Tidak seperti Asian Games 2022 atau bahkan SEA Games 2025, persiapan tim panahan Indonesia tak ideal untuk Aichi-Nagoya 2026. Yang maksimal adalah pikiran dan tekad.
23 Agt 2026 18:27 WIB · Olahraga
KOMPAS/REBIYYAH SALASAH
Tim panahan Indonesia menjalani persiapan tidak ideal menuju Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Pemusatan latihan nasional sempat terputus, uji coba juga minim. Namun, para atlet bertekad penuh untuk tampil maksimal bermodalkan kekuatan pikiran, mengandalkan visualisasi.
Status panahan sebagai cabang olahraga unggulan dalam Desain Besar Olahraga Nasional sekaligus cabang yang konsisten lolos ke Olimpiade dan menyumbang medali di Asian Games ternyata tak membuat mereka kebal. Ketika efisiensi anggaran melanda, panahan ikut terdampak.
Status terbaru sebagai juara umum SEA Games Thailand 2025 dengan enam emas pun seolah tak berarti apa-apa. Pemanah putri, Rezza Octavia, bercerita, selepas SEA Games pada akhir tahun, mereka sebenarnya hanya beristirahat sebulan, lalu memulai kembali pemusatan latihan nasional pada Februari.
Namun, pelatnas hanya bisa berjalan sebulan karena efisiensi anggaran. Alhasil, desentralisasi diterapkan. Para atlet berlatih di daerah masing-masing.
Dengan kondisi seperti ini, pasti enggak ideal. Apalagi atlet-atlet negara lain sudah ’pemanasan’ di World Cup, jam terbang bertambah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/08/21/1d0155cd-aa24-4cba-b5ed-53c069821ab2.jpg)
Latihan memang tidak terputus. Program latihan juga terus berjalan dengan dipantau daring oleh pelatih. Akan tetapi, atmosfernya berbeda ketika para atlet berlatih bersama di pelatnas.
”Dengan kondisi seperti ini, pasti enggak ideal. Apalagi atlet-atlet negara lain sudah ’pemanasan’ di World Cup, jam terbang bertambah. Karena di panahan itu, kan dinamis, kadang performa naik dan turun, itu bisa diasah di perlombaan,” kata Rezza di sela-sela latihan tim panahan di lapangan Panahan Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Kamis (20/9/2026) siang.
Siang itu, 10 pemanah Indonesia yang terdiri dari enam atlet divisi recurve dan empat atlet divisi compound berlatih akurasi dan simulasi laga. Rezza akan berlaga bersama sesama atlet putri, Diananda Choirunisa dan Fathiyya Erista Maharani, serta pemanah putra Riau Ega Agatha, Alviyanto Bagas Prasetyadi, dan Ahmad Khoirul Baasith di divisi recurve.
Adapun pada divisi compound, pemanah putra Sostar Andaru Rinaldi ditemani para pemanah putri, yaitu Ratih Zil’izati, Yurike Nina Bonita Pereira, dan Nurisa Dian Ashrifah. Mereka menjadi bagian dari 432 atlet kontingen Indonesia untuk ke Asian Games.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/08/21/12650589-fc03-4b15-93eb-ec0708247fbc.jpg)
Secara jumlah atlet, kekuatan tim panahan Indonesia berkurang dari Asian Games Hangzhou 2022. Saat itu, Indonesia mengirimkan kekuatan penuh dengan delapan atlet recurve dan delapan atlet compound. Kekuatan penuh itu menghasilkan dua medali perunggu.
Berbeda dengan edisi sebelumnya, persiapan tim panahan juga kurang optimal. Mereka kali ini juga tidak banyak melakukan uji coba internasional. Alhasil, Rezza dan kawan-kawan hanya bisa mengandalkan sejumlah kompetisi di dalam negeri untuk ajang uji coba.
”Malaysia mungkin bisa dibilang selangkah lebih maju karena cukup sering ikut lomba internasional tahun ini,” ucap Rezza tentang salah satu lawan di Asian Games.
Persiapan untuk SEA Games Thailand 2025, yang levelnya Asia Tenggara, justru lebih maksimal. Tim recurve memulai tur internasinal dengan berlomba di Piala Dunia seri Florida, Amerika Serikat, April 2025.
Lalu, tim compound dan recurve sama-sama berlomba di Piala Asia di Singapura pada Juni. Sebulan kemudian, tim compound berlomba lagi di Piala Dunia di Madrid, Spanyol.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/08/21/c75817b5-bc58-4e4c-9e54-d0010e32dc39.jpg)
Hasil pun tidak mengkhianati proses. Mereka mampu menjadi juara umum dengan enam emas, melampaui target yang diberikan Kemenpora, yaitu lima medali emas.
Meski begitu, para pemanah enggan mengeluh. Toh, waktu yang tersisa tinggal sebulan. Mereka memilih menerima kondisi tidak ideal dan memanfaatkan sisa waktu persiapan dengan baik. Rezza bertekad tampil maksimal demi mengharumkan ”Merah Putih”.
Selain tekad, yang bisa maksimal di tengah kondisi yang tidak ideal adalah kekuatan pikiran. Para pemanah umumnya melakukan visualiasi sebelum perlombaan, membayangkan seluruh proses memanah hingga atmosfer saat perlombaan. Secara berulang, mereka membayangkan sedang berlaga di Asian Games.
”Kebetulan aku punya pengalaman di Olimpiade dan Asian Games juga, pengalaman itu yang aku pakai untuk memvisualisasikan, dari mulai gerakan sampai suasananya. Jadi, ’uji coba’-nya di situ, di pikiran, he-he-he,” ucap Reza.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/08/21/3728e01d-1fcb-45ee-b3f8-fcffb6cedcb1.jpg)
Hal serupa disampaikan Riau Ega Agatha. Sebagai salah satu pemanah senior yang sudah meraih medali sejak Asian Games 2018 dan tampil di Olimpiade sejak Rio de Janeiro 2016, Ega terbiasa dengan kendala dan tantangan.
Menurut Ega, yang terpenting adalah bagaimana atlet mampu menghadapinya dan mempertahankan motivasinya. ”Kalau persiapan maksimal, keyakinan memang bisa tumbuh. Namun, tantangan selalu ada dan atlet harus selalu bisa beradaptasi,” ucapnya.
”Artinya, tahun ini kami harus lebih berusaha, menjaga motivasi agar selalu di atas,” kata peraih dua perunggu di Asian Games Hangzhou 2022 ini.
Pelatih tim panahan Hendra Setijawan mengatakan, para atlet belajar menerima kondisi tidak ideal. Mereka menyadari yang terpenting adalah tetap bisa berlatih, menjalani persiapan, dan berangkat ke perlombaan.
Kondisi tidak ideal ini jadi tantangan juga bagi para pelatih untuk membuat program latihan yang tetap bisa memaksimalkan performa anak-anak asuhannya kendati minim uji coba. Beruntungnya, kata Hendra, anak-anak asuhannya akan mendapatkan kesempatan sekali uji coba internasional sebelum Asian Games, yakni di Singapore Archery Open 2026 pada awal September.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/08/21/765612ea-a16e-49aa-80f6-f351c01e05a9.jpg)
Selepas SEA Games Thailand 2025, Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Panahan Indonesia (PP Perpani) Arsjad Rasjid sempat mengatakan, pihaknya berencana kembali mengirimkan atlet-atletnya ke perlombaan internasional. Arsjad menyadari, ajang-ajang itu mengasah mental bertanding dan kemampuan atlet.
”Tapi, kami minta dukungan pemerintah juga, sama-sama,” ujar Arsjad.
Sebulan menjelang Asian Games, pemerintah melalui Kementerian Keuangan menambah anggaran untuk pelatnas hingga menjadi Rp 222 miliar. Panahan menjadi salah satu cabor yang mendapatkan tambahan dana.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/29/468137d7b50162c42c92d0b0e01ac147-20251129_H14_KID_Panahan_New_mumed.png)
Menurut Sekretaris Jenderal PP Perpani Irawadi Hanafi, dana tambahan itu memang tidak dipakai untuk mengganti persiapan tidak ideal sebelumnya. Meski begitu, dana itu setidaknya berguna untuk memberangkatkan para atlet ke Singapore Archery Open 2026.
Dari awalnya hanya mampu mengirimkan empat atlet, PP Perpani berencana mengirimkan seluruh skuad Asian Games ke Singapura. ”Tambahan itu juga dipakai untuk upgrade alat (busur dan panah), semua dalam rangka persiapan jangka panjang untuk Olimpiade,” ucapnya.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto