Transisi mulus atlet yunior menuju persaingan senior menjaga harapan untuk regenerasi pebulu tangkis Indonesia.
05 Feb 2025 18:41 WIB · Olahraga
JAKARTA, KOMPAS — Penyiapan mental dan pola pikir diiringi dengan pemberian program yang tepat dapat membantu memuluskan transisi para pebulu tangkis yunior menuju level senior. Transisi mulus atlet yunior menjaga harapan untuk regenerasi pebulu tangkis Indonesia.
Juara dunia bulu tangkis 2001, Hendrawan, mengatakan hal tersebut selepas acara pemberian penghargaan pebulu tangkis berprestasi dari PB Djarum, di Jakarta, Rabu (5/2/2025). Pada acara itu, PB Djarum memberi penghargaan kepada atlet-atlet yang menjuarai turnamen nasional dan internasional sepanjang 2024.
”Menyiapkan pola pikir dan mental atlet yunior merupakan langkah paling awal mereka sebelum masuk masa transisi, berbarengan dengan pemberian program yang tepat. Program ini tentu berbeda-beda dari setiap pelatih, tetapi dilihat hasilnya dari adaptasi mereka ketika menuju level senior,” ucap Hendrawan, yang sejak akhir 2024 kembali ke Indonesia dan bergabung sebagai Penasihat Teknis Tunggal Putra dan Putri PB Djarum.
Hendrawan menyadari bahwa dia sebenarnya tidak punya banyak pengalaman menangani atlet yunior. Selama ini, peraih medali perak Olimpiade Sydney 2000 itu selalu menjadi pelatih untuk pebulu tangkis senior, termasuk melatih salah satu pemain terbaik Malaysia, Lee Chong Wei.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/05/71650d2f-2105-4b4c-b4e1-c9da8d2afa05_jpeg.jpg)
Namun, Hendrawan berbekal pengalamannya sendiri sebagai pemain saat transisi dari level yunior menuju senior. Menurut pelatih tunggal putra Malaysia pada 2009-2024 ini, atlet harus lebih dulu diberi pemahaman bahwa pada level lebih tinggi, segala hal berbeda. Untuk itu, atlet yunior harus menyiapkan mental dan mengubah pola pikirnya.
”Di yunior mungkin dengan latihan porsi tertentu bisa cukup, tetapi di senior yang lebih kompetitif, tentu akan ada perbedaan. Saya sendiri akan mencoba untuk mengombinasikan program latihan yunior dan senior dengan harapan membuat mereka adaptasi lebih dini,” tutur Hendrawan.
Ketika telah masuk ke persaingan senior, Hendrawan berharap atlet tetap sesekali datang ke klub asal masing-masing. Berlatih dan bertemu pelatih ketika yunior akan membantu atlet menghadapi tangangan baru pada level senior.
”Masukan saya, mereka harus terhubung atau kembali ke klub untuk berlatih sesekali dan bertemu pelatih mereka saat senior. Sebab, mereka mengalami sesuatu yang baru sehingga perlu orang yang tahu karakter mereka dari kecil,” ujar Hendrawan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/29/d2e9f218963afcf4956055c64a555921-Zaki3_R32_ThailandMasters2025_PBSI_20250129.jpg)
Transisi mulus atlet yunior menuju level senior akan berkaitan dengan kesiapan regenerasi pebulu tangkis. Apalagi, saat ini, para pebulu tangkis Indonesia yang sudah berada pada level senior kesulitan meraih gelar, termasuk pulang dengan hanya satu gelar juara dari empat turnamen awal tahun.
Alhasil, muncul dorongan untuk perlahan memulai transisi para pemain yang lebih muda ke level senior. Jonatan Christie, yang gagal jadi juara setelah dihentikan Kunlavut Vitidsarn (Thailand) pada partai final Indonesia Masters 2025, misalnya, berharap adik-adiknya di tunggal putra bisa mendapatkan banyak jam terbang.
Tujuannya adalah untuk memangkas rentang yang jauh antara dirinya dan Anthony Sinisuka Ginting (peringkat ke-11) dengan pemain lain di pemusatan latihan nasional, seperti Chico Aura Dwi Wardoyo, Alwi Farhan, Yohanes Saut Marcellyno, dan Mohammad Zaki Ubaidillah.
Nama terakhir merupakan atlet yang baru saja dipanggil PP PBSI untuk menjadi anggota pelatnas pada 2025 ini. Zaki merupakan salah satu tunggal putra muda berpotensi. Dia menjuarai turnamen Indonesia Masters Super 100 2024 di Pekanbaru, Riau.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/05/3237bca5-b48d-4caa-9957-827d7b078078_jpeg.jpg)
Dalam persaingan yunior, untuk atlet berusia 18 tahun ke bawah, prestasi tertinggi Zaki adalah ketika mengantarkan Indonesia menjadi juara Piala Suhandinata, kejuaraan dunia beregu campuran. Atlet binaan PB Djarum ini menjadi semifinalis pada kategori perseorangan.
Musim ini pun menjadi transisi bagi Zaki untuk memasuki persaingan dengan level lebih tinggi. Pada masa inilah, kemampuan adaptasi Zaki akan diuji karena tantangan sangat besar bakal menantinya.
Selain Zaki, pebulu tangkis tunggal putra potensial lainnya ialah Richie Duta Richardo. Peraih juara Petronas Malaysia International Series 2024 ini memberikan kejutan ketika mengalahkan Chico pada partai final Kejuaraan Nasional PBSI 2024.
Ketua PB Djarum Yoppy Rosimin mengatakan, prestasi Zaki dan Richie, termasuk pada Kejurnas PBSI 2024 tidak lepas dari kepercayaan untuk memberikan mereka kesempatan bermain. Apalagi, dalam ajang itu, Zaki dan Richie bertarung dengan pemain lebih senior.
”Ini terobosan berani ketika menurunkan pemain tunggal putra muda dengan segala risikonya. Kalaupun pada akhirnya kalah, pasti tetap puas karena telah memberikan wadah bagi mereka untuk tampil melawan senior. Semoga regenerasi positif seperti ini terus berlanjut,” ujar Yoppy.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/05/05f6c4af-210d-46e9-a123-49549527ce3e_jpeg.jpg)
Atas torehan mereka, Zaki dan Richie didapuk sebagai atlet muda berprestasi PB Djarum 2024 dan mendapatkan apresiasi sebesar Rp 25 juta. ”Apresiasi ini jadi tambahan motovasi buat saya, apalagi terdekat akan ada seleksi nasional, saya ingin memberikan yang terbaik untuk bisa menembus pelatnas juga,” ujar Richie.
Apresiasi juga diberikan oleh Bakti Olahraga Djarum Foundation kepada atlet PB Djarum lainnya yang menjuarai Kejurnas PBSI 2024 beregu campuran dan 48 atlet U-17 dan U-19. Selain itu, ada pula apresiasi untuk Sausan Dwi Ramadhani (juara Kejurnas PBSI 2024 tunggal taruna putri), Ardita Anjani/Titis Maulida Rahma (juara Kejurnas PBSI 2024 ganda taruna putri), Anselmus Breagit/Pulang Ramadhan (juara Kejurnas PBSI 2024 ganda taruna putra), dan Dejan Ferdinansyah/Gloria Emanuelle Widjaja yang menempati peringkat ke-8 dunia.
Yoppy mengatakan, pemberian apresiasi yang rutin diagendakan setiap tahun ini diharapkan menjadi motivasi para atlet. Dengan demikian, atlet menjadi lebih semangat menorehkan prestasi yang lebih banyak dan tinggi pada tahun mendatang.
”Selanjutnya, kami masih punya pekerjaan rumah untuk lebih bersinar di kejuaraan internasional, baik di sektor beregu maupun perseorangan. Tidak menang tidak apa-apa, yang paling penting jangan mau kalah,” ucap Yoppy.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Emilius Caesar Alexey