Prestasi diharapkan jadi penyemangat di tengah segala tantangan, terutama bencana alam di Indonesia. Para atlet pun ditantang membuktikan Indonesia negara besar.
09 Sep 2026 15:49 WIB · Olahraga
KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA
JAKARTA, KOMPAS — Sebanyak 430 atlet Indonesia yang akan berlaga di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 diminta pantang berpuas diri dalam perolehan prestasi. Meski tidak ada target medali emas yang disebut, mereka ditantang membuktikan Indonesia adalah negara yang juga besar dalam prestasi olahraga sekaligus menghadirkan kabar baik di tengah segala kendala.
Tantangan itu diucapkan Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir dalam Pengukuhan Tim Indonesia untuk Asian Games 2026 di Wisma Serbaguna, kawasan Gelora Bung Karno, Jakarta, Rabu (9/9/2026) siang. Setelah pengukuhan, kontingen akan menghadiri pelepasan oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara.
Erick mengatakan, bendera Merah Putih berkibar 98 kali di tiang tertinggi di Asian Games. Artinya, sejak keikutsertaan pertama di Asian Games New Delhi 1951, Indonesia hanya berjarak dua keping untuk mengoleksi 100 emas. Meski begitu, prestasi itu tidak cukup.
”Kita belum pantas berpuas diri. Kalau kita lihat negara tetangga kita, yaitu Thailand, selama Asian Games, mereka sudah mengumpulkan 144 medali emas,” kata Erick.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/09/5e8160b8966130b96bc52855c477b958-20260909YGA10.jpg)
Thailand saat ini memang menjadi negara Asia Tenggara terbaik di Asian Games. Sama-sama debut di Asian Games edisi perdana di New Delhi 1951, tim ”Negeri Gajah Putih” mampu menembus 10 besar negara dengan perolehan medali emas terbanyak. Thailand bahkan menempati posisi ketujuh setelah China, Jepang, Korea Selatan, Iran, India, dan Kazakhstan. Adapun Indonesia menempati peringkat ke-11.
Pada Asian Games Hangzhou 2022 pun, Thailand finis di atas Indonesia dengan koleksi 12 emas pada peringkat kedelapan. Sementara itu, Indonesia mengoleksi tujuh emas pada posisi ke-13.
Di SEA Games, Thailand juga masih mendominasi sebagai negara dengan peraih emas terbanyak dengan 2.686 keping. Indonesia membuntuti pada peringkat kedua dengan jumlah medali emas yang masih terpaut jauh, 2.072 keping.
Padahal, dari segi jumlah penduduk serta ekonomi dan politik, Erick menyatakan, Indonesia adalah negara terbesar di Asia Tenggara. Untuk itu, ia menantang kontingen ”Merah Putih”, termasuk dirinya sendiri, membuktikan bahwa kebesaran Indonesia juga bisa terwujud di olahraga.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/09/4ecde4050d28f8b57e3e04855da42e63-20260909YGA26.jpg)
”Bisa tidak kita mengibarkan Merah Putih sebanyak-banyaknya di Asian Games? Siapa yang ingin medali emas? Buktikan! Buktikan buat diri Anda yang sudah berjuang, meninggalkan kehidupan sehari-hari dan keluarga, letih, serta cedera. Tinggal 10 hari lagi (menuju pembukaan Asian Games),” tutur Erick.
Dalam sambutannya itu, Erick tidak menyampaikan target medali seperti pada umumnya pengukuhan kontingen. Target empat medali emas telah disampaikan Erick pada kesempatan-kesempatan sebelumnya.
Ketua Umum PSSI ini mengatakan, meski ada target empat emas, ia berharap ada prestasi lebih yang mampu diberikan atlet. Namun, Erick enggan membebani atlet sehingga membiarkan mereka menargetkannya sendiri.
Sebelum Erick menyampaikan pesannya, Sekretaris Jenderal Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Wijaya Noeradi membacakan surat keputusan kontingen Indonesia dan laporan lain. Ketua Kontingen (Chief de Mission) Indonesia Todotua Pasaribu kemudian melaporkan komposisi skuad “Merah Putih”. Baru setelah itu, Ketua Umum KOI Raja Sapta Oktohari mengukuhkan kontingen.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/09/6f2284891795e227abddeee3033cc820-20260909YGA16.jpg)
Berdasarkan hasil finalisasi, Indonesia akan diperkuat 430 atlet yang berjuang di 35 cabang olahraga untuk ajang yang digelar 19 September-4 Oktober ini. Jumlah tersebut berkurang dua atlet dari daftar entry by name, yaitu dari sepeda dan modern pentathlon karena cedera.
Dalam laporannya, Todotua juga menyampaikan atlet basket dan anggar yang berangkat awal ke Nagoya sempat menghadapi tantangan akibat erupsi Anak Krakatau. Meski begitu, tantangan itu dapat teratasi dengan penyesuaian rute keberangkatan.
Dengan begitu, para atlet basket dan anggar telah berhasil berangkat ke Nagoya pada Senin (7/9/2026) melalui jalur darat menuju Surabaya, dilanjutkan transit di Singapura, kemudian Nagoya. Namun, setibanya di Nagoya pada Selasa malam, mereka harus dievakuasi karena banjir.
”Pemerintah Nagoya sudah mengeluarkan peringatan untuk mengunci semua kegiatan di sana, jadi ini dampaknya sebenarnya bukan cuma untuk kita, tetapi juga semua yang hadir di sana. Kami terus berkomunikasi, termasuk dengan manajer basket di sana, untuk memikirkan dan mencarikan tempat latihan di sana,” ucap Todotua.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/09/c540c8bc8c1ad9ef334d91d1e10912ae-20260909YGA03.jpg)
Raja Sapta Oktohari mengatakan, tantangan untuk kontingen Indonesia memang kembali datang, menambah tantangan yang sebelumnya datang di dalam negeri. Akan tetapi, KOI memastikan pihaknya terus berkomunikasi dengan panitia lokal dan memastikan atlet akan terlayani baik di tengah kondisi tidak ideal.
”Kami menyampaikan kepada para atlet semua tantangan ini harus dijawab dengan prestasi. Semoga bisa menjadi penguatan spirit masyarakat Indonesia menghadapi semua tantangan yang sedang kita hadapi ini. Kita bangsa besar. Kita tidak mungkin akan menjadi kecil cuma karena tantangan-tantangan ini. Jawabannya harus menang,” kata Okto.
Spirit pantang berpuas diri dan semangat menghadapi semua tantangan juga ditunjukkan peraih emas Olimpiade Paris 2024, Veddriq Leonardo. Kendati sudah meraih emas di ajang olahraga tertinggi dunia, pemanjat tebing disiplin speed ini tetap bertekad meraih prestasi terbaik di Asian Games.
”Ini ibarat ’puncak’ lain yang ingin saya gapai,” kata Veddriq yang belum pernah meraih medali emas di Asian Games untuk kategori individu.
Terlebih, kata Veddriq, persaingan di Asia tak berbeda jauh dengan dunia. Sebab, pada level dunia pun atlet-atlet Asia mendominasi, termasuk pemegang rekor dunia, Zho Yicheng (China).
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Yuliana Karim