Kompas.id Brief

Terkait Keracunan MBG, Mengapa Pemerintah Akhirnya Meminta Maaf?

Pemerintah akhirnya meminta maaf di tengah maraknya kasus keracunan Makan Bergizi Gratis di sejumlah daerah. Siswa yang jadi korban keracunan makanan terus bertambah

28 Sep 2025 16:55 WIB · Kesehatan

Oleh Tim Kompas

Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel Ini?

1.      Seperti apa kasus keracunan MBG yang terjadi di berbagai daerah?

2.      Mengapa orangtua siswa turut trauma dalam kasus keracunan MBG?

3. Bagaimana cara menangani siswa yang keracunan MBG?

4.      Mengapa pemerintah akhirnya meminta maaf dalam kasus keracunan MBG?

5.      Apa tanggapan Presiden Prabowo terhadap kondisi tersebut?

Seperti apa kasus keracunan MBG bisa terjadi di berbagai daerah?

copy title

Kasus keracunan makanan dari menu yang ada di dalam paket Makan Bergizi Gratis masih terus terjadi hingga kini. Berdasarkan data yang dikumpulkan Kompas, setidaknya terdapat 5.626 siswa keracunan seusai menyantap menu dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah daerah sejak awal Januari-19 September 2025.

Kasus terakhir yang menyita perhatian terjadi di Bandung Barat, Jawa Barat. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Bandung Barat Lia Nurliana, Jumat (26/9/2025), mengatakan, sejauh ini, tercatat 1.258 siswa keracunan menu MBG di Bandung Barat, yakni di Cipongkor dan Cihampelas. Mereka datang dalam dua gelombang besar, yakni pada Senin (22/9/2025) dan Rabu (24/9/2025). Sebagian besar mengeluhkan pusing dan mual.

Infografik Sejumlah Kasus Keracunan akibat MBG

Sejauh ini, tercatat 1.159 siswa yang dinyatakan sudah sembuh. Mereka, kata Lia, diperbolehkan pulang untuk menjalani pemulihan di rumah. ”Yang masih dirawat tercatat 99 orang. Namun, datanya masih dinamis bisa berubah,” kata Lia.

Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail menyatakan telah menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) atas peristiwa itu. Selain itu, 85 dapur MBG di Cipongkor ditutup. Sebagian besar belum memiliki sertifikat kelayakan.

Selain di Bandung Barat, kasus keracunan MBG yang terbaru terjadi di Cianjur dan Sumedang (Jabar), Kebumen dan Banyumas (Jateng), serta Lampung Timur (Lampung). Di Lampung Timur, puluhan siswa SD dan SMP harus dirawat inap di RSUD Sukadana karena mengalami gejala keracunan.

Mengapa orangtua siswa turut trauma dalam kasus keracunan MBG?

copy title

Anak yang mengalami keracunan makanan dari paket MBG merasa mual, lemas, pusing, muntah, dan bahkan kesakitan sehingga harus dirawat di rumah sakit. Kejadian keracunan MBG yang dialami siswa membuat orang tua mereka turut trauma, seperti yang dirasakan Ny Irma (32), warga Kecamatan Rongga, Bandung Barat.

Irma adalah ibu dari Fitri (14), salah satu korban keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) dari MTS Manarul Huda di Kecamatan Cipongkor, Bandung Barat, yang berjarak 10 kiloneter dari Rongga. Sempat dirawat di Gelanggang Olahraga (GOR) Cipongkor, Fitri tidak menginap dan bisa pulang di hari yang sama.

”Kebetulan cukup mendapat infus satu labu, tetapi cemasnya ini berkali-kali lipat besarnya. Saya belum siap mengizinkan anak menerima kembali sajian MBG. Masih trauma,” kata Irma.

Jelsyani Yulianti (kedua dari kanan) bersama pelajar lainnya korban keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tengah makan siang saat di rawat di RSUD Cililin, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Kamis (25/9/2025). Mayoritas korban mengeluhkan mual, sakit perut, dan beberapa kejang, keram , hingga sesak nafas. RSUD Cililin menjadi rujukan korban keracunan di Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat. Hingga Kamis (22/9/2025) siang tercatat 44 orang masih di rawat di rumah sakit tersebut. Dalam tiga hari terakhir, tercatat hampir 1.000 siswa keracunan akibat sajian MBG.

KOMPAS/AGUS SUSANTO
25-9-2025

Wajar apabila Irma trauma. Keracunan membuat anaknya sesak napas hingga muntah. Bahkan, keresahan serupa dikatakan orangtua lain yang anaknya tidak menjadi korban keracunan.

Salah satunya adalah Ny Nina (33), warga Bandung, Jabar. Dia mengatakan, kabar keracunan di Cipongkor, berjarak 50 km dari rumahnya, tetap bikin dia khawatir.

Sebelumnya, Nina memang pernah mendengar kasus serupa. Akan tetapi, kali ini kasusnya berbeda. Dalam tiga hari, korbannya ribuan siswa. Nina mengaku ikut bersyukur sebagian besar siswa sudah sembuh. Namun, kejadian keracunan itu tetap membuatnya khawatir.

”Sebelum sehat lagi, anak-anak itu mesti melewati fase mual, pusing, muntah, hingga sesak napas. Jangan sampai itu dialami anak saya. Apalagi, katanya ada kasus berulang di satu dapur yang sama,” tuturnya.

Bagaimana cara menangani siswa yang keracunan MBG?

copy title

Lebih dari 5.000 siswa di Indonesia menjadi korban keracunan seusai menyantap menu program Makan Bergizi Gratis (MBG). Mereka mengalami sakit perut hingga muntah-muntah. Bahkan, sebagian harus dirawat di rumah sakit. Lalu, bagaimana cara menanganinya?

Ketua Unit Kerja Koordinasi Emergensi dan Terapi Intensif Anak (UKK ETIA) Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Yogi Prawira mengatakan, hampir 6.000 anak keracunan makanan pascamengonsumsi menu MBG. ”Tentu kita mendukung program (MBG) pemerintah. Namun, pada saat terjadi satu kejadian luar biasa, waktunya kita untuk melakukan mitigasi dan bersama-sama belajar, apa sih yang kita bisa perbaiki ke depannya,” katanya dalam diskusi media secara daring, Kamis (25/9/2025).

Yogi mengatakan, penyebab keracunan makanan cukup beragam. Beberapa bakteri yang sering dilaporkan menjadi penyebabnya adalah Salmonella, E Coli, Listeria, dan Clostridium botulinum. Ada juga yang disebabkan virus, salah satunya, Hepatitis A. Penyebab lainnya adalah parasit dan bahan kimia.

Anggota keluarga menemani Fitriany, pelajar korban keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang di bawa dengan ambulans dari GOR Cipongkor menuju RSUD Cililin untuk menjalani perawatan di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Kamis (25/9/2025). Mayoritas korban mengeluhkan mual, sakit perut, dan beberapa kejang, keram , hingga sesak nafas. Hingga Kamis (22/9/2025) sore tercatat 35 orang masih di rawat di GOR Cipongkor Dalam tiga hari terakhir, tercatat lebih dari 1.000 siswa keracunan akibat sajian MBG di kawasan tersebut. 

KOMPAS/AGUS SUSANTO
25-9-2025

Tubuh manusia sebenarnya punya mekanisme pertahanan. Jadi, saat menerima asupan makanan atau minuman yang terkontaminasi, tubuh akan merespons untuk mengeluarkannya, seperti dengan mual, muntah, nyeri perut, buang air besar (BAB) cair, bahkan terkadang hingga BAB berdarah.

Lalu, apa yang bisa dilakukan untuk pertolongan pertama? Yogi menuturkan, anak yang mengalami keracunan perlu diistirahatkan terlebih dahulu. Hal ini diperlukan untuk membantu pemulihan.

”Walaupun muntah-muntah, tetap didorong untuk minum yang banyak. Mungkin dengan cara diberikan sedikit-sedikit dengan porsi yang kecil, tapi sering sehingga bisa mengganti cairan yang keluar tadi. (Minum) bisa dengan air atau oralit,” jelasnya.

Setelah muntah dan diare berhenti, anak juga dapat diberi makanan ringan yang lembut dalam porsi kecil, seperti bubur, pisang, dan roti. Berikan makanan yang tidak pedas dan tidak merangsang asam lambung.

Mengapa pemerintah akhirnya meminta maaf dalam kasus keracunan MBG?

copy title

Pemerintah memastikan evaluasi menyeluruh terhadap program Makan Bergizi Gratis setelah insiden berulang siswa keracunan. Pemerintah pun memohon maaf atas insiden yang menimpa ribuan anak tersebut dan langsung membentuk tim khusus ke daerah-daerah yang terdampak.

Siswa yang keracunan itu datang dari berbagai tingkatan, mulai dari sekolah dasar hingga siswa menengah atas atau sederajat. Pemerintah pun didesak untuk mengevaluasi program tersebut.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan permohonan maaf pemerintah sekaligus menekankan bahwa evaluasi menyeluruh segera dilakukan agar kejadian keracunan seusai menyantap menu MBG itu tidak terulang.

”Kami atas nama pemerintah dan mewakili Badan Gizi Nasional (BGN) memohon maaf karena telah terjadi kembali beberapa kasus di beberapa daerah. Tentu saja ini bukan sesuatu yang kita harapkan dan bukan pula kesengajaan,” ujar Prasetyo dari pernyataan tertulis yang diterima Kompas pada Jumat (26/9/2025).

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana (kiri) berbincang dengan siswa korban keracunan usai menyantap menu makan bergizi gratis (MBG) di Posko Penanganan di Kantor Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Selasa (23/9/2025). Berdasarkan data dari posko penanganan hingga Selasa (23/9) pukul 07.00 WIB sebanyak 352 siswa dan orang tua mengalami keracunan yang diduga akibat menyantap hidangan makan bergizi gratis pada (22/9). ANTARA FOTO/Abdan Syakura/nz

Untuk mengevaluasi program MBG, lanjut Prasetyo, pihaknya mengambil dua langkah yakni, memastikan semua siswa terdampak mendapatkan penanganan medis segera mungkin. Lalu, pemerintah akan melakukan evaluasi dan mitigasi ketat terhadap standar pelaksanaan program.

Hal serupa juga disampaikan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana. BGN membentuk tim khusus untuk menyelidiki kasus keracunan tersebut. Tim itu berfungsi memberikan opini kedua sambil menunggu hasil investigasi resmi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Dadan menambahkan, tim khusus dibutuhkan agar publik segera memperoleh penjelasan yang bertanggung jawab tanpa mengganti kewenangan BPOM. Pendekatan ini diharapkan meredam spekulasi dan memberi kepastian arah penanganan di lapangan.

Apa tanggapan Presiden Prabowo terhadap kondisi tersebut?

copy title

Kasus keracunan massal dan pengelolaan program Makan Bergizi Gratis terus dalam pantauan Presiden Prabowo Subianto. Tak dimungkirinya, munculnya kasus itu bagaikan masalah besar.

Untuk itu, ia berencana segera memanggil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana dan sejumlah pejabat lain guna menuntaskan permasalahan tersebut.

Pernyataan itu disampaikan Presiden Prabowo sesaat sesudah turun dari pesawat, di Pangkalan TNI Angkatan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Sabtu (27/9/2025). Ia baru saja menjalani lawatan kenegaraan ke sejumlah negara, yaitu Jepang, Amerika Serikat, Kanada, dan Belanda. Kendati demikian, terjadinya kasus keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap menjadi perhatiannya.

”Saya baru dari luar negeri tujuh hari. Saya monitor ada perkembangan-perkembangan itu. Habis ini saya langsung akan panggil Kepala BGN dengan beberapa pejabat yang kita akan diskusikan. Ini masalah besar, jadi pasti ada kekurangan dari awal ya, tetapi saya juga yakin bahwa kita akan selesaikan dengan baik,” kata Presiden Prabowo.

Presiden Prabowo Subianto diwawancarai wartawan setelah menyelesaikan lawatan kenegaraan setibanya di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, Sabtu (27/9/2025).

Hanya saja, Presiden Prabowo meminta agar masalah itu tidak dipolitisasi oleh pihak-pihak tertentu. Ditegaskannya kembali, tujuan diselenggarakannya program MBG untuk membantu anak-anak yang sering kesulitan makan. Tidak seberuntung sebagian anak-anak lain yang hidupnya serba berkecukupan.

”Tujuan makan bergizi adalah untuk anak-anak kita yang sering sulit makan. Mungkin kita-kita ini makan lumayan. Mereka, tuh, makannya hanya nasi pakai garam. Ini yang harus kita atasi untuk memberi makan segala. Pasti ada hambatan, rintangan. Ini kita atasi,” kata Presiden Prabowo.


Kerabat Kerja

Penulis:

Tim Kompas
 | 

Editor:

Harry Susilo
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase