Rilis foto-foto aktivis hak sipil di Amerika Serikat yang selama ini belum dipublikasikan membuka ingatan dalam penceritaan periode sejarah yang transformatif.
06 Jan 2026 07:07 WIB · Klinik Foto
AP Photo/Paul Sancya
Suatu hari di awal Desember 1955, Rosa Parks, seorang perempuan Afro-Amerika, pulang dari kerjanya sebagai penjahit dengan naik bus umum di Montgomery, ibu kota Negara Bagian Alabama, Amerika Serikat. Saat naik, sopir bus itu minta agar Rosa Parks yang duduk di depan untuk pindah ke tempat duduk di belakang, yang disediakan untuk orang kulit berwarna. Ketika ia menolak pindah, Rosa Parks ditangkap polisi, diadili dan dinyatakan bersalah melanggar undang-undang pemisahan ras yang berlaku waktu itu.
Ini bukan suatu kebetulan. Rosa Parks sudah sejak lama merasa tersinggung karena diharuskan duduk di bagian belakang. Bahkan, 12 tahun sebelumnya, Rosa Parks pernah diusir dari bus karena tidak mau pindah duduk ke belakang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/05/43a040dffd77350763af4970fdaa6205-AP551861564632.jpg)
Rosa Parks adalah anggota sebuah organisasi nasional yang memperjuangkan hak-hak kaum kulit hitam Afro-Amerika. Ia ikut dalam kampanye partisipasi pemilu. Waktu itu, tindakan tersebut adalah kegiatan yang berbahaya. Ia mendapat dukungan penuh dari sebuah organisasi dalam protes itu. Organisasi ini dipimpin seorang pemuda bernama Martin Luther King Jr. Pemuda ini kemudian namanya melejit secara nasional.
Penahanan Rosa Parks dan pidato-pidato Martin Luther King Jr membuat sejumlah besar warga kulit hitam tidak mau naik bus selama 13 bulan. Banyak di antara mereka harus berjalan kaki beberapa kilometer ke tempat kerja setiap hari. Gerakan boikot naik bus ini menggema ke seluruh dunia.
Akhirnya, setelah setahun boikot dilancarkan, Mahkamah Agung AS memutuskan bahwa undang-undang pemisahan tempat duduk dalam bus itu melanggar konstitusi. Untuk pertama kali dalam sejarah Amerika, warga non-kulit putih boleh duduk di mana pun mereka mau dalam bus umum.
Selama gerakan boikot bus tersebut dilancarkan, aktivitas Rosa Parks dan warga kulit hitam banyak menghiasi pemberitaan media-media di AS. Sepuluh tahun kemudian, tindakan Rosa Parks itu membuahkan pembauran di restoran-restoran dan fasilitas-fasilitas publik.
Pada awal Desember 2025, menandai 70 tahun aksi boikot tersebut dilancarkan, Museum Rosa Parks di Montgomery merilis foto-foto Rosa Parks dan aktivitasnya dalam gerakan hak sipil yang selama ini belum pernah dipublikasikan. Menurut direktur museum, Donna Beisel, rilis foto-foto ini sebagai pengingat bahwa aktivisme Rosa Parks dimulai sebelum dan meluas jauh melampaui tindakan pembangkangannya yang paling terkenal. ”Ini menunjukkan siapa Nona Parks sebenarnya, baik sebagai pribadi maupun sebagai aktivis,” kata Beisel.
Foto-foto kegiatan perempuan yang merupakan ikon Gerakan Hak Sipil tersebut terpampang di berbagai media menggambarkan aspek-aspek warisannya yang sering diabaikan. Foto-foto tersebut diambil oleh mendiang fotografer hak sipil, Matt Herron, dan menggambarkan Parks dalam pawai dari Selma ke Montgomery pada tahun 1965—perjalanan selama lima hari sejauh 54 mil (87 kilometer) yang sering dianggap sebagai pendorong momentum politik untuk Undang-Undang Hak Pilih AS tahun 1965.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/05/5faf2bb37be5a35537ab7dd76a75bf52-AP25340747085329.jpg)
Pelajaran sejarah cenderung mendefinisikan Parks berdasarkan tindakan pembangkangan sipilnya satu dekade sebelumnya, pada 1 Desember 1955, yang meluncurkan Boikot Bus Montgomery. Dengan dirilisnya foto-foto ini, publik menjadi lebih lebih paham kalau Rosa Parks juga terus memperjuangkan persamaan hak sipil tidak hanya saat boikot bus.
Ada banyak foto lain yang menempatkan Parks di antara ikon hak sipil lainnya yang menghadiri pawai tersebut, termasuk beberapa yang diambil oleh Herron. Namun, yang lain tidak pernah dicetak atau dipamerkan dalam berbagai pameran dan buku fotografer tersebut sepanjang hidupnya.
Herron pindah ke Jackson, Mississippi, bersama istri dan dua anak kecilnya pada tahun 1963 setelah aktivis hak sipil, Medgar Evers, dibunuh. Selama dua tahun berikutnya, foto-fotonya mengabadikan beberapa tokoh dan peristiwa paling penting pada masa itu. Namun, dalam sebagian besar fotonya, lensa Herron tertuju pada orang-orang biasa yang memberdayakan para pemimpin hak sipil untuk melakukan perubahan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/05/e43f0bf235403bdeda868a393bfe982a-AP25340747346808.jpg)
Istri Herron, Jeannine Herron (88), mengatakan bahwa foto-foto yang dipublikasikan ini ditemukan dari lembar kontak yang disimpan di perpustakaan Universitas Stanford. Foto-foto tersebut tidak dipilih untuk dicetak pada saat itu karena buram atau menampilkan orang-orang yang namanya kurang dikenal. Dalam kasus Parks, foto-foto baru menunjukkan dia duduk di antara kerumunan, memalingkan muka dari kamera.
Jeannine Herron kemudian bergabung dengan para sejarawan dan aktivis hak sipil yang masih hidup di Alabama untuk menyatukan kembali karya tersebut dengan komunitas yang digambarkannya.
Salah satu subyek yang paling sering dipotret Herron selama pawai Selma ke Montgomery adalah seorang perempuan berusia 20 tahun dari Marion, Alabama, bernama Doris Wilson. Beberapa dekade setelah ia mengabadikannya saat ia menjalani pawai bersejarah itu, ia masih menyatakan keinginannya untuk berhubungan kembali dengannya.
Herron meninggal pada tahun 2020, sebelum ia memiliki kesempatan untuk berhubungan kembali dengan Wilson. Namun, pada awal Desember 2025, Wilson bergabung dengan penduduk Marion lainnya, sebuah kota perdesaan di Black Belt Alabama. Berkumpul di auditorium di Lincoln Normal School, sebuah perguruan tinggi yang didirikan oleh sembilan orang kulit hitam yang dulunya diperbudak setelah Perang Sipil, orang-orang melihat foto-foto hitam putih yang diambil Herron selama bertahun-tahun, menunjuk wajah-wajah atau latar belakang yang familiar.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/05/873a94bbc11b465c5a5ab2426c2416a9-AP25340739215463.jpg)
Beberapa foto sudah dikenali bagi perempuan berusia 80 tahun itu. Namun, yang lain, termasuk foto-foto di mana dirinya menjadi subyeknya, belum pernah dilihat Wilson sebelumnya. Salah satu foto menggambarkan Wilson sedang mendapatkan perawatan di tenda medis di sepanjang jalur pawai. Wilson mengalami lecet parah di kakinya karena berjalan lebih dari 10 mil setiap hari.
Dokter yang merawat lukanya, June Finer, juga terbang dari New York untuk bertemu kembali dengan Wilson untuk pertama kali sejak Finer dengan lembut merawat kaki telanjang Wilson enam dekade sebelumnya. Finer (90) mengatakan, dia bahkan tidak menyadari bahwa orang-orang sedang mengambil foto—dia sangat fokus pada keselamatan para peserta pawai.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/05/e6773aa4d4e64515e487874ebc5a8d6e-AP25340746610532.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/05/64c33bcaab6b9d304eb15e99d559c754-AP25341796585296.jpg)
Robert E Wilson, putra sulung Wilson, mengatakan bahwa dia belum pernah melihat foto-foto ibunya yang dipajang di gedung sekolah lama tempat ibunya bersekolah. Dia masih kecil ketika ibunya menyelesaikan pawai tersebut. ”Saya sangat terkejut. Dia selalu mengatakan bahwa dia ikut dalam pawai, tetapi saya tidak pernah tahu bahwa dia sekuat itu,” kata pria berusia 62 tahun yang dibesarkan di Marion itu.
Rosa Parks meninggal karena sebab alami di rumahnya di Detroit pada 24 Oktober 2005, di usia 92 tahun. Kongres AS menjadikan Rosa Parks perempuan pertama yang jenazahnya disemayamkan di bawah kubah utama Gedung Capitol. Penghormatan ini biasanya hanya diberikan untuk presiden dan pahlawan perang.
Puluhan ribu orang datang memberikan penghormatan terakhir. Presiden Bush memberikan penghormatan di sebuah gereja di Washington. Sehari kemudian, mantan Presiden Bill Clinton memberikan penghormatan di sebuah gereja di Detroit, di mana Rosa Parks pernah tinggal selama hampir 50 tahun.
Di gereja Rosa Parks di Alabama, Menteri Luar Negeri saat itu, Condoleeza Rice, yang juga berkulit hitam dan berasal dari Alabama, mengatakan, ”Tanpa Rosa Parks, mungkin saya tidak akan berdiri di sini sebagai Menteri Luar Negeri.”
Sebelum meninggal, Rosa Parks memperoleh Piagam Penghormatan Kongres. Kota Montgomery yang dulu pernah mengusirnya, memberikan penghargaan serupa.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/05/8670762b5ad64295b16508b575977a9a-AP9911280890.jpg)
Rosa Parks tidak senang menjadi terkenal. Ia mengatakan, ia hanya ingin mengilhami orang lain, terutama kaum muda di seluruh dunia, ”Agar mereka memiliki rasa pengabdian untuk membuat hidup mereka sendiri dan orang lain berguna.”
Rosa Parks menunjukkan bahwa seorang warga biasa dapat mengubah suatu bangsa. Memang diperlukan keberanian dan keberanian Rosa Parks sungguh sangat luar biasa.
Kini dengan dipubikasikan arsip-arsip foto tersebut membuka ingatan publik AS akan satu masa penting yang kini dikenang sebagai titik penting sejarah perjuangan hak sipil. Foto-foto itu adalah cara penting untuk menyoroti orang-orang yang seringkali terlupakan dalam penceritaan periode sejarah yang transformatif itu (AP).
Penulis:
Iwan SetiyawanEditor:
Heru Sri KumoroPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan