Rekomendasi Kafe Sekitar Candi Borobudur, dari Pinggir Sungai hingga Perbukitan

Di sekitar Candi Borobudur, terdapat sejumlah kafe dengan beragam keunikan. Dari kafe di pinggir sungai dan perbukitan, hingga kafe tersembunyi dengan kopi lokal.

27 Nov 2024 12:00 WIB · Gaya Hidup

Oleh Abdullah Fikri Ashri

Lomba lari Bank Jateng Borobudur Marathon bakal digelar di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, pada Minggu (1/12/2024). Sekitar 10.500 pelari bakal turut berlomba dalam ajang itu. Selain menjelajahi kawasan Candi Borobudur, pelari juga bisa menikmati kafe-kafe unik di daerah pinggir sungai hingga perbukitan.

Salah satu kafe yang patut dikunjungi ialah Eloprogo Art House di Desa Wanurejo, Kecamatan Borobudur, Magelang, sekitar 4 kilometer dari Candi Borobudur. Di kafe yang dipayungi pepohonan dan berlantai bebatuan, kayu, serta tanah itu, pengunjung bisa menikmati embusan angin dengan suara deru sungai.

Berada di kafe itu serasa kembali ke alam nan hijau. Dari kedai itu, pengunjung dapat melihat pertemuan aliran Sungai Elo dan Sungai Progo yang menginspirasi nama tempat tersebut. Rumah kayu bertingkat dengan jendela kaca warna-warni juga menjadi spot foto yang menarik.

Beragam keunikan inilah yang mengundang Salengga Alifa (21) dan Dea Fatika (21) ke Eloprogo, Selasa (12/11/2024) siang. ”Datang ke sini karena lihat di Tiktok tuh tempat ini segar, sejuk, dan hijau. Dengar suara sungai juga. Ternyata, ini sesuai ekspektasi,” ungkap Salengga.

Pekerja saat membersihkan meja untuk tamu yang akan datang menikmati menu makanan serta suasana pinggir Sungai Progo di Kafe Elo Progo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Selasa (12/11/2024). Kafe dengan konsep alam terbuka sekaligus galeri seni ini menjadi salah satu pilihan untuk menikmati sajian makanan serta minuman di seputaran kawasan Borobudur. Kompas/P Raditya Mahendra Yasa 14-11-2024

Bersama Dea, ia mengendarai sepeda motor ke Eloprogo sekitar setengah jam dari pusat kota Magelang. Mahasiswi ini juga berswafoto di rumah kayu dan membuat konten video. Di sana, mereka mencicipi kentang goreng serta jus mangga sembari melihat pemandangan sungai.

Manajer Eloprogo Art House, Ahmad Abdul Khalim (27), menceritakan, tempat itu dibangun oleh pelukis Sony Santosa yang juga kakak iparnya. Mulanya, Sony membuat homestay di area seluas 2 hektar itu pada tahun 2012. Rekannya dari luar negeri pun kerap menginap di lokasi tersebut.

Namun, sejak pandemi Covid-19 merebak pada 2020, tidak ada lagi kunjungan wisatawan asing. Penginapan itu pun sepi. Tahun 2021, Sony mengubah sejumlah bangunan homestay menjadi tempat makan dengan kapasitas 10-20 orang. Tak disangka, ada saja pelanggan yang datang.

Sony pun berpikir membangun kafe seiring kasus Covid-19 melandai. ”Tahun 2023, kafe kami semakin ramai setelah viral di medsos. Saking ramainya, parkiran penuh dan kami terpaksa menolak pengunjung. Kami kan tidak pernah kepikiran bisa begini,” ujar Arim, sapaan Khalim.

Pengunjung menikmati beragam menu yang ditawarkan oleh kafe Eloprogo Art House di Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Selasa (12/11/2024).
Pemandangan tempuran Sungai Elo dan Sungai Progo tampak dari halaman kafe Eloprogo Art House di Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Selasa (12/11/2024).
Pengunjung menikmati suasana dan pemandangan aliran Sungai Progo di kafe Eloprogo Art House, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Selasa (12/11/2024).
Suasana alam dan sentuhan bangunan kayu menjadi keunikan yang ditawarkan oleh kafe Eloprogo Art House di Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Selasa (12/11/2024).
Buah segar menjadi pilihan untuk menikmati aneka jus ketika mengunjungi kafe Eloprogo Art House di Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Selasa (12/11/2024).

Kini, pengunjung dari Magelang, Yogyakarta, hingga Jakarta kerap pelesiran ke kafe Eloprogo. Bahkan, pengelola kafe menyediakan paket resepsi pernikahan. Jika ingin menginap, wisatawan bisa menjajal homestay yang ada di sana. Ada pula galeri seni yang menampilkan lukisan Sony tentang Borobudur.

Beberapa pameran pernah digelar di galeri tersebut. Bahkan, kafe itu menjadi salah satu lokasi syuting film Cinta Tak Pernah Tepat Waktu garapan Hanung Bramantyo. Film layar lebar berjudul Tebusan Dosa yang dibintangi artis Happy Salma juga menampilkan sejumlah sudut Eloprogo.

Kafe yang memberdayakan tujuh warga, termasuk tukang kebun, itu buka setiap hari dari pukul 09.00 hingga batas pemesanan 19.00 WIB. ”Tapi, kalau pengunjung masih mau nongkrong sampai subuh juga boleh. Kami enggak enak ngusir,” ucap Arim diiringi tawa.

Pekerja membantu memotret pasangan anak muda dengan latar pegunungan Menoreh yang tampak dari Kedai Bukit Rhema di Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Selasa (12/11/2024). Selain kedai untuk menikmati sajian makanan, mereka menawarkan tur wisata religius yang berada dalam satu kawasannya. Beberapa tahun ini pembangunan kafe dan restoran berkembang pesat di kawasan Candi Borobudur dengan beragam konsep yang ditawarkan. Kompas/P Raditya Mahendra Yasa 14-11-2024

Bukit doa

Kafe selanjutnya yang bisa menjadi pilihan pengunjung adalah Kedai Bukit Rhema di Desa Karangrejo, Kecamatan Borobudur, sekitar 4,7 kilometer dari Candi Borobudur. Lokasinya di area perbukitan sehingga kendaraan harus parkir dengan biaya Rp 10.000 per mobil. Area itu dikelola paguyuban pemuda.

Ada dua pilihan menuju ke kedai. Pertama, naik mobil Jeep seharga Rp 15.000 per orang. Kedua, berjalan kaki dengan medan jalan menanjak beberapa ratus meter. Terdapat tiket masuk ke kedai ini, yakni Rp 25.000 per orang. Biaya itu sudah termasuk singkong goreng dan pemandu wisata.

Pemandu akan menjelaskan riwayat Bukit Rhema yang diinisiasi Daniel Alamsjah pada 1992. Kala itu, Daniel membangun rumah doa Bukit Rhema yang juga dikenal sebagai Gereja Ayam. ”Padahal, bangunan ini sebenarnya berbentuk burung merpati,” ucap Mia, salah seorang pemandu.

Menurut Mia, bukit itu juga merupakan tempat berdoa bagi siapa pun dengan agama apa pun. Pada 2016, kawasan seluas 3 hektar ini semakin ramai pengunjung setelah film Ada Apa Dengan Cinta? (AADC) 2 menjadikan Bukit Rhema sebagai salah satu tempat syuting.

”Tahun 2017, mulailah tempat ini jadi kedai kecil-kecilan dengan menu angkringan,” ucap Dinda Bekti Pertiwi (27) dari bagian pemasaran Kedai Bukit Rhema. Seiring berjalannya waktu, lantai dua area itu menjelma kafe dan restoran. Fasilitas bermain anak hingga spot foto juga dibikin pada Juli lalu.

Bukit Rhema atau dikenal dengan sebutan Gereja Ayam menjadi salah satu destinasi wisata di Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Selasa (12/11/2024).
Pengunjung menikmati pemandangan dari atas bukit di Kedai Bukit Rhema di Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Selasa (12/11/2024).
Koleksi foto yang menjadi pajangan pada sebuah sudut dinding bangunan Kedai Bukit Rhema di Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Selasa (12/11/2024).
Pemandangan perbukitan Menoreh menjadi latar bagi pengunjung untuk menikmati alam yang ditawarkan Kedai Bukit Rhema di Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Selasa (12/11/2024).

Bangunan tujuh lantai ini pun ramai pengunjung. Saat libur panjang, kata Dinda, sebanyak 1.500 orang bisa datang per hari. Mereka sampai antre hingga dua jam untuk naik ke lantai tertinggi atau mahkota burung. Dari sana, siapa pun bisa melihat Candi Borobudur jika cuaca cerah.

Pengelola Kedai Bukit Rhema menyediakan paket pemandangan matahari terbit serta sarapan dengan biaya Rp 150.000 per orang. Syarat pemesanannya minimal empat orang. Menu spesial di kedai ini, antara lain, ayam bakar Bukit Rhema dan kopi cinta dengan harga Rp 38.000 serta Rp 27.000.

”Kami juga memberdayakan sekitar 20 ibu-ibu di sekitar sini untuk membuat singkong goreng,” kata Dinda. Dengan karyawan 30 orang, kedai ini beroperasi setiap hari dari pukul 06.00-18.00. Sejumlah pesohor, seperti Ariel Noah hingga Raffi Ahmad, pernah berkunjung ke kedai tersebut.

Segelas kopi robusta dengan tekstur rasa moka yang kuat menjadi ciri khas dari Rumah Kopi Borobudur, Desa Majaksingi, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Selasa (12/11/2024). Rumah Kopi Borobudur tersebut merupakan hasil dari pemberdayaan ekonomi warga melalui budidaya tanaman kopi hingga proses produksinya. Kompas/P Raditya Mahendra Yasa 14-11-2024

Kopi Borobudur

Kafe lainnya di sekitar Candi Borobudur yang bisa jadi rekomendasi ialah Borobudur Coffee di Dusun Kerugbatur, Desa Majaksingi, Kecamatan Borobudur. Meski hanya sekira 5 kilometer atau 15 menit dari kawasan candi, lokasi kedai ini ”tersembunyi”. Peta digital pun belum presisi menangkap titiknya.

Mencari kafe ini butuh perjuangan berat. Pengunjung harus naik-turun bukit, menyusuri jalan sempit, lalu berjibaku dengan tikungan curam nan tajam. Akan tetapi, jerih payah itu terbayar lunas ketika sampai di kafe sekaligus rumah Yulius Ismoyo (63) yang bangunannya masih tradisional.

Apalagi, ketika istrinya, Theresia Winarni (55), menyeduh kopi. Aroma kopi sontak tercium. Sembari menyeruput kopi yang kental rasa mokanya itu, pengunjung bisa menikmati udara sejuk dan memandang Bukit Menoreh. ”Kalau sore, ada sunset (matahari terbenam),” ucap Winarni.

Menariknya, kopi yang disajikan itu berasal dari petani setempat. Sejak 2016, Ismoyo menggerakkan warga untuk mengurus pohon kopinya. ”Waktu itu, saya ingin warga tidak menjual tanahnya. Berapa pun yang didapat, uang habis. Tapi, kalau tanah, enggak,” ujarnya.

Pengunjung menikmati kopi dan suasana pedesaan yang ditawarkan di kafe Borobudur Coffee, Desa Majaksingi, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Selasa (12/11/2024).
Winarni, salah satu warga yang memiliki pengetahuan tentang proses kopi dari panen hingga pascapanen, sedang beraktivitas di kafe Borobudur Coffee, Desa Majaksingi, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Selasa (12/11/2024).
Pengunjung membeli dua bungkus kopi jenis robusta dan arabika di kafe Borobudur Coffee, Desa Majaksingi, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Selasa (12/11/2024).
Yulius Ismoyo dan Theresia Winarni, pasangan suami istri yang turut memberdayakan kopi di desanya dan mengelola kafe Borobudur Coffee di Desa Majaksingi, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Selasa (12/11/2024).

Dengan dukungan pemerintah daerah dan PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, & Ratu Boko, ia mengangkat pamor kopi setempat. Ratusan pohon kopi robusta mulai terurus. Sebagai hilirnya, ia membangun kedai Borobudur Coffee yang menampung panen petani. Pelatihan budidaya hingga barista pun digelar di kedai.

Kini, dalam sebulan Ismoyo menghabiskan 50-60 kg biji kopi, termasuk yang dijual ke sejumlah kafe di Magelang. Harga segelas kopi di kedainya berkisar Rp 10.000-Rp 18.000. Konsumen juga dapat membeli kopi bubuk kemasan 100 gram seharga Rp 25.000-Rp 30.000.

Tidak hanya wisatawan nusantara, turis pun pernah pelesiran ke tempatnya. Di buku tamunya, tertulis pengunjung dari Jerman, Belanda, Inggris, hingga Perancis. Dalam catatannya, mereka memuji hangatnya sambutan Ismoyo, indahnya pemandangan, serta nikmatnya kopi buatannya.

Quote

Mencari kafe ini butuh perjuangan berat. Pengunjung harus naik-turun bukit, menyusuri jalan sempit, lalu berjibaku dengan tikungan curam nan tajam.

Borobudur Coffee yang memberdayakan empat anak muda kini menjelma panggung bagi kopi lokal. ”Kami buka 24 jam. Makanya, rumah ini tidak boleh kosong. Kalau saya keluar, masih ada anak-anak barista yang jaga,” ucap bapak dua anak ini.

Beragam kafe unik di sekitar Candi Borobudur dapat menjadi tempat singgah pengunjung, terutama pelari Borobudur Marathon. Tinggal pilih, mau kafe di dekat sungai, perbukitan, atau minum kopi lokal. Bila penasaran, kunjungi saja ketiganya. Selamat menikmati!


Kerabat Kerja

Penulis:

Abdullah Fikri Ashri
 | 

Editor:

Haris Firdaus