketuaan ASEAN untuk mengambil langkah bersama mengingat 10 negara ASEAN seluruhnya terdampak pengenaan tarif resiprokal AS,” kata Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso, Kamis (3/4/2025) malam.
Mengapa Trump memberlakukan tarif impor baru?
Trump sangat ingin mengembalikan lagi Golden Age, era kejayaan AS. Sejak lama, Trump beranggapan kebijakan menaikkan tarif sebagai jalan keluar menyembuhkan ekonomi AS dari defisit perdagangan dengan sekutu ataupun seteru. ”Kita akhirnya mengutamakan Amerika,” kata Trump.
Data perdagangan 2024 menunjukkan bahwa AS mengalami defisit perdagangan barang sebesar 1,2 triliun dollar AS dengan 92 negara. Namun, AS juga mencatat surplus dengan 111 negara.
Menurut Trump, terkait perdagangan, AS sudah menyubsidi banyak negara sampai defisit sehingga negara-negara itu maju. Tidak hanya sekadar masalah ekonomi, defisit perdagangan adalah kondisi darurat nasional.
Penasihat perdagangan Gedung Putih, Peter Navarro, mengatakan, kebijakan tarif baru akan mendongkrak pendapatan AS hingga 600 miliar dollar AS per tahun. Jika target tersebut terwujud, pendapatan itu akan menjadi lonjakan penerimaan pajak terbesar negeri itu sejak Perang Dunia II.
Apa saja respons sejumlah negara?
Sebagian besar negara berharap dapat berdialog dengan AS walau ada juga yang sudah menyiapkan rencana tarif balasan untuk menyikapi langkah AS. Australia, Selandia Baru, Inggris, Meksiko, dan Italia akan memilih jalur perundingan. Jika gagal, Italia sedang menyiapkan rencana lainnya.
Dari pernyataan yang dikeluarkan pemerintah, Indonesia juga cenderung memilih jalur negosiasi. Selain bilateral, Indonesia akan membahas isu tarif tersebut bersama negara-negara anggota ASEAN.
UE menyatakan siap berunding, tetapi sudah menyiapkan langkah balasan terhadap tarif AS jika tetap diberlakukan. Vietnam yang sudah memangkas sejumlah tarif impor produk AS demi menyenangkan Trump dikabarkan bersiap mengirim delegasi ke Washington DC untuk berunding.
Kanada siap membalas dengan tarif resiprokal. Ottawa juga melakukan langkah balasan non-tarif, seperti memboikot produk AS dan menghentikan aliran energi ke beberapa negara bagian AS.
Mengapa wilayah tak berpenghuni dan terpencil juga dikenai tarif impor baru oleh Trump?
Selain negara-negara mitra dagang, Trump juga ”menyapu” banyak wilayah dengan tarif impor baru, tak terkecuali Pulau Heard dan Pulau McDonald, pulau-pulau terpencil yang dihuni penguin. Letaknya tak jauh dari Kutub Selatan.
Merujuk laporan kantor berita Associated bertajuk ”Trump's tariffs aren’t strictly reciprocal. Here’s how he calculated them”, tarif yang dikenakan Trump, kata Gedung Putih, memang didasarkan pada perhitungan yang rumit.
Pulau Heard dan Pulau McDonald, dua wilayah itu, dikenai tarif lantaran dugaan digunakan sebagai titik reekspor produk sebuah negara. ”Pemerintah (AS) berpendapat bahwa menciptakan pungutan dasar dengan sedikit pengecualian diperlukan untuk mencegah China dan negara lain menghindari tarif baru dengan memproduksi barang dan kemudian mengirimkannya ke Vietnam, Kamboja, Meksiko, atau tempat lain untuk kemudian dikirim ke AS. Itulah sebabnya daftar lokasi yang dikenai tarif Gedung Putih mencakup tempat-tempat yang tidak jelas, seperti Pulau Heard dan Pulau McDonald, yang tidak berpenghuni,” sebut AP.