SEA Games dan Tantangan Regenerasi Atlet Indonesia

SEA Games Thailand 2025 menjadi panggung pembuktian atlet-atlet muda untuk berprestasi di tingkat internasional. Program pembinaan jangka panjang sangat diperlukan.

18 Des 2025 10:00 WIB · Olahraga

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN

Oleh Debora Laksmi Indraswari

SEA Games Thailand 2025 menjadi panggung pembuktian atlet-atlet muda untuk berprestasi di tingkat internasional. Euforia sejumlah kemenangan atlet muda di SEA Games itu perlu ditindaklanjuti dengan program pembinaan jangka panjang dan regenerasi yang matang.

SEA Games 2025 Thailand menjadi ajang spesial bagi atlet-atlet muda kebanggaan Indonesia. Pada event olahraga di kawasan ini para atlet muda berhasil membuktikan prestasinya sebelum mereka akan melebarkan sayapnya di pertandingan yang lebih tinggi lagi di level internasional. Sejumlah atlet yang tergolong junior, bahkan debutan, berhasil menyumbangkan medali di ajang SEA Games 2025 Thailand.

Jason Donovan Yusuf, perenang debutan yang baru berusia 18 tahun, misalnya, berhasil menyumbangkan dua emas di cabang olahraga (cabor) renang 50 meter dan 100 meter gaya punggung. Tidak mau kalah, Alma Ariella Tsany (16), atlet panjat tebing yang baru berlaga di ajang internasional dua tahun lalu, berhasil menyabet emas pada nomor lead putri. Berdampingan dengan Alma, Ardana Cikal Damarwulan (15) juga menyumbangkan emas di cabor panjat tebing lead putra dalam penampilan pertamanya di ajang SEA Games. Di cabang olahraga lain, ada Basral Graito Hutomo (18) yang menang dramatis dan meraih medali emas di cabang olahraga extreme sports nomor skateboard street putra.

Sejumlah atlet muda lainnya yang kembali mewakili Indonesia di SEA Games juga mengulang kemenangannya di ajang yang sama. Salah satunya adalah Masniari Wolf, atlet perenang putri berusia 20 tahun, pada SEA Games 2025 resmi mencetak hattrick prestasi di cabor renang nomor gaya punggung putri setelah menyabet emas pada SEA Games 2021 dan 2023. Selain itu, ada Luluk Diana Tri Wijayana (20), lifter putri yang meraih emas di SEA Games tahun ini setelah pada SEA Games 2023 lalu juga sempat meraih perunggu.

Pelari jarak jauh Indonesia, Odekta Elvina Naibaho (tengah), melakukan hormat saat diperkenalkan sebelum memulai perlombaan nomor maraton SEA Games di Happy & Healthy Bike Lane, Bangkok, Thailand, Minggu (14/12/2025).

Masih banyak atlet muda lainnya yang berkontribusi dalam perolehan medali bagi tim Indonesia yang hingga Rabu, 17 Desember 2025 (pukul 14.00 WIB), telah terkumpul total 222 medali. Capaian medali yang berlimpah ini juga terjadi pada perhelatan SEA Games sebelumnya, setidaknya pada tahun 2021 dan 2023. Pada 2021, misalnya, setidaknya ada 40 atlet debutan yang berhasil menyumbangkan medali bagi Indonesia. Jumlah itu belum termasuk perolehan atlet dari sejumlah cabang olahraga beregu lainnya.

Prestasi yang ditorehkan para atlet muda pada SEA Games ini memang sudah ditargetkan sejak awal. Dengan susunan tim kontingen SEA Games yang didominasi atlet-atlet muda dan debutan membuat ajang SEA Games ini menjadi ajang pembuktian menuju kiprah lebih luas skala internasional. Karena itu, SEA Games menjadi target untuk pembinaan jangka panjang yang artinya mengedepankan kesempatan bagi atlet-atlet muda potensial untuk maju di kancah regional. Ajang ini juga menjadi sarana persiapan dan uji coba atlet-atlet muda untuk melangkah ke tingkat yang lebih tinggi, seperti Asian Games bahkan Olimpiade.

Tantangan regenerasi atlet

Meskipun demikian, dalam ajang SEA Games ini juga memunculkan dilema ketika dihadapkan pada target medali dan kesempatan bagi para atlet muda. Pada sejumlah cabor, ambisi untuk bersaing memperebutkan medali terkadang menyurutkan kesempatan para atlet muda untuk turun berlaga.

Situasi itu terjadi di kontingen atlet bulu tangkis Indonesia. Susunan tim putra dan putri yang awalnya diisi oleh atlet-atlet muda dengan pengalaman 1-3 tahun di kejuaraan BWF World Tour dan bahkan debutan terpaksa berubah.

Atlet debutan tunggal putri Thalita Ramadhani Wiryawan dan ganda putra Raymond Indra/Nikolaus Joaquin terpaksa diganti seniornya, Gregoria Mariska Tunjung dan Sabar Karyaman Gutama/Mohammad Reza Pahlevi Isfahani. Perubahan ini karena ada target lebih besar yang ingin dicapai di SEA Games, dari hanya satu emas menjadi dua emas. Selain itu, perubahan susunan tim juga dilakukan melihat susunan tim Thailand dan Malaysia yang juga menurunkan atlet-atlet utamanya (Kompas, 1 Desember 2025).

Selebrasi para pemain bulu tangkis beregu putra usai pebulu tangkis tunggal putra Indonesia Mohammad Zaki Ubaidillah menang atas pebulu tangkis Malaysia Justin Hoh di laga final nomor beregu putra SEA Games Thailand 2025 di Gymnasium 4 Universitas Thammasat, Rangsit, Bangkok, Thailand, Rabu (10/12/2025). Pebulu tangkis tunggal putra Indonesia Mohammad Zaki Ubaidillah menang atas pebulu tangkis tunggal putra Malaysia Justin Hoh dengan poin 21-12, 21-14.

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)
10-12-2025

Indonesia sebagai salah satu negara di Asia Tenggara yang merajai bulu tangkis di tingkat dunia tentu tidak mau kehilangan peluang untuk menyumbang banyak emas di SEA Games. Hanya saja, alasan ini sering kali menunda atlet muda untuk tampil membela Indonesia secara kolektif pada kompetisi olahraga rutin seperti SEA Games meskipun ada kuota khusus untuk atlet muda.

Selain dilema tersebut, upaya pembinaan atlet muda juga terkendala efisiensi anggaran. Pemangkasan anggaran di Kementerian Pemuda dan Olahraga berimbas pada berkurangnya program pembinaan dan persiapan kompetisi. Di pelatnas renang, contohnya, efisiensi anggaran menyebabkan pengurangan program sehingga hanya dapat membiayai atlet yang masuk pelatnas. Fasilitas yang diberikan pun terbatas, tanpa kamp di luar negeri dan minim kompetisi. Tidak hanya itu, sejumlah pelatnas seperti pada cabor karate dibubarkan sehingga para atlet harus dipulangkan.

Keterbatasan anggaran

Tahun ini, Kemenpora menghadapi pemangkasan anggaran sebesar 55,59 persen dari pagu definitif TA 2025 sebesar Rp 2,3 triliun menjadi Rp 1,29 triliun. Pemangkasan anggaran ini sangat berdampak pada pembinaan dan peningkatan prestasi atlet. Hal ini dapat dilihat dari perbandingan pagu anggaran bidang peningkatan prestasi olahraga tahun sebelumnya.

Pagu anggaran TA 2024 untuk bidang tersebut mencapai Rp 1,35 triliun. Akibat pemangkasan anggaran tahun ini, pagu anggaran TA 2025 pascapenyesuaian untuk bidang peningkatan prestasi olahraga hanya Rp 473,5 miliar atau berkurang lebih dari separuhnya. Pagu anggaran TA 2024 untuk bidang tersebut bahkan lebih besar dari total pagu anggaran Kemenpora tahun ini.

Dengan selisih anggaran yang cukup besar tersebuti tidak heran jika banyak penyesuaian program-program yang dilakukan. Selain penyesuaian skala prioritas program, efisiensi anggaran ini juga membuat pengiriman atlet-atlet untuk mengikuti kejuaraan internasional lebih ketat. Jumlah atlet yang dikirimkan terbatas, mengikuti ketersediaan anggaran.

Keterbatasan anggaran itu dikhawatirkan akan terus membatasi pembinaan dan peningkatan prestasi atlet-atlet muda seperti yang dialami di sejumlah cabor awal tahun ini. Padahal untuk regenerasi atlet, keikutsertaan atlet di kejuaraan-kejuaraan nasional hingga internasional menjadi hal yang sangat penting. Selain itu, pelatihan dan pembinaan atlet muda juga membutuhkan waktu yang cukup panjang dan konsistensi. Sementara itu, pemangkasan anggaran ini membuat agenda pembinaan dan pelatihan terbatas dan tidak konsisten.

Pasangan ganda putri Indonesia, Aldila Sutjiadi/Janice Tjen, melawan wakil Filipina, Stefi Aludo/Rennielle Madis pada babak semifinal SEA Games Thailand 2025 di National Tennis Development Centre, Muang Thong Thani, Nonthaburi, Thailand, Rabu (17/12/2025) siang. Aldila/Janice menang dengan skor 6-1, 6-1.

Hal-hal tersebut menjadi catatan penting untuk pembinaan dan pengembangan atlet muda di tahun-tahun mendatang. Dukungan pembiayaan sangat diperlukan dalam pembinaan jangka panjang bagi atlet-atlet muda. Pagu indikatif TA 2026 untuk Kemenpora sebesar Rp 1,16 triliun atau lebih besar dibandingkan tahun ini, memberikan secercah harapan untuk peningkatan pembinaan atlet-atlet muda.

Dengan meningkatnya rencana anggaran tersebut diharapkan membuka kesempatan lebih banyak bagi atlet-atlet muda untuk mengikuti kejuaraan-kejuaraan nasional maupun internasional. Tidak kalah penting, optimalisasi sentra latihan seperti Sentra Latihan Olahragawan Muda Potensial (SLOMP), Sentra Pembinaan Olahragawan Berbakat Nasional (SPOBNAS) hingga pelatnas perlu ditingkatkan.

Capaian para atlet muda di SEA Games menunjukkan bahwa Indonesia tidak kekurangan atlet berbakat. Bahkan, dengan keterbatasan anggaran sekalipun, mereka mampu menorehkan prestasi gemilang. Ajang olahraga regional ini menjadi awal dari perjalanan atlet muda menuju kompetisi olahraga yang lebih besar. Euforia prestasi atlet muda di SEA Games ini harus ditindaklanjuti dengan program regenerasi dan pembinaan yang lebih optimal serta dukungan anggaran yang memadai. (LITBANG KOMPAS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Debora Laksmi Indraswari
 | 

Editor:

Budiawan Sidik A