Delegasi Indonesia berhasil meraih empat medali dan dua penghargaan terhormat dari ajang Olimpiade Matematika Dunia 2025.
01 Agt 2025 18:12 WIB · Pendidikan & Kebudayaan
Para talenta unggul Indonesia mengharumkan nama bangsa di ajang Olimpiade Matematika Dunia atau International Mathematical Olympiad (IMO) ke-66 tahun 2025 yang diadakan di Sunshine Coast, Queensland, Australia, 10-20 Juli lalu. Empat medali dan dua penghargaan terhormat mereka bawa pulang ke Tanah Air sebagai bakti untuk negeri.
Para talenta unggul itu adalah Janssen Edyth Lim (SMAK Immanuel Pontianak), Raymond Christopher Tanto (SMAK Kalam Kudus Sukoharjo), Jesreel Hasiholan Sigalingging (SMAS Kristen 5 BPK Penabur Jakarta), dan Louis Wilson Gunawan (SMAS 1 Kristen BPK Penabur Jakarta) yang membawa empat medali perunggu.
Sementara Leonardo Valerian (SMA Darma Yudha, Riau) dan Danica Odelia (SMAS Kristen BPK Penabur Gading Serpong) yang mendapatkan penghargaan terhormat (Honorable Mention).
Keenamnya merupakan hasil pembinaan berkelanjutan melalui Pusat Pelatihan Nasional (Pelatnas) di Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Adapun IMO 2025 merupakan kompetisi matematika bergengsi yang diikuti peserta dari 110 negara.
Perjuangan mereka meraih medali tidak mudah, kebanyakan dari mereka mengikuti Olimpiade Sains Nasional (OSN) sejak masih duduk di kelas 3 sekolah menengah pertama (SMP). Seiring naiknya jenjang pendidikan, mereka terus bersaing dengan talenta lain dalam seleksi masuk Pelatnas.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/01/5a603f7cb663b4f897529874e25f25cd-WhatsApp_Image_2025_07_25_at_10.07.54_AM_1_.jpeg)
Selama 24 hari pelatihan di Pelatnas di Bandung, Jawa Barat, mereka harus kembali bersaing dengan puluhan orang lainnya untuk menjadi yang terbaik dan mendapatkan tiket ke IMO. Setelah itu, mereka terpilih mewakili Indonesia ke IMO 2025.
Janssen (17) mengatakan, dirinya sudah masuk ke Pelatnas Tim Olimpiade Matematika Indonesia (TOMI) sejak 2022 atau ketika duduk di kelas 1 SMA. Namun, ia baru berhasil lolos mewakili Indonesia ke IMO pada kesempatan terakhirnya tahun ini.
Kesempatan berangkat ke Australia tak disia-siakannya, ia menjadi perwakilan Indonesia dengan nilai tertinggi dibandingkan lima perwakilan lainnya, yakni 27. Karena itu, dia berhak mendapatkan medali perunggu.
”Ini sudah melebihi ekspektasi saya karena waktu saya ditunjuk ke IMO jujur saya enggak ada target mau dapat medali, saya hanya melakukan yang terbaik,” kata Janssen saat dihubungi dari Jakarta, Jumat (1/8/2025).
Begitu pula dengan Jesreel (18) yang pada IMO 2025 mendapatkan nilai 22 pada IMO 2025. Sebelum mendapat medali perunggu, Jesreel juga sempat tidak lolos ke dua gelaran IMO sebelumnya dalam seleksi Pelatnas TOMI. Dia baru mewakili Indonesia di tahun terakhirnya SMA.
”Akhirnya perjuangannya selama ini bisa dapat hasil yang sangat memuaskan. Bisa dapat medali di IMO itu kan suatu hal yang sangat membanggakan buat saya,” ucap Jesreel.
Janssen dan Jesreel kini tengah mempersiapkan diri untuk melanjutkan studi di University of Oxford, Inggris, mulai Oktober 2025. Mereka sama-sama meneruskan kecintaannya pada matematika dengan memilih jurusan mathematics and computer science.
Selain karena mendapatkan beasiswa dari pemerintah melalui program Beasiswa Indonesia Maju (BIM), mereka memilih kuliah ke luar negeri demi menjadi talenta unggul berwawasan global. Sebab, di masa depan, Janssen ingin menjadi seorang peneliti di bidang matematika, sedangkan Jesreel ingin berkarya di industri teknologi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/01/8958350b9b56eaede81d618f108e1d63-WhatsApp_Image_2025_07_25_at_10.07.54_AM.jpeg)
Berbeda cerita dengan Raymond, dia satu-satunya seorang ”veteran”, sebutan untuk siswa yang sudah pernah mengikuti IMO tahun sebelumnya, dibandingkan lima perwakilan Indonesia lainnya. Pada IMO 2025, dia mendapatkan nilai 24 dan berhak atas medali perunggu.
Namun, Raymond (18) juga telah digembleng sejak kelas 3 SMP melalui kompetensi berjenjang dari OSN hingga masuk Pelatnas TOMI tahun 2024. Di Pelatnas, ia terpilih mengikuti IMO 2024 yang digelar di Bath, Inggris, dan berhasil mendapatkan medali perunggu.
Berkat prestasinya di IMO 2024, Raymond yang masih duduk di kelas 2 SMA langsung mendapatkan beasiswa ASEAN Undergraduate Scholarship di National University of Singapore (NUS) dan memilih jurusan computer science. Dengan kata lain, ia tidak perlu lagi mencari tempat kuliah saat kelas 3 SMA.
”Aku sempat tertekan sekali menjadi veteran di IMO tahun ini, sampai agak agak stress, tetapi untungnya aku teringat lagi kenapa aku mengikuti olimpiade ini, ya, karena aku suka mengerjakan soal-soal matematika. Jadi akhirnya saya tidak menaruh beban yang lebih lagi pada diriku sendiri,” kata Raymond.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/01/07624f2c15feb7ecd5a54577f1858d21-Screenshot_2025_08_01_173531.png)
Ketiganya merasa pembinaan yang difasilitasi Puspresnas sangat membantu. Namun, mereka berharap Puspresnas bisa lebih optimal mengembangkan talenta unggul Indonesia dari yang mereka rasakan selama di Pelatnas, terutama semua pelatihan sebaiknya digelar tatap muka agar memudahkan proses pengajaran dan diskusi.
"Kalau luring itu kita bisa berkembang lebih baik lagi dengan saling membantu satu sama lain dan menciptakan persaingan yang lebih adil dalam proses seleksinya, mentoringnya juga lebih enak,” kata Jesreel.
Raymond menambahkan, bagi para adik angkatannya yang ingin mengikuti jejak mereka, mulailah membiasakan diri untuk latihan mandiri. Kemajuan teknologi internet telah memberikan generasi mereka akses belajar lebih luas.
”Bisa dicek di laman IMO dari tahun 2006 sampai 2024, misalnya, ada kumpulan soal dan solusinya, kebanyakan latihan saya dari situ,” ungkap Raymond.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/01/a50760bffbaea380bae1d0ca7475cc81-Screenshot_2025_08_01_122019.png)
Delegasi Indonesia ini didampingi Nanang Susyanto dari Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai ketua tim dan Aleams Barra dari Institut Teknologi Bandung (ITB) sebagai wakil ketua tim. Total nilai tim Indonesia naik 11 poin atau sekitar 4,4 persen dibandingkan tahun lalu, ini menunjukkan progres yang signifikan dalam pembinaan.
Kalau luring itu kita bisa berkembang lebih baik lagi dengan saling membantu satu sama lain dan menciptakan persaingan yang lebih adil dalam proses seleksinya, mentoringnya juga lebih enak.
IMO merupakan ajang olimpiade tertua dan paling prestisius di bidang matematika untuk siswa sekolah menengah. Keberhasilan Indonesia dalam ajang ini kembali menunjukkan, dengan pembinaan tepat dan dukungan berkelanjutan, anak-anak Indonesia mampu bersaing dan berprestasi di tingkat dunia.
Selain IMO, delegasi Indonesia lainnya berhasil merebut tiga medali perunggu dan dua Honorable Mention pada ajang Olimpiade Fisika Internasional atau International Physics Olympiad (IPhO) ke-55 yang diselenggarakan pada 18-24 Juli 2025 di Paris, Perancis, dan diikuti 405 siswa dari 92 negara.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/01/4af892bed71d70659cb9b458aa2ce789-download.jpg)
Medali perunggu berhasil direbut Daffa Virwandy (SMA Negeri 17 Palembang), Muhammad Rakha Naufal Maulana dari (SMA Negeri 1 Kota Serang), dan Muhammad Dakita Arfa Alfaritsi (MAN 2 Kota Malang). Sementara itu, Honorable Mention diraih oleh Arkaan Javier (MAN 2 Kota Malang) dan Gusti Komang Abhika Atmaja (SMA Kesatuan Bangsa Yogyakarta).
Kepala Puspresnas Maria Veronica Irene Herdjiono menyampaikan apresiasi atas capaian para talenta unggul Indonesia ini. Bagi pemerintah, ini merupakan buah dari proses pembinaan yang terstruktur dan berkesinambungan.
”Selamat atas prestasi gemilang yang adik-adik capai. Kami sangat bangga karena perjalanan menuju ajang ini tidak mudah. Semoga adik-adik terus menjadi talenta yang menginspirasi dan berkarakter,” kata Irene.
Penulis:
Stephanus AranditioEditor:
Evy RachmawatiPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari