Kompas.id Brief

Siapa Bisa Menyaingi Liverpool di Musim Baru Liga Inggris?

Liverpool difavoritkan menjuarai Liga Inggris musim ini dengan probabilitas 28,5 persen. Namun, jika tak berhati-hati, gelar itu dicuri Arsenal, Chelsea, atau City.

14 Agt 2025 16:49 WIB · Olahraga

Oleh Yulvianus Harjono

Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?

  1. Mengapa persaingan juara di Liga Inggris musim ini bisa menjadi siklus baru?
  2. Siapa saja pemain yang berpeluang merajai gol dan meraih Sepatu Emas di Liga Inggris musim baru?
  3. Bagaimana peluang tim-tim promosi bertahan di Liga Primer Inggris musim ini?
  4. Mengapa kekalahan di Community Shield bisa menjadi sinyal bahaya Liverpool?
  5. Seperti apa kemampuan Viktor Gyokeres, ujung tombak baru Arsenal?

Liga Inggris musim baru, 2025-2026, akan mulai bergulir Sabtu (16/8/2025) dini hari WIB dengan ditandai laga Liverpool melawan Bournemouth. Duel ini bakal langsung menjadi malam inaugurasi bagi sang juara bertahan untuk memperlihatkan wajah sesungguhnya dalam upaya perburuan gelar.

Riak keraguan Liverpool bakal mampu mempertahankan gelar juara Liga Inggris musim ini muncul setelah mereka dikalahkan Crystal Palace lewat adu penalti dalam ajang Community Shield, akhir pekan lalu. Tampil lebih segar dengan sejumlah pemain baru, seperti Hugo Ekitike, Florian Wirtz, dan Jeremie Frimpong, ”Si Merah” justru tampak rapuh dalam pertahanan. Mereka kebobolan dua gol.

Kekalahan itu bisa menjadi cambuk bagi Liverpool untuk membuktikan kepada publik bahwa soliditas di lini belakang tidaklah seburuk yang dikira. Liverpool memang masih butuh adaptasi, terutama di lini belakang, karena mereka tampil dengan dua bek sayap baru, yaitu Frimpong dan Milos Kerkez. Seiring waktu, skuad dengan wajah baru ini akan menyetel, dimulai laga versus Bournemouth di Anfield pada Sabtu pukul 02.00 WIB.

Dengan tambahan sejumlah pemain baru, Liverpool masih menjadi skuad yang terkuat dan paling dijagokan untuk juara. Hal itu setidaknya diperlihatkan dalam simulasi superkomputer Opta jelang musim baru.

Dalam 10.000 kali simulasi semua laga Liga Inggris musim 2025-2026, ”Si Merah” paling sering berada di atas. Probabilitas juara mereka mencapai 28,5 persen, lalu diikuti Arsenal 24,3 persen, Manchester City 18,8 persen, dan Chelsea 8,4 persen. Menariknya, tim besar lainnya, Manchester United, berada di posisi ke-12 dalam probabilitas juara dengan peluang hanya 0,6 persen.

Meskipun demikian, perhitungan tersebut bukanlah jaminan Liverpool bakal juara. Faktor nonteknis, seperti cedera pemain, bisa merusak perhitungan tersebut. Hal itu, misalnya, dialami Manchester City yang sangat dijagokan juara pada musim lalu. Musibah berupa cederanya Rodri dan anjloknya motivasi sejumlah pemain memupus ambisi City menyabet gelar juara Liga Inggris untuk kelima kalinya beruntun.

Mengacu sejarah, Liverpool juga tak pernah mudah mempertahankan gelar juara Liga Inggris. Mereka belum pernah juara back to back di era Liga Primer Inggris yang dimulai sejak 1992. Kali terakhir mereka menjadi juara beruntun Liga Inggris adalah pada 1983, yaitu di era Ian Rush.

Musim ini pun, para pesaing Liverpool telah berbenah besar-besaran. Arsenal, misalnya, telah menambal kelemahan terbesar mereka pada musim lalu dengan mendatangkan striker murni, Viktor Gyokeres. Jika ketajaman mereka meningkat dan soliditas pertahanan seperti musim lalu dipertahankan, bukan tak mungkin Arsenal bisa menyaingi Liverpool.

Tim lainnya, Chelsea, tidak kalah masif membangun skuad. Buahnya, mereka meraih gelar juara dunia dalam Piala Dunia Antarklub 2025 lalu. Hanya saja, skuad mereka masih terbilang belia. Jika pengalaman mereka terus bertambah seiring pekan liga berjalan, mereka bisa menjadi kuda hitam dalam persaingan juara.

Adapun City bisa menyeruak sebagai calon juara jika mampu menjaga kualitas skuad dan menghindari badai cedera pemain seperti musim lalu. Mereka punya satu keuntungan pada musim ini, yaitu tidak lagi difavoritkan juara untuk pertama kali dalam setengah dekade terakhir. Situasi itu bisa mengurangi tekanan yang selama ini mengimpit mereka.

Mengapa persaingan juara di Liga Inggris musim ini bisa menjadi siklus baru?

copy title

Liverpool mempersiapkan diri menyambut musim baru Liga Inggris dengan amat ambisius. Berbeda dengan musim 2024-2025 yang amat ekonomis karena hanya mendatangkan Federico Chiesa dari Juventus, Manajer Liverpool Arne Slot sudah mengukuhkan Liverpool sebagai tim dengan pengeluaran terbesar di bursa transfer musim panas ini.

”Si Merah” sudah menghabiskan sekitar 293 juta euro atau kisaran Rp 5,56 triliun demi mendatangkan empat pemain utama baru. Mereka adalah Florian Wirtz, Hugo Ekitike, Milos Kerkez, dan Jeremie Frimpong. Nilai transfer itu merupakan pengeluaran terbesar Liverpool dalam sejarah.

Gelandang Liverpool, Dominik Szoboszlai (tengah), mencoba menjaga bola dari kejaran pemain Athletic Bilbao, Mikel Jauregizar Alboniga, pada laga pramusim di Stadion Anfield, Liverpool, Inggris, Senin (4/8/2025) waktu setempat. Liverpool menang agregat 7-3.

Liverpool berpotensi menjadi tim Liga Inggris kedua yang menghabiskan lebih dari 300 juta euro dalam bursa transfer. Marc Guehi (Crystal Palace) dan Giovanni Leoni (Parma) adalah incaran terkini Slot untuk mempertebal kualitas lini pertahanan yang amat rapuh pada periode pramusim 2025-2026.

Jika resmi mendatangkan salah satu bek tengah itu saja, Liverpool akan menjadi tim terboros kedua dalam sejarah Liga Primer Inggris. Namun, pengeluaran besar itu belum menjadi jaminan Liverpool akan sangat mendominasi di Inggris. Hal itu tecermin pada duel Community Shield kontra Crystal Palace, Minggu (10/8/2025).

Permainan Liverpool yang menakutkan dalam menyerang tidak diimbangi kekokohan lini belakang. Slot pun masih memiliki pekerjaan rumah untuk menyatukan ikon mereka, Mohamed Salah, dengan gaya permainan baru ”Si Merah”.

Meskipun sudah memiliki Wirtz, Ekiteke, juga mungkin Alexander Isak, Salah tetap wajah yang paling menakutkan bagi lawan-lawan Liverpool pada musim 2025-2026.

Ketika Liverpool masih berkejaran waktu untuk menyatukan kohesi pemain-pemain baru dengan bintang lama yang sudah memahami kultur klub dan tuntutan bermain di Stadion Anfield, tim-tim lain menunjukkan diri siap mengancam takhta ”Si Merah”. Chelsea, Arsenal, dan Manchester City adalah trio ancaman terbesar bagi Liverpool pada musim ini.

Siapa saja pemain yang berpeluang merajai gol dan meraih Sepatu Emas di Liga Inggris musim baru?

copy title

Jendela transfer musim panas di Liga Inggris kali ini telah menjadi eksodus terbesar bagi para penyerang tengah kelas dunia. Tren bursa transfer di Inggris selalu menarik.

Beberapa musim sebelumnya, gelandang tengah pernah menjadi komoditas paling dicari klub-klub besar. Tren bergeser ke penyerang murni. Banyak klub berebut dan rela mengeluarkan triliunan rupiah di tengah krisis stok striker berkualitas.

Arsenal membuka jalan dengan mendatangkan penyerang Sporting CP Viktor Gyokeres. Tak lama berselang, dua striker muda berbakat dari Liga Jerman Hugo Ekitike (Eintracht Frankfurt) dan Benjamin Sesko (RB Leipzig) menyusul. Ekitike ke Liverpool, sementara Sesko ke Manchester United.

Penyerang baru Liverpool, Hugo Ekitike, merayakan golnya ke gawang Crystal Palace pada laga Community Shield di Stadion Wembley, Minggu (10/8/2025).

Ketiga pemain itu didatangkan dengan nilai yang berpotensi mencapai 216 juta pound sterling (Rp 4,72 triliun). Tiga hari menjelang laga pembuka musim baru yang berlangsung pada Sabtu (16/8/2025) WIB, mereka masih berada dalam daftar tujuh pemain termahal di jendela transfer Inggris kali ini.

Eksodus tersebut otomatis meramaikan perebutan trofi Sepatu Emas atau penghargaan pencetak gol terbanyak. Dua nama yang mendominasi trofi itu dalam empat musim terakhir, yaitu Mohamed Salah (Liverpool) dan Erling Haaland (Manchester City), patut waspada.

Ancaman terbesar datang dari Gyokeres. Dia kembali ke Inggris dengan  status mesin gol terpanas se-Eropa. Dia sudah mencetak 97 gol untuk Sporting di seluruh kompetisi sejak musim 2023-24. Liga Portugal dan Liga Inggris jelas berbeda, tetapi naluri golnya tidak bisa dikesampingkan.

Ekitike tidak kalah menarik. Dia memang baru mencetak 42 gol sepanjang karier profesional. Namun, penyerang 23 tahun itu punya talenta untuk meningkat berkali-kali lipat dalam seketika. Semua tergantung wadahnya. Liverpool, tim dengan kumpulan pemain ofensif terbaik, sangat cocok untuk memaksimalkan potensinya.

Di sisi lain, tanda tanya tertuju kepada peraih Sepatu Emas 2022-2023 dan 2023-2024, yaitu Haaland. Dia akan bermain tanpa bantuan gelandang kreatif Kevin De Bruyne, musim ini.

Bagaimana peluang tim-tim promosi bertahan di Liga Primer Inggris musim ini?

copy title

Burnley, Leeds, dan Sunderland akan memulai perjalanan mereka di Liga Inggris 2025-2026 hanya dalam hitungan hari. Perjalanan ini akan dibayangi tren atau semacam kutukan, yaitu menjadi tim ”yoyo” yang baru naik kasta dan turun lagi musim berikutnya. Akankah mereka bisa bertahan dan mematahkan kutukan itu?

Mencapai Liga Primer adalah ambisi utama bagi klub-klub kasta kedua. Namun, bertahan di kasta tertinggi juga bukan perkara mudah. Kesenjangan yang kian melebar antara kualitas tim berbeda divisi menjadi tantangan bagi tim-tim yang naik kasta. 

Dalam dua musim terakhir, tiga tim yang promosi ke Liga Inggris langsung terdegradasi kembali ke Liga Championship. Ketika pada dua musim lalu Luton, Burnley, dan Sheffield United langsung terdegradasi setelah promosi dari Liga Championship, fenomena ini ”hanya” tampak mengulangi momen yang sudah lampau terjadi, yakni pada musim 1997-1998. 

Lazio's Fisayo Dele-Bashiru and Burnley's Kyle Walker battle for the ball during a pre-season friendly match between Burnley and Lazio at Turf Moor, Burnley, England, Saturday Aug. 9, 2025. (Cody Froggatt/PA via AP)

Namun, ketika hal serupa terjadi pada Southampton, Leicester City, dan Ipswich Town pada musim lalu, fenomena tim yoyo seolah telah menjadi tren atau bahkan kutukan. Apalagi, ketiga tim itu bahkan kembali turun kasta dengan tidak banyak memberikan perlawanan. 

Pakar keuangan sepak bola Kieran Maguire mengatakan, uang jelas merupakan faktor penyebab tim promosi langsung degradasi pada musim berikutnya. Dengan aturan Profit and Sustainability Rules (PSR), ekosistem keuangan Liga Inggris sangat menguntungkan klub-klub yang sudah bertahan di kasta tersebut. 

Klub-klub mapan diizinkan kehilangan hingga 105 juta pound sterling selama periode tiga tahun, sedangkan tim-tim yang baru promosi sering kali dibatasi hingga 61 juta pound. Ketimpangan ini membuat tim-tim promosi hampir mustahil untuk bersaing secara setara.

”Klub-klub yang baru promosi memang dirugikan,” ujarnya kepada BBC Sport. 

Mengapa kekalahan di Community Shield bisa menjadi sinyal bahaya Liverpool?

copy title

Liverpool harus merelakan trofi pertama musim ini setelah kalah adu penalti dari Palace, 2-3, di Stadion Wembley, London, Minggu (10/8/2025) malam WIB. Tim asuhan Manajer Arne Slot itu unggul dua kali pada paruh pertama, tetapi selalu kecolongan saat mulai nyaman. Adapun laga berakhir imbang 2-2 selama 90 menit waktu normal.

Jika ditanya sosok yang paling matang dan tenang di kubu Liverpool, semua orang pasti sepakat menunjuk Van Dijk. Sang kapten tim berusia 34 tahun itu biasanya selalu menghadirkan kenyamanan di lini belakang ”Si Merah”. Namun, sosok tersebut seperti menghilang seketika di Wembley.

Liverpool's manager Arne Slot reacts during the FA Community Shield final soccer match between Liverpool and Crystal Palace at Wembley Stadium in London,Sunday, Aug. 10, 2025. (AP Photo/Dave Shopland)

Van Dijk terekspos berkali-kali oleh kecepatan para penyerang Palace. Dia membuat kesalahan pertama dengan melanggar Ismaila Sarr di kotak penalti. Insiden itu berujung gol pertama Palace. Di pengujung laga, Sarr mencetak gol penyeimbang berkat kesalahan antisipasi dan posisi dari Van Dijk.

Jamie Carragher, mantan bek Liverpool, menjabarkan kelemahan ”Si Merah”. ”Serangan mereka terlihat hebat, tetapi rentan dalam bertahan, seperti yang terlihat sepanjang pramusim. Mereka banyak kemasukan akibat melakukan (skema bertahan) man-to-man agresif dan meninggalkan banyak ruang di belakang,” ungkapnya lewat X.

Skema man-to-man dengan blok pertahanan tinggi sudah biasa diterapkan Slot pada musim lalu. Masalahnya, empat bek sejajar saat ini belum terbiasa bermain bersama. Bek sayap Jeremie Frimpong (kanan) dan Milos Kerkez (kiri) baru menjalani debut resmi saat versus Palace. Tim lawan bisa mengeksploitasi celah itu dengan transisi kilat.

Posisi Frimpong juga patut dipertanyakan. Dia berdiri sekitar satu langkah dari garis offside Liverpool. Walaupun posisinya tidak berpengaruh terhadap gol kedua Palace, pemahaman bertahan Frimpong bisa menjadi masalah di masa depan. Adapun di Bayer Leverkusen, dia lebih banyak bermain sebagai gelandang sayap dalam formasi 3-5-2.

”Mungkin kami butuh sedikit penyesuaian dalam bertahan,” kata Slot seusai laga itu.

Seperti apa kemampuan Viktor Gyokeres, ujung tombak baru Arsenal?

copy title

Kemampuan menyundul penyerang baru Arsenal, Viktor Gyokeres, sempat diragukan. Kemampuan itu tidak pernah menonjol sepanjang kariernya. Siapa sangka, Gyokeres ternyata piawai dalam duel udara. Dia mempertontonkan hal itu pada laga pramusim terakhir Arsenal.

Gyokeres akhirnya bisa mengeluarkan selebrasi ”topeng” untuk pertama kali dengan seragam Arsenal. Dia mencetak gol pembuka dalam kemenangan besar tim asuhan Manajer Mikel Arteta atas Athletic Bilbao, 3-0, di Stadion Emirates, London, Minggu (10/8/2025) dini hari WIB.

Dalam kamus Gyokeres, gol adalah hal biasa. Namun, caranya yang unik. Dia membobol gawang kiper tim nasional Spanyol, Unai Simon, dengan sundulan keras dari umpan silang gelandang Martin Zubimendi. Simon tidak berdaya karena bola begitu kencang mengarah ke pojok kanan atas gawang.

Penyerang Arsenal Viktor Gyokeres terbang saat menyambut umpan silang rekannya Noni Madueke dalam laga pramusim versus Athletic Bilbao di Stadion Emirates, London, Minggu (10/8/2025) dini hari WIB. Sundulan Gyokeres nyaris berbuah gol, hanya saja terbentur tiang gawang.

Kemampuan menyundul striker 27 tahun itu seolah muncul tiba-tiba. Musim lalu, bersama Sporting CP, dia menghasilkan 54 gol di seluruh kompetisi. Namun, tidak satu pun gol berasal dari sundulan. Semua gol dicetak lewat kaki, baik dari permainan terbuka maupun bola mati.

Sepanjang kariernya, Gyokeres juga baru menghasilkan delapan gol lewat sundulan. Jumlah itu jauh lebih rendah daripada bek Arsenal, Gabriel Magalhaes (17 gol), yang hanya bisa mencetak gol ketika skema bola mati. Arteta seperti memenangi lotre dengan kemampuan tersembunyi itu.

Arteta sampai terkagum dengan paket komplet Gyokeres. ”Saya menyukai golnya, ancamannya, kemampuan untuk mengunci dua bek tengah lawan. Dia adalah tipe pemain yang ketika diberikan ruang, dia akan melenyapkan Anda,” ujarnya kepada Sky Sports.

Jika dipelajari lebih dalam, kemampuan menyundul Gyokeres ternyata tidak terlihat karena memang kurang diekspos. Sporting lebih mengandalkan sang penyerang untuk menciptakan peluang lewat transisi. Mereka terbilang jarang melakukan umpan silang, tidak seperti Arsenal.


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulvianus Harjono
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji