Dengan masuk ke final SEA Games Thailand 2025 saja, tim futsal putri Indonesia sudah mencatatkan sejarah. Prestasi mereka berbanding terbalik dengan ”kakak kandung”.
19 Des 2025 13:50 WIB · Olahraga
KOMPAS/REBIYYAH SALASAH
Dengan masuk ke final SEA Games Thailand 2025 saja, timnas futsal putri Indonesia sudah mencatatkan sejarah. Ketika akhirnya terhenti di partai puncak setelah dijegal Vietnam, itu cerita lain. Yang pasti, prestasi yang membanggakan ini tak lepas dari atmosfer kompetisi dalam negeri yang ”meriah” sekaligus jadi pembeda nasib dengan ”kakak kandung”, timnas sepak bola putri.
Menyerang dari permainan terbuka, itu sudah. Menyerang dengan skema powerplay (kiper ikut membantu menyerang), juga sudah. Namun, benteng timnas futsal putri Vietnam terlalu kokoh untuk ditembus timnas futsal putri Indonesia pada partai final di Gymnasium Universitas Bangkokthonburi, Bangkok, Kamis (18/12/2025).
Saat wasit meniup peluit panjang, para pemain Indonesia hanya bisa menunduk. Kekalahan 0-5 dari Vietnam memang membuyarkan mimpi membawa pulang medali emas dari Thailand. Namun, pencapaian mereka sudah sangat istimewa.
”Memang sedih tidak bisa menang, tetapi juga harus tetap bangga karena prestasi terbaik sebelumnya, kan, meraih perunggu, sekarang bisa menembus final dan meraih perak. Apalagi, tim putri sebenarnya sempat tidak akan diberangkatkan,” kata kapten timnas futsal putri Novita Murni Piranti.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/19/8c87c0a37c7514f32ca252776c8e464f-DSC00960.JPG)
Dua hari sebelumnya, pada partai semifinal, Indonesia sukses menaklukkan tuan rumah dengan skor 7-6 lewat adu penalti setelah imbang 4-4. Bukan hanya karena mengalahkan Thailand di hadapan publik mereka sendiri, hal yang membanggakan dari hasil itu juga adalah karena ”Garuda Pertiwi” sukses mengatasi perbedaan level.
Makanya ketika dapat kesempatan, memang harus dimaksimalkan. Ini hasil terbaik kami.
Jika melihat peringkat dunia, Thailand merupakan tim terbaik Asia Tenggara. Thailand menempati peringkat ke-8, disusul Vietnam ke-11, lalu Indonesia ke-18. Hasil ini juga tecermin dari Kejuaraan Futsal ASEAN 2024 ketika Indonesia finis ketiga di bawah Thailand dan Vietnam.
Dari penyelenggaraan futsal putri di lima edisi SEA Games sebelumnya, Thailand selalu masuk final dan menjadi juara. Baru kali ini langkah mereka terhenti di semifinal. Indonesia menciptakan sejarah baru untuk pertama kalinya menembus final bersama tim langganan partai puncak, Vietnam.
Tidak hanya merajai Asia Tenggara, Thailand juga mampu menantang Jepang di final Piala Futsal Asia 2025. Tim ”Negeri Gajah Putih” juga menembus Piala Dunia 2025 meski kiprah mereka terhenti di babak grup.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/19/d942f20c742ea2b8e70a2c7cd614d019-DSC00637.jpg)
Adapun pencapaian terbaik Indonesia sebelumnya adalah menempati peringkat ketiga di Kuala Lumpur 2017. ”Delapan tahun penantian, kan, cukup panjang. Kita juga melewatkan satu edisi dan di setiap SEA Games juga tidak selalu ada futsal putri. Makanya ketika dapat kesempatan, memang harus dimaksimalkan. Ini hasil terbaik kami,” ujar Novita yang menjadi bagian tim saat meraih perunggu di Kuala Lumpur 2017.
Novita sudah menjadi bagian timnas futsal putri sejak pertama kali berpartisipasi di SEA Games pada edisi Jakarta-Palembang. Pemain asal Jawa Barat ini tahu, seperti sepak bola putri, partisipasi futsal putri di SEA Games pun tidak konsisten.
Setelah tidak ikut pada edisi perdana pada SEA Games Natkhon Ratchasima 2007, Indonesia ikut tiga edisi beruntun hingga Kuala Lumpur 2017. Indonesia mulai naik podium pada 2017 setelah pada dua edisi sebelumnya hanya menempati peringkat keempat.
Namun, ketika futsal kembali diadakan di SEA Games Vietnam 2021 yang digelar pada 2022, timnas futsal putri batal diberangkatkan meski sudah menjalani pemusatan latihan. Selain itu, Indonesia sedang dalam performa positif setelah meraih peringkat kedua di bawah Thailand dalam turnamen Asia Tenggara, Kejuaraan Futsal Putri NSDF 2022.
Hasil yang cenderung terus membaik di setiap partisipasi di SEA Games menunjukkan bahwa futsal putri memang punya potensi. Apalagi, prestasi di Thailand itu diraih dalam persiapan yang sebenarnya tidak maksimal. Selain hanya kurang lebih tiga bulan, mereka juga tidak mendapatkan lawan uji tanding yang sepadan.
Skuad futsal putri kali ini dihuni mayoritas pemain muda yang belum punya pengalaman SEA Games ataupun pengalaman berlaga di turnamen internasional lainnya. Satu-satunya bekal kuat yang para pemain muda ini miliki adalah mentalitas tanding teruji, setidaknya di dalam negeri.
Futsal putri terbilang punya atmosfer kompetisi yang meriah. Sejak 2012, liga futsal putri profesional (WPFL) sudah digelar. Meski jarak antara musim pertama dan kedua mencapai dua tahun, karena baru digelar lagi pada 2015, WPFL setelah itu diselenggarakan rutin setiap tahun.
Bahkan, kompetisi tetap bergulir ketika musim pandemi. Hingga saat ini terhitung sudah ada 11 edisi WPFL.
Selain liga profesional, ada pula Liga Nusantara yang sejak 2015 rutin digelar sebagai kompetisi kasta kedua. Ada juga Liga Mahasiswa dan Campus League untuk kompetisi antarmahasiswa. Belum lagi turnamen-turnamen tingkat daerah dari berbagai kelompok usia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/19/9d915dea53c5594a868e17b99533ca8a-DSC00713.JPG)
Dari situ pula, para pemain bisa terus diuji dan diasah kemampuannya. Bakat mereka pun dapat dideteksi. Salah satunya adalah Fitry Amelya, kiper debutan timnas dan SEA Games. Fitry mencuri perhatian Estrela setelah bermain apik di WPFL musim ini.
Atmosfer kompetisi yang meriah ini tidak didapatkan timnas sepak bola putri, yang lebih mengandalkan pemusatan latihan sebagai pengganti ketiadaan liga. Sejak 2019, tidak ada lagi liga sepak bola putri yang bergulir. Kompetisi sepak bola putri baru digelar lagi tahun ini lewat inisiatif swasta. Itu pun baru menyasar kelompok umur 15 dan 18 tahun.
Maka, wajar, ada perbedaan nasib antara timnas futsal putri dan timnas sepak bola putri di SEA Games Thailand 2025. Sepak bola putri kembali mencapai semifinal untuk pertama kali sejak SEA Games Kuala Lumpur 2001. Namun, mereka masih kesulitan bersaing dengan tim papan atas Asia Tenggara.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/11/7d747ccfab1b06ce9dbe997021dcf82e-YSP02553.jpg)
Sehari setelah futsal putri mengalahkan Thailand untuk melaju ke semifinal, sepak bola putri takluk 0-2 dari Thailand dalam laga perebutan medali perunggu. Ini kekalahan kedua setelah pada babak grup juga takluk 0-8.
Seperti di futsal, Thailand memang berada di level berbeda. Masalahnya, di sepak bola, disparitas itu begitu nyata. Bahkan ketika Thailand datang sebagai tim ”pesakitan” setelah untuk pertama kalinya sejak 1997 gagal menembus Piala Asia 2026 dan dipastikan tidak akan bisa berlaga di Piala Dunia Putri 2027, Indonesia juga tak mampu mengalahkan pengalaman mereka yang lebih kaya.
Pelatih timnas futsal putri, Luis Estrela, mengatakan, atmosfer kompetisi yang meriah sangat membantunya ketika menjaring pemain. Kata pelatih asal Portugal ini, dia memanfaatkan seluruh lapisan dan jenis kompetisi futsal putri untuk mendapatkan pemain. Maka, tak heran jika ada beberapa pemain yang masih muda dan wajah baru.
”Kami memahami bahwa pemain terbaik terkadang berada di liga, tetapi ada banyak talenta hebat yang terkadang tidak bermain di liga. Jadi, kami gunakan seluruh saluran untuk mencari pemain. Pendekatan kami adalah mencoba menemukan atlet putri modern. Jadi, dengan kekuatan, teknik, profil yang sangat baik, dan etos kerja tim yang baik untuk bermain bagi tim,” ujar Estrela.
Estrela menerapkan cara yang dia pernah lakukan ketika menangani Benfica yang menjuarai Liga Futsal Putri Portugal 2021-2022 dan 2022-2023. Tidak hanya mengandalkan sekadar talenta yang banyak, Estrela juga ingin mengubah mentalitas para pemain. Mentalitas itu, kata Estrela, bukan hanya tentang apa yang pemain lakukan dalam dua jam latihan.
”Apa yang kita lakukan dalam 22 jam ketika kita tidak berlatih. Waktu tidur, pola makan, pengendalian berat badan. Juga rasa hormat. Dan kita perlu menghilangkan rasa takut bermain melawan tim-tim terbaik. Dan menatap mata mereka dan selalu bermain untuk menang. Jadi, itulah fondasi tim-tim pemenang,” ujarnya.
Sepak bola putri dan futsal putri boleh jadi saudara sekandung. Namun, siapa sangka di SEA Games Thailand 2025, perbedaan nasib itu tampak nyata hanya karena mereka ”dibesarkan” dengan cara yang berbeda.
Sampaikan dukungan Anda untuk atlet Indonesia
Pembaca yang budiman, harian Kompas membuka rubrik Surat untuk Atlet, yang berisi pendapat, penyemangat, atau komentar terkait penampilan atlet Indonesia di SEA Games Thailand 2025. Kirimkan komentar singkat Anda, minimal dua kalimat dan maksimal enam kalimat, dengan mengisi kolom di bawah ini. Komentar yang terpilih akan kami muat di harian Kompas saat pelaksanaan SEA Games 2025.
Penulis:
Rebiyyah Salasah dari Bangkok, ThailandEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Nur Adji