Serena Williams bertanding setelah mengucap salam perpisahan pada dunia tenis profesional, empat tahun lalu. Serena memenangi laga pertamanya bersama Victoria Mboko.
10 Jun 2026 16:16 WIB · Olahraga
AFP/Henry Nicholls
Ada suasana berbeda di lapangan rumput Queen’s Club, London, Inggris, Selasa (9/6/2026). Pada dua pertandingan awal di Andy Murray Arena, penonton terfokus pada penampilan atlet tuan rumah, Emma Raducanu, dan Katie Boulter. Setelah keduanya memenangi pertandingan, sebagian penonton hanya beranjak sebentar, lalu kembali memenuhi tribune stadion pada pertandingan keempat.
Pada pertandingan sesi sore waktu setempat, penonton menjadi saksi kembalinya ”Sang Ratu”. Mereka menyambut petenis Amerika Serikat, Serena Williams, dengan standing ovation yang berjalan memasuki stadion bersama petenis Kanada berusia 19 tahun, Victoria Mboko.
Kedua petenis itu bermain bersama pada babak pertama ganda putri melawan dua petenis unggulan ketiga yang juga berpasangan untuk pertama kalinya, Nicole Melichar-Martinez dan Erin Routliffe (AS/Selandia Baru).
Di tribune dan kompleks lapangan tenis yang digunakan untuk menggelar turnamen ATP/WTA Queen’s Club sejak 1890 ini, banyak penonton mengenakan kaus yang merepresentasikan bahwa mereka datang untuk Serena. ”Atlet wanita terhebat” atau ”Apakah Anda melihat gelar-gelar saya?” tertulis pada kaus-kaus mereka.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/10/75aa5e0548ef2e62570944e9fbd4d00d-Britain_Queen_s_Club_Tennis.jpeg)
Kegembiraan itu tidak terbatas di kalangan penonton. Di ruang pemain, ketika nama Serena diumumkan untuk bertanding, semua menoleh. Petenis Filipina, Alexandra Eala, yang sedang melakukan wawancara, berhenti di tengah kalimat. ”Ya Tuhan,” serunya. ”Maaf, ini sungguh luar biasa mendengar namanya.”
Satu jam 30 menit setelah pengumuman itu, Serena/Mboko mengalahkan pasangan Melichar-Martinez/Erin Routliffe dengan skor 7-6(2), 6-2. Pada perempat final, mereka akan menghadapi Leylah Fernandez/Laura Siegemund yang mengalahkan Alexandra Panova/Demi Schuurs 6-2, 2-6 (9).
Melihatnya di TV dan pada akhirnya bisa berbicara langsung dengannya terasa sangat berbeda. Dia sangat baik dan sangat menarik.
Mboko, yang bermain di arena profesional sejak 2022, bermain solid, terutama dari sisi backhand. Serena punya banyak catatan untuk dibawa pada laga berikutnya, tetapi tetap memukau untuk petenis dengan usia 44 tahun dan sudah dua kali melahirkan.
Serena masih punya servis keras, yang berkecepatan hingga 193 km kilometer per jam, pada pertandingan tersebut. Saat servis pada gim terakhir, dia membuat dua as beruntun. Poin terakhir didapat berkat servis kerasnya yang tak bisa dikembalikan lawan dengan baik.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/10/e67a070f83930f0ce7596a63c04787cb-serena_mboko_tos.jpeg)
Dalam satu momen, Serena meraih winner ketika mengembalikan smes Routliffe melalui backhand sambil berlari. Bola meluncur mendekati bagian belakang lapangan, melewati Melichar-Martinez/Routliffe dan yang lebih dekat ke net dan ini menjadi pukulan terbaik pada pertandingan.
”Ada satu pukulan yang Anda lakukan. Ingat, Anda sedang berlari, melakukan pukulan backhand dan saya seperti, ya ampun, dia mendapatkan poin!” kata Mboko pada Serena dalam konferensi pers.
Ketika Mboko memuji, Serena hanya memberi nilai C- untuk penampilannya. ”Berdasarkan semua elemen dan dengan pertimbangan bahwa ini lapangan rumput, lapangan sulit…. Rumput, empat tahun. Secara keseluruhan, saya layak mendapat nilai itu,” kata Serena yang justru lebih banyak memuji Mboko.
”Saya sangat senang bermain bersama Victoria. Kami belum pernah bermain bersama, tetapi rasanya sangat alami bermain dengannya. Dia mampu bermain baik pada poin-poin penting dan saya dapat mengandalkannya,” katanya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/10/f152349cbc3af12d7caba0d94d4ff651-serena_adira.jpg)
Serena menekankan bawah kemenangan dan performa bukan menjadi fokus baginya. Laga tersebut tentang menikmati momen dirinya sendiri.
Maka, kata-kata pertama yang dia ucapkan dalam wawancara dengan mantan petenis AS, Chris Eubanks, di lapangan adalah, ”Saya bersenang-senang di lapangan.”
Setelah wawancara itu, suami Serena, Alex Ohanian, beserta dua putri mereka, Olympia dan Adira, menghampiri. Mereka memeluk dan mencium Serena, lalu melakukan tos dengan Mboko. Adira, yang berusia dua tahun, mengatakan bahwa dia ingin pergi ke toko mainan, sementara Olympia (8) bertanya pada ibunya menu makan malam mereka.
Penggemar Serena menyambut kemenangan itu dengan antusias. ”Saya tidak pernah berpikir bahwa saya akan mendapat kesempatan menonton Serena secara langsung karena dia sudah pensiun empat tahun lalu. Apa yang dia lakukan sebagai atlet dan perempuan sangat luar biasa,” kata Hannah Tweedie yang datang dari Kent, kota berjarak sekitar 64 km di selatan London.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/10/df25eaaae53b3aa1507d2d2def4e9910-serena_cover.jpg)
Julion Laborde, dari New Orleans, dan Scott Graham dari Glasgow adalah penggemar setia Serena. Mereka punya momen yang paling mengesankan dari Serena, yaitu ketika menjuarai Wimbledon 2008 dengan mengalahkan kakaknya, Venus Williams, di final.
”Saya terobsesi sejak saat itu. Kukunya yang panjang, perhiasannya, dan fakta bahwa mereka adalah saudara perempuan yang bermain di final. Melihat bakat, teknik, dan energi yang mereka bawa, saya langsung tertarik. Dialah alasan saya terjun ke tenis. Saya memainkannya sepanjang waktu dan saya menonton semua cuplikannya di Youtube,” tutur Laborde.
Penampilan Serena di WTA Queen’s Club menjadi yang pertama sejak mengucapkan selamat tinggal pada dunia tenis profesional, September 2022. Dia menjalani pertandingan terakhir pada babak ketiga AS Terbuka ketika melawan Ajla Tomljanovic.
Saat mengumumkan akan meninggalkan kompetisi, melalui tulisan yang dimuat di Vogue edisi September 2022, Serena tak menggunakan kata pensiun karena dia tak menyukai kata itu. Serena memilih bahwa dia berevolusi.
Bersaing di tenis profesional sejak 1995, Serena memiliki 23 gelar juara Grand Slam, termasuk tujuh di Wimbledon yang akan berlangsung 29 Juni-12 Juli pada 2026. Di ganda putri, dia memiliki 14 gelar ganda Grand Slam, termasuk enam di Wimbledon, semuanya bersama Venus.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/10/f2b6b25e6e1ede5e3e60577ac7351171-serena_practice.jpg)
Lalu, mengapa Serena, yang berulang kali mengatakan bahwa dia ”tidak perlu membuktikan apa pun”, kembali ke dunia tenis profesional pada usia 44 tahun? Dia menjawab pertanyaan itu pada jurnalis, sebelum WTA London dimulai, hanya dengan dua kata, ”mengapa tidak?”
”Pada bulan Desember, saya jelas tidak memikirkannya. Lalu, saya berbicara dengan beberapa orang dan berdiskusi tentang berbagai kemungkinan, salah satunya tentang kembali ke lapangan untuk sesuatu yang sedikit berbeda dan bersenang-senang. Pada akhirnya, saya berpikir, ’mengapa tidak?’” tuturnya.
Ada satu motivasi yang muncul. Seperti Novak Djokovic, yang mengatakan bahwa ia didorong oleh impian agar anak-anaknya menyaksikannya memenangi Wimbledon, Serena ingin putrinya melihat secara langsung apa yang mungkin terjadi melalui kerja keras dan ketekunan.
Untuk mewujudkan keinginan itu, Serena memilih Mboko sebagai partnernya. Atlet peringkat kesembilan dunia itu menerima pesan kejutan tersebut saat berkompetisi di Strasbourg, Perancis, 17-23 Mei.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/10/f0b5b192d8db729b23ca6845e07dbc07-APTOPIX_Britain_Queen_s_Club_Tennis.jpeg)
”Bagaimana aku bisa menolak ajakan itu?” kata Mboko saat diwawancarai CBC Sports.
Mboko, petenis Kanada keturunan Kongo, baru lahir ketika Serena sudah memiliki tujuh gelar Grand Slam. Dia ingat ketika pertama kali menyaksikan Serena pada usia enam tahun saat meraih gelar juara AS Terbuka 2012. Dia pun tak pernah melewatkan penampilan Serena saat idolanya itu bertanding di Kanada.
”Melihatnya di TV dan pada akhirnya bisa berbicara langsung dengannya terasa sangat berbeda. Dia sangat baik dan sangat menarik. Menurutku, dia juga sangat lucu. Jadi aku menemukan banyak kenyamanan bersamanya,” tutur Mboko.
Sementara Mboko menarik perhatian Serena ketika tampil dalam turnamen WTA 1000 Montreal pada 2025. Saat itu, Mboko menjadi bahan perbincangan karena menjadi juara sebagai petenis wild card berperingkat ke-85 dunia. Dalam perjalanan menuju juara, dia mengalahkan Cori GAuff, Elena Rybakina, dan Naomi Osaka.
Bukan hanya permainan yang mengesankan bagi Serena. ”Saya terkesan dengan sikapnya. Yang paling saya sukai darinya adalah saat dia bermain lagi, dia tetap menang. Kadang-kadang, Anda menang satu kali dan kemudian Anda mengalami sedikit penurunan di mana itu sebenarnya normal. Namun, Victoria bisa bermain baik secara beruntun. Saya suka dengan sikapnya,” kata Serena.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/10/c107e66d091b5732b1e028c83fea703a-serena_serve.jpeg)
Seusai merasakan duet dengan sang ratu, Mboko bercerita bahwa dia belajar memahami cara berpikir dan bermain Serena. ”Banyak hal yang bisa saya pelajari darinya,” katanya.
Untuk sementara, duet Serena/Mboko hanya akan terjadi di London. Mereka tidak akan berpasangan di WTA Berlin, 15-21 Juni, turnamen yang juga memberi Serena wild card.
Adapun tentang Wimbledon, Serena pun tak ingin terburu-buru membuat keputusan. ”Saya akan menjalani semuanya hari per hari. Saya masih punya sedikit waktu untuk mengambil keputusan. Mereka (panitia turnamen Wimbledon) sangat baik dalam memberi saya ruang dan waktu untuk mengambil keputusan,” kata Serena. (AP/AFP)
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Didik Durianto