Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio tiba di Israel untuk membahas rencana soal Gaza. Presiden Trump ingin mengusir jutaan warga Palestina dan menguasai Gaza.
16 Feb 2025 10:45 WIB · Internasional
TEL AVIV, MINGGU - Israel dan Amerika Serikat semakin serius untuk merealisasikan rencana relokasi warga Palestina dan perebutan Gaza. Setelah berterima kasih atas dukungan AS, Israel menerima kunjungan Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio. Sementara itu, Hamas menyerukan agar Israel menghormati kesepakatan gencatan senjata.
Pada Sabtu (15/2/2025), malam, Menlu AS Rubio, tiba di Bandara Ben Gurion, Lod, Israel. Ini merupakan perjalanan perdananya ke Timur Tengah. Kunjungan ini merupakan bagian dari tur Timur Tengah, Rubio juga akan mengunjungi Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.
Rubio disambut oleh Menteri Luar Negeri Israel Gideon Sa’ar. Ia akan bertemu dengan sejumlah pejabat, termasuk Netanyahu, pada Minggu (16/2/2025). Mereka akan membahas gencatan senjata tahap kedua, dampak serangan Hamas kepada Israel, serta melanjutkan usulan Trump tentang Gaza, kata seorang pejabat Departemen Luar Negeri, pekan lalu.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/16/cf700350-6b94-40ed-ba82-2da3b78617c0_jpg.jpg)
Sejak awal Februari 2025, Presiden AS, Donald Trump mengeluarkan beberapa ide terkait pengelolaan Gaza. Dia mengusulkan untuk merelokasi paksa 2,2 juta warga Palestina di Gaza secara permanen ke negara-negara Arab sekitar, khususnya Mesir dan Jordania. AS juga akan merebut dan membangun Gaza sebagai “Riviera Timur Tengah”.
Usulan presiden AS tersebut menggemakan trauma lama warga Palestina tentang Nakba. Nakba, berarti malapetaka dalam bahasa Arab, adalah pengusiran massal warga Palestina saat pembentukan Israel tahun 1948. Saat Israel berdiri, sekitar 700.000 warga Palestina melarikan diri atau terusir dari rumah mereka di wilayah yang sekarang merupakan negara Israel.
Sejumlah pengamat mengatakan, ide Trump adalah usulan pembersihan etnis Palestina.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/08/f73e3416-c4fa-4ea5-b3ca-044092859321_jpg.jpg)
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berterima kasih kepada Presiden AS Donald Trump atas dukungan AS di Gaza, Sabtu (15/2/2025). Ucapan terima kasih ini keluar setelah Israel dan Hamas selesai melakukan pertukaran sandera-tahanan keenam sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata.
“Perdana Menteri Netanyahu menghargai dukungan penuh presiden terhadap keputusan Israel terkait Jalur Gaza dalam perkembangan mendatang,” bunyi pernyataan kantor Perdana Menteri.
Sebelumnya, di media sosial Truth Social, Trump menulis, “Israel sekarang harus memutuskan apa yang akan mereka lakukan. Amerika Serikat akan mendukung keputusan yang mereka buat!” imbuhnya.
Gencatan senjata kedua akan mencakup pembebasan sandera yang tersisa serta penyelesaian perang secara permanen. Namun, detail kesepakatan belum disetujui. Sumber yang dekat dengan negosiasi tersebut mengatakan, para mediator berharap dapat memulai pembicaraan tentang fase kedua pada pekan depan di Doha.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/12/ea4eaa644a694b99c0382cac6219d502-AP25042742212347.jpg)
AS telah menyatakan keterbukaannya terhadap proposal alternatif dari pemerintah Arab. Akan tetapi, Washington menekankan, saat ini satu-satunya rencana adalah rencana Trump. “Jadi jika mereka punya rencana yang lebih baik, sekaranglah saatnya untuk menyampaikannya,” kata Rubio, Kamis (13/2/2025).
Sementara itu, Hamas pada Sabtu (16/2/2025) menegaskan, AS harus memaksa Israel untuk mematuhi perjanjian gencatan senjata dan mengamankan pembebasan sandera yang masih ditahan di wilayah Palestina. AS berperan sebagai mediator bersama Mesir dan Qatar.
“Amerika Serikat harus memaksa Israel untuk mematuhi perjanjian tersebut jika benar-benar peduli dengan kehidupan para tawanan,” kata Hazem Qassem, juru bicara Hamas, dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan setelah Hamas membebaskan tiga warga Israel yang disandera.
Pada hari yang sama, Hamas dan Israel menyelesaikan pertukaran sandera-tahanan yang keenam untuk gencatan senjata tahap pertama. Hamas membebaskan tiga warga Israel, sedangkan Israel membebaskan 369 warga Palestina yang ditahan di penjara.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/15/a6a25a84a0af91e54644052abfc38d20-cropped_image.png)
Ketiga warga Israel itu adalah Iair Horn (46), Sagui Dekel-Chen (36), dan Alexander Troufanov (29). Sementara itu, dari 369 warga Palestina, di antaranya adalah Ahmed Barghouti (48), tokoh militer dari Partai Fatah. Sebanyak 24 orang dari mereka akan diasingkan ke luar negeri.
“Ketika saya melihat anak saya, jiwa saya kembali kepada saya dan saya hidup kembali,” kata Om Bashar, ibu dari Hassan Aweis, tahanan asal Palestina yang dijatuhi hukuman seumur hidup pada tahun 2002 atas tuduhan pembunuhan, penanaman alat peledak, dan percobaan pembunuhan.
Pertukaran itu hampir batal karena Hamas menuding Israel menghalangi bantuan masuk ke Gaza dan menyatakan tidak akan tunduk pada ancaman Israel dan AS. Hamas berubah pikiran setelah mendapat janji dari mediator Mesir dan Qatar untuk menghilangkan “semua rintangan” terkait bantuan keamanan.
Periode gencatan senjata tahap pertama tersisa sekitar dua minggu. Belum ada negosiasi substantif mengenai gencatan senjata tahap kedua. Rencananya, Hamas akan membebaskan semua sandera yang tersisa sebagai imbalan atas berakhirnya perang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/15/3c2a8dbf84c10b65ef5ba820fdf11862-wires_photo_14_.jpg)
Dari 251 orang yang diculik Hamas saat serangan 7 Oktober, 2023, sekitar 70-an orang masih berada di Gaza, sedangkan setengahnya diyakini telah meninggal. Hampir semuanya adalah laki-laki, termasuk tentara Israel. Israel juga berkomitmen untuk membebaskan lebih dari 1.000 orang yang ditahan dari Gaza asalkan mereka tidak berpartisipasi dalam serangan 7 Oktober.
Dikutip dari The Guardian, media Channel 12 dari Israel melaporkan, kabinet Netanyahu setuju, jika tiga sandera dibebaskan sesuai rencana pada hari Sabtu, Israel akan terus berkomitmen pada gencatan senjata. Namun, komitmen itu belum pasti terjadi.
Sekutu sayap kanan Netanyahu ingin perang kembali berlanjut pada awal Maret 2025. Mereka ingin menghancurkan Hamas. Meski perang berlangsung selama 15 bulan, Hamas tetap menguasai Gaza.
Namun, banyak warga Israel menginginkan kesepakatan untuk membawa pulang semua sandera yang tersisa. Mereka mendesak Netanyahu untuk mengirim delegasi tingkat senior ke perundingan gencatan senjata tahap kedua.
“Keputusan lainnya adalah sabotase yang membahayakan nyawa para korban penculikan,” kata Einav Zangauker, ibu dari sandera Matan Zangauker dalam rapat umum di Tel Aviv, Sabtu (15/2/2025).
Hamas mungkin tidak mau membebaskan lebih banyak sandera jika yakin perang akan kembali terjadi. Perang Hamas-Israel sejak 7 Oktober 2023 telah menewaskan lebih dari 48.000 warga Palestina, sebagian besar wanita dan anak-anak, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, menyambut baik segala upaya dari pihak-pihak yang mematuhi perjanjian gencatan senjata Gaza. Dia mendesak aksi untuk mewujudkan gencatan senjata permanen serta pembebasan semua sandera.
“Perdamaian mungkin untuk terwujud di Timur Tengah, dan itu dimulai dengan progres yang nyata, tidak dapat diubah, dan permanen menuju solusi dua negara,” cuit Guterres di X, Minggu.
(AP/AFP/Reuters)
Penulis:
Elsa Emiria LebaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .