Dua tahun berturut-turut kota yang diyakini oleh umat Kristen sebagai tempat kelahiran Yesus merayakan Natal di bawah bayang-bayang Perang Gaza.
25 Des 2024 17:21 WIB · Internasional
BETLEHEM, RABU — Perayaan Natal di Betlehem, Tepi Barat, Palestina, berlangsung dengan syahdu. Tidak ada pohon-pohon Natal, lampu-lampu berwarna-warni, ataupun hiasan meriah. Warga Kristen di Palestina menjalani hari raya masih di bawah bayang-bayang peperangan yang melanda Jalur Gaza.
Biasanya, dalam rangka perayaan Natal, ada pawai musik yang ramai di sepanjang jalan di Betlehem menuju ke Gereja Kelahiran. Pada Rabu (25/12/2024), acara itu tidak ada. Sama seperti Natal tahun 2023. Warga masih berjalan beramai-ramai ke Gereja Kelahiran, tetapi dilakukan dengan sederhana.
Kelompok pramuka memimpin pawai. Para anggota pramuka menyampirkan selendang merah di bahu mereka. Di belakangnya ada kelompok koor anak-anak Terra Sancta. Sambil berjalan, mereka menyanyikan lagu-lagu Natal dengan khidmat. Di sepanjang jalan yang dilalui, polisi Palestina berjaga-jaga.
Pohon natal raksasa yang biasaya ada di alun-alun kota juga tidak ada. ”Tahun ini, sekali lagi kita membatasi ekspresi kebahagiaan,” kata Wali Kota Betlehem Anton Salman.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/25/cefe16f7-4804-4aa8-a8e1-5a639caf8bd7_jpg.jpg)
Keadaan itu juga menjadi tema di dalam ibadah Natal 2024. ”Cukuplah tahun ini untuk terakhir kalinya Natal terasa sangat menyedihkan. Mari kita berdoa di tahun depan semua membaik,” kata Patrik Latin Pierbattista Pizzaballa ketika memimpin misa.
Sebelum Natal, Patrik Latin juga berkunjung ke Jalur Gaza. Di sana, ia memimpin misa di Gereja Keluarga Kudus. Kesempatan itu juga ia pakai untuk bertemu dengan para pengungsi di Gaza. Mereka mencurahkan isi hati mengenai kehilangan rumah, hidup di dalam kemiskinan, dan ketakutan akan perang yang tidak juga usai.
”Kami berharap Natal tahun depan kami sudah bisa pulang ke rumah, lalu pergi berziarah ke Betlehem,” kata Najla Tarazi, salah seorang pengungsi di Gaza.
Seperti dilansir media Euronews, kunjungan Pierbattista Pizzabala ke Jalur Gaza itu atas izin dari militer Israel. Selama pertemuan dengan komunitas Kristen di Gaza, beberapa pesawat nirawak melayang tak henti-henti di luar gereja.
Pizzabala mengatakan, perang adalah hal yang sangat buruk karena memecah belah bangsa, mulai dari struktur hingga ke akar rumput.
”Namun, setinggi-tinggi tembok yang memisahkan tetap bisa kita lalui jika ada kemauan melakukannya. Memang, sungguh mudah menyerah di hadapan tembok itu akibat kelelahan, kesedihan, dan kebencian. Kita harus ingat bahwa hal-hal itu tidak mendatangkan harapan dan kebahagiaan,” kata Pizzabala.
Gara-gara perang, wisata Natal di Betlehem terdampak serius. Pariwisata menyumbang 70 persen pendapatan kota tersebut.
Puncak musim liburan adalah pada musim dingin sampai dengan pekan perayaan Natal. Wisatawan mancanegara ingin menjalani Natal di kota yang mereka percayai sebagai tempat kelahiran Yesus.
Perang antara kelompok Hamas dan militer Israel meletus pada 7 Oktober2023. Sejak itu, pariwisata ke Tepi Barat yang di dalamnya ada Betlehem dan Jerusalem menurun drastis. Toko-toko dan rumah makan di Betlehem yang biasanya ramai kini tutup semua.
Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mendata, di Tepi Barat ada 50.000 warga beragama Kristen, di Jalur Gaza ada 1.300 orang, dan di Israel ada 182.000. Selama ini, Betlehem adalah kota penting bagi mereka. Meskipun warga yang beragama Kristen tergolong sedikit, Betlehem biasanya ramai oleh peziarah dari luar negeri.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/25/f46e0a5d-e17f-4075-9e3f-0e4c54cfdc28_jpg.jpg)
Menurut Juru Bicara Kementerian Pariwisata Palestina Jiries Qumsiyeh, sampai dengan 2019, Betlehem kedatangan 2 juta wisatawan macanegara setiap tahun. Jumlah ini kemudian menurun gara-gara pandemi Covid-19. Per 2024, jumlah wisatawan ke Betlehem hanya 100.000 setiap tahun.
Sejak perang antara Hamas dan militer Israel terjadi per Oktober 2023, Tepi Barat juga terkena imbasnya. Banyak wilayah Tepi Barat yang diduduki oleh tentara maupun warga Israel. Sebanyak 800 warga Palestina di Tepi Barat tewas sepanjang 2024 akibat kekerasan bersenjata dengan tentara Israel maupun warga ekstremis Israel.
Pada saat yang sama, perang juga menghantam perekonomian Israel. Terjadi kontraksi ekonomi 25 persen. Salah satu penyebabnya ialah Israel menutup akses pergerakan warga Palestina yang setiap hari bekerja di Israel.
Di tengah kekacauan itu, Hisham Makhoul, warga Jerusalem, mempertahankan tradisi pergi ke Betlehem setiap Natal. Kota Jerusalem berjarak 10 kilometer dari Betlehem. ”Menjaga tradisi di masa-masa sulit ini penting karena menjaga semangat kita tetap menyala dan sebagai pelarian dari kesedihan perang yang melanda Palestina,” ujarnya kepada majalah Barron’s.
(AP/AFP)
Penulis:
Laraswati Ariadne AnwarEditor:
Muhammad Samsul HadiPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .