Grup I Piala Dunia 2026 menjanjikan pertarungan sengit segitiga antara Perancis, Norwegia, dan Senegal. Perancis dikepung buasnya Norwegia dan ambisi besar Senegal.
10 Jun 2026 10:30 WIB · Olahraga
AFP
Penyisihan Grup I Piala Dunia 2026 bisa disebut ”grup neraka”. Perancis, Senegal, Norwegia, dan Irak, akan bersaing merebut dua tiket otomatis ke babak gugur. Grup itu bisa menjelma mimpi terburuk Perancis, runner-up edisi 2022 sekaligus salah satu favorit juara pada 2026.
Salah satu tantangan terberat ”Les Bleus” untuk lolos dari grup itu adalah Norwegia. Mereka datang ke Piala Dunia di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko dengan tekad menggebu-gebu. Maklum saja, sudah 28 tahun lamanya tim asal Skandinavia itu tidak pernah tampil di panggung akbar sepak bola itu.
Norwegia berpeluang mereplikasi kesuksesan Eslandia, tim Skandinavia yang menyingkirkan Inggris di babak 16 besar Piala Eropa 2016 dan menahan imbang Argentina pada Piala Dunia 2018. Dengan spirit yang sama, yaitu daya juang tinggi dan gagah berani bak bangsa Viking, Norwegia jauh lebih menakutkan ketimbang tetangganya, Eslandia.
Mereka memiliki Erling Haaland (25), striker tangguh setinggi 1,95 meter yang bak berserker alias ksatria Viking yang menakutkan dan ”haus darah”. Seperti halnya berserker, Haaland sangat buas dan haus gol. Striker Manchester City itu adalah pencetak gol terbanyak di Liga Inggris musim 2025-2026 dengan 27 gol dari 35 laga. Capaian serupa diraihnya pada musim 2022-2023 dan 2023-2024.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/07/1d9f9c2c4a1665208694ae74d2028fbb-WCup_Group_I_Preview_Soccer_138605350.jpg)
Ia mengukir sejarah sebagai manusia pertama yang mampu mencetak 100 gol di Liga Inggris hanya dalam 111 laga. Keberingasannya itu juga tercermin di timnas Norwegia. Ia menjadi orang pertama yang mencetak lebih dari 50 gol, yaitu 55 gol, hanya dalam 49 laga. Artinya, dalam setiap laga membela Norwegia, dia rerata mencetak 1,1 gol. Rekor yang menakjubkan.
Di Piala Dunia 2026, ia akan berupaya melampaui prestasi ayahnya, Alfie Haaland, yang pernah tampil di Piala Dunia, yaitu pada edisi 1994. Menariknya, saat itu, Piala Dunia juga digelar di AS. Namun, Alfie tak mencetak gol pada saat itu. Norwegia pun tersingkir di fase grup. Ia tidak dipanggil lagi saat Norwegia tampil terakhir kalinya di Piala Dunia, yaitu pada 1998 di Perancis.
Haaland berpeluang membawa timnya melangkah lebih jauh di Amerika, tak sekadar menjadi “penggembira”, apalagi juru kunci grup seperti edisi 1994. Norwegia adalah tim kuda hitam paling menakutkan di Piala Dunia 2026. Tim itu bukan hanya tentang Haaland yang disebut sebagai striker terbaik yang pernah dimiliki Norwegia.
Tim ”Viking” juga memiliki barisan talenta berbakat lainnya, seperti Alexander Sorloth, Antonio Nusa, dan Martin Odegaard. Mereka adalah bagian dari generasi emas Norwegia. Berbeda dengan kebanyakan tim Skandinavia yang mengandalkan fisik, kedisiplinan, dan kolektivitas, Norwegia lebih unggul dalam hal teknik maupun kreativitas.
Norwegia telah memperlihatkan level tinggi di kualifikasi, apalagi dengan Haaland dan Sorloth yang mencetak banyak gol. Kami berada di grup sulit.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/07/0a77bff6ec4af18745e0001e96978afb-FBL_WC_2026_NOR_SWE_FRIENDLY_138709509.jpg)
Atribusi itu melekat pada kreator serangan mereka, Odegaard. Ia mengemas 42 gol dan 38 asis selama lima musim membela Arsenal, juara Liga Ingris musim ini. Berkat dia, Pelatih Norwegia Stale Solbakken lebih kaya opsi serangan. Mereka tidak kesulitan membongkar pertahanan tim-tim dengan permainan low block lewat penguasaan bola dan umpan progresif di sepertiga akhir pertahanan lawan.
Skema itu bisa manjur untuk menghadapi Perancis, tim kuat yang bermain pragmatis dengan mengedepankan soliditas pertahanan di bawah asuhan Didier Deschamps. Namun, jika “Les Bleus” keluar dari pakem itu dan mengutamakan penguasaan bola dalam duel di Boston, AS, pada 27 Juni 2026, Norwegia bisa memakai “senjata” lainnya, yaitu transisi kilat bak petir Thor, dewa Viking. Haaland dan Sorloth terbiasa dengan serangan kilat itu.
Jadi, meskipun Perancis memiliki barisan penyerang mewah, seperti Mbappe dan Ousmane Dembele, realitasnya, Norwegia adalah tim paling buas di Eropa saat ini. Mereka mengemas 37 gol atau rerata 4,6 gol dalam 8 laga kualifikasi Piala Dunia zona Eropa. Menakjubkannya, seluruh laga itu dimenangi mereka, termasuk dua kali melawan Italia.
Capaian pada kualifikasi itu tak bisa ditandingi tim-tim lainnya di Eropa. “Norwegia telah memperlihatkan level tinggi di kualifikasi, apalagi dengan Haaland dan Sorloth yang mencetak banyak gol. Kami berada di grup sulit,” ujar Deschamps dikutip FIFA.
Maka, Perancis dan Norwegia bakal bersaing sengit memperebutkan status juara Grup I. Kans mereka sama kuat dengan syarat Odegaard dan Haaland dalam kondisi bugar. Musim ini, kedua pemain itu, khususnya Odegaard, kerap diganggu cedera. Ia hanya tampil di 35 laga dari rerata 44,5 laga per musim pada empat musim sebelumnya bersama Arsenal.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/06/52c305724d0e1d0657429d8701c48c5d-FBL_WC_2026_FRA_POLITICS_138722404.jpg)
Di tengah persaingan mereka, Senegal bisa menjadi pengganggu. Senegal adalah tim Afrika yang kaya pengalaman di Piala Dunia. Empat tahun lalu, perempat finalis Piala Dunia 2002 itu lolos ke fase 16 besar. Mereka juga berlimpah bintang, seperti Nicolas Jackson, Pape Gueye, Mamadou Sarr, dan Sadio Mane.
Senegal datang ke Amerika dengan motivasi berlipat. Mereka ingin membuktikan sebagai tim Afrika terbaik saat ini setelah derita kehilangan gelar Piala Afrika 2025 akibat dinyatakan walked-out dalam final melawan Maroko, Januari lalu. Padahal, saat itu, mereka menang 1-0 dalam laga yang diwarnai keributan itu.
Laga mereka melawan Perancis pada 17 Juni di New Jersey, AS, bakal menarik. Bukan lagi rahasia jika Senegal selalu punya motivasi ekstra menghadapi negara mantan penjajahnya itu. Pada 2002, mereka mempermalukan Perancis, 1-0. “Les Bleus”—juara bertahan—pun pulang membawa malu dengan menjadi juru kunci grup. Sementara Senegal lolos hingga perempat final.
Pape Thiaw, pelatih Senegal, masih ingat memori indah itu. Pada 2002, ia menjadi salah satu pemain dalam skuad Senegal yang mengejutkan dunia. Sayangnya, dia tengah diterpa isu tak sedap. The New York Times, Kamis (28/5/2026), melaporkan, Thiaw enggan terbang ke AS karena masalah kontraknya yang belum diperpanjang Federasi Sepak Bola Senegal.
Padahal, kontraknya telah berakhir pada Februari 2026 lalu. Akibatnya, masa depannya di tim itu tak jelas, termasuk soal gaji dan bonus. Situasi itu bisa mempengaruhi semangat dan kebersamaan di tim kuda hitam asal Afrika itu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/07/a1bf5c66ec4a0e58a7bf5afcd86e0825-FBL_WC_2026_SEN_SQUAD_138429413.jpg)
Berbeda dengan Senegal, internal Irak lebih kondusif. Mereka dipimpin pelatih berpengalaman, Graham Arnold. Ia mengambil-alih tim itu dari Jesus Casas mulai babak ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia.
Meskipun kehadirannya membawa antusiasme baru, skuad Irak bukan tandingan Senegal, Norwegia, apalagi Perancis. Irak pun tertatih-tatih di kualifikasi sehingga harus melewati playoff antarkonfederasi.
Maka, Perancis dan Norwegia lebih dijagokan lolos langsung ke fase gugur, diikuti dengan Senegal yang bisa saja merebut salah satu tiket dari jatah peringkat ketiga terbaik.
Superkomputer Opta menjagokan Perancis dengan kans 95,03 persen untuk lolos ke fase 32 besar. Adapun peluang Norwegia 82,86 persen, Senegal 62,2 persen, dan peluang Irak hanya 27,1 persen.
Penulis:
Yulvianus HarjonoEditor:
Prasetyo Eko Prihananto, Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase